Ya'Aburnee

Ya'Aburnee
Bagian 2. Sang Pengagum


__ADS_3

Anggara Riandito, laki-laki tampan itu hanya menatap datar laki-laki dihadapannya yang masih belum puas untuk menertawakannya.


“Ternyata ada juga cewek yang berani nonjok lo selain jerit-jerit minta jadi pacar lo!”


“Gila ini lucu banget!”


“harusnya ini masuk dalam trending 8 keajaiban dunia!”


“Athalario Mahendra, belum pernah disumpel pake BH nya mimi peri ya tu mulut.” Suara dingin dan penuh penekanan itu seketika menghentikan cerocosan Rio.


Cukup menyadarkan Rio bahwa ia berada pada situasi berbahaya sekarang, Rio menyengir kuda,menampilkan deretan gigi putihnya,”Gue canda Ga, Canda.”


Gara merilekskan tubuhnya, menangadahkan kepalanya kebelakang, memandang langit-langit kafe yang berwarna putih polos, membiarkan pikirannya mengembara entah kemana.


"Mana oleh-oleh dari amerikanya?" pinta Rio tiba-tiba.


"Apa?" Gara meliriknya bingung.


"Camila Cabello sayang, oleh-oleh buat gue."


"Ini didepan kamu sayang." Gara terkekeh sekilas, sementara Rio pura-pura bergidik jijik.


”Tapi lo beneran kan waktu itu gak lagi mau bunuh diri?”pertanyaan Rio selanjutnya membuat Gara tercenung, tapi tak sedikit pun merubah posisinya.


”Menurut lo?” Gara malah balik bertanya.


Rio tampak tengah berfikir, ”Ya gak bakal lah, masih banyak alasan buat lo untuk berada didunia ini.” Sahutnya.


"Kata-kata lo..." ledek Gara pada Rio yang tak biasanya berfikiran layaknya manusia, mungkinkah Gara mengiyakan kata-kata Rio barusan?


Gara menyunggingkan senyumnya, kemudian menundukkan kepalanya memandang sebuah benda yang tadi ia temui, ”Syeila Anandita.” Gumamnya membaca sebuah nama pada name-tag yang berada ditangannya.


“Setidaknya berguna sedikit, jadi pengusaha, CEO kaya, atau artis-artis korea!”


Laki-laki itu tiba-tiba terkekeh tanpa alasan, membuat Rio yang tengah menyeruput Espresso-nya menatap aneh Gara, matanya kemudian mencuri-curi pandang pada benda yang ada ditangan laki-laki itu, ”Syeila? kok gue kayak familiar ya sama itu nama.” Ujarnya.


“Kayaknya ini nama cewe yang nonjok gue tadi.” seketika ucapan Gara membuat tawa Rio kembali pecah, namun tak berselang lama laki-laki itu kembali bungkam setalah mendapat tatapan tajam Gara yang selalu berhasil membuat nyalinya ciut.


“Lo kenal?” tanya Gara kemudian.


“Entah, atau...kayaknya.”

__ADS_1


“Gue cap duluan.” Gara tersenyum miring.


“Gitu ya kamu sekarang,berani selingkuh tanpa sepengetahuan aku.” Rio memanyunkan bibirnya.


“Gue masih normal!”


🍁🍁🍁


Disiang yang terik, dengan sinar matahari yang amat menyengat kulit, siapa sih yang tahan untuk berlama-lama berada dibawahnya? dan kelas 11 IPS 1 tampaknya mau tak mau harus menerima kenyataan jika jam pelajaran olahraga mereka dimulai siang hari,banyak dari mereka misuh-misuh tak jelas dipinggir lapangan, alasannya panas, gerah, nanti kulit mereka bisa terbakar, dan alasan tersebut tentunya didominasi oleh para perempuan.


Namun berbeda dengan Syeila, gadis yang merupakan salah satu penghuni kelas itu tampaknya menjadi yang paling semaangat diantara semua teman-temannya, baginya jam pelajaran olahraga adalah hal yang selalu dinanti-nantinya, bukan karena Syeila suka olahraga, tapi ini adalah kesempatam dimana ia dapat memandang kakak kelas yang disukainya sejak lama dan beruntung ketika kenaikan kelas keduanya akhirnya memiliki jam olahraga yang sama, bolehkah ia berharap ini sebuah takdir bahwa mereka berjodoh? tidak, Syeila terlalu berharap.


Namanya Arga Panduwinata, laki-laki berperawakan tinggi itu bukan cowok yang terlalu populer disekolahnya, maskipun tampangnya bisa dikatakan diatas rata-rata, dia hanya laki-laki biasa yang sikap dinginnya entah kenapa selalu berhasil membuat Syeila jatuh cinta, yang selalu ia intip dibalik rak buku perpustakaan ketika laki-laki itu menutup diri dari keramaian, yang selalu membuatnya tersenyum-senyum sendiri layaknya orang gila hanya karena membayangkan jika laki-laki itu menjadi kekasihnya, tanpa menyadari bahwa mungkin banyak gadis lainnya yang mengagumi Arga diam-diam seperti dirinya, tapi Syeila tak peduli.


Pemanasan mulai dilakukan, ketika teman-temannya sibuk berhitung, Syeila menyempatkan dirinya memandang sosok Arga yang tampak tampan dengan keringat yang membasahi pelipisnya, kulitnya yang putih sedikit berwarna kemerah-merahan akibat terpapar sinar matahari, mati-matian Syeila menahan air liurnya agar tidak mengalir dari sudut bibirnya.


“Syeila, bapak bilang fokus!” hardik Pak Hartono, guru mata pelajaran Olahraga yang jengkel terhadap Syeila yang sejak tadi tak berhenti menolehkan kepalanya ke lapangan sebelah sembari senyum-senyum tak jelas.


Gadis itu tersentak menatap Pak Hartono, kemudian menyengir tanpa dosa, ”hehe ketampanan bapak mengalihkan pandanganku pak, jadi gak kuat aku liatnya.” Celutuknya, sementara teman-temannya terkikik geli.


Tanpa ia sadari tepat ketika kepala Syeila menoleh, sosok yang sejak tadi dipandangnnya kemudian meliriknya, menyunggingkan senyum tipis yang bahkan hampir tak terlihat, sayang, Syeila tak beruntung untuk melihatnya.


“Iya pak kepala bapak terlalu bercahaya.”


Detik selanjutnya tawa teman-temannya pecah begitu saja, Pak Hartono memagang kepalanya yang plontos, sadar bahwa Syeila tengah meledeknya.


"bacanda kamu?!"


Gadis itu hanya tersenyum tanpa dosa, ”iya pak.” Sahutnya sembari mengangguk, seolah itu bukanlah kesalahan besar baginya.


“Lari keliling lapangan 10 kali!” perintahnya dongkol.


“Yahh...bapak.” gadis itu hanya mendengus pasrah sebelum melangkahkan kakinya berlari memutari lapangan, setidaknya ia bisa melanjutkan memandang sosok Arga lagi.


“Kalian kenapa lagi ketawain saya?!”


Seketika semuanya bungkam,tawa tadi bergantikan tundukan takut melihat tatapan tajam Pak Hartono yang membara.


“Semangat Syeila!” teriak seorang laki-laki bermata sipit sembari mengepalkan tangannya keatas yang hanya dibalas jempolan tangan dari Syeila, namanya Dias, salah satu teman Syeila.


“Mau ikutan kamu Dias?!” sentak pak Hartono lagi, yang dengan segera dibalas gelengan takut dari Dias.

__ADS_1


🍁🍁🍁


Laki-laki itu hanya diam, mulutnya bungkam, berusaha menahan gejolak didadanya yang terasa amat menyiksa, membuatnya sesak tiada tara, seolah benar-benar tak ada lagi udara yang bisa ia hirup disana, genggaman tangannya mengerat pada buket bunga yang sejak tadi dipegangnya.


Matanya menatap kosong pada sebuah nisan yang bertuliskan nama seseorang yang masih belum ia terima atas kepergiannya, Gara tahu, bahkan ia sendiri melihat kepergiaannya, namun entah kenapa sampai sekarang ia masih belum menerima segalanya, semuanya berjalan begitu cepat, seolah kejadian naas saat itu yang merenggut wanita pertama yang amat dicintainya hanyalah mimpi, namun sayang, ketika ia bangun ia benar-benar kehilangannya.


Ini kali kadua setelah dua 2 tahun berlalu atas kepergiannya. Ya, selama itu Gara tak pernah mengakui ketiadaannya, bersikap seolah semuanya masih sama, maski yang ia rasa hanyalah hampa, bersih keras bahwa sang bunda akan kembali.


Namun sampai detik ini wanita itu hanya datang dalam mimpi, mengatakan perihal kepergiaannya yang harus ia ikhlaskan dan Gara harap hanyalah sebuah bualan.


Gara tidak pernah ingin bangun lagi...


“Bunda...” liriknya sarat akan kesedihan, diletakkannya buket bunga itu diatas nisan dengan tangan yang gemetar.


“Maafin Gara...seharusnya waktu itu Gara yang pergi, bukan bunda.”


Pandangannya mengabur, dan baru ia sadari bahwa ia mulai menangis, bagaimana bisa seorang laki-laki menangis, padahal dulu dirinya sendiri yang mengatakan bahwa menangis adalah hal yang tabu bagi seorag laki-laki, mungkin setelah ini Gara akan menertawakan dirinya sendiri yang amat begitu menyedihkan.


“Kenapa tuhan lakuin ini sama Gara? kenapa tuhan gak bawa Gara juga sama bunda.”


“Gara malu sama tuhan, kenapa dulu Gara minta hal-hal gak berguna, harusnya Gara minta bunda selalu sama Gara selamanya! Gara nakal! Gara gak nurut apa kata bunda, sampai akhirnya tuhan ambil bunda dari Gara.”


Hening, lirihan itu tak lagi terdengar, bergantikan bisikan angin yang membelai kulit wajahnya lembut, mengeringkan air matanya, yang dalam diamnya pula ia bisikan rindu untuk wanitanya yang ada diatas sana, Laki-laki itu menyeka bekas tangisnya, tangannya mengusap nisan itu sekali lagi sebelum beranjak berdiri meninggalkan tempat itu.


Gara tak tau kemana ia harus pergi, apapun yang ia punya bahkan tak dapat menggantikan kebahagiaan yang telah pergi, kini yang ia lakukan hanya mengikuti langkah kakinya yang akhirnya membawanya kemari, berdiri dipinggir pembatas jembatan, dengan sebuah pertanyaan yang bersarang dikepalanya, bisakah ia merasakan kebahagiaaan itu kembali? dengan bekas luka yang tak akan pernah pergi, dan masih adakah kebahagiaan yang dapat membuatnya bisa bertahan lebih lama lagi disini?


Laki-laki itu menengadahkan kepalanya pada langit yang mulai memunculkan semburat orange tanda bahwa hari akan segera berakhir.


warnanya indah, sesaat membuat Gara terpanah, namun tak melupakan luka, bahwa kebahagiaan pun hanya sesaat, berganti kelamnya malam yang terasa menikam.


Gara membalikkan tubuhnya, menghabiskan sunset dengan luka yang menganga membuatnya merasa sesak,matanya kemudian memandang kearah jalan yang berseliweran berbagai kendaraan yang sejak tadi ia abaikan, hingga sebuah bus yang melaju melewati pandangannya menarik perhatiannya, lebih tepatnya pada seorang gadis yang tersenyum indah sembari menjulurkan tangannya keluar jendela bus yang terbuka menikmati semilir angin sore hari.


Laki-laki itu menegakkan tubuhnya, Gara tak salah, dia adalah gadis kemarin yang memeluknya dari belakang, yang menahannya untuk tidak meloncat dan meluncur kebawah jembatan, yang menonjoknya dengan tidak berperasaan, tanpa sadar kedua sudut bibirnya tertarik ke atas, tanpa sebab, bahkan Gara sendiri tak tau kenapa ia bisa tersenyum.


tangannya kemudian merogoh sebuaah benda yang ia temukan ditempat yang sama,yang sore ini kembali ia pijaki.


“Syeila Anandita.” Gumamnya.



Jan lupa vote, like and komen wankawan😄😗

__ADS_1


__ADS_2