Ya'Aburnee

Ya'Aburnee
Bagian 9. Kesiangan


__ADS_3

“Kita kesiangan!”


Pukul tujuh kurang, entah bagaimana ceritanya keduanya bisa bangun terlambat, membuat suasana yang harusnya tentram dan damai di pagi ini, ralat, pagi menjelang siang ini dipecahkan oleh suara teriakan yang melengking dan memekakan telinga.


Gara yang biasanya selalu bersiap-siap pagi-pagi sekali, kali ini tampak berantakan, tak jauh beda dengan Syeila yang tak perlu lagi ditanya, sembari menuruni anak tangga, laki-laki itu membenarkan dasinya, dua langkah anak tangga didepannya ada Syeila yang sesekali meloncat-loncat kepayahan memasang kaus kakinya.


Syeila terkesiap kala tubuhnya hampir limbung dan mungkin bisa saja berakhir jatuh, beruntung Gara dengan sigap menarik lengannya, tak membiarkan gadis itu jatuh kebawah yang akan semakin membuat pagi ini terasa kacau.


“Hati-hati!” Tegas laki-laki itu, dadanya berdebar menatap Syeila yang juga menatapnya,hingga suara bisikan dikepalanya, yang seolah mengatakan 'Ini cuma kaget', memutus tatapan itu.


Kedua remaja itu berlari kecil ke arah dapur, seperti biasa menghampiri Sabrina yang selalu sibuk dengan alat tempurnya, Gara maju lebih dulu, menghampiri wanita itu kemudian mengecup punggung tangannya.


“Gara berangkat ma!” ucapnya kemudian melesat keluar rumah, tanpa sarapan. disusul Syeila yang sebelumnya sempat membawa Roti lapis diatas meja makan, kemudian berlari menyusul Gara keluar.


Laki-laki itu memasang helmnya dengan terburu-buru, bersiap menggedor motornya, melupakan gadis dibelakangnya dengan mulut penuh yang kemudian memekik.


“Eh tunggu! Aku belum naik!” pekiknya, Syeila menghampiri Gara yang sadar telah melupakannya, saking paniknya.


Gadis itu duduk dibelakangng jok Motor Gara,dengan entengnya sembari mengunyah makanannya, ”Tunggu apa lagi? Gaspol!” Serunya sembari mengepalkan tangannya keatas, namun motor yang ditumpanginya tak juga kunjung melaju.


“Tumben gak usah diajak, naik sendiri.” Ujar Gara masih sempat-sempatnya.


“Aku cukup tau keadaan, kalo kondisinya kayak gini, ya mau gimana lagi.”


"Tapi aku gak ngajakin kamu loh." goda Gara, mengehentikan kunyahan mulut gadis itu.


"Turun, turun, turun." ujarnya.


Syeila semakin tertegun, inikah yang dinamakan balas dendam? kakinya baru saja mau turun ketika Gara tiba-tiba kembali berucap.


"Aku Becanda." laki-laki itu terkekeh puas, yang dihadiahi Syeila dengan pukulan dibahunya.


"Gak lucu Gara!"


“Gak perlu aku ajak sampe tiga kali?”


“Pokoknya Gaspol!” Seru gadis itu.


“Hati-hati! Jangan kebut-kebutan!” teriakan dari dalam rumah, membuat keduanya saling melempar pandang beeberapa detik, seolah berbicara lewat telepati, kemudian Gara tersenyum.


Laki-laki itu melajukan motornya dengan kecepatan normal sebelum keluar dari pagar rumah, setelah dirasanya tak akan menjadi perhatian Sabrina dari dalam yang terus memperhatikannya, laki-laki itu meilirik Syeila dibelakangnya yang masih sibuk mengunyah.


“Pegangan!”

__ADS_1


“Hah?!”


Laki-laki itu benar-benar menggedor motornya, sesuai seruan Syeila tadi, ‘Gaspol!’


“Ya Tuhan lindungi Syeila, Syeila masih pengen hidup, belum ke korea mau ketemu oppa Chang Wook.” Gadis itu komat-komit dengan tangan yang melingkar erat dipinggang Gara, sementara laki-laki itu hanya tersenyum singkat melirik Syeila dari balik kaca spionnya, beralih fokus pada jalan raya.


Tak sedikit beberapa pengendara lain mengumpat kesal karena cara laki-laki itu menunggangi motornya yang terkesan ugal-ugalan dan membahayakan, suara klakson yang bergantian diabaikannya, mau bagaimana lagi, situasinya kini ia sedang terpepet, lagi pula meraka pun barang kali pernah melakukan hal yang sama, yang selalu digumamkan orang-orang sembari menggelng-gelengkan kepala, ‘Anak muda’.


🍁🍁🍁


Kedua mata gadis itu melebar, menatap nanar pagar sekolah dihadapannya yang kini sudah tertutup, kakinya menghampiri pagar itu, mengintip kedalam berharap seorang panjaga sekolah akan membukakannya untuknya, namun nihil, tidak ada siapa-siapa dalam.


“Kita telat Ga! Gimana?!” ujarnya sembari mengguncang-guncangkan pagar itu, padahal sudah jelas terlihat ada gembok yang menguncinya.


Gara tak menyahut, laki-laki itu menengadahkan kepalanya ke atas langit, tampak tengah berfikir, Syeila yang melihatnya hanya diam pun mulai geram.


“Ngapain sih? Bantuin dong gimana caranya masuk?!” sentak Syeilla pada Gara yang kemudian membuat laki-laki itu menoleh padanya.


“Kita manjat.” Ucap laki-laki itu.


“Apa? Manjat? Gak! Gak mau!” tolak gadis itu cepat.


Syeila mungkin termasuk manusia yang tak peduli pada urusan penampilan atau apapun itu, termasuk peraturan, kesiangan bukanlah masalah besar baginya, hukuman sudah biasa menjadi langganannya, tapi kali ini Syeila tak ingin terjebak dengan Gara, Syeila takut, lebih tepatnya mungkin gugup, maski diluar ia terlihat biasa saja padanya, atau malah berkebalikan dengan kata hatinya.


“Pak bukain pak! Saya pengen masuk! Bukain pak!” teriak gadis itu, mengguncang-guncangkan pagarnya, namun percuma, yang ada justru ia bisa saja menarik perhatian guru killer yang biasanya berkeliling mencari mangsanya yang datang kesiangan ataupun membolos.


Syeila mencebikkan bibirnya,”Aku gak bisa manjat.”


“Tenang, ada Gara.” Laki-laki menyugar rambutnya kebelakang, lantas turun dari motornya, mendorong kuda besi itu pada warung yang tak jauh dari sekolah, kemudian kembali menghampiri Syeila yang masih berdiri ditempatnya.


“Ayo.” Ajaknya, mau tak mau akhirnya Syeila mengiyakan ajakan laki-laki itu, bersiap menerima resiko kesialan yang akan menghampirinya.


🍁🍁🍁


“Kaki kamu yang satu lagi naikin!”


“Pegangan yang kuat!”


“Jangan liat keatas!” pekik gadis itu.


“Iya...iya gak liat, warna biru muda kan?”


“Sialan!!” Syeila menginjakkan kakinya dengan kuat dibahu Gara, membuat laki-laki yang kepayahan menahan tubuh Syeila diatas pundaknya itu sedikit oleng.

__ADS_1


“Aku Cuma nebak, serius!” Gara mengangkat tangannya membentuk hurup V.


“Pegangin kaki aku yang bener!”


“Iya-iya mbak,galak banget.” Gara memutar bola matanya jengah.


Akhirnya setelah susah payah berusaha naik keatas tembok yang tingginya 3 meter atau mungkin lebih, gadis itu berhasil sampai diatas, tersenyum dengan bangga.


”Gara aku bisa ye!” serunya pada laki-laki itu yang masih dibawah.


“Sekarang turun pelan-pelan, hati-hati jangan sampe jatuh.” peringatnya, Syeila mengangguk, pelan-pelan gadis itu turun kebawah, hingga kedua kakinya akhirnya dengan aman berpijak diatas tanah.


“Aaaa...Aku jatuh!” pekik gadis itu, kemudian membekap mulutnya manahan kikikan.


Gara yang masih bertengger diatas seketika terkejut mendengar pekikan gadis itu, tubuhnya limbung dan berakhir jatuh kebawah dengan posisi tengkurap, Syeila yang sebelumnya terkikik melotot tak menyangka, buru-buru menghampiri lebih dekat Gara yang tampat meringis kesakitan.


Laki-laki meringis, menatap tajam Syeila yang nyatanya baik-baik saja, “Kamu lagi becanda?” tanyanya kesal.


“Maaf, aku gak nyangka kamu bakal jat-“ ucapan gadis itu terpotong kala suara mengintrupsi tak jauh darinya, membuat kedua makhluk itu terkejut bukan main.


“Kalian berdua!”sentaknya tegas disertai pelototan yang mengerikan.


Kedua remaja itu menegang, saling melempar pandang, seolah bertanya ‘apa yang harus kita lakukan?’


“Syeila dan...”


“Dia tadi manjat tembok bu, saya tadi mergokin dia.” Sambar gadis itu menyentak wanita tua itu.


“What?!” Gara menatap Syeila dengan tatapan menuntut, kenapa tiba-tiba gadis itu menuduhnya, begitu pikirnya.


“Serius bu, dia kesiangan!” tunjuknya pada Gara dengan mimik wajah yang dibuat semeyakinkan mungkin.


“Bohong bu, Dia juga kesiangan! Saya murid teladan, mana mungkin kesiangan.”


“Wah fitnah itu gak baik!” sambar gadis itu.


“Kamu sendiri yang fitnah aku.” kesal Gara.


“Kalian berdua saya hukum!” Cetus wanita tua itu, singkat dan tak terbantahkan.


"Ikut ibu sekarang!" perintahnya.


Gara dan Syeila hanya mendengus pasrah, sebelum melangkah mengikuti wanita tua itu, Syeila meraih tasnya yang tergelatak disamping tas Gara, tak lupa ia ambil juga tas laki-laki itu, mengasongkannya pada laki-laki itu yang hendak menerimanya.

__ADS_1


"Tas kamu bagus." ucapnya kemudian melemparkan tas Gara kesebarang arah ketika laki-laki itu hendak meraihnya, tersenyum manis seolah tak melakukan kesalahan, kemudian lari terbirit-birit meninggalkan Gara yang hampir saja menyemburnya dengan kata-kata mutiaranya, yang akhirnya hanya bisa tertahan ditenggorokan, kurang ajar.


Bersambung...


__ADS_2