
“JANGAN!!!”
“Jangan loncat!jangan!”
Syeila memeluk punggung laki-laki itu tepat sebelum bayangannya meluncur dan menjadi mimpi buruk disetiap tidurnya, fenomena semesta yang membuatnya untuk pertama kalinya memeluk seorang laki-laki, dengan terpaksa.
”Setidaknya kamu berguna sedikit! jadi pengusaha, jadi CEO kaya, atau artis-artis korea!” ujarnya setengah berteriak.
“Artis-asrtis korea?” balas laki-laki itu sedikit bingung dan terkejut ketika seorang gadis tak dikenalnya tiba-tiba memeluknya dari belakang.
“Pokoknya jangan loncat! jangan!”
“Loncat? siapa yang mau loncat?” dahinya mengernyit tak mengerti, laki-laki itu terkekeh geli, lantas turun dari pembatas jembatan itu dan menghadapakan tubuhnya pada Syeila dengan senyuman yang tak dapat Syeila artikan, jika boleh Syeila bertanya, siapa yang tak waras diantara mereka sekarang?
“Ka-kamu tadi...loncat.” ucap gadis itu terbata-bata.
“kamu ngira aku mau bunuh diri?” tanya laki-laki itu diakhiri tawa pecah dari mulutnya, sementara Syeila yang lebih pendek darinya hanya menatapnya datar dengan amarah yang meletup-letup dikepalanya berusaha ia tahan, dalam hatinya berharap laki-laki itu tidak menghasilkan cipratan ludah dari mulutnya dengan tawa yang lebih mirip genderuo, Syeila bersumpah jika itu terjadi tangannya dengan senang hati akan menamparnya.
“Aku? bunuh diri? pfffttt!” laki-laki itu mendekatkan wajahnya pada Syeila, kemudian kembali tertawa terbahak-bahak, kurang ajar.
“Wajah tampan ku terlalu berharga buat menghilang dari muka bumi ini.”
“Saran kamu oke juga kalo aku jadi artis korea.”
“Gimana kalo aku gabung boyband smash?”
“Itu bukan boyband korea.” balas Syeila masih dengan wajah datarnya.
“kalo gitu boyband-nya Mbah surip!”
“Dia bukan boyband, dan dia udah meninggal, sialan!”
Syeila mengepalkan kedua tangannya, menatap nyalang laki-laki itu yang masih tak berhenti untuk tertawa, amarahnya tak dapat lagi ia tampung sekarang, sudah cukup kesialannya sampai disini, rasanya ia telah dipermainkan, dan tidak boleh ada yang berani mempermainkannya, dalam satu gerakan, tinjuan keras mendarat dipipi kanan laki-laki itu, membuatnya bungkam seribu bahasa dengan tatapan Syeila yang seolah dapat menghunusnya.
“Dasar gak waras!” cerca Syeila, bagaimana bisa ia dipermaikan seperti ini? panik setengah mati, berlari layaknya orang kesetanan, hanya untuk menyelamatkan orang aneh yang nyatanya hanya ingin mencari perhatian.
Laki-laki itu menatap Syeila tak percaya, gadis seimut dan sepolos Syeila ternyata mempunyai jiwa warior, sekarang ia penasaran apa mungkin gadis dihadapannya itu keturunan petinju Kris John.
“Apa?!” sentak gadis itu dengan dagu menantang.
Laki-laki itu masih tertegun, memegangi pipinya yang pastinya terasa sakit.
“Gak usah bilang makasih.” sergahnya kemudian berlalu begitu saja sebelum laki-laki aneh itu kembali bersuara, kenapa harinya bisa sesial ini? Syeila berharap ia tidak akan bertemu dengan makhluk seperti tadi lagi, tidak akan!
🍁🍁🍁
Drttt...drttt...
Getaran diponselnya berhasil menarik tangannya yang sejak tadi tak terlepas dari pipinya untuk merogoh benda pipih itu dari sakunya, ia menggeser tombol hijau untuk menjawab panggilan telephone dari seseorang.
__ADS_1
“Hallo Gara!”
Gara spontan saja menjauh kan ponselnya dari telinga ketika sebuah panggilan dengan nada tinggi membuat telingannya terasa berdengung.
“Iya hallo! gak usah teriak-teriak segala, gue gak budek.”
“lo dimana sekarang? gue cari dirumah, lo gak ada, kenapa disana berisik?”
“gue lagi dijalan raya, emang brisik.”
“Ngapain dijalan raya? lagi latihan jadi pemulung lo?”
“Lo telfon gue Cuma mau ngatain?”
Seseorang disebrang sambungan telfon itu terkekeh, membuat Gara berdecak kesal.
”Ulu ulu...dedek Gara gemes deh, udah lama kita gak ketemu, lo balik gak bilang-bilang, gue kangen tau.” ujar orang itu, suaranya kini terdengar manja dan terkesan dibuat-dibuat, percayalah itu akan membuat kalian mual jika mendengarnya.
"Gue enggak." jawab Gara datar.
"Gue juga."
"Terus tadi?"
"Aku dusta."
“Ulu ulu Yoyo sayang aku juga kangen, ayo ketemu.” Balas Gara dengan nada yang dibuat-dibuat pula, dan kali ini kalian bener-benar merasa mual.
“Jijik gue yo!”
“Lo kira gue enggak?!”
“Lo yang mulai duluan.”
“Lah kok jadi gue?”
“Brisik! gue tutup ya.”
“Iya gara sayang.”
“Yo!"
“Iya-iya, galak banget sih lo, pms ya?”
Tak ingin lagi menanggapi, Gara memutus sambungan telephonenya sepihak begitu saja, memasukkan benda itu ketempatnya semula, tangnnya kembali memegangi pipinya yang masih terasa ngilu, beruntung pipi nya yang gadis itu tonjok bukan...oke lupakan! untuk pertama kali dalam sejarah hidupnya seorang gadis menonjoknya, namun detik itu pula, ada hal yang berbeda terhadap pandangannya mengenai gadis tadi, dia...berbeda.
Gara tak pernah mempercayai jatuh cinta pada pandangan pertama, bagaimana bisa dua orang yang baru saja bertemu bisa jatuh cinta secepat itu, baginya itu terlalu mengada-ngada, dan setaunya hanya ada disinetron atau FTV saja, namun kenyataannya hal ini tentang bagaimana cara dia menyadarinya, mengakuinya, dan meyakinkannya, mungkin semuanya butuh waktu, maski sejak awal seharusnya ia tahu jawabannya.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Syeila melemparkan tas ranselnya begitu saja ke atas sofa, melepas sepatunya dengan malas tanpa meletakkan benda itu ke tempat seharusnya, dengan tak sabar ia berjalan lunglai kemudian membantingkan tubuhnya berbaring diatas sofa begitu saja, sementara kaos kaki masih melekat dikakinya.
kedua matanya terpejam lelah, namun seolah ketenangan belum berpihak padanha, sebuah suara lengkingan sang mama yang baru saja keluar dari dapur, membuatnya terpaksa kembali melebarkan matanya.
“Ya ampun Syei! bukannya masuk rumah salam dulu, kamu malah langsung baringan! mama juga udah bilang berapa kali, sepatu kamu harus disimpen di-rak, terus itu kaos kaki bau dibuka dulu!”
Syeila mencebikkan bibirnya kesal menatap sang mama.
”Syeila capek mamaaaa...” rengeknya seperti anak kecil.
“Ya terus mama yang harus beresin? kamu kan udah gede, udah gak mimi lagi, atau masih mau mimi nih!”
“ikhhh mamaaaaa...”
Sabrina, wanita yang hampir berkepala 4 itu terkikik geli melihat kelakuan putrinya.
”Yaudah cepet beresin, mama mau lanjut masak.” titahnya seiring Syeila yang beranjak membereskan sepatunya, namun pertanyaan dengan nada merengek dari gadis itu kemudian membuat langkahnya kembali tertahan.
“Mah kenapa aku gak beli motor aja sih?!”
“Lah ini kenapa lagi tiba-tiba minta dibeliin motor? pake sepeda aja kamu nyungsep terus, apa lagi pake motor, haduh mama gak kebayang deh.” Sabrina memegangi kepalanya seolah tengah membayangkan.
“Ya aku capek, masa tadi aku dari sekolah jalan kaki!” ungkapnya dengan tatapan nanar.
“Kan mama bilang ikut Sakka aja, bonceng sepedanya.” wanita itu memperagakan gerakan menaiki sepede sembari menaik-turunkan alisnya.
“Mama pikir aku mau?! ogah banget! yang ada sampe sekolah tinggal nama doang.” Syeila memutar bola matanya, jelas sebagai jawaban penolakan.
“Ya terus mama harus gimana?” Sabrina mengedikkan bahunya.
“Kalo gak beli motor, beli mobil kek, sewa sopir, papa kan kaya.”
“Manja banget! ikut gerobaknya mang sayur aja, sewanya gratis.” Ujar Sabrina diakhiri tawa pecah, membuat Syeila tak dapat lagi menahan kesalnya.
“Mama jahat! gak ngerti aku huaaa...” gadis itu seketika lesehan dilantai dengan tangisan yang menggema, persis seperti anak kecil.
Bersamaan dengan itu seorang anak laki-laki berbaju putih biru tiba-tiba masuk dari balik pintu dengan pandangan cengo melihat sang kakak perempuannya menangis layaknya anak kecil dan mama yang tertawa terbahak-bahak, namun sedetik kemudian ia ikut tertawa bersawa sang mama, sungguh kejam.
Syeila menatap tajam anak laki-laki itu yang membuatnya semakin berapi-api, ”Jangan ikutan kamu Sakka!” sentaknya.
Sakka seketika bungkam tak berkutik, hati-hati menghampiri mamanya dan mengecup punggung tangan wanita itu kemudian melenggang masuk kedalam kamarnya sebelum sang kakak mengamuk.
Sabrina berkacak pinggang, menghampiri putrinya, ”cup...cup...udah jangan nangis, sekarang mendingan kamu keatas istirahat, jangan lupa mandi, nanti malem mama panggil buat makan malem, oke.”
Sabrina menarik tubuh putrinya berdiri, menggiringnya menuju kamarnya yang berada dilantai 2.
“Tapi beli motor ya mah.” Syeila masih menyempatkan memasang pupy eyes nya, berharap sang mama bisa luluh terhadap permintaannya yang memang terlalu tiba-tiba.
Namun sepertinya itu tak berpengaruh, dengan segera setelah memastikan putrinya masuk kedalam kamarnya dan tak lagi menyembulkan kepalanya, Sabrina cepat-cepat menuruni tangga sembari terkikik geli.
__ADS_1
Bersambung...
kalian tau kan caranya menghargai sebuah karya?😟walaupun ini mungkin agak acak acakan,tolong kasih author apresiasi oke oke😁