Zona Virtual Humaira

Zona Virtual Humaira
Ancaman


__ADS_3

Erlan menatap Alif yang sedari tadi hanya mondar-mandir di koridor disebelah kantin. Bukannya melaksanakan janji yang telah di ikrar, justru dokter muda itu tampak seperti orang yang tengah stres. Bagaimana tidak, jika ternyata kemarin sore Humaira memang sengaja mengirimi Erlan pesan di Instagram. Memang yang mendekati pertama kali adalah Erlan, ia mengaku jika merasa tertarik dengan akhwat tersebut. Beberapa kali akhwat itu sempat mengomentari postingan Alif.


Erlan berpikir ia pasti menemukan sesuatu, ia merasa ada yang disembunyikan oleh sahabatnya. Bagaimana tidak, beberapa tahun yang lalu sekitar 2 tahun-an. Alif terpergok menyukai seorang gadis yang tengah dalam masa Koas, mungkin usianya baru sekitar 19 tahun. Sangat muda sekali, dan gadis itu merupakan keponakan dari pemilik rumah sakit. Saat hal tersebut sampai kepada Ustadz Irwan, maka pemilik rumah sakit tersebut memperingati Alif agar tidak melakukan kesalahan fatal.


Pertama, Alif merupakan dokter muda yang baru bekerja dirumah sakit tersebut. Kedua, gadis yang merupakan keponakan pemilik rumah sakit tersebut sangat terjaga. Ia merupakan anak dari keluarga orang yang taat kepada Allah. Terlebih Ayah dari Zulaikha telah berpulang ke Rahmatullah. Jadi Irwan sebagai adik dari Ayah Zulaikha, bertanggungjawab untuk menjaganya. Ketiga, Zulaikha masih sangat muda untuk mengenal cinta. Ke-empat, Irwan tak ingin jika Alif dan Zulaikha menikah muda.


Maka insiden tersebut mampu memanggil sang umi dari seorang Alif, setelah bermusyawarah ustadz Irwan sepakat untuk memaafkan kesalahan Alif. dengan catatan ia tidak boleh terlalu berdekatan dengan Zulaikha. Sementara Zulaikha dipindahkan kerumah sakit lain.


"Lif! Antum ga lagi suka sama akhwat lain kan?" Erlan menatap sahabatnya yang sengaja menghindar.


"Lif, ingat janji Antum sama ustadz Irwan! ana penasaran sama akhwat yang sering komen postingan antum di Instagram, siapa akhwat itu?"Erlan berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Alif yang terus berjalan cepat.


"Apaan sih Lan, ngapain antum urusin ana! Mau suka sama siapa aja kek, ga ada hubungannya sama ustadz Irwan!" Ketus Alif meninggalkan Erlan yang terdiam, dan mengurungkan niat untuk mengikuti sahabatnya.


"Oke, Ana bakalan dekatin akhwat di sosmed itu! awas aja!"teriak Erlan lalu memutar balik langkahnya.


Teriakan itu mampu membuat Alif menghentikan langkah, dan mengepalkan tangannya. Ini tidak boleh dibiarkan, ia tidak akan mudah terjebak dengan ancaman dari Erlan.


...****************...


Ghaza merapikan mushalla tempat ia mengajar, beberapa menit yang lalu murid didiknya telah meninggalkan area TPA. Ia menatap layar ponselnya lalu menghembuskan nafas panjang, ia merasa canggung bila harus bertemu dengan Humaira.


Sementara Humaira tengah berjalan kaki menuju ke danau tempat biasa ia menenangkan pikiran. Ia bingung akan hubungannya bersama Alif, dan sekarang Erlan sebagai sahabat Alif tengah mendekatinya. Notifikasi pada ponsel miliknya membuat Humaira bergegas membaca pesan singkat dari seorang Alif Fikri.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, Mon kamu ada kan di message sama Erlan? jangan di hiraukan! soalnya kemarin aja dia nyari tahu kamu siapa, dia sampe nyari keseluruhan rumah sakit tahu! dia itu playboy, jadi jangan dekat sama dia ya, kamu ga mau kan kalau ustadz Irwan sampai tahu?"

__ADS_1


Humaira membaca pesan tersebut dengan perasaan sedikit terhimpit, dadanya sesak akan hal tersebut. Ia memang cukup kenal dengan ustadz Irwan si pemilik rumah sakit, bahkan sempat beberapa kali untuk konsultasi. Jika mengingat beliau, justru Humaira teringat kembali kisah beberapa tahun silam. Alif sempat mencurahkan isi hatinya jikalau dokter muda itu tengah menyukai seorang gadis bernama Zulaikha. Ustadz Irwan juga merupakan Paman Zulaikha sendiri. Kisah lama itu membuat perasaan Humaira tercabik-cabik.


Dulu sebelum ia batal menikah, bahkan jauh sebelum mengenal sosok Rudhi. Sebelumnya ia memang telah mengenal Alif, namun terkendala skenario takdir mereka terpisahkan. Humaira kala itu memang telah menyukai sosok Alif secara diam-diam. Namun Alif sama sekali tidak mengetahuinya, setelah dipertemukan kembali perasaan itu semakin melebar. Alif yang tidak peka selalu menceritakan kesehariannya, terlebih ia tengah menyukai seseorang. Humaira masih diam, mempertahankan cinta didalam diamnya.


Setelah mengetahui jika Alif juga dekat dengan Ocha, barulah Humaira berani mengungkapkan perasaannya. Alif ternyata memiliki perasaan yang serupa, namun perasaan yang serupa apakah menjamin untuk bisa bersama?


Ponsel Humaira kembali bergetar, ternyata Alif menelponnya. Setelah kesadarannya kembali, Humaira segera mengangkat telepon tersebut.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, kenapa Aa?"


"Wa'alaikumussalam warrahmatullahi wabarokatuh, udah baca pesan Aa belum, tumben belum dibalas? biasanya kan kamu sat-set! Oh iya mooon, Aa kangen."


Humaira terkekeh mendengar ucapan Alif, ia tahu jika Alif memiliki gengsi yang kelewat batas. Sedikit kaget aja kalau dia tiba-tiba bilang kangen duluan.


"Ish Salah siapa suka nontonin Doraemon, Meyaemon ahahhaha."


"Iya aku juga kangen, Aa sih ngilang Mulu! trus tiba-tiba muncul lagi! hubungan kita ini apa ya Aa?"


"Ciee juga kangen, eh udah dulu ya sayang, Aa dipanggil nih, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh."


Bip!


Bersamaan dengan telepon yang terputus Humaira menghela nafas berat. Ia merapikan barang-barang miliknya lalu meninggalkan danau. Berlalu dengan sebuah sepeda dan hilang di tikungan gelap dibalik pohon.


...****************...

__ADS_1


Abdan menatap Humaira yang sedari tadi cemberut, ia tersenyum sekilas lalu menatap pematang sawah diseberang pondok pesantren. Menyaksikan petani yang tengah menanam padi, ditemani semilir angin yang berhembus, membuat keduanya terdiam menikmati suasana yang teduh.


"Kenapa?" Abdan tak dapat menahan untuk tidak bertanya, ia sungguh penasaran akan perasaan gadis disampingnya.


Humaira menggeleng lalu memanggil beberapa santri untuk segera menggelar tikar. Humaira bersama beberapa anak mentoring yang di amanahkan kepadanya tengah melakukan rihlah didepan sawah pesantren.


"Antunna kesana duluan ya, nanti ana sama Gus Abdan nyusul ya."


"Na'am zah, ana pamit dulu mari zah, Gus." Santriwati itu segera menginterupsi kepada kelompoknya untuk segera memulai menyusun makanan.


"Kamu kenapa? Jawab saya! Jujur Meya!"Tegas Gus Abdan dengan nada rendah.


"Ini privasi saya Gus, Gus siapa? sampe berhak tahu semua tentang saya, permisi saya duluan kesana! Assalamualaikum!" Humaira menghentakkan kakinya kesal dengan sikap anak pemilik pesantren. Ia tahu jika tak selayaknya berbuat demikian kepada Gus Abdan. Tetapi tak boleh juga Gus Abdan mencampuri urusan pribadinya bukan?


Setelah acara makan bersama berakhir, Humaira menghampiri Gus Abdan yang tengah mengobrol dengan kepala pengasuhan putra. Setelah meminta izin akhirnya ia bersama Gus Abdan sedikit menjauh beberapa meter dari kerumunan.


"Saya minta maaf Gus, jika tadi saya kelewatan. Maafin saya ya Gus!" Tutur Meya dengan lenguhan nafas lelah.


"Hmmm khayr! tapi kamu kalau ada masalah apapun boleh kok cerita sama saya, saya siap mendengarkan dan memberikan solusi, in syaa allah Kalau Allah bantu."


"Saya bingung harus mulai darimana Gus! intinya ini tentang perasaan suka saya terhadap seseorang! dan saya bingung, obat terbaik daripada kedua insan yang tengah jatuh cinta ialah menikah! tapi masalahnya dia ga ngerti kode saya Gus! Apa perlu saya seperti Zulaikha? Mengajak menikah duluan?"


"Itu lebih baik, daripada zina berkepanjangan! kamu tahu jika zina tidak hanya melakukan hubungan suami istri? melainkan ada zina hati, zina mata, zina pikiran, zina lisan, dan masih banyak zina lainnya! gaada salahnya jika kamu memang mau mengajak dia menikah." Abdan menengadah menatap langit yang mulai berwarna jingga. Memberikan kode kepada Humaira untuk segera balik kelingkungan pesantren.


"Baik Gus terimakasih! mari saya duluan ya kesana bareng anak-anak, Assalamualaikum."

__ADS_1


__ADS_2