
Seorang Gadis yang tengah memakai seragam BUMN Itu tengah asyik berkutat dengan monitor komputer miliknya. Tampak sesekali alisnya bertaut jika terdapat angka-angka yang selisih. Ia harus benar-benar menghitung dengan sempurna, jika tidak maka ia akan mencari selisih uang perusahaan sampai larut malam.
Seperti beberapa pekan lalu, ia adalah seorang karyawan baru di sebuah bank. Ia bekerja sebagai FAO (Finance Administrasion Officer). Tanpa sengaja ia Miscommunication dengan seorang senior. Sehingga ia tetap mencari nominal rupiah yang telah di transfer ke kantor pusat.
Gadis itu melibatkan HD (Helpdesk) untuk membantunya menemukan selisih hingga larut malam. Kejadian itu membuatnya lebih berhati-hati dan lebih teliti. Juga lebih sering bertanya sesuatu yang membuat ia ragu.
Tengah asyik membuat laporan keuangan, tiba-tiba notifikasi WhatsApp membuatnya menghentikan kegiatannya. Ia beralih pada halaman WhatsApp dan membuka pesan seseorang.
***📨📨📨** (4 Message*)
Mutia...
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh,"
"Kak apa kabar?"
"Beberapa pekan lagi, kamu libur kan? Bisakah kamu mampir ke rumahku seperti biasanya?"
"Ada Abangku yang tertarik kepadamu, sepertinya ia serius dan ingin menikahi mu 🤔."
...📨📨📨( Message sent)...
^^^"Wa'alaikumussalam warrahmatullahi wabarokatuh,"^^^
^^^"Alhamdulillah sehat, kamu sendiri apakabar?"^^^
^^^"Aku pikir ada apa, sampai-sampai kamu mengirimiku banyak pesan seperti ini, memang aku beberapa pekan lagi akan libur, tetapi sepertinya aku tidak bisa mampir ke rumah mu, bukannya bulan lalu aku sempat kerumahmu?"^^^
^^^"Aku rasa aku belum bisa berkenalan dengan pria manapun, tapi karena dia adalah Abangmu, jika dia serius silahkan datangi orangtuaku! Kau tentu tahu bukan? Semua tentang diriku, kita sudah berteman dari 14 tahun yang lalu bukan?"^^^
📨📨📨
Mutia...
"Baiklah, jika begitu aku akan meminta Abangku untuk menemui ayahmu, lalu melamarmu 🤣."
^^^📨📨📨^^^
__ADS_1
^^^"Terserah kau saja."^^^
...****************...
Ketika obrolan singkat itu berakhir Humaira menghela nafas panjang. Tak habis pikir dengan pemikiran sahabatnya. Mutia adalah adik kelas waktu ia masih dibangku Tsanawiyah, dan mereka masih berteman baik sampai dengan sekarang, ada dua lagi sahabat mereka, tak lain Sisi dan Lina.
Sebetulnya mereka bertiga adalah adik kelas Humaira. Tak tahu mengapa mereka berempat bisa sedekat seperti sekarang ini.
Humaira kembali melanjutkan aktifitas menginput data. Menghitung uang dan menyusun beberapa berkas yang berserakan di rak belakang meja kerjanya.
Membubuhkan tanda tangan pada beberapa berkas dan melubangi beberapa kertas. Perkejaan yang membosankan, begitulah sekiranya yang dijalani oleh sosok Humaira.
Setelah dirasa Daily closing telah betul dan benar, yakin jika besok sistem secara otomatis akan naik tanggal. Ia kembali sibuk berselancar di dunia virtual.
Tenang saja ia takkan terjebak pada dunia fake tersebut, ia hanya menjadi seorang penulis online disebuah platform. Tengah asyik membaca komentar pada sebuah cerita yang ia tulis. Beberapa orang memintanya untuk bergabung pada sebuah komunitas literasi. Tanpa ragu iapun segera bergabung pada komunitas tersebut.
Tak berselang lama iapun berkenalan dengan sejumlah orang, yaitu El, Rama, Diva, Oliv dan Alif Fikri. Sepertinya tampak menyenangkan mengenal orang-orang yang memiliki pemikiran yang sama, Hobby pun sama.
...****************...
Hingga pada suatu ketika Ayahnya meminta ia untuk segera pulang. Dikarenakan ada hal yang tidak bisa ditunda. Bahkan Ayah memaksa Humaira untuk resign dari tempatnya bekerja sekarang. Dikarenakan sekarang Humaira tengah merantau di sebuah kota, yang jaraknya hanya sekitar 8 jam dari rumah tempat ia tinggal. Akan tetapi masih berada di provinsi yang sama.
Humaira memikirkan sebuah siasat, ia tidak suka dengan keramaian. Dan ia juga tidak suka berada ditempat malam seperti para rekan kerjanya tersebut. Humaira berfikir ia akan mangkir hari itu juga. Ia memesan travel langganan, ia akan pulang dan takkan kembali.
Memang ia belum melaksanakan tekan kontrak. Jadi ia takkan terjerat pasal apapun. Tapi hal ini juga tidak dapat dibenarkan. Esok adalah hari kepindahannya ke kota. Dikarekan ia dimutasi ke kota yang lebih dekat dengan keramaian. Tetapi ia tak mengambil kesempatan baik itu. Ia nekat untuk pulang hari itu juga.
...****************...
Didalam perjalanan Humaira tiada hentinya menghirup udara agar ia merasa lega. Ia tahu ini sebuah kesalahan, tapi ia tak sanggup hidup dengan keadaan tak sehat. Ia merasa ditempat ia bekerja layaknya mereka dijadikan sapi perah. Pantas saja kantor dan mess tergabung dalam satu bangunan. Agar diwaktu istirahat mereka dipaksa bekerja. Diwaktu libur terkadang mereka juga bekerja.
Belum para rekannya yang suka ketempat malam seperti itu, ia tak mau terbawa arus. Lebih baik mencegah daripada mengobati. Lagipula sang ayah juga memintanya untuk lekas pulang. Karena lamanya perjalanan ia tertidur pulas. Sekarang ia tak khawatir dengan kondisi seperti ini. Berbeda dengan dulu saat ia takut dengan travel. Takut diculik ataupun takut dilecehkan.
Tetapi benar, sebelum kita menilai lebih baik kita menyelami terlebih dahulu. Sehingga kita tahu itu hanya sekedar kabar burung yang beredar atau sebuah fakta yang tengah ditutupi.
Tak terasa akhirnya ia sampai pada sebuah rumah yang berwarna hijau Sage. Ia turun dan segera membayar ongkos, supir travel itupun membantunya untuk mengangkut barang-barang.
"Uda Hengky terimakasih ya."
__ADS_1
"Samo-samo Uni."
Humaira segera mengetuk pintu rumahnya, sementara Uda Hengky masih menunggui sampai Humaira masuk kedalam rumah. Setelah pintu dibuka, dan Humaira masuk maka travel itupun segera pergi.
...****************...
"Meya pulang bukan untuk menikah! Meya belum mau menikah," lirih Humaira saat mendapati kabar jika beberapa bulan yang lalu ada seorang pria melamar.
"Pria itu bilang, Jika kamu yang menyuruh dia untuk datang kerumah Ayah, dan Ibu bingung harus melakukan apa? Selain menunggumu untuk pulang."
Humaira teringat akan obrolan singkat saat Mutia menyampaikan jika Abang-nya akan menikahi Humaira.
Humaira segera menelpon Mutia, lalu mereka mengobrol cukup lama. Ternyata benar, saat Humaira bercanda untuk menyuruh agar Mutia meminta abangnya segera langsung melamar. Kebodohan macam apa ini?
Humaira segera mengambil kendaraan miliknya, ia akan segera kerumah Ayah. Mungkin jaraknya sekitar 40 menit berkendara.
Sesampai disana, ternyata Humaira bertemu dengan seorang pria. Yang membuatnya Dejavu, ia teringat seorang ketua tawuran pada masa dibangku Aliyah. Ada seorang geng berdarah dingin yang sering membunuh siapapun. Dan sialnya ketua-nya itu adalah Abang dari Mutia, yang akan melamarnya. Sebelumnya Humaira sudah tahu semua seluk-beluk tentang keluarga Mutia.
Benar, Mutia bersaudara sebanyak 10 orang, 7 diantaranya adalah laki-laki dan 3 diantaranya adalah perempuan. Dan Mutia adalah anak nomor 6, dan Abang yang melamarku itu adalah anak nomor 4. Aku pikir yang akan melamar ku adalah anak nomor 5. Dan aku tahu betul seperti apa watak Bang Rudhi, ia terkenal keras, kejam, dan dingin. Dan aku tak mau menikah dengan orang itu.
Tetapi sialnya, keluarga Ayahku telah meng-iya-kan-nya. Tanpa meminta persetujuan dari Humaira terlebih dahulu. Ada beberapa seserahan yang telah kelurgaku terima. Tentu sebelumnya menghadapi rintangan yang cukup berat. Karena adat didaerahku tinggal sungguh berat.
Tak ingin mengecewakan banyak pihak, dengan terpaksa Humaira menerima saja. Hari itu ia di-khitbah oleh seorang pria yang tidak pernah ia sukai. Apakah benar mereka berjodoh?
Seorang pria yang memakai pakaian gelap. Selalu mengenakan topi. Hanya memiliki tinggi 165 cm, sementara Humaira mendambakan sosok pria yang memakai pakaian islami. Memiliki tinggi minimal 170 cm. Dikarenakan ia adalah sosok wanita yang cukup tinggi, dengan tinggi 160 cm.
Pria itu terlihat beringas, Humaira takut jika suatu saat nanti ia akan dipukuli. Karena sejauh yang ia ketahui, pria itu juga pernah memukuli Mutia. Kenapa pria bernama Rudhi itu tiba-tiba melamarnya?
...****************...
Setelah acara lamaran berlangsung, maka tanggal pernikahan pun telah ditetapkan. Sekitar 1 tahun dari sekarang, Humaira sengaja meminta waktu yang cukup lama. Dikarenakan ia memang tak mengingkan pernikahan tersebut. Ia berharap dengan mengulur waktu, maka Allah akan membantunya.
Beberapa bulan kemudian. Humaira merintis usaha kuliner kaki lima, dikarena pandemi covid-19 maka usahanya terbilang gagal. Sehingga ia mencoba berbagai cara untuk meraup penghasilan. Ternyata Allah memberikan jalan, selain ia mengasuh salah satu sepupunya yang masih bayi. Ia juga tengah belajar skill design menggunakan android. Dan Alhamdulillah itu cukup untuk membiayai kebutuhan sehari-hari.
Cobaan menjelang pernikahan silih berganti, dari Rudhi yang sering menghina keluarga Humaira yang berantakan. Sehingga Rudhi yang ketahuan berselingkuh. Rudhi yang seringkali memblokir Humaira dan mengucapkan kata berakhir.
Tapi tak dipungkiri jika kebaikan Rudhi juga tak terhitung, sehingga membuat Humaira perlahan-lahan jatuh cinta. Tetapi percuma. dengan banyaknya konflik, terlebih ternyata orangtua Rudhi tak suka kepada keluarga Humaira yang berantakan.
__ADS_1
Mereka merasa jika mereka berasal dari keluarga terpandang. Dan tak sebanding dengan keluarga Humaira yang hancur berantakan. Hingga orangtua Rudhi berusaha menghasut, agar pernikahan itu dibatalkan.