
Kembali Humaira digantung tanpa adanya tali, entah apa maunya seorang Alif Fikri. Humaira sudah mencoba mencari tahu jawaban apa yang diberikan pemuda itu. Namun, pemuda itu kerapkali menghindarinya. Lelah dengan semua keadaan yang terjadi akhirnya Humaira memilih pasrah dan berdamai dengan keadaan. Katakanlah ia masih mencintai Alif, bukan berarti tak mau lagi memperjuangkan cintanya.
Dirasa tak perlu lagi berlarut-larut dalam kesedihan. Humaira memulai serangkaian aktivitas yang padat. Kebetulan sekali bulan ramadhan ini salah satu founder komunitas hijrah tengah mengadakan kegiatan challenge. lebih tepatnya belajar design bareng challenge (Bedebar Challenge) 30 Days.
Setiap peserta ditantang untuk mengikuti serangkaian kegiatan design, dimulai dari tema tertentu. Hingga sampai pada beberapa resep makanan, bahkan termasuk dengan agenda rutin. Memang setiap pemenang akan mendapatkan reward uang tunai.
Tak disangka ternyata Humaira menemukan Alif pada komunitas tersebut. Dikarenakan peserta Ikhwan yang ikut hanya sedikit, maka Alif dan beberapa Ikhwan lainnya bergabung pada komunitas akhwat. Alhasil komunitas tersebut dicampur, tak menyurutkan semangat berpuluh-puluh peserta mengemukakan keterampilan mereka.
Hingga pada akhir challenge ditemukan tiga orang pemenang, dua diantaranya tak lain Alif dan Humaira. Juara pertama, diraih oleh Alif Fikri mendapatkan uang tunai senilai Lima Ratus Ribu Rupiah. Sementara Juara kedua, diraih oleh mbak Asni dan mendapatkan uang tunai senilai Tiga Ratus Ribu Rupiah. Berbeda dengan Humaira yang hanya mendapatkan uang senilai Seratus Lima Puluh Ribu Rupiah, sebagai juara terakhir tentunya.
Tak bisa dipungkiri jika Alif memiliki ketelitian dan aktualisasi dalam pengeditan design. Berbeda dengan Humaira yang selalu kebingungan untuk menentukan warna palet. Tetapi sebagai pemuda yang sayang kepada Humaira, Alif bersedia mengirimi uang tersebut kerekening milik gadis itu. Hubungan mereka kembali dekat, bercanda seperti dahulu kala. Dan saling mencurahkan seluruh rasa sayang.
...****************...
Alif menatap atasannya dengan gurat kekecewaan, ia tak habis pikir jika semua ini terjadi kepadanya. Beberapa pekan yang lalu ia ditugaskan diluar kota, jauh dari sang umi tercinta. Namun, saat ia kembali ia harus berhadapan dengan kenyataan.
Ia menatap sang umi yang selalu memancarkan binar kebahagiaan. Memanggil Alif untuk mendekat, memeluknya erat untuk menyalurkan rasa rindu.
"Kamu masih mencintai Zulaikha?" Tanya Umi Aini dengan senyuman hangat.
Alif bingung harus merespon seperti apa, ia menatap ustadz Irwan bergantian dengan Zulaikha yang menunduk malu dipojokan ruang tamu.
"Oh Tuhaaaaaaaan! apa yang harus Alif lakukan, jika Alif menolak! tentu akan membuat Zulaikha terluka! jika Alif tak jujur, tentu pasti Humaira akan hancur!"
Aini mengusap lembut punggung anak bungsunya dengan lembut, lalu mengajaknya untuk duduk.
"Ustadz Irwan datang kesini, untuk memilih kamu agar menjadi suami dari Zuha, dulu memang belum boleh! tapi sekarang udah boleh, jadi kapan kalian akan menikah?" Tutur Umi Aini dengan raut bahagia.
Alif bingung, ia sama sekali tak akan ingin untuk membuat sang umi berkecil hati. Ia telah pernah berjanji kepada ustadz Irwan untuk menunggu Zuha siap. Alif pikir perjanjian itu hanyalah pelipur lara, ia merasa tak pantas jika bersanding dengan seorang Zuha. Terlebih itu keponakan ustadz Irwan sendiri, tak masuk akal. Ia menganggap jika ustadz Irwan melakukan hal tersebut supaya ia tak bersedih.
Bagaimana dengan Humaira? ia tahu luka gadis itu terlalu banyak. Jika hatinya terlihat mungkin akan banyak perban dan bekas jahitan disana. Apa yang harus ia lakukan sekarang.
__ADS_1
Melihat kebingungan Alif, Ustadz Irwan yang peka menginterupsinya agar melakukan sholat istikharah terlebih dahulu. Ia tahu jika perasaan Alif tampaknya telah terbagi.
...****************...
Humaira merasa bingung, kenapa Alif kembali menghilang, ia kembali mencoba peruntungan. Dengan lancang ia kembali menghubungi Alif tanpa tahu malu.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, Aa kemana aja, oh iya Erlan sekarang dimana ya?"
"Kenapa tiba-tiba nanyain Erlan? dia udah nikah tahu, berjodoh dengan akhwat bercadar, orang Sulawesi,"
"Eh make uang Panai dong?"
"Alhamdulillah enggak, akhwatnya udah kenal Sunnah! jadi si Erlan dipermudah,"
"Aa kapan nikah?"
"Gatahu!"
Humaira juga menemukan postingan Erlan bersama istrinya. Tampaknya begitu bahagia, dan akhwat itu begitu menawan dengan gamis putih dan jilbab putih panjangnya yang disertai bandulan mahkota diatas kepala.
Ternyata Alif sama sekali tidak membohonginya, tetapi kenapa Alif tidak mengiyakan ajakan untuk menikah? apakah dirinya ditolak. Mau ditanyakan kembali, Humaira terlanjur sudah tidak punya keberanian.
...****************...
Setelah melakukan sholat istikharah, Alif memantapkan hati untuk menikahi Zuha. Terlebih ta'aruf yang mereka jalani, banyak kecocokan yang membuat hatinya berbunga-bunga. Umi juga sangat menyukai Zuha.
Memang awalnya Alif tidak mempercayai komitmen, hal tersebut terjadi ketika ia berusia lima tahun. Sang Ayah melakukan kekerasan bahkan hampir membunuh sang ibu, kakak kandungnya juga ikut mati terbunuh. Cukup lama umi Aini menjanda, hingga bertemu dengan bapak Dayat, Ayah dari Mas Angga dan Aa Wahyu. Benar mereka adalah saudara tiri. Tetapi sang umi tetap meyakinkan Alif agar mau menikah dengan Zuha.
Acara lamaran pun dilakukan pada malam ini, bersamaan dengan malam pernikahan mantan kekasihnya dulu, Julia namanya. Gadis itu merupakan pacar satu-satunya Alif semasa sekolah. Tak menyangka jika mereka akan menikah dalam waktu hampir bersamaan. Meskipun dengan jodoh yang berbeda.
Alif sangat kacau, ia tak cukup berani untuk memberitahu Humaira terkait hal ini. Cepat atau lambat semua harus diungkap. Bahkan lebih baik Humaira tahu dari dirinya sendiri.
__ADS_1
Merasa Humaira adalah gadis yang sangat peka, Alif berinisiatif untuk membuat story WhatsApp Yang berhubungan dengan adanya sebuah pernikahan. Tak butuh waktu lama, Humaira langsung menanggapi.
"Siapa yang nikah Aa?"
"Si Jui yang nikah."
"Mantan Aa itu kan? pantaslah aku perhatikan beberapa hari ini status Aa galau mulu! galau ya ditinggal nikah sama si Jui?"
"Enggak kok,"
Tak habis pikir dengan gadis yang terlalu baik itu, ia masih memikirkan perasaan seorang Alif. Padahal jelas jika sebentar lagi hatinya akan hancur berkeping-keping.
...****************...
Humaira telah melupakan jika Alif tidak memberikan jawaban terkait ajakannya untuk menikah. Ia pikir jika jodoh tentu tidak akan kemana-mana. Dipenuhinya dengan vibes positif, Humaira menjalani kehidupan normal miliknya dengan berbahagia. Tengah asyik memperbaiki tulisan naskah miliknya, ternyata banyak revisi yang disarankan oleh editor.
Humaira sempat screenshot percakapannya dengan editor, lalu memposting menjadi status story WhatsApp miliknya. Tanpa disangka Alif yang telah menghilang selama enam bulan membalas story nya tersebut.
"Masih ada yang typo lho, sembari keduanya,"
"Eh iya, terimakasih ini mau diperbaiki kok,"
"Kamu sibuk ga?"
Humaira merasakan perasaannya menjadi tak enak, tiba-tiba telinganya berdenging. Pandangannya menggelap, hatinya terasa teramat sakit. Apa sebenarnya yang terjadi. Tak menghiraukan intuisi miliknya. Ia kembali berbalas pesan dengan seorang Alif Fikri.
"Enggak sibuk, cuma lagi benerin naskah aja."
"Yaudah Aa tunggu!"
Bukannya memperbaiki naskah cerita yang tengah ia tulis, seperti yang ia ucapkan kepada Alif melalui pesan. Humaira justru tengah sibuk menerka-nerka kabar apa yang akan ia dengar. Beberapa hari belakangan ini ia merasa jika Alif akan segera menikah.
__ADS_1