
"Kok giliran si Ghaza Aa angkat?" Humaira meredupkan pandangan. Sementara Ghaza menatap Alif tidak suka, berbeda dengan Riski yang tampak kebingungan.
"Tadi Ponsel lagi di pake sama Ayesha, katanya mau minta hotspot, Aa ga tahu kalau kamu nelpon." Tutur Alif serambi menatap lembut kearah Humaira.
"Udah dulu ya bang, aku mau pergi makan dulu sama kak Meya, bye! eh wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh." Ghaza mematikan panggilan Video tersebut. Sementara Humaira segera beranjak kedapur.
"Kak aku sama Riski mau makan diluar, kakak mau ikut ga?" Ghaza mengikuti langkah Humaira kedapur.
"Malas, aku pen masak aja! Mau makan diluar atau mau bantuin!" Ketus Humaira sembari mengambil pisau dan menaruhnya diatas meja secara kasar.
"Buset, marah nya ke si Alif tapi aku yang dimarahin." Lirih Ghaza sambil menggeleng tak percaya.
Dengan Sabar Ghaza ikut membantu Humaira untuk mengupas beberapa wortel, kentang, bawang, dan bahan untuk memasak sup ayam lainnya.
"Bukannya ini menu Favorit bang Alif?" Celoteh Ghaza sembari menatap sendu kearah Humaira.
"Ga usah banyak tanya!" Kesal Humaira mulai menumis bumbu halus.
"Kak, pengen Alif kesini ga? aku sih punya cara sih." Humaira segera menoleh kearah Ghaza, berharap pemuda itu memberikannya solusi.
Setelah membisikkan beberapa kata, Ghaza berlalu keruang makan, dan menatanya sedemikian rupa.
...***...
Alif Menatap pias layar ponsel miliknya, dengan gerakan pelan ia menutup layar laptop. Dan keluar dari ruangan kerja, setelah melewati koridor dan menjauhi kantin, ia menyebrang menuju ke gedung utama.
Beberapa pasien dan karyawan yang berlalu-lalang menyapanya, ia hanya tersenyum ramah untuk menanggapi. Berbeda ketika saat sesosok gadis dengan jas dokter nan memakai niqab, ketika gadis itu menyapanya. Alif segera menghampiri, lalu meminta waktu untuk mengobrol.
Mereka berjalan bersisian, setelah menemukan bangku taman rumah sakit nan kosong. Mereka mendudukinya, lalu setelahnya Alif menghela nafas panjang.
"Afwan, ana mau bertanya! tapi kamu jangan tersinggung, selepas kamu tadi memegang ponsel, apakah ada panggilan masuk?" Alif berusaha memperhatikan gerak tubuh dan tatapan gadis disebelahnya.
Gadis itu merunduk, tak lama ia menghela nafas dengan ragu iapun mengangguk.
__ADS_1
"Iya, tadi ada yang menelpon, namanya Humaira! tetapi ana sengaja menolak panggilan tersebut. Soalnya ana masih butuh hotspot."
Alif kembali menghela nafas, mencoba mencari sebagian kesabaran yang masih terpendam.
"Seharusnya kamu bilang dulu Ayesha!" Alif tanpa sengaja membentak gadis tersebut. Tanpa diduga gadis itu mulai menangkupkan wajahnya, tak lama bahunya bergetar. Sekian menit isakan lolos dari bibirnya.
"Ma-maaf, ana tidak bermaksud untuk membentak! tapi lain kali jika ada kejadian serupa ataupun sesuatu apapun janganlah kamu sembunyikan. Kamu bisa bilang ke ana, walaupun kamu riject setidaknya kamu tetap harus bilang." Alif berujar dengan nada yang lebih lembut dari yang sebelumnya.
Ayesha tampak mengangguk samar, lalu ia mengangkat wajahnya. Maka tampaklah matanya yang sembab, akibat menangis beberapa saat yang lalu.
Setelah dirasa Ayesha cukup tenang, Alif berpamitan untuk pergi. Sembari berjalan ia mengecek notifikasi ponsel yang sedari tadi ia genggam. Merasa kosong saat tak ada satupun pesan yang masuk. Biasanya Humaira selalu memberinya kabar apapun. Tanpa sengaja ia melihat status Humaira, dimana divideo tersebut tampak Ghaza yang tengah makan dengan lahap.
Tak berpikir panjang, Alif segera berlari tanpa memerhatikan sekitar. Beberapakali ia menabrak orang sepanjang jalan. Sesampai diruang kerja miliknya, ia mulai menyelesaikan beberapa data dan laporan. Tak puas ia segera meracik beberapa obat yang seharusnya dibutuhkan untuk beberapa bulan kedepannya. Ia memiliki kebiasaan untuk melampiaskan emosi pada sebuah kesibukan.
Bahkan ia melupakan jam makan, juga jam istirahat untuk sekedar mengusir rasa cemburu yang mengendap pada hatinya.
...****************...
Ghaza menyambut beberapa teman kelompok KKN yang datang pada pagi ini. Mereka diantaranya ada Syifa, Nada, Sasa, Syafiq, Daffa, Fadhil, dan Adam. Benar, mereka sekolompok berjumlah 8 orang. Mungkin Rombongan Akhwat akan tinggal dirumah Humaira, atau mungkin juga bisa tinggal di pondok pesantren milik Gus Abdan.
Seusai makan, bergotong-royong mereka untuk membereskan perkakas masak dan peralatan makan. Setelah beres, mereka bersamaan menuju kesebuah kebun dibelakang rumah. Disana terdapat sebuah pondok kayu yang diatapi oleh susunan daun kelapa kering.
"Aku ga nyangka banget bakalan ketemu kakak, masakan kakak enak banget." Puji Sasa, gadis cantik dengan gamis ketat berwarna hitam.
"Niqab kamu kemana?" Humaira berbisik pelan tepat disebelah Sasa. Gadis itu hanya menanggapi dengan tersenyum canggung.
"Kak Humaira? Kakak sudah ada calon?" Seorang pemuda tampan dengan baju Koko berwarna hijau bertanya dengan serius.
"Ish, Thoyyibal Syafiq mulai beraksi." Cemooh Nada seraya terkikik.
"Mana bisa Syafiq beraksi, kalau dia ngomong itu pasti semuanya serius." Bela Syifa.
"Antum kenapa nanya begitu?" Ketus Ghaza tak tinggal diam.
__ADS_1
"Ga boleh?" Heran Syafiq dengan dahi berkerut.
"Udah ada Syafiq." Humaira berucap seraya tertawa pelan.
"Seketika Syafiq patah hati." Ledek Adam dan Fadhil.
"Tapi belum ketemu kok." Imbuh Humaira kemudian.
Membuat semua orang melongo dan menatap kesal kearahnya. Padahal sebelumnya Ghaza sudah menganggap gadis itu serius.
"Siapa tahu kita jodoh." Ujar Syafiq sembari menunduk, enggan untuk menatap Humaira secara langsung.
"Enak aja, selisih 8 tahun lho kita sama kak Meya." Ghaza berusaha supaya Syafiq tidak menyukai Humaira.
"Ga masalah." Putus Syafiq sembari tersenyum.
Syifa yang merasa tak nyaman, segera berjalan meninggalkan mereka. Ia beralasan ingin kekamar kecil untuk wudhu.
"Syifa Cemburu lho itu Fiq, kamu ga mau kejar buat bujukin?" Nada melongo saat Syafiq hanya merespon dengan mengangkat bahunya.
"Kulkas berjalan." Keluh Sasa ikut merasa kesal.
...****...
Ghaza dan kelompoknya saat ini tengah mengajar di TPA masjid Al-Mujahirin, sementara Abdan masih sibuk mengurus administrasi pondok pesantren Ar-Risalah. Humaira saat ini pun tengah menyiapkan agenda untuk para karyawan bagian unit dapur. Setelah pekerjaan dilaksanakan sesuai instruksi, maka Humaira bergegas membawakan beberapa paket makanan yang akan ia berikan untuk kelompok KKN Ghaza.
Humaira memasuki mobil fasilitas kantor, lalu menyetir dengan perlahan. Baru beberapa hari yang lalu ia mendapatkan SIM A, Maka masih merasa canggung dan sedikit khawatir saat menjalankan nya. Memakan waktu sekitar 25 menit, akhirnya Humaira memarkirkan mobil Avanza tersebut tepat di sebelah kantor pengurus masjid. Bergegas turun ia segera menghampiri Ghaza dan kelompoknya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, ini aku bawa makan siang." Semua tampak girang, dan membantu Humaira untuk mengangkut kresek makanan.
"Wa'alaikumussalam warrahmatullahi wabarokatuh." Ghaza mewakili teman-temannya untuk menjawab salam.
"Menu apa sekarang kak?" Sasa tampak bersemangat. Sementara Syafiq terlihat sedang membentang tikar di sebuah gazebo masjid.
__ADS_1
Setelah menata makanan, Adam menginstruksi untuk segera makan selagi hangat. Semuanya menurut, dan mereka makan bersama.