Zona Virtual Humaira

Zona Virtual Humaira
Trauma


__ADS_3

Humaira juga tak ingin jika kehidupannya harus menyedihkan seperti ini. Pertama, disaat usianya masih 3 bulan kedua orang tuanya memutuskan untuk berpisah. Kabar burung yang beredar jika keadaan itu terjadi dikarenakan ibunya berselingkuh. Memang kedua orangtuanya dijodohkan. Tetapi bukan berarti mereka mengakhiri hubungan mereka secepat itu, tak bisakah mereka mempertahankan hubungan itu lebih lama?


Kedua, ibunya sudah menikah sebanyak 5 kali. Setiap menikah ibunya memiliki anak, artinya ia dan saudaranya berbeda-beda ayah.


Ketiga, ibunya sampai gagal mempertahankan nyawa anak ketiganya, karena almarhum terkena tumor ganas. Hal itu disebabkan sang ibu berkali-kali meminum obat penggugur kandungan, dan pernah memukul perutnya dengan batu gilingan cabe.


Lalu tak sepatutnya anak kedua yaitu Ibra berusia 5 tahun, diminta untuk menjaga anak ketiga yaitu Tora yang masih berusia 4 bulan. Jangan heran jika Tora sering terjatuh, dan Ibra tak melaporkan hal tersebut. Maka dari itu badan Tora jadi membengka.


Setelah dibawa kerumah sakit, saat disuntikan sebuah cairan, bengkaknya membesar dan menjadi banyak. Dan Tora didiagnosis mengidap tumor ganas. Sehingga Tora pernah koma, dan dokter dari Jerman sengaja datang untuk menangani kasus yang terbilang langka. Sampai berita tersebut dimuat dalam sebuah media koran, dan mengadakan penggalangan dana.


Tapi sayang pengobatan medis harus dihentikan, lalu Tora pun menghembuskan nafas terakhir pada saat usia 3 tahun. Dan Miris jika Ibra menjadi terlantar, dikarenakan Ibra dan Tora adalah saudara satu ayah, dan ayah mereka berada diluar kota.


Sementara Humaira memiliki ayah yang berbeda. Disaat sang ibu pergi entah kemana, Humaira diselamatkan oleh ayahnya. Sementara Ibra dititipkan dipanti asuhan. Dan Ibra kabur dari sana, sehingga Ibra hidup tumbuh bersama anak-anak jalanan. Buta huruf dan mempunyai penyakit mental, yaitu suka mencuri, dan terkadang tidak memiliki belas kasihan.


Beberapakali Ibra sempat mengenyam pendidikan, tepatnya berkali-kali tetap dikelas 1 SD. Bahkan Humaira tanpa segan, pernah membawa Ibra kesekolahnya. Dan diduduki dibangku paling belakang. Para guru pun memperbolehkan. Seisi sekolah tahu, jika keadaan Humaira sungguh memprihatinkan.


Jadi Humaira sering bersekolah sembari mengasuh Ibra, bahkan Humaira kecil sering di-bully. Entah karena hidup miskin, atau karena takdir yang berkehendak. Ataupun hanya karena kelalaian seorang ibu.


Keempat, sang ibu kembali dengan membawa seorang anak, dan akhirnya anak itu dikirim kerumah ayahnya di Bandung. Anak terakhirnya bernama Dira. Hanya Humaira satu-satunya anak perempuan.


Humaira sering dicemooh, dikarenakan sang ibu kerapkali menikah dan memiliki anak beda Ayah. Sehingga banyak yang membenci Humaira. Terlebih keluarga Ayah Humaira juga selalu membuat Humaira terpuruk, tidak mendukung Humaira untuk bersekolah. Bahkan sempat dijadikan pembantu, tapi Humaira tidak menyerah. Sehingga ia bersekolah sembari bekerja.


Membiayai sekolahnya sendiri, dan untuk mengisi perut, ia bersedia menjadi pembantu dirumah saudaranya sendiri.

__ADS_1


Jadi siapa yang tidak akan menyesal, jika harus hidup bersama Humaira. Wajar jika orang tua Rudhi tak ingin anaknya menikahi Humaira.


Mendekati pernikahannya, Humaira tak gentar untuk menjalani qiyamullail. Hingga kini hatinya meragu untuk menikah dengan sosok Rudhi. Ia tahu jika seseorang dapat bertaubat, tetapi luka lebam dipergelangan tangan Humaira mampu menjawab. Sosok seperti apa seorang Rudhi Sadewa. Belum menikah saja sudah melukai Humaira.


Hal itu bermula ketika Rudhi ketahuan berselingkuh. Humaira mendiami Rudhi hingga akhirnya Rudhi kesal, dan memblokir kontak Humaira. Ketika Humaira diantar oleh seorang teman lelakinya untuk melamar pekerjaan, bertemu dengan Rudhi ditengah jalan. Humaira dipaksa turun, Rudhi mencengkram kuat lengan gadis itu sehingga meninggalkan bekas lebam.


Puncaknya ketika Rudhi menyebutkan ke publik serentetan aib ibunya Humaira. Humaira marah, hingga ia menyerang Rudhi secara verbal. Ia mendebat Rudhi dengan sederet aib keluarga Rudhi tersendiri. Rudhi terpancing emosi, sehingga ia bilang ingin membatalkan pernikahan.


Humaira merasa dadanya diremas, sebagian undangan telah tersebar. Dan kesiapan pernikahan itu sudah mencapai target 80%. Tetapi justru malah dibatalkan. Dengan tega, Mutia juga menghakimi Humaira. Mutia dengan segera melaporkan kekeluarga mereka, agar pernikahan tersebut dibatalkan.


Humaira sakit hati, Mutia tidak memberinya kesempatan untuk menjelaskan, jelas saja Mutia lebih memilih saudara lelakinya. Ketimbang Humaira yang statusnya hanya sebagai seorang sahabat saja.


Apakah Mutia lupa? Jika beberapa bulan belakangan ini, Humaira membantunya mendapatkan sebuah hak?


Jelas mutlak jika Mutia tidak tahu berterimakasih, beberapa bulan yang lalu gadis itu hampir bunuh diri, berkali-kali mencoba membunuh janin yang ada diperut nya. Janin yang akan lahir tanpa adanya hubungan pernikahan.


Semuanya berkat Humaira, dan akhirnya Mutia menikah dengan Jaka,  dan keluarga Rudhi syok berat dengan kejadian yang berlangsung. Yang disalahkan tetaplah Humaira, kenapa Humaira tidak memberi tahu keluarga Mutia? Bahwasanya gadis itu tengah hamil 6 bulan.


Bisa kalian bayangkan, betapa buruknya pengawasan keluarga mereka, setidaknya mereka harus peka bagaimana perubahan hormon dan tubuh Mutia. Kenapa mereka tidak sadar jika gadis itu hamil. Bahkan beberapa kali Mutia muntah-muntah didepan kakaknya. Kenapa Humaira yang orang lain tahu jika gadis itu menyembunyikan sesuatu.


Lalu bagaimana bisa mereka menyalahkan Humaira atas kelalaiannya?


Mutia merasa Humaira telah menyakiti Rudhi abangnya. Sementara kelakuan Rudhi ia normalkan saja. Termasuk dengan Rudhi yang mendatangi ayah Humaira. Hanya untuk sekedar memutar balikan fakta.

__ADS_1


Rudhi menyebutkan jika Humaira yang membatalkan pernikahan, hingga malam itu terjadi pertikaian hebat antara sepupunya Humaira dengan sang ibu. Kejadian itu begitu fatal sehingga menimbulkan trauma yang mendalam.


...****************...


Umpatan. Perkataan tak layak, bahkan beberapa kata terlarang keluar dengan lancar dari mulut Dewi. Ia adalah keponakan ayahku. Awalnya aku tak melayani dia, tetapi dia memancing emosiku. Ia juga meminta agar mengobrol dengan Ibuku. Aku memberikan ponsel kepada ibuku, mereka berdebat, begitu panas dan sangat kasar.


Rudhi memaksa kami agar segera menemui keluarganya, dan meminta maaf. Maka barulah pernikahan akan dilanjutkan, aku tak menginginkan pernikahan ini. Tetapi Ayah tetap memaksaku. Hingga akhirnya Ayah menyerah dan akan menemui keluarga Rudhi seorang diri. Lalu mengurus surat pembatalan pernikahan sendiri.


Hingga tak beberapa lama. Aku jatuh sakit, Ibuku juga terjangkit. Apalagi kini masa pandemi covid-19. Jika kami kerumah sakit sudah dapat dipastikan jika kami terjangkit virus tersebut. Musibah yang terjadi membuat kami stres dan merasa terjatuh.


Apakah kalian masih mengingat Sosok Alif Fikri? teman Virtual ku, yang aku kenal melalui komunitas literasi? dialah yang membantuku bangkit. Ia selalu mengontrol keadaanku, ia juga meresepkan beberapa racikan Herbal. Dan membantu Me-Ruqyah Melalui Video-call. Hingga tak berselang lama akupun membaik. Dia selalu menemaniku. Aku mengenalnya setahun sebelum aku berkenalan kembali dengan sosok Rudhi.


Hingga kala itu ada rekanku yang sempat mengalami kejadian serupa, ia memintaku untuk segera mengurus pernyataan pembatalan nikah. Dengan ditemani sang ibu aku mendatangi KUA dimana tempat aku mengajukan surat pernikahan. Disana aku dan Bang Rudhi disidang, padahal jika kami melanjutkan pernikahan, maka 2 hari kedepan adalah sidang pernikahan. dan hari ini adalah sidang pembatalan pernikahan.


Pengurus KUA berusaha meyakinkan keputusan yang kami ambil. Apakah tak sebaiknya untuk melanjutkan pernikahan saja? begitu pendapat mereka. Rudhi berusaha menjatuhkan ku, mencari keburukan ku dan membeberkannya. Hingga Aku hanya mampu menangis dan berdiam diri. Satu diantara pengurus Wanita memukul meja, ia merasa geram dengan kelakuan Rudhi. Sebagai wanita, mereka tidak terima jika aku dijatuhkan.


Tak lama kemudian aku diminta keluar, setelah keluar ruangan aku berdiam diri didepan teras kantor itu. Tetapi Rudhi disidang sendirian disana. Kalian bisa melihat bukan? Siapa yang bersalah maka ia akan Di sidang? begitulah hukum berlaku. Tak lama Rudhi keluar dengan berlinangan air mata. Ia mendatangi ibuku dan meminta maaf.


Aku cuma diam, hanya air mata yang bercerita. Dengan sisa tenaga aku dan ibu akan mampir kerumah Ayah, untuk mengambil berkas penting yang sekiranya akan aku butuhkan kedepannya. Sesampai disana aku dikejutkan oleh sosok Rudhi yang sudah berada dirumah Ayah.


Mereka tampak mengobrol, dan Rudhi mengambil Kaset Photo yang didalamnya terdapat file photo berlatar biru yang akan dipakai untuk buku nikah. Aku abaikan dia, dan berlanjut untuk meminta maaf. Akupun segera pamit, hendak memakai flatshoes milikku. Tetapi terinjak olehnya, saat aku memintanya. Ia berupaya untuk memasangkan sepatu itu kepadaku. Aku menarik kasar sepatu tersebut, membawanya kekamar ayah, dan memasangnya disana.


Kenapa dia berlaku sok manis? apakah ia memiliki penyakit gangguan jiwa? setelah berdebat sengit, beberapa keluarga ayah memaafkan ku. Tetapi sebagian lagi menganggap aku dan ibu pembawa sial, mereka malu dengan kejadian ini. Dan ada yang menyumpahi agar aku tertabrak truk.

__ADS_1


Dewi yang berdebat dengan ibuku tempo lalu, tak mau memaafkan kami. Ibunya bilang jika karena kejadian itu Dewi terkena struk ringan. Dan kami tampak baik-baik saja.


Dan keadaan kembali memanas, sehingga keributan tak terelakkan, aku dan ibu diusir dari sana. Hal itu membuatku semakin terluka .


__ADS_2