
Setelah mempertimbangkan dengan sangat matang, Humaira setuju dengan pendapat Gus Abdan. Hari ini ia memutuskan untuk mengajak seorang Alif Fikri menikah. Jika tak berani berbicara secara langsung. Maka Humaira akan memakai cara yang serupa. Selama ini ia telah banyak menerima hadiah dari sosok dokter muda itu. Lantas apakah ada larangan, jika ia akan melakukan hal yang sama.
Humaira berencana akan membuat pigura dengan nama Alif Fikri didalamnya. Setelah membeli beberapa cat semprot, satu pigura, satu set lampu kelap-kelip, stiker bernama Alif Fikri, selotif, dus.
Langkah awal ia menempelkan selotip tepat pada bingkai pigura, selanjutnya ia menempelkan stiker tersebut. Setelahnya ia mulai menyemprotkan secara acak cat semprot. Dirasa cukup estetik, Humaira menyudahinya. Lalu setelah cat Kering, Humaira segera membuka stiker yang menutupi kaca pigura. Tercetak lah nama Alif Fikri disana. Tersenyum senang, Humaira segera memasukan lampu kelap-kelip kedalam pigura tersebut. Hal hasil jadilah sebuah pajangan Lampu dengan nama Alif Fikri.
Kreatif sekali gadis itu memang, setelahnya ia mulai menulis beberapa lembar surat pada buku binder bersampul Pikachu. Sebuah Jubah merk Al noor berwarna tosca yang ia titip saat Gus Abdan umroh beberapa bulan yang lalu akan ikut serta ia kirim. Sebuah boneka Pikachu berukuran sedang juga ia packing dan ikut dikirim.
Humaira ingat jika ia masih memiliki sebuah mukenah baru, yang memang sengaja ia beli untuk uminya Alif Fikri. Dikarenakan belum sempat memasak rendang. Humaira terpaksa mengirim bumbu rendang instan khas Sumatera barat, memang khusus diracik oleh orang Minang sendiri.
...****************...
Alif merenungkan kembali jika kemarin Humaira memintanya untuk menunggu sebuah kardus berwarna ungu. Tetapi ini sudah hari kelima, belum juga datang.
"Lif! Kenal Habibi ga? perasaan ga ada yang namanya Habibi deh disini." Komentar Erlan saat berdiri didepan pintu kantor Alif.
"Emang kenapa?"
"Itu tuh, didepan lagi ribet nyari yang namanya Habibi, alamatnya sih udah benar! tapi mana ada yang namanya Habibi. Paketnya gede banget ga tahu punya siapa." Keluh Erlan dengan wajah masam.
"Hah, warna ungu ga?"
Erlan mengangguk antusias, lalu mengikuti Alif yang tengah berlari kedepan. Melihat Alif yang mengambil paket tersebut, Erlan merasa tak terima.
"Bukan buat kamu Lif, balikin sana!" Titah Erlan serius.
"Punyaku lho ini."Komentar Alif sarkas.
__ADS_1
"Buktinya apa? nama kamu Alif bukan Habibi!" Cerocos Erlan masih tak terima.
"Coba liat ini nomor ponsel siapa? nomor saya tuh!" Alif mengibaskan tangan Erlan yang menyentuh paket miliknya. Memastikan dengan seksama, akhirnya Erlan hanya melenguh pasrah.
"Dari siapa sih?"
"Ga usah kepo!"
...****************...
Sedari tadi Alif memang menantikan waktu untuk sampai dirumah. Setelah Sholat Magrib ia baru ingat jika tadi diminta sang umi untuk membuang sampah. Pikirnya kenapa ga sekalian aja sama sampah dari paket yang ia terima hari ini.
Membuka dengan hati-hati, Alif merasa dikerjai oleh Humaira. Bagaimana tidak setiap isi dari box ungu tersebut masih dibungkus kembali dengan kertas kado bergambar Doraemon. Mengabaikan rasa kesal bercampur geli, ia membuka satu persatu isinya. Saat menemukan pigura bernamakan dirinya, ia segera mencoba untuk menghidupkan.
Merasa takjub ia merasa bahagia. Lalu menemukan sebuah boneka Pikachu, karakter kesukaannya. Menemukan aneka oleh-oleh khas Minangkabau, dan sebuah buku berserta beragam pulpen. Terakhir ia menemukan sebuah mukenah berwarna putih krem.
Selembar kertas jatuh tepat mengenai lantai, Alif merasa terharu jika ada sosok yang perhatian ke sang umi. Salut jika ada yang menyukainya, tapi mendekati uminya terlebih dahulu. Tak mau terlalu berlarut, akhirnya ia memutuskan untuk membuang sampah saja.
Hadiah tersebut memang banyak sampahnya, setiap hadiah dibungkus dengan kertas kado, terlebih baju gamis yang selama ini ia idam-idamkan, dibungkus dengan banyak box beserta kertas kado. Humaira benar sangat menyebalkan. Tetapi ia tak dapat membohongi perasaannya sendiri, jika ia juga menyayangi gadis tersebut.
Selepas membuang sampah ia dikagetkan dengan teriakan sang umi.
"Aa ini mukenah perempuan mana, kok bisa ada dikamar Aa, Aa simpan perempuan didalam kamar ya?" Umi Nuraini berteriak panik.
"Buat umi, dari temen Aa dipadang."
"Hah siapa Aa? kok Aa ga pernah cerita?"
__ADS_1
"Kata umi. Aa masih kecil, ga boleh cinta-cintaan dulu, giliran Aa Wahyu sama mas Angga aja boleh!"
"Kan kamu anak bontot Umi, lagian kedua kakakmu kan juga udah menikah!"
"Iya Aa masih kecil belum boleh!"
"Yaudah boleh deh kalau gitu!"
"Kalau nikah boleh?"
"Belum atuh Aa."
...****************...
Saat makan malam pun, Humaira kerap turut dibahas saat dimeja makan. Keluarga Alif penasaran dengan sosoknya. Dengan penuh semangat, Alif menceritakan tentang Humaira kepada sang Umi dan Bapak. Mereka tampak menyukai Humaira, hal tersebut cukup membuat Alif senang.
Seusai makan malam dan ikut serta membereskannya. Alif pamit untuk menuju kedalam kamar. Ia mencoba jubah berwarna tosca tersebut, merasa pas dan sesuai. Humaira memang paling mengerti, tanpa bertanya ukurannya bisa sesuai. Diluar ekspektasi memang, terlebih ia sangat menyukai semua hadiah yang diberikan Humaira kepadanya. Beberapa kupu-kupu sudah mulai terpajang sebagai hiasan dimeja kerja miliknya. Humaira memang mengirimkan berbagai pernak-pernik.
Alif kembali mengambil buku bersampul Pikachu yang sedari tadi ia angguri. Menatap bait demi bait kata yang membuatnya ketakutan. Ia takut terhadap kata-kata yang ada disana. Menurutnya komitmen itu adalah sesuatu yang buruk. Serpihan kenangan masa lalu membuat kepalanya berdenyut.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, Aa aku harap Aa bahagia dan Umi juga senang. Aku sebenarnya ingin menyampaikan sesuatu, selama ini hubungan kita apa? apakah kita tidak bisa menikah? kapan Aa kesini? aku ga perlu kok pernikahan yang mewah, yang penting halal aja udah lebih dari cukup, aku tunggu jawaban Aa, Aa ga perlu jawab secepatnya. Tetapi aku beri waktu Aa selama 100 hari. Aa pikirkan jawaban itu sebaik mungkin, aku juga ga akan mungkin jadi beban buat Aa. Aku janji akan menjadi istri yang baik buat Aa. terimakasih"
Perlahan-lahan buku itu terjatuh, bersamaan dengan tetesan air mata yang mulai menganak sungai dipipinya. Alif menghapus kasar air mata tersebut, pandangannya menggelap. Dadanya terasa sesak, dengan sedikit emosi ia berjalan kedalam bathub, berendam adalah solusi terbaik untuk saat ini.
...****************...
Sudah tiga bulan Humaira menantikan kabar dari seorang Alif Fikri, pemuda itu menghilang tanpa kabar. Jejak dan sajaknya terbentuk oleh sang waktu. Kenangan dupa hikmat yang mulai hancur lebur. Perasaan takut mulai datang menghimpit rongga dada yang kian hari terasa sakit.
__ADS_1
Apakah Humaira ditolak?