
Humaira menjalani rutinitas yang begitu padat, sehingga ia tidak punya waktu untuk sekedar bertukar kabar dengan seorang Alif Fikri. Humaira sadar jika hubungan mereka sudah tak layak, mungkin tak pantas bila masih diperjuangkan. Terlebih jika terdengar isu Alif tengah dekat dengan seorang dokter muda ditempat ia bekerja. Memang Alif cukup terkenal, sehingga rutinitas yang ia lakukan akan diliput oleh awak media.
Tak merasa pesimis, Humaira tetap merasa tenang. Tetap yakin jika segala sesuatu tentu telah direncanakan. Hari ini adalah hari dimana ia akan bertemu seseorang, entah mengapa rasanya begitu canggung. Seorang diri duduk disebuah bangku yang tersedia di bandara, menantikan kehadiran seseorang. Cukup menguras emosinya yang kurang tertata.
Humaira menatap orang yang berlalu lalang menggeret koper dengan ekspresi wajah yang berbeda-beda. Ia perhatikan satu persatu, berharap orang yang ia nantikan sudah tiba. Saat melihat sesosok laki-laki berkulit hitam, tapi terlihat manis, ia mengenakan sorban dikepalanya. pemuda itu Menghampiri Humaira, sementara Humaira tengah menatap sosok berjubah putih tersebut.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh" Ujar Pemuda itu tersenyum hangat.
Humaira menunduk, lalu menghela nafas panjang, ia gugup saat bertemu langsung seperti ini. Padahal biasanya mereka terlihat akrab. Dan mereka pun biasanya tak pernah secanggung ini.
"Hey kok salam aku ga dijawab, lama ya nunggu?" Ujar pemuda itu lembut.
"Wa'alaikumussalam warrahmatullahi wabarokatuh, ga lama kok. Oh iya, habis ini kamu mau kemana?"
Pemuda itu menatap gadis dihadapannya, lalu tersenyum.
"Ga mungkin kerumah kakak juga kan?"
Humaira mengangkat kepalanya, ia menatap pemuda yang tengah terkekeh riang tersebut.
"Kamu ngapain sih kesini?"
"Lah emang ga boleh aku kesini?" Pemuda tersebut cemberut kesal.
"Ish, Al jawab yang bener Napa sih? Si-Al banget deh."
"Panggil Gazha aja kak, atau kalau mau manggil Ali juga boleh, ga mau kalau digabungin jadi Si-Al. Aku kesini lagi KKN, kan aku udah bilang, kenapa disini? karena aku tertarik dengan budaya sini. Siapa tahu bakal jadi orang sini! toh akhirnya aku bisa ketemu kakak kan? itu bang Alif mana berani kesini heh." Pemuda itu membuang muka lalu mulai melangkah, meninggalkan Humaira yang hatinya tersentil.
"Yaudah kamu boleh deh, tinggal dirumah sepupu ku, dia cowok kok! cuma ya dia jarang pulang, orangtuanya juga lagi diluar kota. Daripada kamu kos, atau tinggal dipenginapan? lagipula mana deh rombongan kelompok KKN Kamu?"
pemuda hitam manis itu menghentikan langkah, berbalik arah menuju disamping Humaira.
"Maa syaa allah, tabarakallah, huuuuh baik banget, gemes! tapi ga bisa disentuh." Ujar Ghaza sambil tersenyum cerah.
" Ya mana boleh, kan ga ada ikatan apapun, makanya ini sebenarnya terlarang! kamu sih ngapain anggap aku kakak, padahal kita bisa nikah lho!"
"Ayuk Nikah."
__ADS_1
"Hah?"
"Bercanda lho aku kak, maaf ya kembali aku ngerepotin kakak, pasti kakak ga percaya kan. Kalau aku bakalan ke Padang, kakak tenang aja aku akan berusaha buat ga repotin kakak terlalu sering. Tapi kalau kakak ga keberatan, ya aku suka-suka aja." Seloroh Ghaza sembari terbahak.
"Yah kakak make niqab, aku ga bisa lihat, kakak blushing apa enggak."
"Kapan Rombongan kamu datang?"Humaira sengaja mengalihkan pembicaraan.
"In syaa allah Lusa kak, aku sengaja datang di awal, aku juga ajak Sasa kok. Katanya dia juga pengen ketemu kakak lho."
"Jadinya kalian satu kampus, bahkan satu jurusan? masih satu hati ga?" goda Humaira, ia ingat betul jika Sasa adalah salah satu gadis yang pernah disukai oleh Ghaza.
"Enggak kok, Hatiku kosong, atau kakak mau ngisi?" Ghaza menggoda kembali.
...*********...
Humaira membututi sebuah taksi online yang mengangkut pemuda bernama Al Ghazali. Beberapa pekan yang lalu memang Ghaza mengatakan ia akan ketempat Humaira. Tetapi Humaira hanya menganggap hal tersebut sebagai bualan semata. Qadarullah Allah memberikan izin untuk mereka berjumpa. Sementara terkait untuk KKN, pemuda itu mengajak kempoknya untuk mengikuti KKN di kota tempat Humaira tinggal. Setelah taksi itu berhenti, Humaira mengajak Ghaza untuk masuk kedalam sebuah rumah.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh." Ujar mereka Serempak.
"Wa'alaikumussalam warrahmatullahi wabarokatuh, eh Kak Meya, tumben kesini?" tanya Riski, sepupu Humaira.
"Aman ma ni, uni Ndak makan lu? tadi Ikki masak kok, lai lamak nyo."
***(Aman Kak, Kakak ga mau makan dulu? tadi Ikki masak, enak kok.")
"Taruih lah, Uni lah kanyang diak."
***(Lanjutin aja, kakak masih kenyang banget dek.")
"Wey lah, kenapa malah jadi bahasa Padang, aku nggak ngerti lho." Komentar Ghaza sembari menghela nafas frustrasi.
...***********...
Ghaza merapikan barang miliknya pada sebuah kamar yang terbilang luas. Setelahnya ia membersihkan diri, seusai mandi tanpa segan iapun menghampiri Riski dan meminta makan. Begitulah kepribadian seorang Al Ghazali, memang easy going. Setelah melahap sepiring nasi dengan lauk berupa rendang, iapun minta diantar kemasjid terdekat.
Setibanya dimasjid mereka disambut hangat oleh Gus Abdan, beliau adalah pendiri pondok pesantren disekitaran sana, dan pemilik masjid yang tengah mereka kunjungi. Nama lengkap pemuda keturunan Jepang tersebut ialah Abdan Muhtadi, ia begitu rupawan, kulitnya putih bersih, hidung mancung, mata sipit, bibir cerah merona. Belum juga ia merupakan Tahfiz Al-Qur'an 30 Juz bersanad. Ia sangat digandrungi oleh para akhwat shalihah, terutama para santriwati disekitar.
__ADS_1
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, Bang Abdan! ini Ikki disuruh kak Meya bawa Ghaza kesini, katanya mau KKN di TPA sini. Apa boleh bang?"
Abdan tersenyum manis, usai menjawab salam iapun mengangguk. Membuat Ghaza langsung membatin jika sosok dihadapannya saat ini begitu calm, berbeda dengan dirinya.
"Antum darimana Akh? Mau tinggal dipesantren sama rombongan atau dimasjid atau bagaimana Akh?"
"Dari Universitas Indonesia Depok, Ana tinggal dirumah Riski aja Akh, rombongan ana in syaa allah Lusa akan datang, sebelumnya jazakallahu Khairan khatsiran atas tawaran menariknya Akh."
"Wa iyyak, oh ya nanti kalau butuh apapun, jangan sungkan buat hubungi ana ya akh. Kontak ana ada kok sama Meya ataupun Riski."
"Na'am, Syurkon." Ghaza bersalaman, lalu pamit untuk pergi ke rumah Meya, bersama Riski.
...***************...
Meya tengah membuka sebuah box, beberapa jam yang lalu ada kurir yang mengantarkan paket. Tentu baru sempat ia eksekusi sekarang. Ternyata isinya berupa satu set mukenah, sebuah Khimar, sekotak susu etawa bubuk organik, beberapa botol madu, dan beberapa obat herbal lainnya.
Jika ditaksir, mungkin harganya sekitar ratusan ribu rupiah. Humaira merasa bingung, seingatnya ia tidak memesan apapun pada forum jualan online manapun. Tapi kenapa ia bisa menerima paket tersebut, jika diteliti memang benar namanya tertulis di box tersebut. Bahkan alamat yang tertulis juga benar, nomor handphone yang tertera juga miliknya.
Jadi mana mungkin ini paket nyasar, masih asyik berpikir. Dua orang pemuda masuk serambi mengucapkan salam.
"Ndeh Patuik lah, aniang se uni daritadi, lah Wak sabuik salam, indak dijawek e... Manga uni kini ko?"
***("Aih pantes, kakak diam aja daritadi, padahal aku udah sebut salam, tapi ga ada yang nyahut, emang kakak sekarang lagi ngapain?")
"Ini lho Kki, tiba-tiba ada paket, tapi kakak ga mesan!"
Riski langsung membongkar box yang masih dipegang oleh Humaira. Tentunya mereka tidak bersentuhan. Sepucuk surat pun terjatuh, Ghaza langsung memunguti, dan membuka lalu membaca surat tersebut dengan keras.
"Dear Humaira, Saya yakin ketika kamu pegang surat ini kamu merasa bingung, saya harap kamu senang, jika kamu senang silahkan tanda tangan pada surat ini, tertanda Habibi"
"Siapa nih, Kok Habibi?" Komentar Riski yang hendak menandatangani surat tersebut, namun urung terjadi karena segera dicegah oleh Humaira.
"Apa mungkin itu Bang Alif kak?" Tanya Ghaza lirih.
Tanpa berpikir panjang, Humaira segera mencari ponsel miliknya, lalu mendial digit angka milik Alif Fikri. Namun, panggilang langsung ditolak membuat Humaira menatap Ghaza dengan tatapan sendu.
"Kakak kenapa deh suka sama dia? Jadi sedih Mulu kan? aku mau bikin perhitungan." Tak mau kalah, Ghaza mencoba menelpon kembali, tapi kali ini menggunakan ponsel miliknya. Tanpa diduga telepon tersambung, membuat Alif Fikri membelalakkan matanya. Ia terkejut saat yang menelponnya, merupakan seorang Al Ghazali, terlebih dibelakang Ghaza berdiri seorang Humaira.
__ADS_1
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh." ketus Ghaza sembari menatap kesal kepada Alif.
"Wa'alaikumussalam warrahmatullahi wabarokatuh." Alif menjawab dengan canggung. Sementara matanya selalu memperhatikan gerak Humaira yang kini tengah menunduk.