
Humaira berencana hendak melanjutkan pendidikan sembari berkerja di negara Jiran. Tentu ia harus menyiapkan segala berkas tertentu. Tentu sebelumnya ia sudah meminta izin kepada Kiyai Rahman. Setelah diizinkan, Humaira bergegas menuju ke kantor Departemen Ketenagakerjaan. Sesampainya disana, ia direpotkan dengan berkas yang tak lengkap.
Ijazah SMP miliknya masih berada pada Pondok Pesantren tempat ia belajar dahulu. Pondok Pesantren itu sempat mengalami kebakaran, maka dari itu ijazah milik Humaira tidak ada. Selanjutnya, akta kelahiran sipil. Sama sekali Humaira tak punya, ia pikir dulu telah di urus oleh kedua orangtuanya. Ternyata belum sama sekali, tentu untuk mengurusnya. Dibutuhkan Buku Nikah kedua orangtuanya. Beserta Surat Keterangan Lahir dari kebidanan. Oke, Semua berkas penting itu dibuang oleh adik Ibu Humaira sendiri.
Mencoba berjuang, Humaira mulai bertanya kepada sang Ibu. Sekiranya di klinik mana ia dilahirkan. Lalu dengan begitu ia akan mudah men-follow-up data. Atau tinggal menanyakan tanggal pernikahan kedua orang tuanya, dengan begitu ia akan mendatangi kantor KUA. Untuk meminta arsipan duplikat buku nikah orangtuanya.
Awalnya terlihat gampang, namun menjadi sulit saat menyadari jika data Humaira tercatat dengan menyandang nama ibu sambungnya sebagai ibu kandung. Humaira ikut KK Ayahnya, oleh sebab itu maka nama ibu Humaira disana tertulis dengan nama ibu sambungnya. Untuk mengurusnya, tentu diperlukan surai cerai resmi dari pengadilan agama setempat.
Tak kehabisan akal, Humaira memutuskan untuk masuk kembali pada KK milik Ibunya, dengan begitu nama ayah dan ibu kandung akan sesuai. Tetapi tidak semudah itu, awalnya ia diminta untuk mendatangi RT ditempat tinggal ayahnya, lalu ke kelurahan. kemudian ke kecamatan, lalu terakhir ke kantor sipil. Humaira merasa belum siap jika ia harus bertemu dengan sang ayah. Ia memangkas untuk langsung mendatangi Kecamatan tempat ibunya tinggal. Lalu kemudian ia diminta untuk ke kecamatan tempat ayahnya tinggal, guna meminta kode registrasi terkait.
Setelah mendapatkan kode, ia mendatangi kembali ke kecamatan tempat ibunya tinggal. Kembali terjadi perdebatan, saat bapak camat menanyakan alasan perpindahannya.
"Mau pindah buat ngurus pernikahan dek?"
"Bukan pak, saya masuk KK ibu saya! karena saya sekarang tinggal dengan ibu saya!"
"Lho Bu Nora ini Ibu anda? tetapi nama orang tua kandung anda tercatat disini dengan nama Rita!"
"Itu nama Ibu sambung saya Pak!"
"Ada Akte kelahiran atau buku nikah?"
"Masalahnya hanyut pak, kena banjir bandang!"
Memang Humaira tak berbohong, jika dokumen itu hanyut terbawa arus sungai saat dibuang langsung dibawa arus banjir bandang.
"Lantas bagaimana lagi Pak? mohon dibantu ya Pak!"
Bapak camat itu hanya diam, sembari terus mengetik pada keyboard PC miliknya. Setelah cukup lama ia memberikan selembar kertas kepada Humaira. Memintanya untuk memeriksa data itu kembali, Humaira cukup senang jika nama ibunya kembali menjadi nama ibu kandungnya. Ternyata bapak itu mau mempermudah urusannya. Alhamdulillah, dibalik kesulitan pasti selalu ada kemudahan bukan?
__ADS_1
Humaira diberikan sebuah karcis, guna untuk melakukan pengambilan pada lusa hari. Setelahnya Humaira berangkat pulang, tak lupa mampir pada sebuah klinik bersalin kenalan ibunya, sayangnya dokter itu tengah tidak ada. Jadilah ia dilayani oleh beberapa orang pegawai administrasi.
"Assalamualaikum, kak saya mau minta tolong buat bikinin akte kelahiran bisa?"
"Wa'alaikumussalam, lahir dimana?"
"Didaerah lolong kak!"
"Kenapa ga minta kesana aja kak!"
Humaira mencoba meraih kesabaran yang masih tersisa. Jika ia bisa tentu ia akan melakukannya, jelas Humaira masih mengingat jika pada waktu ibunya ditanya terkait klinik mana tempat ia dilahirkan. Ibunya tidak tahu-menahu, juga ketika ditanya kapan Ayah dan Ibunya menikah. Kembali ibunya mengutarakan ketidaktahuan. Humaira merasa kecewa, ibunya tidak mau memperjuangkan. Ia juga tidak terlalu yakin jika ibunya benar-benar lupa.
"Tidak tahu kak, karena ibu saya lupa! entah lahir di dukun beranak, ntah gimana! ga tahu saya!" Ketus Humaira menatap nyalang beberapa pegawai yang memandang hina kearahnya.
"Ada Photocopy atau Photo atau arsip mengenai surat keterangan lahir sebelumnya kak?"
"Ga ada kakak!"
"1997!"
"Aduh maaf kak, ga bisa soalnya kan pakai nomor referral, lagipula tahun segitu klinik ini belum buka,"
"Oke! Terimakasih!!" Humaira segera beranjak pergi dengan perasaan kesal.
Jika boleh jujur ia begitu kecewa terhadap kedua orangtuanya. Ia juga menyesal telah dilahirkan di dunia, ia bingung harus melakukan apa lagi. Darimana ia akan mendapatkan data lengkap, guna mengurus paspor keberangkatannya nanti.
...****************...
Ghaza tengah berlari-lari kecil menuju Sasa yang kini tengah memanggilnya. Mereka berdua saat ini tengah berada pada sebuah tempat objek wisata. Tepatnya pantai air manis, batu Malin Kundang, sumatera barat. Mereka tengah melaksanakan kegiatan olahraga pagi, mereka tidak hanya berdua. Bersama rombongan lainnya yang terpencar.
__ADS_1
Sasa senang jika ia bisa berduaan dengan Ghaza, berbeda dengan Ghaza yang merasa risih jika berada didekat teman kecil yang pernah ia sukai. Untuk menghindari gadis itu Ghaza sengaja berlarian sendiri, tetapi kembali menghampiri gadis itu saat dipanggil.
"Ghaza, aku liat kak Meya lagi sedih banget lho! tadi sebelum kita berangkat kesini, dia kepergok nangis sama Gus Abdan!" Sasa menyodorkan minuman kaleng yang langsung diambil dan diteguk kasar oleh Ghaza.
"Kamu ga makan Za?" Sasa menyodorkan sebungkus cilor. Mengambilnya, Ghaza mulai duduk disebelah gadis itu. Tentunya masih memberikan jarak.
"Kalau aku suka sama orang yang jauh lebih tua, salah ga ya?" Tanya Ghaza menatap dalam bola mata kecokelatan milik Sasa.
"Enggak sih! Rasulullah shalallahu alaihi wasallam aja juga pernah menikah dengan Ummu Khadijah bukan?"
Ghaza mengangguk, setelah cilor itu masuk kedalam perutnya. Ia berdiri mengajak Sasa untuk menaiki paralayang. Memacu adrenalin membuat Sasa merasa tertantang. Keduanya berlomba-lomba melayang di udara. Tentunya dipandu oleh panitia khusus.
...****************...
Humaira berjalan pelan meninggalkan perkarangan pesantren. Sementara sepasang mata mengawasi pergerakannya. Selama ini mata itu terus mengawasinya, mata yang begitu teduh dan hangat. Tanpa Humaira sadari rupanya selama ini ada sesosok yang menjadi pengagum rahasia, bahkan secara diam-diam.
Terus berjalan dalam kesunyian malam, Humaira menyusuri pinggiran kota sendirian. Menatap betapa indahnya langit malam yang penuh dengan taburan bintang. Dibelai oleh dinginnya angin malam memang sensasi yang menenangkan. Humaira mencoba terkekeh, mencoba bersyukur atas apa yang masih ia miliki. Ia tahu jika pundaknya terlalu kuat, sehingga ujian datang dengan bertubi-tubi.
Merasa bosan ia mulai mengeluarkan ponsel, membuka aplikasi editing. Merasa mendapatkan sebuah ide, dengan sebuah photo yang ia ambil tepat pada petang tadi. Ia mulai berkutat dengan ponsel berwarna navy tersebut.
Terkadang kita harus terbiasa dengan luka, kuat berdiri diatas kaki sendiri.
Jangan Karena dibantu untuk membalut luka, lantas percaya jika dia tidak akan membuat kita terluka.
Justru orang yang membuat kita sembuh dari luka, tidak menutup kemungkinan untuk membuat kita lebih kuat dan lebih terluka.
Merasa puas dengan editannya Humaira memposting di story WhatsApp miliknya. Tentu setelahnya disisipi kata "Kupikir aku adalah protagonis wanita didalam naskah cerita kita, nyatanya aku hanya seorang figuran yang membantu kisah cintamu dengannya."
__ADS_1
Belajar dari gula juga ga ada salahnya kan? Hidup itu harus setulus gula didalam teh. Disaat teh itu terasa kurang manis, pasti yang disalahin gulanya "Gulanya Kurang!" Coba aja pas giliran Gulanya pas. Yang dipuji siapa? "Tehnya Enak!" tak penting bagi gula, baik ia diingat maupun dilupakan. Asalkan ia telah meredam pahit pada teh, itu sudah cukup.