Zona Virtual Humaira

Zona Virtual Humaira
Istikharah


__ADS_3

Memikul banyak beban yang belum pernah usai, bertubi-tubi datang silih-berganti menerpa seorang gadis bermata cokelat. Gadis itu kini tengah berusaha untuk mengobrol pada sang pencipta.


Hari ini adalah malam kelima setelah pernyataan dari seorang Al-Ghazali. Mencoba mencari jawaban yang tepat. Humaira tak gentar untuk melakukan tahajjud 12 rakaat, berserta witir, sholat hajat, sholat Dhuha, sholat istikharah, bahkan sholat taubat. Memaknai Al-Qur'an dengan benar, mentadaburi setiap bait kata dari firman Allah Subhana Wa Taala.


Dirasa tak menemukan jawaban, dirinya tetap tidak berputus asa. Sore nanti ia akan menemui pemuda berkulit sawo matang tersebut. Humaira memanjatkan doa-doa, setelah usai melaksanakan sholat subuh. Ia membaca Qur'an Surat Ar-rahman dan Qur'an Surat Al-Waqiah.


Karena telah mandi sebelum memasuki waktu subuh, ia segera menuju dapur untuk memasak sarapan. Sembari memotong-motong bahan untuk membuat nasi goreng. Humaira melafalkan dzikir pagi. Setelah selesai ia sisipi Istighfar berulangkali. Membuat waktu terasa singkat.


Tak terasa nasi goreng lado hijau itu telah siap disantap. Ia menatanya lalu menaruh dimeja makan, lalu memanggil sang Mama. Anora menatap sang anak dengan tatapan sendu, lalu ia duduk di kursi. Selepas membaca doa, ia menyantap sesuap nasi goreng buatan sang anak. Ia menatap Humaira yang tak menyentuh nasi goreng dengan telur ceplok dan sedikit kerupuk pada sebuah piring.


"Apakah ada masalah?"Anora merasa jika anak gadisnya tengah menyembunyikan sesuatu.


"Mah, Aa Alif telah menikah pada Jumat lalu. Aku ga tahu harus bagaimana,"Lirih Humaira mulai menyendokan sesuap nasi goreng kedalam mulutnya.


"Alhamdulillah bagus dong, berarti dia sudah ketemu jodohnya. Pastinya itu yang tepat dan baik baginya. Ga usah sedih!"Anora mengusap lengan Humaira dengan lembut.


"Aku pengen marah Mah, aku benci dia. Tapi kenapa aku masih sayang sama dia? Padahal dia itu udah jadi suami orang lain! Aku bingung Mah!"Keluh Humaira mengutarakan isi hatinya yang beberapa hari ini ia pendam.


"Yasudah, kamu ikhlaskan dia ya! atau kamu mau Mamah jodohin aja, soalnya beberapa waktu lalu ada yang berniat baik kepadamu!"


Humaira menatap jengkel sang Mama, lalu menggeleng kuat. Seolah menegaskan jika ia tidak mau menikah dalam keadaan hatinya yang terluka. Ia tidak mau mencari pelarian, ia percaya tidak ada alasan untuk memilih antara dicintai atau mencintai. Karena kita harus memiliki keduanya.


Jika hanya memilih dicintai, ketika kita tidak mencintai maka rasanya akan hambar. Jika kita memilih mencintai, ketika ia tidak membalasnya maka akan lebih menyakitkan. Jadi ia hanya tidak mau melukai perasaan siapapun saat ini.

__ADS_1


"Mah! Al mengajakku untuk menikah, aku tidak bisa menikah dengannya. Aku sudah berusaha untuk mencari jawaban. Sudah berusaha untuk mengobrol kepada sang kuasa. Tetapi aku sama sekali tak menemukan jawabannya."


"Jika kamu merasa tak yakin, maka tak usah kau lakukan!"Anora menyusun sendok dan garpu yang ia pakai, menatanya pada piring kotor bekas yang dipakainya. Menandakan ia telah menyudahi sarapan.


"Baiklah, sore ini aku akan menemuinya. Lalu menolaknya secara tegas!"Humaira berucap sembari menyusun piring kotor dan membawanya kearah wastafel, untuk dicuci.


...****************...


Ghaza memutari area taman setelah menemukan sesosok gadis bergamis hitam yang tengah duduk di bangku sudut taman. Ia bernafas lega, merasa beruntung jika Humaira masih mau menemuinya.


Setelah berdehem dan mengucapkan salam, Ghaza menduduki bangku disisi kiri. Tentunya setelah Humaira menoleh, lalu menjawab salam dan mengizinkannya. Ghaza tampak kebingungan hendak memulai obrolan dengan kalimat seperti apa. Sementara Humaira kerapkali seperti tengah menghela nafas.


"Al! maafkan aku, aku tak bisa menerima tawaranmu! bagiku kau hanya seorang adik kecil yang paling aku sayangi!"Humaira menghembuskan nafas. Membuat Ghaza tersenyum kecut.


"Aku mengerti,"gumam Ghaza pada akhirnya. Membuat Humaira menatap sendu kearahnya.


"Kita masih teman, bukan?"tutur Humaira disisipi rasa takut pada dasar sanubarinya.


Ghaza mengangguk cepat, ia tahu jika Humaira akan terluka karena ini. Lelaki itu merasa bodoh, telah mengungkapkan perasaannya. Ia gagal untuk membuat gadis yang ia cintai sembuh dari lukanya. Justru ia termasuk penyebab luka yang ada di relung hati sang gadis pujaannya.


Jika seandainya Ghaza tidak melakukan ini, apakah Humaira tidak akan merasa terpukul seperti saat ini? Apakah setelah ini, gadis itu akan menjauhinya?


Memikirkannya saja sudah membuatnya merasa begitu frustasi. Tak mau memperlihatkan kesedihannya kepada Humaira. Dengan berat hati, lelaki itu segera pamit untuk pergi berangkat ke bandara. Dikarenakan kedua orangtuanya telah menunggu, pesawat akan berangkat malam ini.

__ADS_1


Setelah pamit, Ghaza berjalan cepat tanpa mau menoleh kebelakang. Ia tak mau jika Humaira semakin terluka karenanya. Sebab itu ia bergegas segera menaiki taksi online, yang telah ia pesan sedari tadi.


Humaira menatap kepergian Ghaza dengan perasaan yang terguncang. Punggung tegap itu semakin lama semakin menjauh dan mengecil saat tertangkap oleh pupil matanya.


"Aku yang tidak pantas untukmu Al! Sekalipun perasaan itu kelak akan muncul, tetapi aku bukanlah orang yang pantas untukmu."Humaira meneteskan air matanya.


Rasa sesak kian menggerogoti hatinya, ia menengadah berusaha menahan air mata yang akan kembali tumpah. Awalnya Humaira berpikir akan menikah bersama Ghaza. Tetapi dua hari setelah pernyataan Ghaza, orangtua lelaki itu justru menemuinya. Meminta Humaira untuk menolak permintaan anaknya.


Humaira merasa sakit, ia paham jika pernikahan tanpa restu orang tua dari salah satu pihak, juga takkan layak untuk dipertimbangkan. Ridho Allah itu ridhonya orang tua, jika orang tua Ghaza tidak ridho, mungkin Allah tidak akan meridhoi pernikahan mereka nantinya.


Berjalan pelan, Humaira menyusuri jalan setapak yang ada pada taman. Ia menatap langit sore yang mulai berubah warna menjadi jingga. Langit itu tampak indah, tidak seindah kisah percintaannya yang begitu rumit.


...****************...


Hari ini Humaira akan menemui Gus Abdan, guna untuk memberikan surat pengunduran diri. Ia merasa tak sanggup lagi jika bekerja disana, begitu banyak memori saat bersama Ghaza disitu. Ia akui jika benih-benih cinta itu mulai tumbuh, walaupun sangat sedikit.


Ia tak tahu kenapa hatinya merasa nyaman, bukannya ia tak setia. Ia adalah wanita paling setia, memang sulit untuk jatuh cinta. Jika telah jatuh cinta, maka ia akan sulit untuk melepasnya.


Seperti cintanya terhadap Alif Fikri. Sampai saat ini rasa itu belum pudar. Ia tak melupakan kenangan, cintanya, maupun seorang Alif Fikri. Tetapi ia hanya melupakan perasaan untuk memiliki. Ia sadar jika lelaki itu saat ini sudah memiliki istri. Rasanya terhadap Ghazali mungkin muncul disebabkan oleh pelampiasan. Atau merasa terlindungi dan tidak terskiti.


Humaira terus melangkah, namun segera menghentikannya saat melihat sosok Gus Abdan yang tengah membawa kayu yang akan diantarkan pada tukang bangunan. Karena saat ini pesantren dalam masa renovasi.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, Afwan Gus. Saya minta waktunya sebentar,"

__ADS_1


Gus Abdan menghentikan langkahnya, menoleh kepada Humaira. Lalu menurunkan kayu yang tengah ia bawa. Menjawab salam, sembari menunduk ia langsung menanyakan apa keperluan Humaira terhadapnya.


__ADS_2