
Ghaza menatap tajam seorang pemuda yang tengah mengobrol dengan Humaira. Siapapun orang itu, maupun temannya sendiri Ghaza sama sekali tidak terima jika ada orang yang sangat akrab dengan gadisnya. Benar, selama ini Ghaza memang memiliki perasaan lebih terhadap Humaira. Tetapi ia enggan untuk mengutarakan, pasalnya ia menghargai jika Humaira menganggapnya sebatas seorang adik saja.
Tak tahu sejak kapan perasaan itu bersarang pada lubuk hatinya. Yang terpenting ia tengah memantapkan sesuatu. Minggu ini ia akan melakukan setoran kepada Habib Munzir, menuntaskan hafalan 30 Juz Al-Qur'an dengan sanad bersambung sampai ke Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Sesuatu yang sangat membanggakan bagi kedua orangtuanya. Membuat keduanya siang ini akan hadir untuk menemani Ghaza.
Ghaza memang sengaja mengajak Syafiq ikut serta untuk menemaninya menjemput kedua orangtuanya. Tak disangka Humaira justru bersikukuh untuk ikut bersama mereka. Sesampai Airport Humaira tampak jalan terlebih dahulu, disusul oleh Syafiq dibelakangnya. Meninggalkan Ghaza dengan perasaan terbakar api cemburu.
Beberapa menit berjalan, mereka bertiga berhenti pada sebuah bangku diruang tunggu. Duduk dengan nyaman menunggu kedatangan kedua orangtua Ghaza.
Ting!
Ghaza menatap layar ponsel milik Humaira yang tampak berkedip-kedip. Menandakan ada sebuah pesan WhatsApp yang masuk. Gadis itu masih asyik mengobrol bersama Syafiq. Membahas seputar dunia perkuliahan serta dunia kuliner. Syafiq merupakan seorang anak dari chef terkenal di Indonesia. Tanpa ragu, Ghaza izin meminjam ponsel milik Humaira. Membuka pesan secara diam-diam tanpa izin pemilik ponsel tersebut.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, teteh harus liat ini!"
Ghaza menatap pesan dari Icha. Setelah banyak pertimbangan ia memutuskan untuk membalas pesan tersebut.
"Wa'alaikumussalam warrahmatullahi wabarokatuh, iya kenapa Cha?"
"Teteh lihat photo ini, ternyata Aa Alif beneran nikah!"
Ghaza menatap Humaira yang masih mengobrol bersama Syafiq. Ia menatap sendu kearah gadis itu, membayangkan betapa hancurnya perasaan Humaira jika tahu tentang ini. Ghaza menatap kembali sebuah gambar screenshot yang dikirimkan oleh Icha. Disana tampak seorang pemuda mengenakan jubah putih dengan sorban. Didampingi oleh seorang perempuan yang tengah mengenakan gamis putih, dengan akses bunga pada Khimar putih yang dipakainya, jangan lupakan cadar putih dari kain sutra yang juga menutupi sebagian wajahnya.
Seorang Alif Fikri telah menikahi wanita bercadar, beberapa jam yang lalu. Ghaza kembali menatap Humaira, tak menemukan gadis itu pada sisi kiri bangku. Ghaza memutuskan untuk menghela nafas. Tetapi ia kembali dipermainkan oleh takdir, saat Humaira yang kini tengah berada disisi kanan kursi sembari membaca pesan pada ponsel yang tengah ia pegang.
__ADS_1
Humaira menatap Ghaza sembari menggeleng pelan, Ghaza tersenyum lembut sembari mengangguk sekali. Humaira ingin meneteskan air matanya. Tetapi hal itu tak dapat ia lakukan, begitu sakit hatinya tertusuk kabar membahagiakan. Tak menyangka seorang Alif Fikri yang ia pikir seperti memberikan harapan pasti. Malah membuatnya kembali terluka. Pada beberapa hari yang lalu, tepatnya pada 30 Juni, Alif meminta doa kepadanya. Humaira pikir itu hanya bercanda. Lagipula Alif mengatakan bulan depan, sekarang memang sudah tanggal 7 Juli. Terhitung satu pekan dari Alif meminta doa. Tetapi pemuda itu telah resmi menikahi seorang gadis bercadar.
"Aku pikir dia nge prank Aku kek yang sebelumnya,"tutur Humaira menatap sayu kearah Ghaza yang kini tengah terbakar oleh emosi yang mulai meluap.
"Ikhlasin ya kak."Syafiq datang dengan tiga botol cup minuman, memang tadi ia berpamitan untuk mencari minuman dingin.
"In syaa allah, Aku ga tahu harus respon kayak gimana. Batal nikah udah! Ditinggal nikah juga udah! terus kapan nikahnya?"
"Sekarang juga bisa."Ceplos Ghaza dengan cengiran khas miliknya.
"Teh aku kalau jadi teteh pasti bakalan hancur banget, teteh yang kuat ya! aku yakin teteh bakalan bisa lewatin ini semua. Aku kesal banget sama Aa Alif. Jahat deh dia!"
Ghaza menatap Humaira yang masih membaca pelan pesan dari Icha pada ponsel digenggamnya. Ia menatap Humaira sembari tersenyum hangat.
"Aku baik-baik aja!"komentar Humaira saat mendapati tatapan Syafiq yang berubah menjadi tatapan belas kasihan.
"Aku udah ridho kok neng, aku bahagia untuk dia! kamu ga usah khawatir!"
Ghaza memperlihatkan ketikan pesan balasan untuk Icha kepada sang pemilik ponsel, setelah melihat Humaira mengangguk pertanda menyetujui. Ghaza langsung mengirim pesan balasan tersebut.
Tak terasa waktu telah bergulir dengan cepat, hingga mereka bertiga disadarkan oleh sepasang suami-istri yang langsung memeluk Ghaza. Dapat Humaira yakini jika mereka merupakan orangtuanya Ghaza. Berbeda dengan Syafiq yang sudah mengenali keduanya, ia langsung bersalaman kepada ayah Ghaza dan menangkupkan tangan kepada ibunya Ghaza.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh. maaf ya Nak, kalian jadi terlalu lama menunggu tadi pesawatnya pending selama 1 jam."Ibu Ghaza meminta pengertian.
__ADS_1
Ketiga anak-anak serempak menjawab salam sang ibu. Lalu Humaira memperkenalkan dirinya, begitupun dengan Abi Rasyad dan Umi Laila selaku kedua orangtua Ghaza.
...****************...
GOR Pesantren Ar-risalah dipenuhi dengan beraneka macam bunga dan pernak-pernik hiasan lainnya. Begitu tampak indah saat telah di dekorasi sedemikian rupa. Dalam rangka wisuda Tahfiz Al-Qur'an tahun ini, mereka kedatangan tamu dari universitas Indonesia. Siapa lagi jika bukan rombongan Ghaza dan teman-temannya.
Beberapa orang mengundang orangtuanya untuk dipasangkan sebuah mahkota. Kelak diakhirat nanti para penghafal Alquran akan memberikan mahkota kepada sang ibu tercinta. Begitupula dengan orangtua dari Ghaza. Mereka hadir untuk menyaksikan keberhasilan sang anak. Semua serempak mengenakan pakaian berwarna putih. Humaira tampak cantik dengan gamis putih abaya yang tengah ia kenakan.
Ghaza menghampiri Humaira, memberikan sebuah Bros berbentuk mahkota. Humaira menerimanya dengan kedua alis yang tertaut.
"Buat apa?"
"Aku belum bisa kasih mahkota buat kamu, jadi Bros aja ya, kelak anak-anak kita aja ya yang kasih."Ghaza meminta Humaira mengenakan Bros tersebut pada jilbab segiempat yang tengah gadis itu kenakan.
Setelah memasangnya, Humaira menatap Ghaza dengan perasaan aneh. Ia bingung dengan apa yang dimaksud oleh seorang Al-Ghazali.
"Maaf jika aku bersikap lancang dan tidak sopan, jika boleh menyampaikan. Aku ada niat sama kamu, jika kamu mau. In syaa allah bulan depan kita bisa menikah. Kebetulan kedua orangtuaku disini, jadi sekalian bisa bantu aku buat lamar kamu,"Ghaza menebar senyum secerah cuaca pagi hari ini.
Humaira kehabisan kata-kata. Ia menatap dalam manik mata Ghaza, tak menemukan kebohongan disana ia hanya mampu menghela nafas.
"Jangan Bercanda Al! Selisih umur kita itu 8 tahun lho Al!"tegas Humaira mencoba menyadarkan Ghaza dari kekhilafan.
"Umur hanya soal angka, cinta itu datangnya dari Allah, aku ga maksa. Coba aja pikirkan dengan baik. Aku disini in syaa allah sampai Minggu depan, aku tunggu jawabannya ya. Kalau begitu aku permisi, Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh."
__ADS_1
Humaira menatap kepergian Ghaza, ia menjawab salam pemuda itu dengan lirih. Kembali menghela nafas ia memikirkan hal apa yang terjadi saat ini.