Zona Virtual Humaira

Zona Virtual Humaira
Benci!!


__ADS_3

"Mohon doanya ya!!!"


"Doa buat apa aa?"


"In syaa allah bulan depan..."


"Ada apa sama bulan depan!!!"


"Aa mau menikah Moon, bulan depan! mohon doanya,"


Humaira menahan air mata yang hampir menetes, ia tak tahu harus bagaimana merespon takdir yang selalu serius untuk mempermain-kan-nya.


"Jadi Fealing aku selama ini benar, maa syaa allah.. tabarakallah.. aku doain semoga Allah permudah dan Allah lancarkan ya Aa. Semoga kelak Aa menjadi suami yang Sholeh. Istri Aa pasti adalah istri yang Sholehah, kalau boleh tahu dengan akhwat mana Aa?"


"Aamiin, terimakasih.. Orang Cianjur, Qadarullahnya emang begini, Aa sendiri juga kaget."


"Iya gapapa, Barakallahu Lak ya! udah ya Aa, sebelumnya jazakallahu khayr telah menjadi orang paling baik yang pernah aku kenal. Mungkin Aa perantara Allah yang membuat aku semakin lebih baik."


"Semoga kamu dipertemukan dengan yang lebih layak ya, lagipula kan banyak ustadz yang ngajakin ta'aruf. Jazakillahu khairon khatsiron selama ini udah temani Aa ya."


"Wa iyyak, udah ga usah dibalas lagi."


Humaira meratapi nasibnya yang selalu berbaik hati untuk mempermain-kan-nya sesuka hati. Ia bingung harus sedih atau berbahagia. Tentu ia ikut bahagia jika orang yang ia cintai akan menjadi bahagia. Karena telah menemukan pasangan hidupnya. Tapi selama ini apakah salah ia berharap kepada seorang Alif Fikri? kenapa pemuda itu tidak berterus-terang saja! Kenapa baru memberitahu Humaira sekarang, bukannya proses ta'aruf itu tidak singkat? seharusnya Alif memberitahu Humaira dari awal!


Mengabaikan notifikasi yang terus masuk kedalam ponselnya. Humaira memilih untuk melamun, dan menghirup oksigen sebanyak mungkin. Entah Tuhan yang sudah tidak adil, atau dia yang tidak pernah pantas untuk seorang Alif Fikri. Atau bahkan, dirinya tak pernah bahagia. Apa iya pundaknya sekuat itu, sehingga cobaan selalu datang bertubi-tubi.


Humaira senang jika ia dipertemukan dengan Alif, pemuda itu membantunya bangkit dan bangun. Sembari dibantu untuk membalut luka, mereka terlibat dalam cinta. Pada akhirnya seperti kisah tragis Dilan dan Milea. Alif memang bukan untuknya, tetapi dirinya untuk siapa?


Humaira kembali memeriksa ponsel, membaca satu-persatu pesan dari Alif.

__ADS_1


"Sekali lagi maaf ya Moon!"


"Aa ga tahu bakalan jadi begini! Aa tahu kok kalau kamu kuat, maafin Aa"


"Pesan Aa, jaga ibadahnya, jangan lupa dzikir pagi petang, jaga hafalannya. Jaga tilawahnya, jaga Sunnahnya, semoga kita bertemu di Syurga-Nya ya!"


Humaira tak habis pikir dengan kelakuan Alif terhadapnya. Humaira sudah terlalu sakit, ia tak mau jika Alif memperlakukannya seperti ini.


"Please! jangan ganggu aku! aku mohon banget, tolong Aa juga jaga perasaan calon istri Aa. Tolong hargai aku yang lagi menata hati. Aku udah berusaha ya, buat terlihat baik-baik aja. Aku ridho dan ikhlas akan semua takdir ini. Aku ga berhak nyalahin siapapun, dan aku juga bukan siapa-siapa nya Aa.Jadi aku mohon jangan perlakukan aku seperti ini. Kalau perlu Aa jauhin aku aja. Aa tahu kan siapa yang balut luka aku pada tahun 2021 lalu? Aa sendiri kan! dan sekarang siapa yang membuat aku lebih terluka! masih Aa juga kan!!"


"Sekali lagi maaf! Syafakillah, jaga diri kamu baik-baik!"


Humaira yang tadinya ingin tidur nyenyak setelah beberapa hari begadang demi naskah novel yang akan segera terbit. Terpaksa menelan pahit angan-angan miliknya. Malam ini ia tidak bisa tidur, ia memikirkan kesalahan apa yang telah ia perbuat dimasa lalu. Sehingga kehidupan berat ini selalu terjadi.


...****************...


"Astagfirullah kenapa kak? datang-datang malah nangis, ga salam juga!" Ghaza menatap sendu kearah Humaira yang terisak.


"Alif! dia mau menikah bulan depan!"


"Tahu darimana? siapa tahu cuma hoax ya kan? atau dia prank kakak!"


"Dia yang kasih tahu sendiri."


Ghaza meninju tonggak bambu didekat saung, menyebabkan tempat itu sedikit bergetar. Tak habis pikir dengan kebodohan seorang Alif Fikri.


"Qadarullah wa maa syaa faa'la!! segala sesuatu yang telah ditentukan Allah, maka akan terjadi sedemikian rupa." Tutur Ghaza sembari tersenyum.


"Iya aku tahu kok, aku bingung aja! harus sedih atau marah. Bahkan harus bahagia! Dia kenapa gitu ya?"

__ADS_1


"Belum jodoh kak!"


"Jodoh aku kesangkut dimana deh?"


"Ada kok, Yaudah sekarang balik kelingkungan putri deh, ga enak aku kalau ditatap horor sama Gus Abdan. Mana kakak lagi nangis gini!"


Humaira menatap Abdan yang tengah berjalan untuk menghampirinya, sebelum itu terjadi Humaira memilih berlari meninggalkan Ghaza yang geleng-geleng kepala.


...****************...


Humaira tengah menelpon bersama Icha, ia diberi kabar jika Alif akan segera menikah. Tentu Humaira sudah mengetahui kabar tersebut, terlebih jika Icha memberitahu ciri-ciri akhwat yang akan menikah dengan Alif. Semuanya diketahui Icha dari postingan Alif beberapa hari yang lalu.


Disana Alif memperlihatkan photo animasi dirinya dengan seorang akhwat bercadar. Puzzle teka-teki tersusun sempurna dibenak Humaira. Tentu Humaira tahu bersama siapa seorang Alif Fikri akan menikah. Ia menikah bersama Zuha tentunya, begitulah dugaan Humaira untuk saat ini.


Popularitas yang dimiliki oleh seorang Alif Fikri. Mampu membuat dirinya terekpos di awak media. Humaira sengaja melewatkan penayangan berita tersebut. Beberapa hari sengaja tidak terlalu mengenakan ponsel miliknya.


Icha memberitahu kepada kembarannya, Ocha merespon sedikit lebih tenang ketimbang pada saat ia ditolak oleh Alif terdahulu. Ocha bersama Icha menyemangati Humaira. Terlebih jika Icha banyak mengetahui kisah keduanya. Ia tahu jika Alif begitu jahat, disayangkan jika Alif tidak memberitahu secara gamblang jika ia tidak menginginkan Humaira.


Jika boleh jujur, Icha sendiri juga merasa benci kepada Alif. Walaupun Humaira masih menganggap Alif adalah pria paling baik. Benar, Alif memang baik tapi Alif juga pengecut!


Humaira setiap hari berusaha melepaskan rasa sesak yang kian hari kian tumbuh direlung hatinya. Ia berharap jika nanti Alif akan hidup damai dan bahagia.


Belum habis masalah ini, justru Humaira kembali dikagetkan dengan kabar buruk dari Icha. Icha mengaku jika ia telah melakukan hubungan terlarang bersama Axel. Pemuda kenalan Humaira yang berasal dari kota bandung, rupanya mereka bertemu dan melakukan hal terlarang tersebut.


Axel dan Icha harusnya menikah, untungnya Icha tidak hamil. Seperti kejadian Mutia tempo lalu, Icha juga berusaha agar Axel bertanggungjawab. Memang Axel merupakan seorang guru sastra Arab disebuah pesantren didaerah Bekasi.


Sementara Icha tinggal di kota Lampung, Keduanya bertemu karena Icha pergi ke Tangerang, disana ada kakaknya. Dan ia pun bekerja disana beberapa waktu lalu. Sekarang ia telah kembali ke kota Lampung saat Axel mengantarkannya pulang. Dan menyampaikan keseriusannya kepada orang tua Icha.


Sayang orang tua Icha tak merestui hubungan mereka. Abah, tak setuju jika Icha menikah dengan orang jauh. Memang ibu Icha telah meninggal saat melahirkan dirinya dan kembaran. Axel hampir berputus asa, tetapi ia adalah lelaki bertanggungjawab. kesalahan itu terjadi murni karena kekhilafan mereka.

__ADS_1


__ADS_2