
Akhirnya muncullah segerombolan orang-orang yang tinggal di dekat sana, mereka langsung mendekati tempat Mecca berada. Sontak Mecca meminta pada mereka untuk memisahkan Rifan dan si preman yang berkelahi itu, dengan segera preman-preman itu berlari pergi dari sana karena tidak ingin tertangkap warga.
Mecca pun menghampiri Rifan yang tampak lelah dan terluka disana, beruntung Mecca juga berhasil menyelamatkan tasnya agar tidak diambil oleh preman tersebut. Rifan terus terengah-engah sembari memegangi pipinya yang terluka, melihat itu membuat Mecca sangat khawatir padanya.
"Rif, kamu terluka. Kayaknya itu harus diobatin deh, kamu ke rumah aku dulu yuk biar bisa aku obatin disana!" ucap Mecca cemas.
Rifan tersenyum, "Gapapa, aku kuat kok," ucapnya singkat dan pelan.
"Jangan begitu Rifan! Aku tahu kamu pasti sakit, lukanya juga ngeluarin darah tuh. Yuk ah ke rumah aku dulu biar diobatin!" ucap Mecca memaksa.
"Gak bisa Mecca, pasti gak akan dibolehin sama abi kamu karena kita bukan mahram," ucap Rifan.
"Eee ya iya sih, tapi kan cuma ngobatin gak sampe sentuhan atau yang lebih. Udah kamu tenang aja, nanti biar aku bicara sama abi!" ucap Mecca.
"Kamu yakin? Aku gak enak ah, mending aku pulang aja biar nanti di rumah diobatin sama Julia," ucap Rifan menolak.
"Ohh, ya terserah kamu deh. Tapi, sekarang kamu duduk dulu yuk terus minum!" ucap Mecca.
Rifan mengangguk saja menuruti perkataan kekasihnya, lalu mereka pun berjalan perlahan mencari tempat duduk di sekitar sana serta membeli minuman. Mecca tidak ingin membiarkan Rifan pergi begitu saja dalam kondisi seperti ini, ia tentunya tak bisa tenang memikirkan pria itu.
"Nah, kamu minum dulu nih! Aku mau coba beli obat merah dulu ya? Kamu disini aja, jangan kemana-mana!" ucap Mecca.
"Tunggu Mecca!" Rifan melarang gadisnya yang hendak pergi. "Kamu disini aja, kamu gak perlu repot-repot beliin obat merah atau obatin aku," sambungnya.
"Tapi kenapa Rifan? Luka kamu itu harus segera diobatin tau biar gak infeksi," ucap Mecca.
"Gak perlu, kamu duduk sebelah aku aja udah bikin sakitnya reda kok. Kan yang bisa mengobati luka aku itu cuma kamu Mecca," ucap Rifan.
Mecca pun dibuat tersipu olehnya, "Ah kamu ini masih sempat-sempatnya ya gombal! Aku serius tau, itu luka kamu takut infeksi!" ucapnya.
"Gapapa, beneran aku baik-baik aja. Justru kalau ditinggal sama kamu, aku malah jadi makin sakit Mecca," ucap Rifan.
__ADS_1
"Iya iya, terserah kamu aja deh. Aku gak bisa maksa kamu kalau gak mau," ucap Mecca.
Rifan tersenyum sembari memandangi wajah Mecca, sedetik kemudian Mecca mengalihkan pandangan karena merasa sudah terlalu lama mereka saling memandang. Mecca juga mengucap istighfar dan membuat Rifan mengernyit bingung.
"Astaghfirullah," lirih Mecca.
"Kamu kenapa Mecca? Kayak abis ngeliat setan aja pake istighfar segala," tanya Rifan heran.
"Iya Rif, hampir aja kita tergoda setan karena saling tatap tadi," ucap Mecca menunduk.
"Ohh, maaf ya?" ucap Rifan merasa bersalah.
"Gapapa." Mecca menggeleng pelan dengan jantung yang berdegup kencang.
Tiba-tiba saja, keduanya dikejutkan dengan kedatangan seorang pria yang mengucap salam dan mendekati mereka.
"Assalamualaikum Mecca," ucap lelaki itu.
"Waalaikumsalam kak Yudha, ada apa ya?" tanya Mecca dengan lembut.
Yudha tersenyum, "Gapapa kok, aku tadi kebetulan lewat sini aja. Terus aku lihat kamu sama Rifan lagi ada disini, makanya aku samperin kalian," jawabnya.
"Maaf, anda ini siapa ya? Kenapa anda bisa kenal saya dan tahu nama saya?" tanya Rifan tiba-tiba.
Yudha lalu beralih menatap Rifan dan berbicara, "Perkenalkan, saya Yudha teman sekaligus tetangga Mecca disini. Saya juga ketua remaja masjid yang selalu mengurus semua kegiatan keagamaan di kampung ini." Rifan tersenyum mendengarnya.
"Oh gitu, terus kenapa anda bisa tahu nama saya? Siapa yang kasih tahu ke anda? Perasaan baru kali ini kita bertemu," heran Rifan.
"Mecca yang kasih tahu, dia sering sekali bercerita tentang kamu ke saya. Dia juga bilang kalau kamu lelaki yang hebat dan baik, maka dari itu saya sangat senang bila kita bisa berteman," ucap Yudha.
Rifan pun memandang gadisnya untuk memastikan ucapan Yudha, "Benar begitu Mecca?" tanyanya.
__ADS_1
Mecca mengangguk mengiyakan pertanyaan kekasihnya, "Iya Rifan, aku emang suka cerita tentang kamu ke Yudha. Maaf ya kalau kamu kurang berkenan?" ucapnya.
"Haish, sebenarnya gapapa kamu mau cerita apapun itu tentang aku ke siapapun. Tapi yang aku gak suka, apa kalian sudah sedekat itu?" ujar Rifan.
"Hah? Kamu jangan salah paham dulu Rifan! Aku cerita tentang kamu bukan cuma ke Yudha aja kok, tapi ke teman-teman remaja masjid juga. Aku sering cerita waktu kami sedang kumpul," ucap Mecca.
"Iya Rifan, kamu tidak perlu khawatir karena saya yakin cinta Mecca ke kamu itu tulus kok!" sahut Yudha sambil tersenyum.
"Ya syukurlah kalau memang begitu, jangan sampai ya kamu dekat-dekat sama laki-laki lain! Kamu tahu kan aku lagi berjuang buat dapetin kamu?" ucap Rifan.
Mecca tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "Iya aku tahu Rifan, aku juga kan dukung kamu supaya kamu berhasil!" ucapnya.
"Yaudah, aku antar kamu pulang ke rumah deh. Aku takut kejadian tadi terulang lagi, aku harus pastiin kamu baik-baik aja," ucap Rifan.
"Loh emangnya tadi Mecca kenapa? Terus kok wajah kamu sampai luka begitu Rifan? Apa yang terjadi?" tanya Yudha penasaran.
"Mecca dicegat sama sekumpulan orang, kayaknya mereka jambret deh. Kampung ini emang gak aman ya?" jawab Rifan.
"Jambret? Kok bisa ada jambret sih disini? Perasaan sebelumnya gak ada tuh yang namanya jambret atau rampok, disini aman-aman aja kok. Kenapa bisa sampai ada jambret ya?" ujar Yudha kebingungan.
"Mana saya tahu, mungkin aja emang kampung ini udah gak aman lagi seperti dulu," ucap Rifan.
Mecca pun merasa bingung dan akhirnya menyela ucapan kedua pria itu, "Udah gausah bahas jambret lagi, biarin aja kan mereka juga udah gak ada disini!" ucapnya.
"Iya iya, yaudah yuk aku antar kamu pulang! Yudha, kita berdua pergi dulu ya? Assalamualaikum," ucap Rifan bangkit dari duduknya.
"Ah iya, hati-hati! Waalaikumsalam," ucap Yudha.
Rifan dan Mecca lalu pergi dari sana menuju rumah gadis itu, tapi tampak kalau Mecca masih melamun hingga membuat Rifan penasaran. Sepanjang perjalanan, mereka pun terus berbincang mengenai penyebab Mecca yang melamun sedari tadi.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...