
Rifan mengantar Mecca sampai ke depan perkampungan tempat gadis itu tinggal, Rifan sengaja berhenti sampai disana karena belum siap untuk bertemu dengan kedua orang tua Mecca saat ini. Tentu saja Mecca heran saat Rifan menghentikan mobilnya, gadis itu beralih menatap Rifan di sebelahnya dan menunjukkan wajah bingung penuh pertanyaan pada sang kekasih.
"Rif, kenapa cuma sampai disini? Nanggung tau rumah aku kan masih di depan lagi tuh," ucap Mecca protes.
"Eee a-aku minta maaf ya Mecca? Aku belum bisa antar kamu sampai ke rumah, soalnya aku takut abi kamu marah sama aku karena tahu aku masih ada disini," ucap Rifan.
Mecca mengernyit heran, "Maksud kamu gimana sih Rif? Abi gak bakal marah kok sama kamu, buat apa coba abi marah?" ujarnya.
Rifan menundukkan wajahnya dengan bingung seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal, Rifan tampak gugup dan bingung menjelaskan alasan sebenarnya pada gadis itu mengapa ia tidak berani mengantar Mecca sampai ke rumahnya. Sedangkan Mecca menghela nafasnya lalu pamit pada Rifan untuk segera turun.
"Yaudah deh Rif, gapapa kok walau cuma sampai disini. Makasih ya udah mau anterin aku pulang?" ucap Mecca pelan.
"Ka-kamu gak marah kan Mecca? A-aku minta maaf banget sama kamu sayang!" ucap Rifan.
Mecca menggeleng sambil tersenyum, "Aku gapapa Rif, aku gak masalah kok kalau kamu cuma mau antar aku sampai sini. Ya walaupun alasan kamu aneh sih," ucapnya.
"Sekali lagi aku minta maaf ya cantik? Aku beneran belum siap buat ketemu abi untuk saat ini, aku ngerasa malu aja kalau aku masih dalam keadaan kayak gini," ucap Rifan.
"Seharusnya kamu gak perlu malu begitu Rifan, abi pasti maklumi kok. Toh abi kasih syaratnya kan baru kemarin," ucap Mecca.
"Iya sih, tapi gak tahu kenapa aku malu aja gitu ketemu abi untuk sekarang ini," ucap Rifan.
"Ya aku bisa ngerti kondisi kamu Rif, aku gak akan maksa kamu buat ketemu abi sekarang ini. Tapi, kamu jangan pernah mikir kalau abi itu orang yang jahat ya Rifan! Aku tahu betul sifat abi kayak gimana," ucap Mecca.
Rifan tersenyum tipis, "Tentu Mecca, aku bukan orang yang seperti itu. Apalagi abi kan bakal jadi orang tua aku juga," ucapnya.
"Baguslah, yaudah ya aku turun dulu? Sampai ketemu lagi besok, aku doain kamu supaya kamu bisa melewati ini semua! Aku tunggu kamu kembali Rifan," ucap Mecca.
__ADS_1
"Insyaallah Mecca, aku harap kamu setia ya menunggu aku sampai kembali!" ucap Rifan.
Mecca mengangguk pelan, lalu turun dari mobil Rifan setelah berpamitan dan mengucap salam. Gadis itu menunggu disana sampai Rifan melaju pergi dengan mobilnya, ia terus melambaikan tangan dan tersenyum lebar ke arah Rifan berada walau mobil pria itu sudah menjauh.
"Huft, semoga aja kamu bisa selesaikan persyaratan yang diberikan abi itu Rifan! Aku selalu tunggu kamu sampai kembali," ucap Mecca lirih.
Disaat Mecca hendak berjalan, tiba-tiba ia dicegat oleh sekelompok pria berpenampilan seperti preman yang menyeramkan. Mecca pun reflek menyebut istighfar, ia tak mengenal siapa lelaki tersebut dan bingung mengapa mereka mencegah langkahnya sambil tertawa tanpa alasan yang jelas.
"Hey manis, ikut sama kita yuk! Daripada kamu sendirian disini, lebih baik kamu ikut sama kita biar rame-rame!" ucap salah seorang pria.
Mecca menggeleng cepat, "Aku gak mau, aku aja gak kenal kalian siapa. Permisi, aku harus pergi sekarang!" ucapnya.
Namun, kelima orang pria itu mencegahnya dan mengelilinginya seolah tak mengizinkan Mecca untuk pergi dari sana. Sontak Mecca semakin panik, ia bingung harus melakukan apa untuk bisa lepas dari para orang-orang itu. Mecca pun terus berdoa meminta pertolongan dari Tuhan agar dapat pulang dengan selamat.
"Hahaha, kamu mau pergi kemana manis? Kamu gak akan bisa lepas dari kami," ucap si pria.
"Astaghfirullah, kalian itu sebenarnya mau apa? Jangan ganggu aku, diantara kita kan tidak ada masalah sebelumnya! Aku pun juga tidak mengenal kalian siapa," ucap Mecca.
"Kalian mau apa? Katakan!" sentak Mecca.
"Bagus, kamu menyerah saja dan tidak usah banyak bergerak! Kami cuma ingin kamu menyerahkan tas kamu itu dan seluruh harta yang kamu punya!" ucap pria itu sambil tertawa.
"Astaghfirullah, apa kalian ini semua penodong? Taubatlah, sebentar lagi masuk bulan suci Ramadhan. Kalian tidak boleh terus begini!" ucap Mecca.
"Ah kamu gausah ceramah! Serahin aja cepat tas kamu! Kalau enggak, kami akan rebut paksa dan melukai kamu!" sentak si pria.
Mecca menggeleng, "Enggak, aku gak mau serahkan barang-barang aku begitu aja. Kalian juga gak bisa ambil paksa ini semua dari aku, lebih baik kalian semua taubat!" ucapnya tegas.
__ADS_1
Kelima pria tersebut pun saling pandang dan tampak emosi, mereka lalu melangkah mendekati Mecca untuk mengambil paksa tas miliknya. Mecca dengan sekuat tenaga mencoba mempertahankan tas itu agar tidak diambil oleh mereka, tetapi pria itu malah mendorong tubuhnya sampai terjatuh.
Bruuukkk
"Akh sakit!" pekik Mecca memegangi pinggulnya.
Seketika lima pria itu menertawakan Mecca tanpa belas kasihan sedikitpun, mereka telah berhasil mengambil tas gadis itu dan terus memandangi Mecca yang tampak kesakitan karena baru terjatuh itu. Mecca hanya bisa mengucap istighfar di dalam hatinya melihat kelakuan pria-pria itu.
"Hahaha, rasain tuh makanya jangan sok ceramahin kita! Diminta baik-baik malah ngelawan, baru segitu aja udah kapok!" ujar si pria.
"Kalian semua bisa senang-senang sekarang, tapi ingatlah balasan dari Tuhan itu lebih pedih! Kalian mendingan balikin tas aku, atau aku akan teriak!" ucap Mecca sedikit kesal.
"Oh ya? Silahkan aja kamu teriak, kita semua gak takut!" pria itu malah menantangnya.
Mecca menggeleng tak percaya, lalu tiba-tiba seseorang datang mendekati mereka dan berteriak ke arah lima lelaki itu. Tentu saja Mecca serta yang lainnya terkejut, mereka sama-sama menoleh dan menemukan sosok pria berdiri di depan sana dengan wajah emosinya.
"Hey, jangan kurang ajar sama dia! Kalian belum tahu siapa wanita itu? Dia punya kekasih yang sangat hebat dan menakutkan!" ucap pria itu.
Mecca tersenyum di sela-sela tangisnya, ia bahagia sebab Rifan kembali datang untuknya walau ia masih bingung bagaimana caranya Rifan bisa datang kesana. Mecca pun bangkit dari posisinya dan membuat kelima lelaki itu terheran-heran sekaligus kebingungan.
"Sialan! Lo gausah ikut campur, mending lu pergi sebelum kita bikin lu jadi ayam geprek!" ucap si pria preman sembari menunjuk ke arah Rifan.
"Saya tidak takut pada manusia seperti kalian, saya hanya takut dengan Tuhan saya, Allah SWT!" ucap Rifan dengan tegas yang membuat Mecca kagum.
"Ah banyak omong lu! Hajar!" perintah si preman.
Keempat lelaki itu pun maju menyerang Rifan dengan membabi buta, Mecca yang melihatnya hanya bisa melongok sembari menutupi mulutnya karena khawatir pada sang kekasih.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...