30 Hari Di Pesantren

30 Hari Di Pesantren
Bab 7. Mau berangkat


__ADS_3

Kemudian, Vidya berganti menatap Mecca yang tengah tertawa sembari menutup mulutnya. Ya itulah kebiasaan Mecca saat sedang berkumpul dan ingin tertawa, dia pasti menutupi mulutnya dengan telapak tangan karena tidak ingin dicap sebagai perempuan yang tidak benar.


"Eh Mecca, kalau kamu sendiri gimana? Katanya kamu udah dilamar ya sama Rifan?" tanya Vidya.


"Nah iya tuh bener, gimana Mecca kelanjutannya? Lamaran Rifan kamu terima gak?" sahut Zahra ikut penasaran.


"Umm, aku sih sebenarnya terima aja lamaran Rifan. Toh aku kan emang sayang sama dia, tapi disini yang jadi masalahnya itu abi aku," ucap Mecca.


"Hah? Emang abi kamu kenapa Mecca?" tanya Zahra penasaran.


"Eee abi kasih syarat yang gak masuk akal buat dilakukan Rifan, aku juga gak yakin Rifan bisa lewatin itu semua," jawab Mecca.


"Maksud kamu? Emangnya syarat apa coba yang dikasih abi kamu ke Rifan?" tanya Vidya.


"Iya, jadi tuh abi minta Rifan buat belajar agama di pesantren selama tiga puluh hari dan harus lulus," jelas Mecca.


"What? Serius nih abi kamu nyuruh Rifan kayak gitu?" kaget ketiga gadis itu.


Mecca hanya manggut-manggut mengiyakan pertanyaan mereka, jujur memang Mecca pun masih heran mengapa ayahnya sampai tega memberikan syarat seperti itu pada Rifan. Ingin sekali Mecca bertanya pada sang ayah, tetapi ia tak memiliki keberanian yang cukup.


"Ya ampun, kamu yang sabar ya Mecca! Kita berdoa aja supaya Rifan bisa melewati syarat itu dan kalian berdua bisa secepatnya nikah, kita setuju banget tau sama kalian," ucap Vidya.


"Bener tuh, kalian best couple in the world tau gak sih!" sahut Zahra.


"Apa sih kalian ini? Lebay deh!" kekeh Mecca.


Tiba-tiba saja, seorang lelaki muncul dan ikut duduk di salah satu kursi yang masih kosong dan menyapa keempat gadis tersebut. Namun, tatapannya terus mengarah ke Mecca yang memang tepat ada di hadapannya. Sontak Mecca merasa risih lalu segera merunduk.


"Halo semua! Asyik banget nih kayaknya pada ngobrol-ngobrol, boleh dong gue ikutan?" sapa pria bernama Abdul itu.


"Haish, sok asik banget sih kamu Abdul! Kamu tuh gak punya teman laki-laki apa ya? Masa setiap hari nimbrung ke kita terus para cewek? Gak malu apa kamu?" ujar Vidya.


"Tau ih, malu dong tuh sama orang-orang di sekitar kamu Abdul!" sahut Zahra.

__ADS_1


"Apa salahnya? Emang laki-laki gak boleh berteman sama perempuan ya?" tanya Abdul heran.


"Bukan gak boleh, tapi kita bukan mahram jadi kamu jangan dekat-dekat sama kita!" jawab Zahra.


Abdul hanya tersenyum seolah tak menggubris ucapan Zahra serta Vidya barusan, lelaki itu malah tetap berada disana dan terus menatap Mecca tanpa henti. Mecca semakin risih sehingga memilih memalingkan wajahnya untuk lepas dari tatapan Abdul yang kurang ajar itu.


"Heh, mending kamu samperin anak-anak cowok aja deh sana! Kasihan itu Mecca risih tahu ngeliat kamu disini," usir Zahra.


"Jelaslah, secara Mecca kan udah dilamar. Jadi dia harus jaga sikap sama pandangannya, biar si cowoknya gak marah nanti," sahut Mira.


Sontak Abdul melotot tak percaya, "Maksudnya gimana? Seriusan Mecca udah dilamar? Sama siapa coba?" tanyanya dengan wajah terkejut.


"Kamu gausah kepo dan mau tau urusan orang deh Abdul, kamu itu cowok kok kayak cewek sih?!" ucap Zahra ketus.


"Yeh apa salahnya? Aku kan mau mastiin aja, soalnya kayak gak mungkin banget Mecca udah dilamar orang," ucap Abdul.


"Apanya yang gak mungkin coba? Beneran kok, tanya aja si Mecca!" ucap Zahra.


"Mecca, itu beneran?" tanya Abdul langsung pada Mecca.




Sore harinya, Mecca menemui Rifan sesuai janji yang sudah mereka buat sebelumnya. Keduanya duduk berhadapan di sebuah cafe tempat biasa mereka kumpul, Mecca memang datang agak telat lantaran ia terlalu lama berbincang dengan para temannya di kampus tadi.


Namun, Rifan selalu tak mempermasalahkan itu. Baginya walau Mecca telat setahun pun ia akan tetap menunggu gadis itu datang, ya mungkin begitulah yang dinamakan buta cinta. Tak lupa Rifan juga sudah memesankan minuman kesukaan Mecca disana sebelum gadis itu datang.


"Assalamualaikum," Mecca mengucap salam sembari menarik kursi di depannya.


"Waalaikumsallam, syukurlah kamu datang Mecca! Aku tadi agak cemas aja karena kamu belum datang juga," ucap Rifan.


"Iya Rifan, aku minta maaf ya karena aku telat datangnya?" ucap Mecca.

__ADS_1


"Gapapa Mecca, kamu datang aja aku udah senang kok. Aku juga bersyukur karena ternyata kamu baik-baik aja!" ucap Rifan tersenyum.


"Alhamdulillah, aku gapapa. Oh ya, kamu mau ngomong apa sama aku Rif?" tanya Mecca.


"Eee.." Rifan menunduk bingung sembari mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya.


"Aku sebenarnya mau bahas tentang syarat yang dikasih abi kamu, Mecca. Aku agak ragu kalau aku bisa melewati itu semua, tapi aku janji sama kamu aku akan berusaha melakukannya!" ucap Rifan.


Mecca pun tersenyum dan menaruh kedua tangan di meja, "Aku percaya kok sama kamu Rifan, aku tahu kamu pria yang kuat dan tangguh. Aku doakan kamu bisa melewati ini semua, yang sabar ya Rifan!" ucapnya lembut.


"Terimakasih atas dukungan kamu Mecca, jujur setelah dapat semangat dari kamu, aku jadi makin percaya diri nih!" ucap Rifan.


"Iya Rifan, aku juga minta maaf ya karena abi kasih syarat yang gak masuk akal ke kamu? Aku udah coba bicara sama abi, tapi abi gak mau dengerin kata-kata aku," ucap Mecca.


"Gapapa Mecca, aku ikhlas dan terima kok semua persyaratan itu. Aku juga udah dapat pesantren yang bagus buat belajar," ucap Rifan.


"Oh ya? Dimana?" tanya Mecca antusias.


"Aku belum tahu sih, besok aku baru mau kesana sama ayah bunda," jawab Rifan.


"Oh gitu, boleh aku ikut?" tanya Mecca.


Rifan terkejut mendengarnya, "Serius kamu mau ikut? Emangnya bakal dibolehin sama abi atau umi kamu?" ucapnya.


Mecca mengangguk antusias, "Iya Rifan, aku pengen tahu juga dimana tempat kamu belajar agama nanti. Jadi, aku kan bisa mampir kesana kapan-kapan," ucapnya.


"Eh gausah Mecca, aku gak mau kamu dimarahin abi kamu. Biar aja aku belajar disana selama tiga puluh hari sesuai yang abi kamu minta, kamu tunggu disini aja ya!" ucap Rifan.


"Yah kenapa sih kamu gak bolehin aku buat jenguk kamu disana?" tanya Mecca kecewa.


"Bukan apa-apa Mecca, aku cuma gak mau kamu dimarahin. Jarak dari sini ke pesantrennya itu jauh, aku yakin kamu gak akan dibolehin buat susulin aku kesana sama abi kamu," jawab Rifan.


Seketika Mecca cemberut mendengar ucapan Rifan, melihat itu membuat Rifan sedikit merasa tidak enak hati dan berusaha membujuk Mecca.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2