30 Hari Di Pesantren

30 Hari Di Pesantren
Bab 11. Tiba di pesantren


__ADS_3

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, Rifan beserta kedua orangtuanya berangkat menuju pesantren yang akan menjadi tempat belajar bagi lelaki itu dalam tiga puluh hari ke depan. Rifan tampak gugup dan terus berdoa agar semua urusannya bisa selesai dengan baik tanpa ada halangan, ia juga sudah tidak sabar ingin segera menuntut ilmu disana.


Sesampainya di pesantren tersebut, Rifan pun turun dari mobil bersama kedua orangtuanya, yakni Haidar dan Amira. Mereka melangkah menuju pondok itu berada, Amira sang ibu juga berusaha terus menenangkan putranya yang terlihat tegang itu agar Rifan bisa lebih tenang dalam bertemu dengan sang kiyai pemilik pesantren yang tak lain ialah sahabat dari Haidar alias papa Rifan sendiri.


"Kamu harus tenang Rifan, jangan mikir yang enggak-enggak dulu! Ada bunda sama ayah disini, jadi kamu gak perlu panik ya sayang!" ucap Amira.


"Iya bund, daritadi juga aku berusaha tenang kok. Aku gak mau rasa gelisah ini malah bikin aku jadi susah buat belajar disini nanti, padahal cuma itu satu-satunya cara biar aku bisa nikahin Mecca," ucap Rifan pelan.


"Nah bagus itu, ayah senang dengarnya kalau kamu punya pemikiran begitu!" ucap Haidar.


Rifan hanya tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, ia terus berjalan bersama ayah serta bundanya itu sambil saling merangkul. Seketika rasa gelisah di dalam hati Rifan mulai berangsur hilang, bayangan wajah Mecca di pikirannya berhasil membuat Rifan semakin semangat untuk belajar.


"Assalamualaikum.." tiba-tiba saja tiga orang gadis berkerudung datang menghampiri mereka dan berdiri di depan mereka, sontak ketiganya pun berhenti melangkah karena ketiga gadis itu.


"Eh waalaikumsalam, kalian pasti para santri disini ya?" ucap Haidar sambil tersenyum.


"Iya paman, kami santri disini. Kenalin nama saya Ayana, terus ini teman-teman saya, namanya Mentari sama Ines," jelas salah seorang wanita berkerudung merah muda itu dengan ramah dan lembut.


"Oh masyaallah, salam kenal ya nak Ayana? Nak Mentari, sama nak Ines juga?" ucap Amira.


"Sama-sama tante, eee paman sama tante kesini ada urusan apa ya? Mau daftar di pesantren ini juga apa gimana?" tanya Ayana.


"Iya betul nak Ayana, kami memang mau mendaftarkan anak kami yang satu ini disini buat belajar agama," jawab Haidar menunjuk putranya.

__ADS_1


Sontak ketiga gadis itu spontan menoleh ke arah Rifan berdiri, mereka tersenyum menganggukkan kepala seolah memberi tanda salam kenal kepada lelaki tersebut. Entah kenapa saat bertatapan dengan Ayana, Rifan merasa gugup dan jantungnya berdebar kencang melihatnya.


"Ohh, kalo gitu silahkan lewat sini paman!" ucap Ayana.


"Ya terimakasih nak Ayana," ucap Haidar singkat.


Setelahnya, mereka pun lanjut berjalan menuju pondok tempat dimana sang kiyai berada. Tapi pandangan mata Rifan seolah tak bisa lepas dari kecantikan Ayana, sepertinya ia sudah langsung tertarik pada gadis muda yang baru pertama kali ia temui itu.


Di perjalanan, untuk memecah keheningan akhirnya dua sahabat Ayana yang bernama Mentari dan Ines itu memulai perbincangan dengan menanyakan mengenai Rifan. Ya kebetulan mereka memang belum mengetahui siapa nama lelaki kota yang baru datang ke pesantren mereka itu.


"Oh ya, nama anak paman sama tante ini siapa ya? Kita belum kenalan tadi," tanya Ines tiba-tiba.


"Ah benar juga, kalian kenalkan ya anak tante ini namanya Rifan! Yuk Rifan, kamu juga kenalin diri kamu ke mereka! Siapa tahu nanti mereka bisa jadi teman kamu disini," ucap Amira.


"Ya iya sih, tapi gak ada salahnya kan kalau kamu kenalin diri ke mereka? Biar nanti kalau ada apa-apa kan bisa saling kenal," ucap Amira.


"Iya bunda," singkat Rifan menurut saja.


"Halo semua, assalamualaikum! Nama saya Rifan, salam kenal ya buat semuanya!" ucap Rifan pada ketiga gadis itu.


"Waalaikumsalam Rifan, nama yang bagus hehe!" ucap Ines sambil nyengir.


"Terimakasih," Rifan membalas senyuman itu dengan wajah sedikit tertunduk.

__ADS_1


Sesekali Rifan juga mencuri-curi pandang ke arah wajah Ayana, tampaknya Rifan mulai tertarik pada gadis cantik berkerudung itu yang senyumannya memang lebih manis daripada dua temannya. Namun, dengan segera Rifan menyadarkan dirinya dan mengingat bahwa ia memiliki Mecca yang sedang ia perjuangkan.




Singkat cerita, mereka kini tiba di pondok tempat tinggal sang kiyai. Sontak Ayana langsung masuk memanggil kiyai serta ustadzah yang merupakan pemilik pesantren itu, sedangkan yang lain tetap menunggu di luar karena tidak sopan jika main masuk begitu saja tanpa izin.


Tak lama kemudian, sang kiyai yang ditunggu-tunggu pun muncul bersama istrinya. Ya kiyai bernama Latief yang merupakan sahabat Haidar itu sontak tersenyum, lalu menyapa keluarga temannya dengan ramah sambil saling bersalaman satu sama lain.


"Wah wah wah, Alhamdulillah kalian datang dengan selamat ya! Haidar, jadi ini anak kamu yang pengen belajar disini?" ujar kiyai Latief.


"Iya Alhamdulillah, Rifan katanya pengen berubah jadi pribadi yang lebih baik. Kamu bisa bantu dia kan Latief? Saya tahu ilmu kamu sudah tinggi sejak kita lulus sekolah dulu," ucap Haidar.


"Insyaallah, saya akan bantu Rifan untuk belajar sebisa saya Haidar," ucap kiyai Latief.


Haidar dan Amira pun tersenyum saling pandang, mereka senang karena kiyai Latief mau menerima dengan baik kehadiran mereka disana. Lalu, tampak kiyai Latief beralih menatap Ayana yang berdiri di sampingnya dan meminta gadis itu bergerak maju agar lebih dekat padanya.


"Oh iya, kenalkan ini Ayana, putri sulung saya!" ucap kiyai Latief mengenalkan putrinya pada keluarga Haidar.


Sontak Haidar serta yang lainnya dibuat melongok, rupanya Ayana adalah putri pertama dari kiyai Latief. Pantas saja tadi Ayana berani masuk ke dalam pondok meski belum mendapat izin dari sang kiyai ataupun ustadzah, tentu saja Rifan yang mendengarnya seolah tak memiliki harapan lagi untuk bisa menggoda gadis itu.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2