30 Hari Di Pesantren

30 Hari Di Pesantren
Bab 14. Makan malam


__ADS_3

"Yah oke deh, saya gak ada pilihan lain. Terpaksa nih saya mau terima," ucap Rifan.


"Alhamdulillah, kalau begitu sekarang sudah waktu shalat ashar. Kita sama-sama ke mushola yuk!" ajak kiyai Latief.


"Shalat kiyai? Duh, saya masih capek tapi. Nanti aja ya lima belas menit deh?" ucap Rifan.


"Alangkah baiknya jika kita menyegerakan shalat begitu waktunya tiba, tidak baik kalau kita mengundur-undur sampai batas akhir waktu shalat. Memangnya kamu mau kalau Allah juga memperlambat rezeki kamu?" ucap kiyai Latief.


Rifan terdiam, ia tidak bisa berbuat apa-apa kali ini selain menurut saja pada sang kiyai. Akhirnya ia pun mengangguk dan mau mengikuti perintah kiyai Latief untuk pergi ke mushola, sontak sang kiyai tersenyum puas mendengar perkataan Rifan yang akhirnya mau menurut.


Bima yang sedari tadi hanya mengamati, kini ikut maju mendekati mereka dengan senyum riang setelah mendengar semua perbicangan Rifan dengan sang kiyai. Tentu saja baik Rifan maupun kiyai Latief pun terkejut melihat kehadiran Bima disana, mereka tak menyangka kalau Bima menguping pembicaraan mereka.


"Nah gitu dong Rifan! Kalo disini itu kamu harus nurut sama aturan yang ada, gak boleh bantah kayak tadi!" ucap Bima.


"Diem lu!" bentak Rifan emosi.


"Yeh dikasih tahu sama senior malah begitu, tobat bro tobat!" cibir Bima.


Rifan hanya memutar bola matanya malas, kiyai Latief pun ikut terkekeh melihat kedua pria itu yang saling berdebat. Lalu, Ayana tiba-tiba muncul disana dan membuat pandangan Rifan langsung teralihkan, entah kenapa setiap kali melihatnya selalu membuat Rifan terpikat akan pesonanya.


"Assalamualaikum," ucap Ayana lirih dengan wajah menunduk.


"Waalaikumsalam," jawab mereka bertiga serentak, termasuk kiyai Latief yang menoleh ke arah putrinya sambil tersenyum.


"Ayah, sudah waktunya shalat. Aku mau ke mushola duluan ya?" pamit Ayana.


"Eh jangan Ayana!" tiba-tiba Rifan menyela dan membuat Bima serta kiyai Latief menatapnya.


"Eee maksudnya jangan duluan, kita bareng aja ke mushola nya sekalian!" sambung Rifan.

__ADS_1


Ayana menggeleng pelan, "Maaf, aku mau bareng teman-teman aja. Gapapa kan ayah?" ucapnya menolak.


Kiyai Latief tersenyum dan memegang wajah putrinya, "Gapapa sayang, kamu duluan aja! Nanti ayah sama Rifan nyusul," ucapnya.


"Iya ayah," Ayana pun mencium tangan ayahnya dan pergi menuju mushola.


Terlihat kekecewaan di wajah Rifan, sejujurnya ia ingin mengenal lebih dekat wanita itu karena telah berhasil memikat hatinya, tapi apa boleh buat tidak mungkin ia memaksa dan meminta Ayana ikut bersamanya, bisa-bisa nanti ia malah mendapat pukulan dari kiyai Latief.


"Heh mas bro!" Bima yang berdiri di sebelahnya pun menyenggol lengan Rifan.


"Ish, apaan sih lu?!" kesal Rifan yang langsung memukul bahu Bima.


"Yeh kamu itu ngapain toh? Kenapa ngeliatin mbak Ayana sampai segitunya? Awas loh zina mata kamu!" ujar Bima.


"Zina mata zina mata, ngaco aja lu kalo ngomong! Lagian siapa yang ngeliatin Ayana? Gue tuh lagi lihat pemandangan di sekitar sini," elak Rifan.


"Iya Bim, indah banget. Cantik lagi!" celetuk Rifan.


"Hah kok cantik? Apanya?" kaget Bima.


"Ya pemandangannya lah, emang lu mikir apaan sih? Gini nih kalo punya teman otaknya di dengkul!" cibir Rifan.


Kiyai Latief yang mendengar itu hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala, lalu mereka pun sama-sama melangkah menuju mushola disana walau Rifan masih belum bisa berhenti memikirkan Ayana yang entah mengapa selalu nyangkut di dalam kepalanya.




Malam harinya, selepas shalat isya Rifan dan Bima kini tiba di kantin untuk makan malam. Namun, Rifan tampak terkejut melihat orang-orang mengantri mengambil makanan dengan porsi sedikit. Sontak saja Rifan menggeleng, mana mungkin ia cukup jika hanya memakan makanan seperti itu.

__ADS_1


Rifan pun bergerak maju dengan piring di tangannya, ia berniat protes pada dua orang pria dan wanita dewasa yang memberikan makanan itu. Bima yang melihat sahabatnya bertindak aneh mulai merasa cemas, ia memilih ikut maju untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.


"Eh eh, mas Rifan. Kamu mau ngapain toh buru-buru amat? Ngantri mas ngantri!" ucap Bima menahan sohibnya itu.


"Ah apaan sih lu?! Gue pengen protes aja ke mereka, masa ngasih makanan cuma segitu doang, mana cukup gue bro! Gue pokoknya harus dapat makanan yang banyak sekarang, kalau enggak ya gue gak bisa tidur nanti!" ucap Rifan.


"Hadeh, sampeyan ini jangan macam-macam lagi deh mas Rifan! Nanti urusannya jadi panjang dan aku lagi yang kena getahnya," ucap Bima.


"Santai aja, gue ikut perjuangkan jatah makan lu juga kok! Jadi, lu dukung gue supaya kita bisa dapat porsi makan yang banyak!" ucap Rifan kekeuh.


"Saya gak mau ikut-ikutan, kamu aja sana gih kalo emang mau mah!" ucap Bima lepas tangan.


Rifan memutar bola matanya, lalu ia pun bergerak maju mendekati dua orang dewasa yang sedang memberikan makan malam bagi para santri disana. Bima memilih diam di tempat memperhatikan saja pria itu dari jauh, ia tak ingin terlibat ke dalam masalah Rifan yang terlalu berani.


"Misi misi misi semuanya, ada yang harus gue bicarain nih sama kalian semua!" ucap Rifan menyela antrian dan menatap ke sekeliling.


Sontak seluruh orang disana yang sedang menyantap makanan pun menoleh karena penasaran, termasuk juga Ayana beserta teman-temannya yang tampak melongok begitu mendengar suara Rifan. Mereka semua dibuat bingung dengan teriakan Rifan barusan.


"Hahaha, bagus bagus. Kalian semua dengerin gue dulu ya, sebentar aja kok! Ini semua juga demi kebaikan kita bersama, jadi kalian harus dukung gue!" ucap Rifan sambil tertawa.


"Heh anak baru! Kamu itu ngapain sih? Kita ini lapar mau makan, gak ada waktu buat dengerin omong kosong kamu!" ucap salah seorang santri pria.


"Iya tuh betul, betul!" sahut yang lainnya.


"Santai dulu santai, gue kan belum mulai bicara! Kalian diam dan dengarkan aja!" pinta Rifan.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2