30 Hari Di Pesantren

30 Hari Di Pesantren
Bab 15. Terpaksa mengalah


__ADS_3

Malam harinya, selepas shalat isya Rifan dan Bima kini tiba di kantin untuk makan malam. Namun, Rifan tampak terkejut melihat orang-orang mengantri mengambil makanan dengan porsi sedikit. Sontak saja Rifan menggeleng, mana mungkin ia cukup jika hanya memakan makanan seperti itu.


Rifan pun bergerak maju dengan piring di tangannya, ia berniat protes pada dua orang pria dan wanita dewasa yang memberikan makanan itu. Bima yang melihat sahabatnya bertindak aneh mulai merasa cemas, ia memilih ikut maju untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.


"Eh eh, mas Rifan. Kamu mau ngapain toh buru-buru amat? Ngantri mas ngantri!" ucap Bima menahan sohibnya itu.


"Ah apaan sih lu?! Gue pengen protes aja ke mereka, masa ngasih makanan cuma segitu doang, mana cukup gue bro! Gue pokoknya harus dapat makanan yang banyak sekarang, kalau enggak ya gue gak bisa tidur nanti!" ucap Rifan.


"Hadeh, sampeyan ini jangan macam-macam lagi deh mas Rifan! Nanti urusannya jadi panjang dan aku lagi yang kena getahnya," ucap Bima.


"Santai aja, gue ikut perjuangkan jatah makan lu juga kok! Jadi, lu dukung gue supaya kita bisa dapat porsi makan yang banyak!" ucap Rifan kekeuh.


"Saya gak mau ikut-ikutan, kamu aja sana gih kalo emang mau mah!" ucap Bima lepas tangan.


Rifan memutar bola matanya, lalu ia pun bergerak maju mendekati dua orang dewasa yang sedang memberikan makan malam bagi para santri disana. Bima memilih diam di tempat memperhatikan saja pria itu dari jauh, ia tak ingin terlibat ke dalam masalah Rifan yang terlalu berani.

__ADS_1


"Misi misi misi semuanya, ada yang harus gue bicarain nih sama kalian semua!" ucap Rifan menyela antrian dan menatap ke sekeliling.


Sontak seluruh orang disana yang sedang menyantap makanan pun menoleh karena penasaran, termasuk juga Ayana beserta teman-temannya yang tampak melongok begitu mendengar suara Rifan. Mereka semua dibuat bingung dengan teriakan Rifan barusan.


"Hahaha, bagus bagus. Kalian semua dengerin gue dulu ya, sebentar aja kok! Ini semua juga demi kebaikan kita bersama, jadi kalian harus dukung gue!" ucap Rifan sambil tertawa.


"Heh anak baru! Kamu itu ngapain sih? Kita ini lapar mau makan, gak ada waktu buat dengerin omong kosong kamu!" ucap salah seorang santri pria.


"Iya tuh betul, betul!" sahut yang lainnya.


"Yaudah, cepetan bicara! Kita semua udah lapar ini!" sentak sang santri lelaki.


"Ya tenang semuanya, gue cuma mau bilang kalau kita berhak dapat makan malam yang lebih banyak daripada ini. Apa kalian gak ngerasa kalau porsinya itu kedikitan? Masa gak ada yang mau protes?" ucap Rifan dengan lantang.


Semua santri disana tampak saling pandang dan memilih mengabaikan Rifan, mereka pun malah melanjutkan makan hingga membuat Rifan kesal dan emosi.

__ADS_1


"Loh loh, heh! Ini kenapa malah pada diam? Gak ada yang setuju sama ucapan gue?" sentak Rifan.


"Gak! Udah lah kamu gausah banyak bicara, santri baru kok sok ngatur!" cibir salah satu santri.


Rifan menggeleng cepat, "Payah lu semua! Dasar cemen!" ucapnya kesal.


Bima yang sebelumnya menunggu pun bergerak mendekati Rifan dan mengajak pria itu untuk makan saja, ya Bima tak ingin jika Rifan terus membuat keributan disana. Akhirnya Rifan mau menurut dan tidak lagi membahas demonya, meskipun Rifan masih merasa tak puas dengan porsi makannya.


Ya malam itu pun Rifan terpaksa makan seadanya, tapi ia sedikit merasa senang lantaran Ayana tampak memperhatikannya dari jauh sambil tersenyum. Sontak Rifan juga tersenyum melihatnya, walau ia harus menyembunyikan senyum itu karena khawatir Ayana mengetahuinya.


"Tuh anak cakep banget sumpah! Makan apa sih dia bisa sampe cantik begitu? Mana senyumnya juga manis banget lagi," gumam Rifan dalam hati.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2