
Kelima pria tersebut pun saling pandang dan tampak emosi, mereka lalu melangkah mendekati Mecca untuk mengambil paksa tas miliknya. Mecca dengan sekuat tenaga mencoba mempertahankan tas itu agar tidak diambil oleh mereka, tetapi pria itu malah mendorong tubuhnya sampai terjatuh.
Bruuukkk
"Akh sakit!" pekik Mecca memegangi pinggulnya.
Seketika lima pria itu menertawakan Mecca tanpa belas kasihan sedikitpun, mereka telah berhasil mengambil tas gadis itu dan terus memandangi Mecca yang tampak kesakitan karena baru terjatuh itu. Mecca hanya bisa mengucap istighfar di dalam hatinya melihat kelakuan pria-pria itu.
"Hahaha, rasain tuh makanya jangan sok ceramahin kita! Diminta baik-baik malah ngelawan, baru segitu aja udah kapok!" ujar si pria.
"Kalian semua bisa senang-senang sekarang, tapi ingatlah balasan dari Tuhan itu lebih pedih! Kalian mendingan balikin tas aku, atau aku akan teriak!" ucap Mecca sedikit kesal.
"Oh ya? Silahkan aja kamu teriak, kita semua gak takut!" pria itu malah menantangnya.
Mecca menggeleng tak percaya, lalu tiba-tiba seseorang datang mendekati mereka dan berteriak ke arah lima lelaki itu. Tentu saja Mecca serta yang lainnya terkejut, mereka sama-sama menoleh dan menemukan sosok pria berdiri di depan sana dengan wajah emosinya.
"Hey, jangan kurang ajar sama dia! Kalian belum tahu siapa wanita itu? Dia punya kekasih yang sangat hebat dan menakutkan!" ucap pria itu.
Mecca tersenyum di sela-sela tangisnya, ia bahagia sebab Rifan kembali datang untuknya walau ia masih bingung bagaimana caranya Rifan bisa datang kesana. Mecca pun bangkit dari posisinya dan membuat kelima lelaki itu terheran-heran sekaligus kebingungan.
"Sialan! Lo gausah ikut campur, mending lu pergi sebelum kita bikin lu jadi ayam geprek!" ucap si pria preman sembari menunjuk ke arah Rifan.
"Saya tidak takut pada manusia seperti kalian, saya hanya takut dengan Tuhan saya, Allah SWT!" ucap Rifan dengan tegas yang membuat Mecca kagum.
"Ah banyak omong lu! Hajar!" perintah si preman.
Keempat lelaki itu pun maju menyerang Rifan dengan membabi buta, Mecca yang melihatnya hanya bisa melongok sembari menutupi mulutnya karena khawatir pada sang kekasih.
"Rifan, hati-hati!" teriak Mecca mencoba memperingati kekasihnya.
"Heh! Diem kamu! Jangan sampai aku emosi dan melukai kamu nantinya!" sentak si preman yang masih ada di dekatnya.
"Aku punya hak buat bicara, aku kan punya mulut. Kamu sebaiknya bertaubat deh sebelum Allah menghukum kamu!" ucap Mecca.
__ADS_1
"Ah kebanyakan ceramah kamu! Aku gak mau dengar apapun tentang Tuhan, jadi kamu diam deh!" geram si preman.
"Astaghfirullahaladzim, kamu benar-benar keras kepala sekali!" ucap Mecca menggeleng pelan.
Preman itu tak memperdulikan perkataan Mecca, ia kembali mengamati rekan-rekannya yang tengah berkelahi dengan Rifan di depan sana. Ia sedikit khawatir, pasalnya satu persatu rekannya itu mulai tumbang di tangan Rifan dan kini hanya tersisa dua orang lagi yang masih bertahan.
"Sialan! Tuh cowok siapa sih? Kenapa dia bisa sejago itu?" gumam preman itu dalam hati.
Bruuukkk
Baru saja preman itu membuka matanya, ia sudah melihat kedua rekannya yang tadi tersisa kini terjatuh ke aspal setelah terkena pukulan Rifan. Sontak sang preman bergerak menghampiri Rifan dengan dua tangan terkepal, ia menantang Rifan untuk berkelahi dengannya.
"Hey, jangan bangga dulu kamu! Ayo hadapi saya, kamu tidak akan mungkin bisa mengalahkan saya!" ucap si preman dengan lantang.
"Baiklah, saya siap menghadapi siapapun demi menyelamatkan kekasih saya," ucap Rifan santai.
Mereka pun mulai berkelahi, Rifan yang tenaganya sudah terkuras tampak kesusahan meladeni serangan brutal preman itu. Mecca terlihat panik melihat kekasihnya sedang berkelahi disana, ia berusaha teriak meminta tolong pada warga di sekitar sana untuk membantunya.
"TOLONG! TOLONG! ADA YANG BERANTEM DISINI, TOLONG!" teriak Mecca dengan keras.
Mecca pun menghampiri Rifan yang tampak lelah dan terluka disana, beruntung Mecca juga berhasil menyelamatkan tasnya agar tidak diambil oleh preman tersebut. Rifan terus terengah-engah sembari memegangi pipinya yang terluka, melihat itu membuat Mecca sangat khawatir padanya.
"Rif, kamu terluka. Kayaknya itu harus diobatin deh, kamu ke rumah aku dulu yuk biar bisa aku obatin disana!" ucap Mecca cemas.
Rifan tersenyum, "Gapapa, aku kuat kok," ucapnya singkat dan pelan.
"Jangan begitu Rifan! Aku tahu kamu pasti sakit, lukanya juga ngeluarin darah tuh. Yuk ah ke rumah aku dulu biar diobatin!" ucap Mecca memaksa.
"Gak bisa Mecca, pasti gak akan dibolehin sama abi kamu karena kita bukan mahram," ucap Rifan.
"Eee ya iya sih, tapi kan cuma ngobatin gak sampe sentuhan atau yang lebih. Udah kamu tenang aja, nanti biar aku bicara sama abi!" ucap Mecca.
"Kamu yakin? Aku gak enak ah, mending aku pulang aja biar nanti di rumah diobatin sama Julia," ucap Rifan menolak.
__ADS_1
"Ohh, ya terserah kamu deh. Tapi, sekarang kamu duduk dulu yuk terus minum!" ucap Mecca.
Rifan mengangguk saja menuruti perkataan kekasihnya, lalu mereka pun berjalan perlahan mencari tempat duduk di sekitar sana serta membeli minuman. Mecca tidak ingin membiarkan Rifan pergi begitu saja dalam kondisi seperti ini, ia tentunya tak bisa tenang memikirkan pria itu.
"Nah, kamu minum dulu nih! Aku mau coba beli obat merah dulu ya? Kamu disini aja, jangan kemana-mana!" ucap Mecca.
"Tunggu Mecca!" Rifan melarang gadisnya yang hendak pergi. "Kamu disini aja, kamu gak perlu repot-repot beliin obat merah atau obatin aku," sambungnya.
"Tapi kenapa Rifan? Luka kamu itu harus segera diobatin tau biar gak infeksi," ucap Mecca.
"Gak perlu, kamu duduk sebelah aku aja udah bikin sakitnya reda kok. Kan yang bisa mengobati luka aku itu cuma kamu Mecca," ucap Rifan.
Mecca pun dibuat tersipu olehnya, "Ah kamu ini masih sempat-sempatnya ya gombal! Aku serius tau, itu luka kamu takut infeksi!" ucapnya.
"Gapapa, beneran aku baik-baik aja. Justru kalau ditinggal sama kamu, aku malah jadi makin sakit Mecca," ucap Rifan.
"Iya iya, terserah kamu aja deh. Aku gak bisa maksa kamu kalau gak mau," ucap Mecca.
Rifan tersenyum sembari memandangi wajah Mecca, sedetik kemudian Mecca mengalihkan pandangan karena merasa sudah terlalu lama mereka saling memandang. Mecca juga mengucap istighfar dan membuat Rifan mengernyit bingung.
"Astaghfirullah," lirih Mecca.
"Kamu kenapa Mecca? Kayak abis ngeliat setan aja pake istighfar segala," tanya Rifan heran.
"Iya Rif, hampir aja kita tergoda setan karena saling tatap tadi," ucap Mecca menunduk.
"Ohh, maaf ya?" ucap Rifan merasa bersalah.
"Gapapa." Mecca menggeleng pelan dengan jantung yang berdegup kencang.
Tiba-tiba saja, keduanya dikejutkan dengan kedatangan seorang pria yang mengucap salam dan mendekati mereka.
"Assalamualaikum Mecca," ucap lelaki itu.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...