30 Hari Di Pesantren

30 Hari Di Pesantren
Bab 17. Setengah bulan berlalu


__ADS_3

Hari demi hari berlalu, tak disangka Rifan sudah melewati 15 hari dari waktu yang telah ditetapkan oleh sang ayah dari Mecca untuk belajar di pesantren tersebut. Ya Rifan pun tampak mulai bisa mendalami ilmu agama yang dipelajarinya seiring waktu berjalan, ia kini sudah tidak terlalu liar seperti saat pertama kali datang kesana.


Selain itu, pakaian Rifan juga telah berubah drastis. Kini pria itu memakai baju koko lengan panjang disertai peci yang menutupi kepalanya, ia juga selalu membawa tasbih kemanapun dirinya pergi. Jika orang yang baru bertemu dengannya, mungkin akan mengira jika dirinya adalah seorang ustadz terkemuka dan akan meminta doa darinya.


Saat ini Rifan pergi mendatangi kiyai Latief di pondoknya, ia ingin menyampaikan perkembangan selama belajar disana 15 hari ini. Tapi tak disangka, Rifan justru bertemu dengan Ayana di depan pintu saat hendak memanggil kiyai Latief. Tentu saja Rifan merasa canggung, begitupun dengan Ayana yang tak menyangka jika mereka akan berpapasan disana.


"Umm, assalamualaikum.." Rifan mengucap salam lebih dulu karena ia sadar sebagai tamu.


"Wa-waalaikumsalam," jawab Ayana gugup.


"Maaf Ayana, saya mau ketemu sama ayah kamu. Apa kiyai Latief ada di dalam?" ucap Rifan menyampaikan tujuannya datang kesana.


Mata Ayana menangkap jelas perubahan di tubuh lelaki itu, ia sampai bingung seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sosok Rifan yang selama ini dikenal sebagai lelaki liar dan brandal, kini telah berubah menjadi seorang yang ahli agama dan tahu sopan santun.

__ADS_1


"Eee ayah ada kok di dalam, mau aku panggilin atau kamu aja yang masuk biar bicaranya di dalam?" ucap Ayana dengan gugup.


"Kalau memang boleh, yasudah saya masuk aja. Gak enak juga kalau saya minta kiyai buat keluar menemui saya, padahal saya kan yang tamu disini," ucap Rifan.


"Ah iya, kalo gitu ayo masuk!" Ayana langsung menyingkir memberi jalan untuk Rifan.


"Terimakasih," Rifan sedikit membungkukkan badannya saat melangkah masuk ke dalam rumah itu bersama Ayana di sampingnya.


"Ayah, permisi." lirih Ayana yang tetapi berhasil membuat ayahnya menoleh ke arahnya.


"Eh Ayana, loh kok ada kamu juga Rifan? Kapan kamu datangnya?" heran kiyai Latief.


Rifan tersenyum dan mendekati kiyai Latief lalu mencium tangannya, "Assalamualaikum kiyai, saya baru aja datang kok," ucapnya.

__ADS_1


"Waalaikumsallam, yasudah silahkan duduk!" ucap kiyai Latief.


Akhirnya Rifan terduduk disana bersama kiyai Latief, sedangkan Ayana diminta pergi meninggalkan mereka berdua karena memang gadis itu juga sedang ada urusan. Rifan tampak canggung berduaan dengan sang kiyai disana, tetapi Rifan tetap menguatkan dirinya.


Langsung saja Rifan mengatakan apa yang ingin dia sampaikan kepada kiyai Latief, bahwa dirinya sudah semakin bersemangat untuk bisa menyelesaikan misi 30 hari lulus dari pesantren tersebut. Rifan juga tak sabar lagi menantikan momen tersebut, karena ia ingin segera menikahi Mecca sang kekasih pujaannya.


Kiyai Latief pun turut senang dibuatnya, ia merasa bangga pada Rifan yang telah berubah cukup drastis. Padahal awalnya Rifan datang ke pesantren itu dengan kondisi cukup parah, tapi sekarang Rifan sudah berhasil menyerap ilmu yang diajarkan oleh para ustadz disana.


"Huft, benar-benar berasa lagi ngobrol sama calon mertua. Gue jadi bingung mau lamar Mecca apa si Ayana, atau dua-duanya aja ya?" gumam Rifan dalam hati sambil senyum-senyum tipis.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2