30 Hari Di Pesantren

30 Hari Di Pesantren
Bab 6. Sudah menemukan


__ADS_3

Hari berganti, Rifan diajak berkumpul di ruang tamu oleh ayah dan ibunya untuk membahas mengenai keberangkatan pria itu ke pesantren. Ya kebetulan memang Haidar telah menemukan pesantren yang tepat untuk tempat belajar putranya, ia akan membawa Rifan ke pesantren milik dari sahabatnya yang sekarang sudah hijrah dan menjadi seorang kiyai yang memiliki sebuah pesantren di pelosok.


Rifan melangkah ke ruang tamu menghampiri kedua orangtuanya yang sudah duduk disana, pria itu ikut terduduk di hadapan mereka sembari menyatukan dua tangannya. Jujur Rifan tampak gugup, sejak kemarin ia memang terus memikirkan persyaratan yang diberikan Baron padanya dan ia ragu kalau ia bisa melewati persyaratan tersebut.


"Akhirnya datang juga kamu, kebetulan ada yang mau ayah sama bunda bicarakan ke kamu. Tolong kamu dengarkan baik-baik ya Rifan!" ucap Haidar.


"I-i-iya ayah, aku juga kan selalu dengerin apapun yang ayah sama bunda katakan. Tapi, emangnya ayah mau bilang apa sih ke aku? Apa ini menyangkut persyaratan itu?" ujar Rifan.


"Ya, jelas itu yang akan menjadi perbincangan kita kali ini. Ayah sudah berhasil temukan pesantren yang tepat untuk kamu," ucap Haidar.


"Oh ya? Serius yah?" tanya Rifan sedikit kaget.


Haidar mengangguk, "Jelaslah serius, buat apa ayah bercanda disaat seperti ini? Ayah kan dari kemarin terus usaha cari pesantren yang tepat buat kamu, nah kebetulan ternyata teman ayah ada yang jadi kiyai dan punya pesantren," jelasnya.


"Waw keren banget dong yah! Berarti ayah bakal tempatin aku di pesantren temannya ayah itu?" tanya Rifan memastikan.


"Rencananya sih seperti itu, tapi semuanya tergantung kamu. Kalau kamu merasa cocok, baru deh ayah urus biaya pendaftarannya," jawab Haidar.


"Aku sih ngikut ayah sama bunda aja deh, aku siap belajar di pesantren manapun," ucap Rifan.


"Okay, kalo gitu persiapkan diri kamu karena sore nanti kita berangkat kesana sama-sama!" ucap Haidar.


"Sore ini yah? Duh, jangan dulu deh yah! Aku masih mau ketemu sama Mecca nanti," ucap Rifan.


"Hadeh, kan kita cuma mau ngecek dulu aja tempatnya kayak gimana, bakal cocok apa enggak sama kamu. Nanti kita kan pulang lagi, jadi kamu bisa deh ketemu sama Mecca," ucap Haidar.


"Enggak ah yah, capek tau bolak-balik. Pasti dari sini ke pesantren itu jauh kan? Mending besok aja sekalian aku juga berangkat dan tinggal disana, jadi gausah bolak-balik," ucap Rifan.


"Yaudah, terserah kamu aja. Toh kamu yang mau jadi santri kan? Ayah sama bunda mah cuma bantu aja," ucap Haidar.

__ADS_1


Rifan menganggukkan kepalanya, lalu Amira beralih duduk di sebelah putranya dan merangkul pundak Rifan sembari mengusapnya perlahan. Rifan tampak tersenyum bahagia mendapat sentuhan lembut dari ibunya, seketika rasa khawatirnya hilang setelah dirangkul oleh ibunya itu.


"Kamu tenang ya Rifan sayang! Ibu yakin kamu pasti bisa melewati semua persyaratan dari papanya Mecca, ibu percaya sama kamu!" ucap Amira.


"Makasih ya Bu atas dukungannya? Insyaallah aku bisa melewati semuanya, aku juga cinta dengan Mecca dan aku ingin menikahi dia. Jadi, aku harus meyakinkan pada abi Baron kalau aku bisa menjadi menantu yang baik," ucap Rifan.


"Ibu suka dengan semangat kamu sayang," ucap Amira sambil tersenyum.


"Iya Rifan, ayah juga doakan yang terbaik untuk kamu dan semoga kamu berhasil buat mencapai apa yang kamu impikan itu!" sahut Haidar.


"Aamiin, makasih ya bunda sama ayah atas doanya? Aku senang banget didoain begini sama ayah dan bunda," ucap Rifan.


Amira dan Haidar kompak tersenyum, sampai tiba-tiba Julia muncul lalu membuat suasana kacau.




Kini keempat gadis manis itu tiba di kantin, mereka langsung duduk pada kursi yang kosong dan memesan minum. Mecca tersenyum menatap ke arah teman-temannya yang juga sedang menikmati minuman mereka, suasana disana cukup hangat dan menyenangkan karena obrolan mereka masih terbilang ringan.


"Hahaha, lucu banget ya cerita kamu Zahra? Masa iya kamu sampe dikejar-kejar orang gila gara-gara kamu pengen ambil makanan kamu yang jatuh di depan dia?" kekeh Vidya.


"Iya aneh banget emang kamu, terus gimana tuh nasib kamu setelah dikejar orang gila?" ujar Mira.


"Ya gak gimana-gimana guys, untungnya aku masih sempat lari terus selamat dari kejaran dia. Padahal waktu itu aku udah panik banget tau," ucap Zahra.


"Hahaha, lagian ada-ada aja sih kamu!" kekeh mereka bersama.


Kemudian, Vidya berganti menatap Mecca yang tengah tertawa sembari menutup mulutnya. Ya itulah kebiasaan Mecca saat sedang berkumpul dan ingin tertawa, dia pasti menutupi mulutnya dengan telapak tangan karena tidak ingin dicap sebagai perempuan yang tidak benar.

__ADS_1


"Eh Mecca, kalau kamu sendiri gimana? Katanya kamu udah dilamar ya sama Rifan?" tanya Vidya.


"Nah iya tuh bener, gimana Mecca kelanjutannya? Lamaran Rifan kamu terima gak?" sahut Zahra ikut penasaran.


"Umm, aku sih sebenarnya terima aja lamaran Rifan. Toh aku kan emang sayang sama dia, tapi disini yang jadi masalahnya itu abi aku," ucap Mecca.


"Hah? Emang abi kamu kenapa Mecca?" tanya Zahra penasaran.


"Eee abi kasih syarat yang gak masuk akal buat dilakukan Rifan, aku juga gak yakin Rifan bisa lewatin itu semua," jawab Mecca.


"Maksud kamu? Emangnya syarat apa coba yang dikasih abi kamu ke Rifan?" tanya Vidya.


"Iya, jadi tuh abi minta Rifan buat belajar agama di pesantren selama tiga puluh hari dan harus lulus," jelas Mecca.


"What? Serius nih abi kamu nyuruh Rifan kayak gitu?" kaget ketiga gadis itu.


Mecca hanya manggut-manggut mengiyakan pertanyaan mereka, jujur memang Mecca pun masih heran mengapa ayahnya sampai tega memberikan syarat seperti itu pada Rifan. Ingin sekali Mecca bertanya pada sang ayah, tetapi ia tak memiliki keberanian yang cukup.


"Ya ampun, kamu yang sabar ya Mecca! Kita berdoa aja supaya Rifan bisa melewati syarat itu dan kalian berdua bisa secepatnya nikah, kita setuju banget tau sama kalian," ucap Vidya.


"Bener tuh, kalian best couple in the world tau gak sih!" sahut Zahra.


"Apa sih kalian ini? Lebay deh!" kekeh Mecca.


Tiba-tiba saja, seorang lelaki muncul dan ikut duduk di salah satu kursi yang masih kosong dan menyapa keempat gadis tersebut. Namun, tatapannya terus mengarah ke Mecca yang memang tepat ada di hadapannya. Sontak Mecca merasa risih lalu segera merunduk.


"Halo semua! Asyik banget nih kayaknya pada ngobrol-ngobrol, boleh dong gue ikutan?" sapa pria bernama Abdul itu.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2