30 Hari Di Pesantren

30 Hari Di Pesantren
Bab 12. Dosa tau


__ADS_3

Mereka kini tiba di pondok tempat tinggal sang kiyai. Sontak Ayana langsung masuk memanggil kiyai serta ustadzah yang merupakan pemilik pesantren itu, sedangkan yang lain tetap menunggu di luar karena tidak sopan jika main masuk begitu saja tanpa izin.


Tak lama kemudian, sang kiyai yang ditunggu-tunggu pun muncul bersama istrinya. Ya kiyai bernama Latief yang merupakan sahabat Haidar itu sontak tersenyum, lalu menyapa keluarga temannya dengan ramah sambil saling bersalaman satu sama lain.


"Wah wah wah, Alhamdulillah kalian datang dengan selamat ya! Haidar, jadi ini anak kamu yang pengen belajar disini?" ujar kiyai Latief.


"Iya Alhamdulillah, Rifan katanya pengen berubah jadi pribadi yang lebih baik. Kamu bisa bantu dia kan Latief? Saya tahu ilmu kamu sudah tinggi sejak kita lulus sekolah dulu," ucap Haidar.


"Insyaallah, saya akan bantu Rifan untuk belajar sebisa saya Haidar," ucap kiyai Latief.


Haidar dan Amira pun tersenyum saling pandang, mereka senang karena kiyai Latief mau menerima dengan baik kehadiran mereka disana. Lalu, tampak kiyai Latief beralih menatap Ayana yang berdiri di sampingnya dan meminta gadis itu bergerak maju agar lebih dekat padanya.


"Oh iya, kenalkan ini Ayana, putri sulung saya!" ucap kiyai Latief mengenalkan putrinya pada keluarga Haidar.


Sontak Haidar serta yang lainnya dibuat melongok, rupanya Ayana adalah putri pertama dari kiyai Latief. Pantas saja tadi Ayana berani masuk ke dalam pondok meski belum mendapat izin dari sang kiyai ataupun ustadzah, tentu saja Rifan yang mendengarnya seolah tak memiliki harapan lagi untuk bisa menggoda gadis itu.


"Oalah, jadi nak Ayana ini anak kamu Latief? Masyaallah, cantik sekali ya dia?" ujar Haidar.


"Hahaha, aamiin. Omong-omong kalian sudah saling kenal?" tanya Latief.


Ayana mengangguk pelan, "Udah yah, tadi aku ketemu sama om dan tante ini waktu lagi jalan-jalan sore sama Ines dan Mentari," jawabnya.


"Baguslah, yaudah ayo kita masuk ke dalam dan lanjut bicara sambil minum!" ajak Latief.


"Boleh tuh," Haidar setuju dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam pondok itu bersama istri serta putranya.


Di dalam, mereka langsung duduk pada sofa yang tersedia bersama kiyai Latief juga ustadzah Syifa yang kebetulan tengah berada disana. Kiyai Latief pun mengenalkan istrinya itu kepada Haidar serta keluarganya, sedangkan Ayana diminta membuat minuman di dapur untuk mereka.

__ADS_1


"Jadi, kamu yakin mau taruh anak kamu disini Haidar? Kalau memang iya, saya persilahkan Rifan mulai belajar disini," ucap kiyai Latief.


"Tentu Latief, saya ingin anak saya ini jadi sholeh seperti kamu loh," ucap Haidar.


"Ah kamu ini Haidar, selalu saja seperti itu. Baiklah, kapan lalu Rifan mau mulai belajar dan tinggal disini? Ingat ya, jika sudah masuk tidak boleh keluar sebelum berhasil atau waktu libur," ujar kiyai Latief.


"Insyaallah, kapanpun saya siap kiyai. Hari ini saya juga mau-mau aja kok," jawab Rifan mantap.


"Oh masyaallah, saya paling senang ini kalau ada calon santri yang bersemangat sekali!" ucap kiyai Latief.


"Hahaha, jadi gimana Latief? Berapa biaya masuk yang harus saya bayarkan nih?" tanya Haidar.


Kiyai Latief tersenyum dan menggeleng pelan, "Kamu kayak sama siapa aja, Rifan boleh belajar disini kapanpun dia mau dan tanpa dipungut biaya apapun. Kalau nantinya Rifan jadi anak yang sholeh, saya kan bangga juga sebagai gurunya," ucapnya.


"Serius kamu Latief? Eh tapi, Rifan ini harus lulus dalam waktu 30 hari. Apa kamu bisa menjamin itu?" ucap Haidar.


"Apa??" sontak kiyai Latief dan ustadzah Syifa sama-sama terkejut mendengar ucapan Haidar itu.




Tak hanya Ines, bahkan Mentari juga mengakui kalau dirinya cukup kagum pada ketampanan Rifan. Jika mereka tidak tinggal di pesantren, mungkin saja mereka sudah menggoda Rifan dan mendekati pria itu tanpa rasa malu. Tapi mereka sadar, itu bukanlah perbuatan yang bagus untuk dilakukan.


"Seriusan deh Ayana, kamu masa gak nyadar sih kalau Rifan itu ganteng banget? Masyaallah banget loh tahu, aku aja sampai gak bisa berpaling dari muka dia tadi!" ucap Ines.


"Hus Ines! Gak baik bayangin orang yang bukan mahram kamu, dosa tau!" tegur Ayana.

__ADS_1


"Iya iya, aku tahu kok. Aku kan cuma mau menyampaikan kekaguman aku tentang Rifan ke kamu, emang salah ya?" ujar Ines.


"Iya tuh Ayana, yang dibilang Ines bener kok. Aku juga setuju banget kalau Rifan tuh emang tampan, dia beda dari cowok-cowok yang ada di pesantren ini. Beuh aku yakin dia pasti bakal jadi idola disini deh!" timpal Mentari.


Ayana beristighfar seraya menggelengkan kepala dengan perlahan, "Astaghfirullah, kalian ini bicara apa sih? Udah ah jangan bahas yang gak penting, dosa juga tau ngomongin orang!" ucapnya.


"Yeh kamu mah terlalu naif Ayana, akuin aja kali kalo emang Rifan itu ganteng banget!" cibir Ines.


"Iya, dia emang ganteng. Namanya juga laki-laki, terus kenapa? Lagian gak mungkin kan ada laki-laki yang cantik? Aneh-aneh aja deh kalian, masalah kayak gitu aja kok diributin!" heran Ayana.


"Hahaha, ya namanya juga kagum Ay. Kita berdua ini kan cuma manusia biasa, apa salahnya mengagumi ciptaan Allah?" ucap Ines.


"Udah udah, yuk mending bantu aku antar minuman ini ke depan! Kasihan pasti tamunya ayah udah nungguin tuh," ucap Ayana mengalihkan pembicaraan.


"Iya iya.." Ines dan Mentari pun menurut saja.


Disaat mereka hendak pergi ke depan mengantar minuman, tanpa sengaja mereka justru berpapasan dengan Rifan disana. Ya tentu Ayana, Ines serta Mentari kompak terkejut melihat keberadaan Rifan. Mereka cemas jika Rifan ternyata mendengar semua pembicaraan mereka.


"Eh mas Rifan, hehe lagi ngapain mas berdiri disini? Nyariin kita ya?" ujar Ines sambil tersenyum dengan gaya menggoda.


"Eee itu saya lagi cari toilet, kata kiyai toiletnya di sekitar sini. Kalian bisa kasih tahu saya kemana arah toilet? Soalnya saya udah gak tahan nih," ucap Rifan agak gugup.


"Ah ya bisa dong, tuh toiletnya disana mas Rifan!" ucap Mentari menunjuk ke tempat toilet berada.


"Ohh iya iya, makasih ya? Kalo gitu saya ke toilet dulu, permisi!" ucap Rifan melewati ketiga gadis tersebut dengan tergesa-gesa.


Sementara Ayana, Ines dan Mentari masih terdiam di tempat mengamati punggung Rifan yang perlahan menjauh. Mereka terlihat panik, sebab bisa saja Rifan tadi mendengar semua pembicaraan mereka tentang dirinya. Tentu Ines serta Mentari akan merasa sangat malu nantinya.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2