30 Hari Di Pesantren

30 Hari Di Pesantren
Bab 20. Pergi


__ADS_3

Tapi tanpa disadari oleh Rifan, Bima dan Emil, tampak Ayana tengah berdiri di depan pintu kamar dan begitu syok ketika mendengar percakapan Rifan bersama teman-temannya disana. Ayana kini menutupi mulutnya dengan telapak tangan, ia tak percaya jika ternyata Rifan sudah memiliki kekasih.


Air mata menetes membasahi pipi gadis itu, Ayana sepertinya memiliki rasa terhadap Rifan sehingga ia sangat sedih ketika mengetahui Rifan telah bertunangan dan akan segera menikah. Padahal Ayana berharap kalau dirinya bisa bersanding dengan Rifan di pelaminan nanti.


"Kenapa ya perasaan aku rasanya hancur begini? Apa iya aku sudah jatuh cinta sama mas Rifan?" gumam Ayana dalam hati.


Tiba-tiba saja, seseorang menepuk pundaknya dari belakang dan membuat Ayana terkejut. Sontak gadis itu reflek menoleh ke arah si wanita yang barusan mengejutkannya, tampak jelas kalau wanita tersebut adalah Ines yang tak lain adalah sahabat sejati Ayana sendiri.


Pukkk


"Ya ampun Ines, kamu tuh nyebelin banget sih! Ngapain coba kamu malah ngagetin aku kayak gitu? Hampir aja tadi jantung aku mau copot, emang dasar temen laknat kamu!" kesal Ayana.


Ines justru terkekeh kecil sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Hehe, maaf ya Ayana? Abisnya aku bingung sih kamu ngapain diam aja di depan kamarnya Rifan?" ujarnya.


"Sssttt jangan keras-keras bicaranya! Aku gak mau kalau sampai Rifan dengar dan tahu ada kita disini, dia bisa salah paham nantinya," ucap Ayana.


"Iya iya, lagian kamu tuh ngapain sih sebenarnya ada disini? Kita kan santriwati gak boleh tau masuk ke wilayah lelaki, apalagi sampai ke depan kamarnya kayak gini," ucap Ines keheranan.


"Ya aku tahu, tapi aku tadi cuma mau kasih kue ini buat Rifan. Sebentar lagi kan dia pergi dari pesantren ini, jadinya aku mau dia ngerasain kue bikinan aku dulu," jelas Ayana.


Ines langsung membelalakkan matanya begitu mendengar itu, "Apa? Yang bener aja Ayana? Kamu gak asal bicara kan?" ujarnya.


Ayana sontak panik karena khawatir Rifan mendengar suara Ines barusan, "Ish, pelan-pelan aja dong Ines ngomongnya jangan keras-keras kayak gitu! Kamu sengaja ya mau bikin Rifan dengar suara kamu tadi?" ucapnya cemas.


"Ih enggak, aku cuma kaget aja sama ucapan kamu tadi. Beneran itu si Rifan mau pergi dari pesantren? Kapan? Terus kok bisa sih? Bukannya dia baru masuk kesini ya?" ucap Ines.


"Hadeh, kamu tuh kenapa segitunya sih Ines? Wajar aja lah Rifan pergi, dia kan emang cuma belajar disini 30 hari. Terus dia juga udah berhasil selesaikan tujuannya, makanya dia bisa pulang," ucap Ayana.


Ines tampak terus merengut penuh kesedihan, "Yah hiks gak bisa ngeliat yang bening lagi deh di pesantren ini nanti," ucapnya lirih.


Ayana hanya menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Ines, sesaat kemudian tanpa diduga Rifan justru keluar dari kamarnya bersama Bima dan Emil. Ketiga pria itu langsung terkejut begitu mendapati ada sosok Ayana serta Ines disana, bahkan Ayana sendiri juga sangat kaget ketika melihat Rifan keluar dan kini tengah menatapnya penuh keheranan.

__ADS_1


"Ayana, apa yang kamu lakuin di depan kamar kami? Terus kenapa kamu diam aja dan gak panggil kami kalau memang ada urusan?" tanya Rifan menegurnya.


"Hah? Eee.." Ayana terlihat gugup dan bingung saat hendak menjawabnya, ia pun terdiam saja.


"Eh ini Rifan, tadi Ayana katanya mau kasih kue buatan dia ke kamu, sebagai tanda perpisahan. Tapi, emang benar kamu mau pergi hari ini?" sela Ines.


"Ohh, iya Ines saya emang niatnya mau pulang hari ini. Karena saya kan sudah selesai disini," ujar Rifan.


"Yah kok buru-buru amat sih? Gak bisa ditunda dulu apa sampai Minggu depan gitu minimal?" tanya Ines dengan tampang kecewa.


Rifan tersenyum tipis dibuatnya, "Ahaha, gak bisa Ines. Soalnya saya harus buru-buru melamar calon istri saya," jawabnya.


Sontak wajah Ines berubah terkejut setelah mendengar pengakuan Rifan, "Hah serius? Kamu langsung mau lamar pacar kamu?" tanyanya dengan mulut menganga lebar.


Rifan manggut-manggut perlahan, "Iya Ines, doain ya semoga semuanya lancar sampai hari h! Nanti insyaallah, saya juga akan undang kalian ke acara pernikahan saya," ucapnya.


"Aaaaa hiks hiks aku gak rela Ayana.." tiba-tiba saja Ines menangis dan memeluk Ayana di hadapan ketiga pria itu.


"Ayana, Ines, saya sekalian mau pamit ya sama kalian berdua?" ucap Rifan.


"Eh eee i-i-iya Rifan, ini aku ada kue buat kamu supaya di perjalanan kamu gak kelaparan. Mohon diterima ya? Ini aku buat sendiri loh, semoga kamu suka!" ucap Ayana.


"Ah iya, terimakasih ya Ayana? Jadi ngerepotin segala nih aku," ucap Rifan yang dengan senang hati mengambil kotak berisi kue itu dari tangan Ayana.


"Sama-sama, gak repot kok orang cuma kue," ucap Ayana sambil tersenyum.


Tanpa sadar, Rifan dan Ayana saling bertatapan selama beberapa detik sesaat setelah pria itu memegang kotak kue tersebut. Entah kenapa jantung Rifan berdetak semakin kencang saat berhadapan langsung dengan Ayana seperti ini, sungguh Rifan merasa kalau ia tak ingin ini berakhir.



__ADS_1


Singkat cerita, orang tua beserta adik dari Rifan telah datang ke pesantren untuk menjemputnya. Ya mereka tampak senang sekali lantaran Rifan telah berhasil menyelesaikan misinya lulus dari pesantren itu dalam waktu 30 hari, walaupun awalnya mereka agak ragu dengan kemampuan pria itu.


Kini baik Haidar maupun Amira amat tak percaya dengan perubahan drastis putra mereka itu, dari yang semula seorang berandalan kini telah berubah menjadi sosok yang agamis dan membanggakan. Sontak saja mereka sempat pangling saat pertama kali melihat Rifan disana.


"Masyaallah Rifan, kamu benar-benar beda banget sama yang dulu nak! Papa aja sampai gak percaya loh lihatnya, ini kayak bukan Rifan anak papa yang papa kenal!" ucap Haidar.


"Iya pa, mama juga ngerasa kayak gitu. Masyaallah mama senang banget dengan perubahan Rifan yang sekarang ini!" sahut Amira.


Rifan tersenyum malu dibuatnya, ia hanya menunduk diam karena tak tahan mendengar segala pujian yang dilontarkan kedua orangtuanya itu. Jujur saja Rifan merasa sangat bahagia karena keberhasilan yang telah ia raih itu berhasil membuat mereka bangga padanya kali ini.


"Kakak keren deh, aku salut sama kakak! Nanti kapan-kapan ajarin aku juga ya kak, biar aku bisa kayak kakak," ucap Julia.


"Nah benar itu, mending kamu masuk pesantren aja deh biar kayak kakak kamu. Nanti papa yang urus pendaftarannya ke kiyai Latief, gimana?" ujar Haidar.


"Ih ya enggak masuk pesantren juga kali, pa. Aku mah belum bisa kalau harus belajar di pesantren, maunya di rumah aja," tolak Julia.


"Hadeh, kebiasaan kamu itu dari dulu pasti selalu malas. Padahal disini seru loh Julia, cobain dulu deh pasti kamu suka!" ucap Rifan.


Julia menggeleng dengan cepat, "Enggak ah, enakan belajar di rumah bisa sambil rebahan plus nyantai!" ucapnya kekeuh.


"Hahaha, iya deh terserah kamu aja," kekeh Rifan.


Lalu, Haidar pun beralih menatap kiyai Latief yang merupakan sahabatnya untuk mengucapkan terima kasih karena sudah mengajarkan putranya selama 30 hari ini. Haidar juga pamit pada kiyai Latief dan istrinya karena ia akan segera membawa Rifan kembali ke kota sore ini.


Sontak kiyai Latief turut menunjukkan ekspresi sedihnya saat Rifan mencium tangan serta berpamitan padanya, sungguh waktu memang berjalan begitu cepat dan tak terasa kalau saat ini ia sudah harus melepas salah satu santrinya yang terbaik itu.


"Terimakasih, itulah satu kata yang akan selalu saya ucapkan ke tempat ini. Jika bukan karena kamu, pastinya saya tidak mungkin bisa jadi seperti sekarang. Selamat tinggal semua, saya pasti akan merindukan kalian!" batin Rifan.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2