
Mendekati hari raya, Rifan sudah semakin tak sabar untuk segera keluar dari pesantren dan kembali menemui Mecca, kekasih yang ia cintai. Rifan juga sangat menantikan momen dimana dirinya nanti bisa bersanding di pelaminan bersama Mecca, lalu menjalin rumah tangga yang sakinah, mawadah, warahmah. Apalagi ditambah memiliki anak yang ganteng dan cantik dalam jumlah banyak.
Untuk menyempurnakan khayalan itu, Rifan pun mengambil sebuah foto dirinya dan Mecca yang sengaja ia simpan di dalam tas agar bisa ia pandangi setiap saat. Rifan tersenyum sembari mengamati foto itu, ia usap perlahan wajah Mecca dan terus membayangkan kejadian manis antara dirinya dengan gadis itu saat bertemu nanti.
"Mecca, aku udah gak sabar buat nikahin kamu sayang. Tunggu aku disana ya cantik? Aku janji akan segera pulang dan lamar kamu!" gumam Rifan.
"Ehem ehem.." tanpa diduga, Bima mendengar itu semua dan langsung menghampiri Rifan.
Sontak Rifan terkejut dibuatnya, ia reflek menaruh foto itu dan menghapus air matanya agar Bima tak curiga padanya. Namun seperti yang sudah dikatakan, Bima tentunya telah melihat semua yang dilakukan Rifan tadi saat tidak ada dirinya. Bima kini duduk di samping sohibnya itu dan menaruh tangan di atas pundaknya.
"Sob, kamu gak perlu panik gitu lah karena lihat aku disini. Aku tadi udah tahu semua kok, kamu lagi kangen ya sama pacar kamu yang ada di Jakarta?" ucap Bima.
Rifan manggut-manggut perlahan, "Ya Bim, aku rindu sama Mecca," jawabnya.
Bima pun tersenyum memandangnya, "Yasudah, coba deh kamu tempelkan foto itu ke dada kamu sambil pejamin mata! Semoga aja rasa rindu kamu ke pacar kamu bisa hilang," ucapnya.
"Serius kamu Bim? Emangnya kayak gitu ngaruh apa?" tanya Rifan tak percaya.
"Ya dicoba aja dulu, belum coba kan belum tahu. Kalau berhasil syukur, kalau enggak yaudah berarti belum rezeki kamu," kekeh Bima.
"Okelah, aku lakuin apa yang kamu bilang barusan. Semoga aja aku bisa cepat ketemu sama dia, baik di dunia nyata maupun mimpi!" ucap Rifan.
"Aamiin!" dengan cepat Bima mengaminkan ucapan Rifan barusan.
Lalu, Rifan tidur dengan posisi miring memunggungi Bima yang masih terduduk di pinggir ranjang itu. Tak lupa Rifan juga menempelkan foto Mecca pada dadanya dan melakukan sesuai perkataan Bima, barulah setelah itu ia mulai memejamkan mata berharap agar Mecca hadir di mimpinya.
"Mecca, i miss you so much!" batin Rifan.
Bima yang melihat sahabatnya sudah mulai tertidur, akhirnya memilih ikut berbaring di ranjangnya dan menyusul Rifan ke alam mimpi. Sungguh hari yang lelah, dimana mereka berdua melakukan banyak hal siang tadi yang membuat keduanya merasakan lelah amat sangat.
•
•
__ADS_1
Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar.
Lā ilāha illallāhu wallāhu akbar.
Allāhu akbar wa lillāhil hamd.
Lantunan kalimat takbir itu terus menggema di area pesantren, para santri telah memulai takbiran setelah melaksanakan shalat isya pada malam hari ini. Ya tentunya dikarenakan esok hari adalah hari raya kebesaran bagi setiap umat muslim di seluruh dunia, tampak semua disana terlihat begitu gembira ketika melantunkan kalimat takbir tersebut.
Tapi tidak dengan Rifan, lelaki itu malah tampak murung sendirian di pelataran masjid sembari memegang tasbihnya. Matanya terpejam dan mulutnya terus menyebutkan kalimat dzikir, tanpa sadar air mata menetes membasahi pipinya ketika mendengar suara takbir yang menggema dari belakangnya, sungguh ia merasa amat sedih kali ini.
Tak biasanya memang Rifan seperti ini, dahulu setiap bulan Ramadhan pergi, Rifan justru amat bergembira karena ia tidak perlu melaksanakan puasa lagi seperti biasanya. Namun, setelah mendapat banyak pelajaran dari pesantren, kini Rifan sangat bersedih karena akan ditinggal oleh bulan suci Ramadhan.
Rifan juga terus berdoa agar dirinya masih bisa dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan di tahun-tahun berikutnya, ia pun berharap jika pada bulan Ramadhan selanjutnya ia masih diberi kesehatan dan kehangatan keluarga yang lengkap tanpa ada yang terpisah satupun.
Saat sedang asyik berdzikir sembari menitikkan air mata, tanpa disadari rupanya Ayana serta kiyai Latief memperhatikan tingkah lelaki itu dari dekat. Mereka tersenyum memandangi tubuh Rifan yang tengah duduk bersila disana, ada rasa bangga sekaligus haru di hati kiyai Latief saat melihat Rifan begitu bersedih dan sampai menangis di masjid.
"Assalamualaikum, nak Rifan.." kiyai Latief pun mengucap salam dengan ramah dan lembut, yang membuat Rifan menoleh ke arahnya.
"Waalaikumsalam, eh pak kiyai? Ayana?" ujar Rifan spontan bangkit dan menghapus air matanya.
"Kamu kenapa tidak ikut masuk ke dalam dan takbiran bersama yang lain, Rifan?" tanya kiyai Latief.
"Eee gapapa kiyai, saya cuma pengen duduk disini aja sambil dzikir. Entah kenapa saya gak kuat saat dengar suara takbir itu, makanya saya keluar dan duduk disini," jawab Rifan.
"Oh gitu, baguslah kamu sekarang sudah semakin dekat dengan hari kelulusan kamu Rifan. Saya bangga punya santri seperti kamu," puji kiyai Latief.
"Aamiin kiyai, terimakasih atas bimbingannya selama ini!" ucap Rifan.
Mereka saling tersenyum, hingga tanpa sadar wajah Ayana bersemu memerah ketika Rifan meliriknya dan memberikan senyuman tipis. Jantungnya pun bahkan berdegup lebih kencang dibanding biasanya, ia sungguh heran mengapa ini semua bisa terjadi padanya.
•
•
__ADS_1
Keesokan harinya, seusai melaksanakan shalat Ied bersama di lapangan, kini Rifan kembali ke kamar bersama Bima dan beberapa temannya yang lain. Mereka tampak bangga dan terus memuji-muji Rifan karena telah berhasil menjadi imam ketika shalat tadi, apalagi mereka merasa Rifan memang sangat pantas menjadi imam seperti tadi karena suaranya yang halus dan merdu.
"Wih Fan, kamu itu makin jago aja sih ngajinya! Tadi itu loh bacaan kamu pas shalat benar-benar bikin aku geleng-geleng, luar biasa kamu Rifan!" ucap Bima memuji sahabatnya.
"Betul tuh, aku gak nyangka secepat ini kamu belajar Rifan. Dari yang awalnya ngeselin, eh sekarang malah jadi idola disini," sahut Emil.
Rifan tersenyum saja mendengar pujian dari teman-temannya itu, "Alhamdulillah, terimakasih ya atas pujiannya. Terimakasih juga karena kalian sudah mau berteman dengan saya selama ini, maafin saya ya kalau banyak salah?" ucapnya.
"Sama-sama mas bro, kita bertiga mah udah pasti bakal maafin kamu kok. Tapi omong-omong, kita minta maaf juga ya?" ujar Emil.
Rifan manggut-manggut pelan, muncul rasa sedih dan tak rela ketika ia mengingat kalau esok hari dirinya sudah lulus dari pesantren ini dan berhasil menuntaskan 30 hari belajarnya. Itu artinya Rifan akan segera pergi meninggalkan tempat tersebut dan kembali ke rumahnya.
Meski awalnya Rifan sangat ingin keluar dari sana, tetapi entah kenapa semua itu berubah saat ini. Rifan menjadi tampak ragu dan sulit untuk meninggalkan pesantren itu, apalagi setelah ia mendapat banyak sekali teman baru disana yang asyik dan baik-baik padanya.
"Semuanya, saya sekalian mau pamit ya sama kalian? Sekali lagi saya mohon maaf kalau selama ini saya banyak salah sama kalian dan selalu merepotkan kalian," ucap Rifan menahan sedihnya.
Seketika suasana disana berubah menjadi sendu, Bima dan yang lainnya kini mendekati Rifan dengan wajah sedih. Rifan pun juga tidak dapat menahan rasa sedihnya, pria itu meneteskan air mata saat tiga sahabatnya mendekat dan berpelukan dengannya sebagai tanda perpisahan mereka.
"Siap mas bro, maafin kita juga ya kalau belum bisa jadi sahabat yang baik buat kamu!" ucap Emil.
"Iya Rifan, kamu harus jaga diri yo di Jakarta sana! Jangan lupakan kita semua loh, terus selalu ingat sama Allah!" timpal Yudhi.
"Pasti," singkat Rifan disertai senyum tipisnya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
...•...
...•...
...SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI BAGI YANG MERAYAKAN, MOHON MAAF LAHIR & BATIN♥️🥰...
__ADS_1
...♥️...