30 Hari Di Pesantren

30 Hari Di Pesantren
Bab 19. Pamitan


__ADS_3

Tak dirasa, kini tiba saatnya bagi Rifan untuk berpamitan kepada seluruh orang di pesantren yang sudah menemani dan membantunya dalam memperdalam ilmu agama selama 30 hari ini. Jujur saja Rifan sangat sulit meninggalkan mereka semua, apalagi ia telah memiliki cukup banyak teman disana yang sangat menyayanginya dan selalu membantu setiap kali Rifan merasa kesulitan.


Pria itu tengah mempersiapkan barang bawaannya di dalam kamar, ia ditemani oleh Bima serta Emil disana yang terlihat sedih karena sahabat mereka akan segera pergi dan mungkin tak kembali. Kedua pria tersebut pun tampak mulai mengeluarkan air mata, siapa yang bisa tahan tidak menangis jika akan berpisah dengan sahabat yang paling mereka sayangi, meski waktu mereka hanya sebentar.


"Duh Rifan, aku benar-benar gak nyangka waktu berputar secepat ini. Aku masih belum ikhlas loh kalau kamu lulus dan pergi dari sini, jujur aja aku masih pengen sama kamu loh!" ucap Bima.


"Iya Rif, aku juga ngerasa yang sama. Kita berdua mungkin bakalan sulit buat lupain kamu, apalagi selama ini kita selalu barengan dan ngelakuin semuanya bersama. Yang anteng ya disana Rifan, jangan jadi bandel lagi!" timpal Emil.


Rifan pun terkekeh kecil dibuatnya, "Ahaha, iya insyaallah aku gak akan berubah seperti dulu lagi kok. Mohon doanya aja ya semua!" ucapnya.


"Iya Rifan, kita berdua pasti akan selalu doain yang terbaik buat kamu. Semoga kamu dan pacar kamu itu berjodoh, terus kalian berdua bisa melangsungkan pernikahan nantinya!" ucap Bima.


"Aamiin!" dengan cepat Rifan langsung mengaminkan ucapan Bima barusan, tentu saja karena ia sangat mencintai Mecca.


Selanjutnya, mereka bertiga kembali berbincang riang untuk menikmati saat-saat terakhir bersama Rifan. Canda tawa menggema di kamar tersebut, sejenak mereka melupakan kesedihan yang dikarenakan kepergian Rifan dari pesantren itu. Mereka ingin menghabiskan waktu dengan saling tertawa satu sama lain dan menciptakan kenangan yang indah.


__ADS_1



Tapi tanpa disadari oleh ketiga pria itu, tampak Ayana tengah berdiri di depan pintu kamar dan begitu syok ketika mendengar percakapan Rifan bersama teman-temannya disana. Ayana kini menutupi mulutnya dengan telapak tangan, ia tak percaya jika ternyata Rifan sudah memiliki kekasih.


Air mata menetes membasahi pipi gadis itu, Ayana sepertinya memiliki rasa terhadap Rifan sehingga ia sangat sedih ketika mengetahui Rifan telah bertunangan dan akan segera menikah. Padahal Ayana berharap kalau dirinya bisa bersanding dengan Rifan di pelaminan nanti.


"Kenapa ya perasaan aku rasanya hancur begini? Apa iya aku sudah jatuh cinta sama mas Rifan?" gumam Ayana dalam hati.


Tiba-tiba saja, seseorang menepuk pundaknya dari belakang dan membuat Ayana terkejut. Sontak gadis itu reflek menoleh ke arah si wanita yang barusan mengejutkannya, tampak jelas kalau wanita tersebut adalah Ines yang tak lain adalah sahabat sejati Ayana sendiri.


Pukkk


Ines justru terkekeh kecil sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Hehe, maaf ya Ayana? Abisnya aku bingung sih kamu ngapain diam aja di depan kamarnya Rifan?" ujarnya.


"Sssttt jangan keras-keras bicaranya! Aku gak mau kalau sampai Rifan dengar dan tahu ada kita disini, dia bisa salah paham nantinya," ucap Ayana.


"Iya iya, lagian kamu tuh ngapain sih sebenarnya ada disini? Kita kan santriwati gak boleh tau masuk ke wilayah lelaki, apalagi sampai ke depan kamarnya kayak gini," ucap Ines keheranan.

__ADS_1


"Ya aku tahu, tapi aku tadi cuma mau kasih kue ini buat Rifan. Sebentar lagi kan dia pergi dari pesantren ini, jadinya aku mau dia ngerasain kue bikinan aku dulu," jelas Ayana.


Ines langsung membelalakkan matanya begitu mendengar itu, "Apa? Yang bener aja Ayana? Kamu gak asal bicara kan?" ujarnya.


Ayana sontak panik karena khawatir Rifan mendengar suara Ines barusan, "Ish, pelan-pelan aja dong Ines ngomongnya jangan keras-keras kayak gitu! Kamu sengaja ya mau bikin Rifan dengar suara kamu tadi?" ucapnya cemas.


"Ih enggak, aku cuma kaget aja sama ucapan kamu tadi. Beneran itu si Rifan mau pergi dari pesantren? Kapan? Terus kok bisa sih? Bukannya dia baru masuk kesini ya?" ucap Ines.


"Hadeh, kamu tuh kenapa segitunya sih Ines? Wajar aja lah Rifan pergi, dia kan emang cuma belajar disini 30 hari. Terus dia juga udah berhasil selesaikan tujuannya, makanya dia bisa pulang," ucap Ayana.


Ines tampak terus merengut penuh kesedihan, "Yah hiks gak bisa ngeliat yang bening lagi deh di pesantren ini nanti," ucapnya lirih.


Ayana hanya menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Ines, sesaat kemudian tanpa diduga Rifan justru keluar dari kamarnya bersama Bima dan Emil. Ketiga pria itu langsung terkejut begitu mendapati ada sosok Ayana serta Ines disana, bahkan Ayana sendiri juga sangat kaget ketika melihat Rifan keluar dan kini tengah menatapnya penuh keheranan.


"Ayana, apa yang kamu lakuin di depan kamar kami? Terus kenapa kamu diam aja dan gak panggil kami kalau memang ada urusan?" tanya Rifan menegurnya.


"Hah? Eee.." Ayana terlihat gugup dan bingung saat hendak menjawabnya, ia pun terdiam saja.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2