
Hari telah berganti, Rifan keluar kamar dengan mata yang masih mengantuk karena jam baru menunjukkan pukul tiga pagi. Ini adalah sahur pertama bagi dirinya di pesantren, ia tak menyangka kalau harus bangun sepagi ini. Padahal biasanya Rifan selalu bangun menjelang subuh, karena ia tidak bisa menahan rasa kantuk yang menyerang.
Bima pun memaksa Rifan untuk segera mencuci muka, meski Rifan terus menolak karena masih mengantuk. Akhirnya kedua pria itu tiba di toilet pesantren, terlihat cukup banyak para santri yang sudah berada disana tengah mengantri menggunakan toilet. Rifan terus menguap sambil mengucek matanya, sungguh rasanya ia malas sekali bangun di pagi-pagi seperti ini.
Setelah selesai mengantri dan mencuci muka serta menggosok giginya, kini Rifan bersama Bima pergi menuju tempat makan dimana disana sudah tersedia cukup makanan untuk santap sahur mereka yang telah disediakan. Mereka duduk lesehan bersama para santri lainnya, Rifan terlihat memutar kepalanya seolah mencari keberadaan seseorang di sekitar kerumunan tersebut.
"Rifan, kamu cari siapa sih? Anak cewek? Disini gak ada, yang cewek-cewek mah beda tempat. Mana bisa digabung satu sama kita?" ujar Bima.
"Hah??" Rifan terbelalak dan seketika ia tidak bersemangat lagi disana.
Mereka kembali melanjutkan menyantap makanan dengan cepat, karena Rifan sudah malas berada disana lama-lama. Rifan tadinya sempat bersemangat sebab ia mengira bisa bertemu Ayana disana, tetapi ia baru tahu kalau tempat para perempuan dan lelaki dipisah saat ini.
Setelah puas bersantap sahur, Bima juga mengajak Rifan untuk berdzikir dan tadarus selagi menunggu shalat subuh. Awalnya Rifan tak mau, tapi saat salah satu ustadz yang ada disana menegurnya, Rifan pun terpaksa mengikuti ajakan Bima dan berdiam diri disana sampai adzan subuh berkumandang.
"Huft, kehidupan di pesantren begini amat sih! Gue pikir sama aja kayak sekolah biasa, eh ternyata malah parah banget. Kalo terus begini sih gue gak bakal kuat!" gumam Rifan dalam hati.
Begitu semua kegiatan itu selesai, Rifan berniat kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Akan tetapi, Bima menahannya dan mengatakan jika mereka harus mengikuti kelas pagi hari ini. Terlebih Rifan juga memang berniat menamatkan pesantren dalam tiga puluh hari, oleh karena itu Rifan harus terus belajar supaya bisa mewujudkan semuanya.
"Mau kemana sih kamu? Ayo kita ke kelas belajar ngaji! Itu ustadz Haykal udah nunggu, kamu kan katanya mau lulus 30 hari," ucap Bima.
"Ya ampun, gue masih ngantuk banget loh ini. Kalau gue harus belajar dalam kondisi ngantuk, yang ada gue gak fokus," ucap Rifan.
"Haish, udah jangan kebanyakan alasan ayo buru kita ke kelas! Kamu kan sudah mandi, masa masih ngantuk aja? Disini itu kamu harus terbiasa bangun pagi Rifan," ucap Bima.
"Ah iya iya, bawel lu kayak mak gue!" sentak Rifan.
Bima terkekeh seraya menutupi mulutnya, lalu Rifan melangkah lebih dulu meninggalkan sohibnya itu menuju kelas belajar mengaji. Meski tentunya dengan perasaan kesal, sebab Rifan masih mengantuk dan ingin tidur sebentar lagi saja. Namun, ya tentu dia tidak bisa melakukannya.
__ADS_1
Saat dalam perjalanan, Rifan tak sengaja mendengar suara merdu seseorang yang sedang mengaji. Karena penasaran, Rifan berhenti sejenak untuk melihat siapa yang mengaji itu. Bima pun dibuat keheranan dan memilih mengikuti kemana Rifan pergi saat ini.
"Ya ampun Rifan, kamu ngapain sih malah berhenti? Kelasnya tuh masih di depan, ayo kita lanjut lagi!" ucap Bima sedikit kesal.
"Ah diam dulu! Gue penasaran sama suara ngaji itu, siapa sih yang lagi ngaji? Kok bisa semerdu ini ya? Rasanya gue pengen dengerin terus deh," ucap Rifan sambil tersenyum.
"Ohh, itu mah suaranya Ayana. Itu loh anaknya kiyai Latief," ucap Bima.
Rifan sontak terkejut, "Suara Ayana? Wah bagus banget ya, wajar sih secara dia kan anak dari pemilik pesantren ini," ucapnya dengan bangga.
"Iya itu dia, yaudah yuk kita lanjut pergi lagi! Takut keburu dimulai kelasnya," ajak Bima.
"Sabar dulu Bima, gue masih mau dengerin suara Ayana! Lo kalau mau duluan ya pergi aja sana!" ucap Rifan lantang.
"Haish, gak baik tau kamu lama-lama disini. Kalau nanti dilihat sama orang, bisa habis kamu!" ujar Bima.
"Kenapa? Kamu mau pukul saya? Yaudah, nih pukul aja!" ucap Bima menantang.
"Apaan sih lu? Ge'er banget deh jadi orang! Gue cuma kesel aja sama lu, tapi gak mungkin lah gue pukul lu disini," ucap Rifan mengelak.
"Hehe, bagus deh kalo gitu. Udah yuk buruan kita cabut!" ucap Bima.
"Iya iya.." Rifan akhirnya menurut walau dengan terpaksa, ia dan Bima pun pergi menuju kelas mereka.
"Gila sih, suara Ayana merdu banget! Kira-kira gue bisa semerdu itu gak ya kalau ngaji?" gumam Rifan dalam hati.
•
__ADS_1
•
Di kelas, Rifan baru menyelesaikan pelajaran pertamanya bersama ustadz Haykal. Ia tampak senang dan makin bersemangat setelah ustadz Haykal memujinya, ya tentu Rifan berharap ini adalah awal dari sebuah kebaikan yang dapat membuatnya lulus dalam waktu 30 hari.
Akhirnya waktu pelajaran selesai, Rifan pun kini kembali ke kamarnya bersama Bima. Rifan yang merasa lelah langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan dua tangan yang ia rentangkan, sedangkan Bima hanya duduk di tempatnya sembari mengamati sahabat barunya itu.
"Eh Bim, lu tuh ngapain sih ngikutin gue mulu? Gak punya teman lain ya lu? Kasihan, anak lama kok gak punya temen!" cibir Rifan.
"Yeh kamu jangan asal bicara Rifan! Gini gini saya banyak temannya, tapi saya disuruh kiyai Latief buat jagain kamu supaya kamu gak bertindak yang aneh-aneh," ucap Bima.
"Ah masa sih? Alasan aja lu, gue gak percaya sama lu Bima!" kekeh Rifan.
"Terserah kamu aja, yang penting saya udah bicara yang sebenarnya. Sekarang kamu boleh istirahat dulu, abis itu kita siap-siap ke masjid lagi!" ucap Bima.
"Hah? Mau ngapain lagi sih? Gue capek tau, gue pengen tidur aja sampe menjelang Maghrib!" ucap Rifan.
"Astaghfirullah Rifan, itu tuh gak boleh tau. Bulan puasa kita harus banyak-banyak beribadah, bukan malah tidur terus dari pagi sampai sore," ucap Bima.
"Iya iya, bawel banget lu!" kesal Rifan.
"Yaudah, saya pergi dulu ya? Masih ada yang mau saya urus, kamu jangan kemana-mana loh disini aja!" ucap Bima memperingati.
"Hm," Rifan berdehem saja sembari berbalik menghadap ke arah lain dan memejamkan mata.
Bima menggeleng saja melihat kelakuan Rifan, lalu ia pun beranjak dari tempatnya dan pergi keluar meninggalkan Rifan sendiri disana.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...