30 Hari Di Pesantren

30 Hari Di Pesantren
Bab 21. Hancurnya hati sang lelaki (end)


__ADS_3

Sehari berlalu sejak kepulangannya dari pesantren, Rifan kini mengajak orang tua beserta adiknya untuk mendatangi rumah Mecca dan berniat melamar gadis itu kembali. Ya tapi tentunya kali ini Rifan datang dengan perubahan yang berbeda, ia telah resmi lulus dan menjadi santri terbaik hanya dalam waktu tiga puluh hari atau satu bulan full sesuai syarat yang diajukan sang ayah dari Mecca.


Setibanya di kediaman Mecca, mereka dibuat syok berat sekaligus kaget ketika melihat sebuah janur kuning yang terdapat tepat di halaman rumah gadis itu. Sontak saja Rifan melongok lebar dan mulai menduga yang tidak-tidak, namun ia memilih untuk tetap berpikir positif dan mengira kalau itu adalah bentuk penyambutan dari pihak keluarga Mecca untuk dirinya.


"Kak, itu kok rumah kak Mecca rame banget ya? Terus pake ada janur segala lagi, siapa yang nikah coba?" tanya Julia terheran-heran.


"Iya Rifan, kayaknya emang lagi ada acara deh disana. Tuh buktinya ada musik dan jalanan juga ditutup, kira-kira siapa ya yang nikah disana?" sahut Amira ikut penasaran.


"Gak tahu ma, mungkin aja itu saudara atau kerabat Mecca. Iya kan pa?" jawab Rifan pelan.


"Bisa jadi, tapi untuk lebih jelasnya kita tanyakan saja langsung ke hansip yang bertugas disana itu. Biar papa turun deh ya?" ujar Haidar.


"Jangan pa!" ucap Rifan menahan tindakan papanya.


"Loh kenapa? Katanya kamu penasaran, udah biar papa tanyain ke hansip itu," ucap Haidar.


"Gausah pa, aku aja yang tanyain langsung ke mereka," pinta Rifan.


"Oh yaudah," singkat Haidar menurut saja.


Tanpa berpikir panjang, Rifan bergegas turun dari mobilnya dan melangkah mendekati para hansip yang tengah mengatur tempat parkir itu. Sebenarnya dari situ saja Rifan sudah mulai curiga, sebab ia tak pernah tahu kalau Mecca memiliki saudara yang seumuran dan siap untuk menikah. Namun, lagi-lagi Rifan tetap mencoba berpikir positif.


"Eee permisi pak, ini lagi ada acara apa ya? Soalnya saya mau lewat ke rumah teman saya, tapi jalannya ditutup kayak gini," tanya Rifan pada si hansip.


"Eh iya mas, itu loh ada acara nikahan anaknya pak ustadz Baron. Makanya untuk sementara jalan kesini ditutup dulu mas, besok baru deh normal lagi kayak biasa," jawab hansip itu.


Deg!

__ADS_1


Sontak Rifan amat kaget mendengarnya, ia semakin curiga saat hansip itu menyebut bahwa pernikahan itu adalah milik anak dari ustadz Baron. Tentunya Rifan tahu betul bahwa anak ustadz Baron yang siap menikah hanya Mecca seorang, tapi ia masih menepis pikiran itu dan mencoba terus positif.


"Anak ustadz Baron, yang mana ya pak? Setahu saya, anak beliau kan ada dua ya perempuan semua," tanya Rifan lagi.


"Yang pertama atuh mas, si Mecca. Kalau Vadella kan masih sekolah, masa iya udah nikah aja?" jawab hansip itu sambil tersenyum.


Rifan benar-benar hancur saat itu juga, rasa sesak menghampiri jantungnya dan membuat ia kesulitan untuk bernafas. Rifan sungguh tak menyangka kalau ia akan dikhianati oleh kekasih yang sangat ia cintai, padahal Rifan amat percaya pada Mecca dan yakin kalau gadis itu tulus padanya.


"Kalau masnya ragu, tuh lihat aja tulisan namanya di karangan bunga!" sambung si hansip.


Mata Rifan beralih menatap kalimat yang ditunjuk oleh hansip itu, ia membulat seketika karena memang benar nama Mecca lah yang terpajang disana. Dan yang membuat Rifan makin terkejut adalah, sosok lelaki yang bersanding dengan Mecca rupanya adalah Yudha, pria yang sempat ia temui kala itu dan mengaku sebagai sahabat Mecca.


"Selamat atas pernikahannya, Mecca dan Yudha? Apa-apaan sih ini? Tega kamu Mecca, kamu benar-benar jahat!" gumam Rifan dalam hati.


Karena masih belum percaya seratus persen, Rifan akhirnya memutuskan masuk ke acara tersebut untuk memastikan secara langsung siapakah yang menikah disana. Laki-laki itu berhenti melangkah begitu ia menginjakkan kaki di dalam tempat itu, betapa syok dan sakitnya ia saat melihat Mecca tampak cantik dengan gaun pengantinnya dan tengah duduk bersama Yudha di pelaminan.


Rifan segera menghapus air matanya dan berniat pergi dari sana, tapi tanpa disadari tampaknya Mecca mengetahui keberadaan Rifan disana. Mecca pun terlihat amat panik dan langsung bangkit dari tempat duduknya berupaya menahan kepergian Rifan dan menjelaskan semuanya.


"Hah Rifan??" lirih Mecca saat melihat keberadaan kekasihnya disana.


"Tunggu Mecca! Kamu mau kemana?" dengan cepat Yudha menahan lengan istrinya yang hendak pergi itu, karena ia tak ingin Mecca kemana-mana.


Mecca yang risih langsung menyingkirkan tangan Yudha dari lengannya, "Sebentar dulu mas, aku harus kejar Rifan sekarang!" ucapnya.


"Apa? Rifan? Dia disini?" kaget Yudha.


Mecca hanya manggut-manggut, kemudian tanpa permisi ia pun pergi bermaksud mengejar Rifan. Biar bagaimanapun, Mecca masih mencintai Rifan dan pernikahan ini bukanlah keinginannya. Namun, Mecca tidak dapat berbuat apa-apa termasuk menolak, sehingga ia hanya menurut saja.

__ADS_1


Saat Mecca keluar dari tempat pernikahannya, ia melihat Rifan yang sedang berjalan cepat menuju mobilnya sambil terisak. Mecca sontak berteriak berusaha menahan pria itu, dengan susah payah ia juga mendekat agar bisa berbicara dengan Rifan saat ini dan menjelaskan semuanya.


"Rifan tunggu!" teriakan Mecca itu diabaikan oleh Rifan, pria itu malah mempercepat langkahnya dan masuk ke dalam mobil.


Di mobil, keluarganya tampak keheranan melihat Rifan yang masuk dengan kondisi menangis. Amira sang ibu pun berusaha menanyakan apa yang terjadi pada pria itu saat di luar tadi, ia masih belum mengerti mengapa Rifan kembali dalam keadaan bersedih seperti itu.


"Sayang, apa yang terjadi? Kamu kenapa kelihatan sedih kayak gitu?" tanya Amira khawatir.


"Gapapa ma, ayo pa kita pergi aja sekarang! Gak ada gunanya kita disini lama-lama, cinta aku sudah hancur pa dan gak bisa dipertahankan lagi," ucap Rifan menahan tangisnya.


Haidar yang mendengar itu turut merasakan kesedihan yang dialami putranya, begitu pula dengan Julia yang terduduk di belakang bersama ibunya. Ya mereka bertiga sama-sama tidak tega melihat Rifan bersedih setelah tahu bahwa Mecca menikah dengan laki-laki lain.


"Ayo cepat jalan pa!" pinta Rifan pada papanya.


"I-i-iya Fan.." Haidar menurut saja dan mulai melajukan mobilnya, meskipun ia sempat melihat Mecca tengah berusaha mendekati mereka.


Akhirnya mobil itu pergi dari sana, dan Mecca tampak menangis tersedu-sedu sambil terus berlari mengejarnya. Tapi karena pakaian yang dikenakannya, Mecca malah tersandung dan terjatuh di atas aspal dengan posisi lutut sebagai tumpuan.


"Awhh, Rifan tunggu!!" Mecca masih terus berteriak dan berharap Rifan mau mendengarkannya.


Tapi semua terlambat, hati laki-laki itu sudah hancur dan akan sulit untuk disatukan kembali. Rifan sangat kecewa pada Mecca, karena ia merasa Mecca telah mengkhianati cintanya yang setia. Dan Rifan pun berjanji tidak akan pernah melupakan pengalaman buruk itu sampai kapanpun.


"Maafkan aku Rifan, maafin aku!" batin Mecca diiringi isak tangis.


...~Selesai~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2