30 Hari Di Pesantren

30 Hari Di Pesantren
Bab 13. Protes


__ADS_3

Setelah segala proses telah diselesaikan, kini Rifan resmi menjadi santri di pondok pesantren Al Latief, yang merupakan milik dari kiyai Latief alias sahabat papanya itu. Sontak Rifan pun merasa senang dan tidak sabar ingin segera belajar disana, tentu yang paling ia nanti-nantikan adalah lulus dari sana dan mampu melamar Mecca.


Rifan pun menemani ayah dan ibunya yang akan pergi kembali ke kota, ya selama di pesantren tentunya Rifan hanya akan sendiri tanpa ditemani keluarganya. Ada sedikit rasa sedih, sebab ini kali pertama Rifan berpisah dalam waktu lumayan lama dengan kedua orangtuanya. Tetapi, Rifan juga ingin memperjuangkan cintanya agar bisa resmi melamar Mecca dan menikahinya.


Kini Haidar dan Amira tampak berpamitan pada kiyai Latief serta istrinya, tak lupa mereka berpelukan dengan Rifan seraya berpesan agar Rifan tidak nakal selama disana. Barulah setelah itu, mereka memutuskan pulang ke rumah dan meninggalkan putra mereka disana bersama kiyai Latief serta para santri yang baik-baik.


"Nah Rifan, kamu sekarang bisa pergi ke kamar kamu untuk istirahat. Besok baru kita mulai belajar dalam misi 30 hari kamu lulus, siap?" ucap kiyai Latief.


"Insyaallah siap kiyai, saya mohon bantuannya!" ucap Rifan dengan lantang.


"Iya, insyaallah saya juga akan bantu kamu Rifan. Yasudah, Bima tolong kamu antarkan Rifan ke kamar kosong ya!" ucap kiyai Latief.


"Baik kiyai!" Bima sang santri lelaki disana pun menuruti perintah kiyai.


Lalu, Rifan pun pergi bersama Bima dengan membawa tasnya menuju ke kamar. Sepanjang jalan Bima terus berbincang tentang dirinya kepada Rifan, tampaknya mereka nanti akan menjadi sahabat sejati selama Rifan menuntut ilmu di pesantren tersebut.


Sesampainya di depan kamar, Bima langsung membuka pintu dan menyuruh Rifan masuk. Betapa kagetnya Rifan saat melihat isi kamarnya, disana terdapat empat buah kasur kapuk yang disusun menjadi dua dan hanya ada dua lemari. Tentu Rifan tak percaya jika ini adalah kamarnya, ia sangat tidak terbiasa tidur di kamar seperti itu.


"Heh Bima! Lo yang serius dong, masa gue diantar ke kamar model beginian?! Kalo lu gak niat nganter gue, yaudah gausah. Gue bisa cari kamar gue sendiri kok, tinggal kasih tau aja dimana kamar gue!" sentak Rifan.


"Haish, situ itu kenapa Rifan? Ya ini sudah benar loh kamar kamu, ngapain juga saya ngerjain kamu? Semua santri disini ya tinggalnya di kamar model begini, emang mau kamu gimana toh?" ujar Bima.


"Hah serius lu? Gak gak, gue gak mungkin bisa tidur di tempat kayak gini Bima!" tegas Rifan.


"Terus situ maunya tidur dimana? Di gudang? Ya silahkan aja sana, kebetulan emang butuh penjaga disana buat jagain barang-barang!" ucap Bima.

__ADS_1


"Ngaco aja lu, yakali gue tidur di gudang! Udah ah gausah banyak bercanda, buruan antar gue ke kamar! Gue pengen istirahat ini!" kesal Rifan.


"Astaghfirullah, ini beneran kamu kamu Rifan. Gak percayaan amat sih sama saya?" ujar Bima.


Rifan terdiam tak percaya, ia masih bingung kenapa bisa dirinya ditempatkan di kamar yang seperti itu oleh sang kiyai. Padahal Rifan tahu betul kalau kiyai Latief adalah sahabat dari ayahnya, tentu Rifan tak terima dengan semuanya dan coba melayangkan protes pada kiyai.


"Ah gue gak percaya sama lu, pasti lu mau ngerjain gue kan! Gue harus ketemu sama kiyai, emang dasar licik lu Bima!" sentak Rifan yang langsung pergi begitu saja.


Bima pun tampak terbengong melihat kepergian Rifan, ia sungguh bingung harus bagaimana dan akhirnya memilih mengejar Rifan karena tidak mau jika pria itu malah membuat masalah di pondok yang akan membahayakan dirinya sendiri.




Sedangkan Bima hanya memperhatikan dari jauh, ia tak berani maju ke depan karena khawatir menjadi sasaran amukan sang kiyai. Meski begitu, Bima terlihat heran karena wajah kiyai Latief justru tak menunjukkan amarah setelah protes yang dilayangkan Rifan tadi, malahan kiyai Latief tersenyum dan memegang pundak Rifan.


"Memangnya kamu mau tidur di tempat seperti apa Rifan? Jika kamu ingin belajar disini, kamu harus ikuti semua aturan yang ada! Termasuk kamar tempat kamu tidur itu," ucap kiyai Latief.


"Tapi kiyai, seenggaknya kasih saya kamar yang mewahan dikit kek gitu!" ucap Rifan.


Kiyai Latief menggelengkan kepalanya, "Tidak bisa Rifan, semua kamar para santri disini ya seperti itu. Kalau kamu tidak suka, kamu bisa keluar dari pesantren ini dan cari saja tempat yang menurut kamu bagus!" ucapnya.


"Ya gak bisa gitu dong kiyai, saya udah gak ada waktu buat cari tempat lain. Lagian ayah sama bunda saya udah pada pergi," ucap Rifan.


"Yasudah, jadi kamu harus terima semua itu walau terpaksa! Saya yakin lambat laun kamu pasti bisa terbiasa kok, yang lainnya juga begitu waktu pertama kali kesini," ucap kiyai Latief.

__ADS_1


"Yah oke deh, saya gak ada pilihan lain. Terpaksa nih saya mau terima," ucap Rifan.


"Alhamdulillah, kalau begitu sekarang sudah waktu shalat ashar. Kita sama-sama ke mushola yuk!" ajak kiyai Latief.


"Shalat kiyai? Duh, saya masih capek tapi. Nanti aja ya lima belas menit deh?" ucap Rifan.


"Alangkah baiknya jika kita menyegerakan shalat begitu waktunya tiba, tidak baik kalau kita mengundur-undur sampai batas akhir waktu shalat. Memangnya kamu mau kalau Allah juga memperlambat rezeki kamu?" ucap kiyai Latief.


Rifan terdiam, ia tidak bisa berbuat apa-apa kali ini selain menurut saja pada sang kiyai. Akhirnya ia pun mengangguk dan mau mengikuti perintah kiyai Latief untuk pergi ke mushola, sontak sang kiyai tersenyum puas mendengar perkataan Rifan yang akhirnya mau menurut.


Bima yang sedari tadi hanya mengamati, kini ikut maju mendekati mereka dengan senyum riang setelah mendengar semua perbicangan Rifan dengan sang kiyai. Tentu saja baik Rifan maupun kiyai Latief pun terkejut melihat kehadiran Bima disana, mereka tak menyangka kalau Bima menguping pembicaraan mereka.


"Nah gitu dong Rifan! Kalo disini itu kamu harus nurut sama aturan yang ada, gak boleh bantah kayak tadi!" ucap Bima.


"Diem lu!" bentak Rifan emosi.


"Yeh dikasih tahu sama senior malah begitu, tobat bro tobat!" cibir Bima.


Rifan hanya memutar bola matanya malas, kiyai Latief pun ikut terkekeh melihat kedua pria itu yang saling berdebat. Lalu, Ayana tiba-tiba muncul disana dan membuat pandangan Rifan langsung teralihkan, entah kenapa setiap kali melihatnya selalu membuat Rifan terpikat akan pesonanya.


"Assalamualaikum," ucap Ayana lirih dengan wajah menunduk.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2