AIR MATA DARI IBU MERTUA

AIR MATA DARI IBU MERTUA
Bab 10 Kesalnya Fina dan Wulan


__ADS_3

Fina berkacak pinggang didepan Lalita, ia mempelihatkan rasa bencinya, melihat janda dihadapannya begitu kecentilan.


"Heh, janda bodong. Gara gara kamu ya Pak Akbar membuat peraturan baru, dasar kecentilan. Bisa bisanya buat orang murka. " 


Begitulah hinaan yang terlontar dari mulut kedua sahabatnya di kantor. " Cukup, jangan sok paling benar kalian. "


Fina dan Wulan tertawa terbahak bahak," Alah janda lagi bela diri, lah memang kita sudah benar. Heh, harusnya kamu itu nyadar diri, jadi janda aja belagu. Tahan harga dong, liat tuh rok kamu udah nggak ada pantas pantasnya."


Wulan menatap ke arah Lalita , " benar apa yang dikatakan Fina, kamu ini  datang ke kantor mau kerja apa mau jual diri. "


Tawa keduanya begitu renyah saat menghina Lalita, membuat janda itu mengepalkan kedua tangan berusaha menahan emosi. 


Dani kini mendekat dan membela Lalita, " Heh, kalian ini. Kalau niat kalian cuman mau ngehina, please deh. Sebaiknya kalian kaca diri, jangan sok paling benar aja hidup, dandanan kaya ondel ondel juga."


Fina dan Wulan saling menatap satu sama lain, mereka seakan tak terima dengan perkataan Dani sahabat dekat Lalita. 


"Heh, lengkong. Jaga tuh mulut, udah gigi nongol kaya curut sok ngebela janda bolong ini lagi. "


Dani memegang bibirnya, merasakan apa benar giginya nongol. 


Fina dan Wulan memperhatikan gerak tangan Dani, " Baru nyadar punya gigi nongol ke luar?"


Berkacak pinggang, Dani mendekat dan mencubit kedua teman kantornya itu. 


"Ahk. "


Suara jerit dan rasa sakit dilayangkan Wulan, terlihat mereka berdua membulatkan kedua matanya, " Heh, kemayu. Berani kamu mencubit tangan kita, kurang ajar. "


Dani memperhatikan kukuk kukuknya tak mempedulikan ocehan kedua sahabatnya itu. 


"Kenapa, sakit? Mau nangis, EMANG ENAK. "


Keduanya menghentakkan kaki, tak terima atas perlakuan Dani. " Awas ya kamu, dasar wanita jadi jadian. "


Dani tersenyum sinis, menggerakan tangannya yang terlihat lihai, " Lalu kalian apa, nenek lampir vs kuntilberanak. "


"Kurang ajar. "


Fina menunjuk nunjuk wajah Dani, membuat lelaki kemayu itu menunjukkan giginya." Apa lu hah. "


Wulan kini merangkul bahu Fina dan berkata, " Yok Fin, kita pergi ke warteng, malas aku ladenin laki laki jadi jadian ini sama si janda bodong. "


Lalita yang terlihat geram, ingin sekali mengacak rambut Fina dan Wulan, namun kedua tangannya merasa tak kuasa. Ia tak ingin membuat keributan yang dimana dirinya akan dirugikan. 


Dani mendekat melihat kekesalan nampak jelas terlihat dari raut wajah sahabatnya. " Lit, kok kamu diam aja sih, di gituin sama mereka, lawan dong. "


Lalita menatap tajam kearah Dani, memukul meja kerja dan menjawab, " Semakin mereka diladeni, malah semakin tak mau kalah. "


"Benar juga sih, tapi  saya jijik, benar benar jijik banget deh sama mereka.  Bisa bisanya ada wanita bermulut demit ke mereka?"

__ADS_1


Dani memperlihatkan wajah kesalnya, dengan menghentak hentakan kaki ke atas lantai. Membuat Lalita mengerutkan dahinya, " memangnya demit ada mulutnya. "


"Aduh, Lalita jangan jadi bodoh deh ahk, pastinya demit ada mulutnya, mana mungkin kaga ada. Kalau  ada gimana ***** mangsanya. "


Lalita menyunggingkan bibir atasnya, ia tak bisa berpikir jernih saat itu, perutnya terasa keroncongan, yang ia pikirkan sekarang. Ingin mengisi perutnya. 


"Lalita, kita makan yuk. Saya lapar banget, ni perut ngajak ribut terus. "


Menenangkan kekesalan Lalita berusaha tersenyum di hadapan Dani, ia menyadari jika yang selalu membuatnya tersenyum dan tenang hanya laki laki kemayu yang ada di hadapannya saat ini. 


"Ayok ih, malah diem aja, kaya patung. "


"Ya sudah ayo. "


Lalita dan juga Dani berjalan beriringan, mereka terlihat pergi ke sebuah warung nasi yang dimana Fina dan Wulan berada di sana. 


"Fin, Fin, coba kamu lihat. Tuh …. "


Wulan menunjuk Lalita dan Dani dengan memonyongkan bibirnya. 


"Oh mereka? Memangnya kenapa?" tanya Fina yang tengah menikmati makanannya. 


Wulan mempunyai ide yang berlian, ia kini mendekat pada telinga Fina dan berbisik. " Gimana kalau kita kerjain mereka kayaknya seru deh. "


Fina menatap ke arah sahabatnya itu, " Ide yang bagus sih.  Aku setuju setuju aja. "


Di saat Lalita tengah berjalan, Fina kini menyodorkan kaki, berharap jika sang janda terjatuh.  Satu, dua, tiga. 


Tiba tiba Lalita mulai terjatuh, namun tanpa disengaja Akbar datang  menahan tubuh janda. 


"Ahk."


"Lalita kamu baik baik saja?" tanya Akbar melepaskan tubuh Lalita yang hampir mengenai lantai. 


"Pak Akbar!" Lalita menundukkan pandangan, ia tampak malu, sampai sampai kejadian itu membuat rok pendek Lalita semakin sobek. 


Janda itu berlari, menahan rasa malu.  Tawa para karyawan membuat Fina dan Wulan terlihat senang.  Mereka berdua menepuk tangan dan berkata, " berhasil. "


Akbar mulai menghentikan tawa para karyawannya. Menggelengkan kepala melihat tingkah Lalita, sang janda yang bekerja di perusahaan. 


Dani  kesal, ia melihat Lalita menangis, membuat lelaki  kemayu itu berdiri dan mendekat pada kedua wanita yang sudah membuat sahabatnya bersedih. 


"Sebenarnya, kalian ini waras tidak. Bisa bisanya melakukan hal yang membuat sahabatku malu. "


Kedua wanita itu berusaha mengabaikan perkataan Dani, mereka menikmati makanan mereka dengan santainya. 


"Gila memang kalian ini. "


Mengambil jus yang tengah diminum Wulan, Dani dengan sengaja menuangkan jus itu pada makanan Fina. 

__ADS_1


"Nah, rasakan ini?"


Fina terkejut, kedua matanya membulat tak terima dengan kelakuan lelaki kemayu yang ada dihadapannya. 


"Kurang ajar kamu. "


Geram, ingin rasanya Fina mencekik leher Dani. 


Melipatkan kedua tangan, Dani kini berucap, " Rasain emang enak."


Lelaki kemayu itu pergi dari hadapan Wulan dan Fina tak memperdulikan kemarahan keduanya. " Sukurin emang enak. "


Wulan yang mencemaskan Fina kini berucap, " Ya elah Fin, pasti kamu belum kenyang ya. "


"Mood tiba tiba ilang, gara gara si kemayu itu, aku harus memberi dia pelajaran. "


**********


Di jam istirahat Akbar mendapatkan sebuah telepon dari sang ayah, membuat ia terlihat sangat berat mengangkat panggilan telepon dari ayahnya itu.


"Ada apa ayah telepon?"


Keraguan terus dirasakan Akbar, ia bingung harus mengangkat atau mendiamkannya begitu saja.


Menyandarkan dagu pada kedua tangan, Akbar benar benar dilema akan keluarganya yang terlihat begitu membenci sang istri.


Menghela napas, Akbar berusaha berpikir positif.


"Tenang Akbar, kamu begitu mencintai Nayla dan kamu juga tak mungkin jadi anak durhaka."


Akbar kini mengangkat panggilan telepon dari sang ayah, ia berusaha tetap tenang. Menstabilkan emosi, " Halo, ayah, Ada apa?"


"Akbar, akhirnya kamu mengangkat panggilan telepon bapak. " Mendengar suara lembut sang ayah membuat Akbar berusaha menahan air mata, ada rindu yang membelenggu tiba tiba.


Semenjak kejadian kemarin, Akbar tidak pernah menemui kedua orang tuanya, demi menjaga kenyamanan hati sang istri.


"Akbar, bapak kangen nak. Kapan kamu dan istrimu ke sini, " ucap sang ayah, membuat relung hati Akbar sakit.


Ia juga ingin mengatakan hal itu, tapi rasa ego malah menahannya, " Maaf pak, Akbar datang jika ibu sudah mau menerima Nayla sebagai menantunya. "


"Bapak mengerti perasaan kamu sekarang, bapak juga bingung dengan ibu kamu, kenapa dia begitu membenci Nayla. Padahal istri kamu itu begitu baik dan sabar. "


"Ibu terlalu memandang fisik, pak. Sampai tak mau mempunyai menantu cacat seperti Nayla, padahal jelas dimana Allah semua manusia sama. "


"Yang sabar ya Akbar, bapak sebenarnya ingin bertemu dengan kamu?"


Tuttt ….


Setelah ucapan sang ayah yang ingin bertemu dengan anaknya, sambungan telepon tiba tiba mati begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2