
Kelakson mobil terdengar dari luar rumah, dengan terburu buru Ardan berlari, untuk segera menghampiri suara kelakson mobil itu.
"Akhirnya Afdal datang juga."
Dengan senyum semuringah, Ardan langsung membuka pintu rumahnya, ia kini memeluk sang adik.
"Akhirnya kamu datang juga de, kakak sangat menantikkan kamu, "
Afdal berusaha melepaskan pelukan lelaki yang menjadi kakaknya itu, " lepaskan, kita udah gede kak, nggak pantas peluk pelukan. "
Ardan tersenyum senang, ia merasa tenang jika Afdal menuruti perkataannya.
"Ibu dimana sekarang?" Afdal menatap kekiri kekanan mencari keberadaan sang ibunda.
"Tunggu, sebentar kakak akan panggilkan ibu sekarang juga. "
Afdal masuk tanpa di suruh oleh sang kakak, ia duduk di atas sofa, menunggu wanita tua itu datang kehadapannya.
Mengetuk pintu kamar Wina, kini sosok wanita tua itu datang membuka pintu kamarnya, " Ardan, kamu sudah membuatkan juice untuk ibu?"
Ardan menarik tangan ibu kandungnya dihadapan Afdal.
"Afdal, kamu ada di sini?"
Afdal bangkit dari tempat duduk, ia menjawab perkataan sang ibu. " Sebaiknya ibu pulang ke rumah ya. kasihan disini Kak Aisyah dan Kak Ardan kerepotan ngurus kamu!"
Wanita tua itu menolak, ia memalingkan wajah lalu berkata, " tidak mau. "
"Loh kenapa tidak mau, bu?" tanya Afdal sedikit terkejut dengan jawaban sang ibunda.
"Ibu, betah tinggal di rumah, Ardan, jadi kamu jangan ngelarang ngelarang ibu dong. Hak ibu mau tinggal dimana, " ucap Wanita tua itu, duduk dengan melipatkan kedua tangannya.
Afdal, menggaruk belakang kepalanya yang tak terasa gatal.
"Aduh bu, gimana ya Afdal ngejelasinnya. "
Afdal sekilas menatap ke arah Ardan, dimana lelaki itu menempelkan kedua tangannya memohon mohon.
"Bu, kasihan bapak kalau ditinggal terus."
"Bodo amat, kan ada si Aminah, sudah sebaiknya kamu pulang sana ibu ingin istirahat."
Wanita tua itu bangkit dengan bantuan tongkatnya, mengusir Afdal, memukul mukul anak keduanya itu agar pergi.
"Sudah, kamu cepat pergi dari sini, sana."
"Akh, ibu ini kalau dibilangin ngeyel ya,"
Afdal kini melambaikan tangan pada Ardan sang kakak, iya menyerah karena tak berhasil membujuk ibunya itu.
"Afdal, tunggu."
__ADS_1
Afdal mengabaikan teriakan sang kakak, ia malas jika harus berurusan dengan ibunya yang tak bisa diatur.
"Kak, aku nyerah, mau pulang. "
"Yaelah lu. "
Afdal menaiki mobilnya, ia menyalakan mesin mobil, mengetuk ngetuk jendela mobil.
"Afdal, please ayolah."
Menurunkan kaca mobil dan berkata," Aku pergi dulu kak. "
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, Ardan mengacak rambutnya dengan kasar, " Sialan si Afdal. "
Wanita tua itu masih duduk di atas sofa, menunggu kedatangan anak pertamanya yang tak muncul muncul, ia kini nekat menyusul anaknya yang masih berada di luar rumah.
"Ardan, kembali kamu. "
Ardan menatap wanita tua yang memanggil namanya, membuat ia bergegas datang dan bertanya, " Ada apa lagi sih, bu. "
Ardan terlihat pusing dengan teriakan wanita tua yang menjadi ibunya itu.
Wanita tua itu membulatkan kedua matanya, menagih keinginannya yang belum dipenuhi Ardan.
"Mana jus apel ibu. "
Ardan berusaha bersikap santai, ia malas menuruti perintah ibunya sampai dimana.
Dengan begitu tegas, berharap jika wanita tua itu mengerti. "
"Ardan, kamu mau kemana, ibu hanya ingin dibuatkan olehmu, kamu ngerti nggak ibu, bicara?"
Ardan pergi, sampai dimana Aisyah pulang dengan kantong belanjaan yang penuh.
Wanita tua itu, membulatkan kedua matanya.
Ia menghampiri menantu pertamanya dengan berjalan cepat menggunakan tongkat. " Aisyah."
Ucapan wanita tua itu mengagetkan Aisyah yang berjalan menuju kamarnya.
"Aisyah, tunggu. Kamu mau kemana?" tanya Wina dengan tatapan mata yang sinis.
Aisyah tampak tak suka dengan tatapan mata ibu mertuanya itu, " Kenapa bu."
Dengan lancangnya wanita tua itu melihat belanjaan baju dan tas milik Aisyah begitu banyak. "
"Apaan sih, bu. Nggak sopan, pake acara buka buka milik orang lain. "
"Siapa suruh kamu belanja begitu banyak, jangan boros boros jadi istri. "
"Lah, kan ini uang milik Aisyah, jadi bebas dong bu. "
__ADS_1
Wina menggelengkan kepala, mendengar ucapan sang menantu, " Tetap saja harus hemat, biar nanti kedepannya kamu tidak susah. "
Bosan mendengar ocehan sang ibunda, Aisyah pergi dari hadapan mertuanya itu.
"Asiyah, Aisyah. " berkacak pinggang berkuasa di rumah anaknya, Wina kini menggelengkan kepala melihat tingkah menantunya.
Baru saja Ardan pergi, ia kini kembali lagi masuk ke dalam rumah, ada sesuatu yang tertinggal, sampai memutuskan untuk mengambilnya kembali ke rumah.
"Ardan, kamu pulang lagi ke rumah, Ibu hanya ingin memberitahu kamu," ucapan sang ibu membuat Ardan, melangkahkan kakinya dengan begitu cepat," Maaf Bu Ardan sibuk."
"Ardan." berteriak memanggil nama anaknya membuat dada Wina terasa sakit.
Seorang pembantu yang bekerja di rumah Ardan kini menghampiri wanita tua itu, " kenapa bu?"
Wina merasa tak nyaman dengan pembantu yang bekerja di rumah anaknya, iya menghempaskan tangan pembantu itu dan berkata, " minggir kamu jangan dekat-dekat, baju kamu itu bau kotor."
Pembantu itu langsung mencium baju yang ia pakai, padahal Ia baru saja selesai mandi.
"Nggak bau. "
Wina berjalan menggunakan tongkatnya dengan begitu cepat, sampai di mana pembantu itu pergi.
Namun wanita tua yang menjengkelkan itu memanggil pembantu yang baru saja ia usir," Heh tunggu. "
Pembantu yang bekerja di rumah Ardan bernama Asri, " iya kenapa?"
Dengan terburu-buru berjalan menghadap ke arah Ibu dari majikannya.
" Saya mau tanya. Siapa nama kamu?" tumben sekali wanita tua itu menanyakan nama pembantu, padahal dari tadi ia terlihat begitu cuek. Tak ingin dilayani sedikitpun, sampai menghina pembantu.
"Asri!" jawab pembantu itu dengan menundukkan pandangan, Wina yang kurang pendengarannya, sini sedikit berteriak," siapa nama kamu saya nggak dengar. "
Asri sudah berusaha menahan amarahnya, sampai ia berteriak di depan telinga wanita tua itu," NAMA SAYA ASRI. "
"Hah, Ari, " ucap wanita tua itu mendekatkan lagi telinganya.
Asri tak bisa menahan lagi emosi," bisa-bisanya nenek budek ini, buat aku marah. " guman hati Astri mengusap-ngusap dada bidangnya.
"NAMA SAYA ASRI. '
" Mm, Asri. Pantas saja, gaya kamu terlihat begitu kampungan, nama kamu juga begitu Kampungan sekali. "
Asri ingin sekali menghindar dari nenek tua yang berani meledeknya, ia berusaha melangkahkan kakinya Ke belakang.
Untuk segera kabur berpura-pura jika sang majikan memanggil namanya, " Ya nyonya. "
"Kamu mau kemana?"
Asri tak memperdulikan pertanyaan wanita tua itu, berlari sekencang mungkin untuk menjauh, ingin meluapkan emosinya yang malah menyakiti nenek tua yang tidak tahu diri itu.
"Ahk, untung aku punya ide untuk kabar dari nenek tua menjengkelkan itu."
__ADS_1
"Asri, Asri. Kemana dia? Kenapa malah pergi?" menggerutu kesal menatap pembantu itu berlari.