
Membuka knop pintu, Nina masih dengan jalannya yang sempoyongan, ia memegang kepala kanan yang terus berdenyut. Membuat penglihatanya tak jelas.
Merasakan betapa asiknya, berjoget ria di tempat diskotik setelah acara makan makan bersama teman temannya.
"Ahk, kepalaku, ini lumayan lebih baik. Setelah putus dengan lelaki tidak tahu diri itu. "
Ceklek ….
Pintu kamar terbuka lebar, Nina melihat kamarnya begitu gelap gulita, hingga ia mencari tombol lampu.
"kenapa gelap seperti ini. " Guman hati Nina, ia juga mendengar suara yang tak biasa.
"Ah, ah. "
Membuat Nina penasaran dan mencari sumber suara itu. Berjalan dengan kepala yang terasa berdenyut, pada akhirnya Nina bisa meraih tombol lampu kamarnya. Penglihatannya terlihat rabun, karena banyak minum minuman keras bersama sahabatnya.
Tombol lampu dinyalakan, Nina tampak menyipitkan kedua mata, sesuatu yang tak terduga Nina lihat, ranjang tempat tidur tampak bergetar.
"Ada apa ini? Gempa bumi." Teriakan Nina membuat kedua insan yang tengah melepaskan hasrat terkejut.
Dan .... Ahhh ….
Teriakan dilayangkan Nayla dan Nina terdengar begitu keras, membuat Akbar menutup kedua telinganya. Nayla yang terkejut akan keberadaan Nina di dalam kamarnya. Membuat ia berusaha mengontrol diri, menghentikan aktivitas yang belum selesai sepenuhnya.
Gadis itu tersenyum melihat kedua insan yang ia lihat tidak memakai pakaian. Sampai Nayla dan Akbar sadar, dimana mereka terburu buru menyelimuti tubuh dengan selimut.
"Kak Nayla dan Kak Akbar. Hahaha. " Nina menunjuk kedua wajah kakaknya, sembari tertawa dimana Nayla dan Akbar merasa malu karena Nina tiba tiba masuk kedalam kamar. Mereka menunjukkan kedua pipi mereka yang terlihat merah padam, seperti cabai.
"Nina, kenapa kamu masuk sembarangan, kamu ini tidak punya sopan santun, seharusnya kamu itu mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam kamar kakak. " Pekik Nayla tampak murka dengan kelakuan adiknya yang seberono.
Terlihat Nina begitu cuek, dia berusaha menyeimbangkan tubuhnya, " Loh. Bukannya ini kamarku?" Akbar dan Nayla saling menatap satu sama lain, saat Nina mengakui kamar Nayla sebagai kamarnya.
Sampai Akbar mencium bau alkohol pada mulut adik iparnya itu, begitupun dengan Nayla. " Nina kamu habis mabuk?"
Pertanyaan Nayla membuat Nina malah tertawa terbahak-bahak, " Iya kak, kan aku ini jomblo, jadi aku frustasi dan minum-minuman alkohol. "
Perkataan Nina terdengar begitu keterlaluan dan tak pantas, bisa bisanya adik satu-satunya tak memiliki adab saat tinggal di rumah Nayla.
Nayla mulai meraih bajunya untuk segera ia pakai, menghampiri Nina yang masih berdiri dengan badan yang terlihat tak seimbang.
__ADS_1
Menarik tangan Nina untuk segera membawanya ke dalam kamar. Hingga
Nina malah mengucapkan kata-kata yang memalukan dihadapan Akbar, yang tengah menahan emosi.
" De. Kamu ini gimana sih. Kakak sudah beri nasihat sama kamu tapi kamu tetap saja seperti ini."
Nayla kini membaringkan tubuh adiknya ke atas kasur, melihat Nina terus bergumam karena efek alkohol yang baru saja ia minum.
Sang kakak yang berdiri melihat kelakuan sang adik, hanya bisa mengelus dada.
Ia tak tahu, harus mendidik Nina dengan cara apa lagi, Nayla kini pergi dari kamar adiknya untuk segera menemui Akbar, dia ingin meminta maaf kepada suaminya itu.
" Bagaimana aku menjelaskan semuanya pada Akbar, Nina sudah membuat aku malu."
Membuka pintu kamar, Akbar sangat tertidur membelakangi Nayla, sepertinya Akbar marah besar, karena Adik ipar itu tiba-tiba saja masuk tanpa mengetuk pintu dengan keadaan mabuk.
Nayla yang melihat Akbar membelakangi tubuhnya, hanya bisa menghembuskan napas.
Saat ini bukan waktu yang tepat untuk Nayla meminta maaf pada sang suami.
Nayla mulai membaringkan tubuhnya untuk segera tidur, karena besok ia akan memberi pelajaran kepada adiknya yang tidak pernah menuruti perkataannya saat itu.
Pagi hari, Nayla terbangun dari tidurnya. Ia menatap ke arah samping tempat tidurnya, tak ada sosok Akbar yang selalu menyapanya setiap pagi.
Sosok itu seketika menghilang begitu saja, Nayla terbangun dengan posisi duduk, dia melihat jam di dinding, sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi.
Nayla menatap layar ponselnya, ternyata ia bangun kesiangan, dimana Nayla mendapatkan pesan dari Akbar.
(Aku berangkat kerja.)
Akbar hanya mengirim pesan singkat pada Nayla, membuat kekecewaan tumbuh dari hati wanita berambut lurus itu.
Nayla mulai melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi, ia merasa bersalah pada dirinya, karena tak bisa mendidik sang adik.
Selesai membersihkan badan, Nayla mulai berjalan menuju ke kamar sang adik.
Setelah sampai di kamar Nina, Nayla terus mengetuk ngetuk pintu kamar yang terkunci.
Pada akhirnya Nayla berteriak memanggil sang adik, berharap jika adiknya itu muncul saat itu juga.
__ADS_1
"Nina, bangun. "
Beberapa kali mengetuk-ngetuk pintu, dan berteriak memanggil Nina, anak itu tak kunjung bangun dan juga membuka pintu kamarnya.
"Ya ampun Nina, kamu benar-benar sudah membuat kakak kesal. "
Nayla berusaha tetap tenang, hingga dimana ia mencari kunci cadangan untuk segera membuka pintu kamar adiknya.
"Akhirnya, aku mendapatkan kunci cadangan ini."
Nayla segera membuka pintu kamar adiknya, di mana Nina masih tidur dengan posisi mulut yang mengagah.
Nayla berusaha mencari cara untuk membangunkan adiknya itu yang pemalas.
Nayla melihat ada gelas besar berisi air, yang memungkinkan air itu bisa membangunkan sang adik.
Memegang gelas itu hingga mengguyurkan pada wajah adiknya, sontak Nina terbaru dengan berteriak. " banjir, banjir. "
Melihat sang adik yang berteriak seperti itu, membuat Nayla ingin sekali menertawakan gadis berumur 18 tahun yang tinggal di rumahnya.
Duduk di ranjang tempat tidur dengan keadaan basah kuyup, Nina mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangan.
Iya melihat sang kakak sudah berada di hadapan, berdiri dan berkata, " Kakak ini apa-apaan sih, Kenapa kakak malah mengguyur wajah Nina. "
"Kenapa jam segini kamu belum bangun? Bukannya sekarang kamu ada jadwal kuliah."
Pertanyaan sang kakak membuat Nina membalikkan badan dan membaringkan lagi tubuhnya.
"AHK, malas, Nina mau tidur!"
Jawaban yang membuat Nayla kini menarik tubuh adiknya.
"Bisa bisanya, kamu membuat kakak kesal, " Nayla terlihat begitu emosi pada sang adik, aku ini menarik tangan adiknya itu, hingga terjatuh ke atas lantai.
"Kak Nayla, " Nina bangkit menghadap ke arah Nayla dengan perasaan kesal.
"Apa." Nayla berusaha bersikap tegas dihadapan adiknya dengan harapan jika sang adik akan sadar dari kesalahanya itu.
Nina yang masih ingin tinggal di rumah sang kakak, kini tersenyum tipis pergi dari hadapan Nayla yang tengah berkacak pinggang ia bergegas mengambil handuk untuk segera mandi.
__ADS_1
"Hehe, Nina mandi deh. "