AIR MATA DARI IBU MERTUA

AIR MATA DARI IBU MERTUA
Bab 17


__ADS_3

Akbar hampir saja melayangkan kepalan tangan pada wajah kakak keduanya itu, " tahan emosi kamu, mas. Dia kakak kamu, " Perkataan lembut dari mulut sang istri, kini menyadarkan Akbar. Mengusap perlahan wajah yang penuh amarah dan beristighfar beberapa kali. 


Telunjuk tangan dari Afdal kini menyentuh dada bidang sang adik," kamu ini hanya anak penyakitan yang dulunya dikasihani. "


Deg …. Mendengar hal itu membuat Akbar tak mengerti. Ia mengerutkan dahinya, berusaha tetap tenang dan mencerna perkataan dari sang kakak. 


"Sudah, kalian jangan ribut. " timpal bapak yang terus mengeluarkan suara batuknya. 


Akbar menurunkan rasa ego mendekat pada sang ayah, " Bapak ini minum. " Memberikan air minum dengan sigap pada sang ayah membuat Budiarto semakin tenang. 


"Sudah Afdal duga, pasti bapak selalu begitu. Saat kita membahas anak penyakitan ini," Pekik Afdal seperti tak menerima dengan perlakuan Budiarto terhadapnya. 


"Cukup Afdal, jangan bahas hal itu. Asal kamu tahu nak, kasih sayang bapak ini begitu besar pada kalian semua, tak ada namanya pilih kasih, " Tegas Budiarto,  berharap anak keduanya itu mengerti. 


"BOHONG." Afdal seakan tak ingin mendengar penjelasan lagi dari mulut sang ayah. 


"Tunggu, Afdal, bapak belum menyelesaikan penjelasan bapak, " Ternyata Afdal pergi menarik tangan istrinya, terlihat perlakuannya begitu sama dengan anak pertamanya Ardan. 


Lisa berusaha menepis tangan suaminya, namun tak bisa. Karena genggaman tangan Afdal begitu erat sampai membuat lengan Lisa memerah. 


Akbar berusaha menahan sang ayah yang ingin mengejar Afdal, " sudah pak, biarkan Kak Afdal tenang saja. "


Air mata mengalir dengan begitu deras, hati dan perasaan serasa hancur, Akbar terus menenangkan sang ayah dari rasa sedih yang menusuk hatinya. 


"Bapak tenang ya. " 


Memeluk lelaki tua itu, menguatkan hatinya.


Sampai keadaan sang ayah mereda, pelukan itu dilepaskan begitu saja. 


Akbar duduk di kursi sambil memandangi wajah sang ayah, ia tak tahan sampai kedua matanya berkaca kaca. 


"Coba bapak perlahan jelaskan, apa maksud kesalah pahaman di masa lalu. Sampai Kak Ardan dan Kak Afdal membenci Akbar, sampai sampai mereka membenci Akbar dan tak ingin melihat Akbar bersama dengan bapak?"

__ADS_1


Pertanyaan Akbar, membuat Budiarto, menepuk bahu anaknya, " dulu waktu kamu kecil, kamu mengidap penyakit jantung bawaan dari lahir. Bapak dan Ibu berusaha semaksimal mungkin menyelamatkan kamu, berharap kamu hidup dan mendapatkan cangkokan dari orang lain. "


Akbar baru tahu akan dirinya sewaktu masih bayi begitu menderita. Budiarto meneruskan perkataan nya lagi, " Sampai bapak sering mengabaikan kedua kakak kalian, Ardan dan Afdal, bapak tak punya waktu sedikitpun untuk mereka berdua karena bapak fokus mengobati kamu, hanya karena ingin melihat kamu sembuh. "


Lelaki tua itu mengusap pelan air matanya, ia merasakan betapa perihnya hidup untuk memperjuangkan Akbar. 


"Sebenarnya kasih sayang bapak sama pada kalian bertiga, tapi anggapan kalian karena bapak terus memperhatikanmu Akbar, merek menyangka jika bapak itu pilih kasih."


Akbar dengan seksama mendengar cerita dari sang ayah, " Sampai bapak berusaha meyakini mereka dan bapak serahkan Ardan dan Afdal untuk diasuh oleh baby sitter bernama Luna. "


Mendengar nama Luna membuat Edwin merasa tak asing. " Luna?"


"Ya, dia gadis yang bekerja di rumah bapak. Dan dia juga bekas mantan pacar bapak!"


Akbar menyandarkan punggungnya setelah mendengar hal itu," lantas kenapa Bapak mempekerjakan dia, kalau bapak sudah tahu dia mantan bapak?"


"Karena rasa kasihan, yang malah mengakibatkan masalah!"


"Apa bapak selingkuh dengan dia?"


"Lantas kenapa ada masalah. "


"Semua itu berawal dari Luna, dia ternyata balas dendam terhadap bapak, sengaja mencari kesempatan di saat orang orang sedang tidak ada di rumah."


"Kesempatan apa maksud bapak.  Dan apa ibu tahu jika Luna mantan bapak?"


"Luna menggoda bapak, dan ibu tahu Luna itu hanya sahabat waktu bapak sekolah, ibu tak tahu jika bapak sempat pacaran!"


Cerita sang ayah begitu rumit di dengar oleh  Budiarto, sampai ia berusaha tetap bersikap lembut, agar sang ayah tidak tegang dan takut menceritakan cerita selanjutnya. 


"Jujur saja, saat Luna menggoda bapak, bapak berusaha menolak dan memecat dia saat itu juga. "


"Lantas apa tanggapan ibu, kenapa bapak tiba tiba saja memecat pengasuh bernama Luna itu. "

__ADS_1


"Ibu kamu malah menganggap jika Luna tidak pantas dipecat, karena kinerjanya yang bagus, sampai bapak beterus terang. Kalau dia matan bapak di masa lalu dan dia juga hampir menggoda bapak. "


"Pengasuh beranama Luna itu ternyata jahat juga, "


"Itu semua belum seberapa, saat penjelasan itu bapak layangkan, Luna malah sengaja menjebak bapak, mempelihatkan poto poto yang tak bapak sadari. "


"Sebuah poto apa?"


"Telanjang, bapak juga tidak tahu sejak kapan dia menjebak bapak. Saat itulah ibu murka dan memecat Luna. Tapi Luna malah mengaku jika anak yang ia kandung adalah anak bapak!"


Menceritakan hal itu membuat Budiarto bersedih, " ibu hampir saja drop, karena mendengar fitnahan Luna, sampai dimana bapak menyakinkan ibu. Tapi ibu tetap tak percaya, sampai bapak bersumpah. "


Budiarto seperti berat menceritakan masa lalu Luna, menahan isak tangis, " ibu membuat perjanjian pada Luna, jika bayi itu lahir. Dan benar benar bayi Bapak .... "


Suara Budiarto tiba tiba berhenti, ia begitu bersedih mengatakan hal itu, " ibu akan melepaskan bapak, tapi jika bayi yang dikandung Luna bukan bayi bapak, jantuh bayi itu akan dialihkan pada Akbar. "


Deg ....


"Terdengar begitu sadis, tapi itu semua pembuktian, dan Luna setuju dengan hal itu. Dimana bapak melihat ada raut wajah kekecawaan dari wajah Luna. "


"Lantas semua terbukti bapak tidak bersalah dan Pengasuh bernama Luna itu mengakui semuanya. "


"Ya dia mengakui semuanya, sampai ajal tiba tiba menjemputnya, dan Luna mati dalam keadaan sudah melahirkan. "


"Lantas Kak Ardan dan Kak Afdal berubahnya karena apa?"


"Ternyata sebelum kematian Luna, wanita itu sudah mencuci otak Ardan dan Afdal untuk membenci kamu berulang ulang, yang mengakibatkan kesalah pahaman. "


Budiarto mengusap air matanya, " bapak berusaha membuat mereka tak terpancing, tapi karena mereka sudah sering di nasehati tidak baik, membuat mereka kesal dan menjadi anak yang bandal. Bapak mengira jika setelah dewasa mereka akan berubah, tapi pada kenyataanya mereka malah semakin membenci bapak. "


Akbar mengerti sekarang, " oh ya pak, bayi yang mengantikan jantungnya untuk Akbar sekarang dia ada dimana?"


"Entahlah, bapak sudah tidak pernah bertemu lagi dengannya setelah Luna meninggal dunia, Wina menyerahkan bayi itu pada panti asuhan!"

__ADS_1


Budiarto kini berucap pada anak ketiganya, " kamu jangan terlalu memikirkan anak itu, sekarang kamu jalani hidup kamu, nikmati saja. Karena dia tidak akan mengigatmu atau balas dendam."


__ADS_2