
Wanita tua itu memperlihatkan wajahnya di hadapan Afdal. Di mana keduanya terkejut saling menatap satu sama lain.
"Ibu." Menggaruk belakang kepala yang tak terasa gatal, Afdal terlihat menyesal karena sudah membentak ibunya sendiri.
"Afdal, berani kamu membentak ibu yang sudah tua ini," Kedua mata Wina membulat, tongkat kayu itu langsung dipukulkan pada punggung anak keduanya. Beberapa kali.
"Aduh, bu sakit." Rengek Afdal, tak tahan dengan pukulan tongkat dari wanita tua yang menjadi ibunya itu.
Wina kini menghentikan aksinya, " Siapa yang suruh kamu membentak Ibu, hah. "
Afdal mulai berdiri tegak di hadapan ibunya, iya berusaha menghentikan amarah sang ibunda yang terus mengoceh dan meluap-luap. "
"Bu, malu bu dilihat orang, jangan teriak teriak. Afdal bukan anak kecil lagi, " bisik Afdal pada ibunya sendiri.
Namun Wina yang memang sudah tua, tak bisa mengendalikan emosinya sendiri, ia tak peduli dengan nasihat yang terlontar dari mulut anak keduanya.
"Ibu tak peduli sekarang kamu minta maaf sama ibu, kalau tidak ibu akan berteriak, " Wina sudah membuka mulutnya dengan begitu lebar, ia memberikan aba aba pada anak keduanya itu.
Afdal yang tak ingin dipermalukan, berusaha menghentikan aksi ibunya itu, " Stop ya bu, berhenti. Afdal sekarang minta maaf sama ibu. "
Wina melipatkan kedua tangannya, ia berusaha berdiri tegak, " gimana ibu nggak dengar?"
Afdal memperlihatkan raut wajah sedihnya, " Afdal minta maaf. "
Wina langsung menyodorkan punggung tangannya, agar anak keduanya langsung mencium punggung tangan Wina.
"Cepat cium, " Afdal yang hanya bisa pasrah dan menahan rasa malu, kini mencium punggung tangan ibunya.
Lelaki berjas biru muda itu, kini membantu sang istri untuk berdiri, " ayo sayang. "
Lisa masih terlihat kesakitan, karena badannya langsing membentur tembok, mengakibatkan punggung terasa sakit begitupun dengan tumit tangannya.
"Lain kali jangan asal bentak, masih untung ibu coba kalau orang lain, " Ketus Wina memberitahu anaknya dengan nada terdengar emosi.
"Ibu ini kenapa? Tumben sekali marah marah, biasanya juga santai santai saja, " balas Lisa.
Wanita tua itu berusaha menenangkan hati dan pikirannya, " Semua ini gara gara bapak kamu!" jawab wanita tua itu, pergi dari hadapan Afdal dan Lisa.
__ADS_1
Melihat kepergian wanita tua itu, membuat Lisa berusaha menahannya, namun karena langkah kakinya yang memakai tongkat begitu cepat, membuat Lisa tak berdaya dan tak bisa mengejarnya lagi.
Begitupun dengan Afdal, sampai dimana Lisa menahan tangan suaminya, " Sudah jangan kejar lagi mama kamu itu, sepertinya penyakitnya sedang kumat. "
"Penyakit?"
Lisa menganggukkan kepala, " ya, penyakit gilanya!"
"Hust, " Menempelkan telunjuk jari tangan pada bibir Lisa, membuat Afdal kini berucap kembali, " dia itu ibuku, kamu jangan seenaknya dong, Lisa. "
"Ya habisnya, mama kamu semakin tua semakin nyebelin, " ketus Lisa berterus terang pada Afdal.
Mengacak rambut dengan kasar, Afdal kini menjawab, " sudahlah aku malas berdebat dengan kamu. "
Afdal kini pergi meninggalkan istrinya, terlihat Lisa, mengejar suaminya itu dengan berteriak dan memanggil manggil Afdal," Heh, tunggu aku. "
Afdal tak peduli dengan teriakan Lisa, ia meneruskan langkah kakinya, untuk segera mengejar sang suami.
Sampailah Afdal di ruangan sang ayah, ia melihat lelaki tua itu tengah terbaring lemah diatas ranjang tempat tidur, ditemani oleh Aminah pembantu yang sudah lama bekerja di rumah Budiarto.
" Waalaikumsalam, " keduanya menjawab salam dari Afdal.
Aminah bergegas mengambil bingkisan dari tangan Afdal, pembantu itu langsung menaruh bingkisan itu di atas meja dekat ranjang tempat tidur majikan laki-lakinya.
Menyiapkan tempat duduk agar Afdal bisa mengobrol dengan," silahkan Tuan Afdal."
Duduk di kursi yang sudah disediakan oleh Aminah, Afdal perlahan menatap raut wajah lelaki tua yang menjadi ayahnya.
Ada rasa benci dari lubuk hati yang paling dalam ketika lelaki yang sudah membesarkannya terkulai lemah di atas ranjang tempat tidur.
Melipatkan kedua tangan, Afdal berusaha menjadi sosok anak yang terlihat peduli pada sang ayah.
"Gimana keadaan bapak sekarang, apa ada yang bapak rasakan?" Pertanyaan Afdal membuat lelaki tua itu tiba tiba batuk.
Afdal mengibas-ngibaskan tangannya di depan sang ayah, seakan takut jika ketularan penyakit yang diderita ayahnya itu.
__ADS_1
"Pak, Kalau batuk itu tutup dong mulutnya, virus. "
Memberitahu dengan nada sedikit Ketus, membuatmu Budiarto sudah terbiasa, " Kalau kamu memang tidak mau terkena virus, ngapain kamu datang ke sini?"
Lisa memukul pelan bahu suaminya, memperlihatkan kedipan mata agar Afdal bisa lebih ramah dan sopan di hadapan sang ayah.
Menghembuskan napas," Ya sebagai seorang anak, Afdal datang ke sini karena peduli pada bapak. kalau tidak peduli ngapain datang. "
Tetap saja keangkuhan dan kesombongan anak kedua Budiarto tetap terlihat dan merekat, sifat itu tak hilang begitu saja.
"Bapak tahu, kamu hanya peduli dengan kematian bapak dari pada kesembuhan bapak!"
Ucapan lelaki tua itu sama dengan apa yang ada dipikiran Afdal," Mm. "
Budiarto meneruskan perkataan, " Kalau memang kamu merasa risih dengan bapak, sebaiknya pergi saja, bapak tak butuh anak yang tak pernah menghargai bapaknya sendiri."
Lisa berusaha mencairkan suasana," Pak, maafkan perkataan Mas Afdal ya, dia memang suka begitu kalau cape dan pulang kerja. "
Budiarto hanya menatap sekilas ke arah Lisa, tak menjawab perkataan menantu keduanya.
Sampai suara yang dinantikan Budiarto terdengar, " Akbar. "
Akbar datang dengan membawa Nayla, wanita yang menjadi istrinya itu tersenyum dan mencium punggung tangan sang ayah mertua.
"Gimana keadaan bapak?"
Pertanyaan lembut Nayla membuat lelaki tua itu senang dan nyaman," Alhamdulilah agak mendingan!"
"Syukur kalau begitu, ini Nayla belikan bapak buah buahan," Senyuman Nayla tak pernah hilang dari pandangan Budiarto, istri anak ketiganya itu selalu bisa membuat suasana sang mertua menjadi senang.
"Padahal kamu tak usah repot repot membelikan bapak buah buahan, " ucapan Budiarto, membuat Nayla menjawab, " Tak apa pak. "
Lisa yang melihat pemandangan yang kurang menyenangkan bagi penglihatannya, merasa kesal, ia kini menggerutu kesal dalam hatinya. " Sok cari muka, bisa bisanya bapak lebih ramah dan terlihat nyaman dengan istri Akbar yang buruk rupa itu. "
Akbar menatap ke arah kakak keduanya, ia kini bersalaman dengan Afdal. Dimana lelaki itu menghempaskan tangannya.
"Tak perlu bersalaman, tanganmu kotor. Karena sudah pegang bapak. "
__ADS_1
Perkataan Afdal membuat Akbar menggelengkan kepala, " bisa bisanya kakak mengatakan hal itu, bapak kan ayah kita sendiri, orang yang sudah membesarkan kita sampai kita sukses seperti sekarang. "
Kedua tangan yang merogoh saku celana, membuat Afdal kini membalas perkataan adik bungsunya, " tahu apa kamu sama bapak? Hah?"