
Budiarto melihat anaknya yang begitu lancang mengambil ponsel, yang masih terhubung panggilannya dengan Akbar, membuat lelaki tua itu membulatkan keduanya matanya. " apa yang sudah kamu lakukan itu tidak sopan sekali Ardan?"
Ardan tak mendengarkan perkataan ayahnya sama sekali, ya langsung melemparkan ponsel Aminah ke atas lantai. Lalu pergi dengan meraih tangan Aisyah.
"Ardan."
Panggilan Budiarto tak didengar sama sekali oleh anak pertamanya, Ardan meneruskan langkah kakinya.
"Anak itu, benar-benar anak tidak tahu diri," Gerutu Budiarto mengatai anaknya sendiri.
Wina yang melihat hal itu, kini menghentikan perkataan suaminya, " sudah cukup, jangan Bapak ucapkan perkataan kasar terhadap anak bapak sendiri."
Wina terdengar membela anak pertamanya, sampai Budiarto menjawab dan membantah ucapan istrinya, " Bela terus anak tidak tahu diri itu, bu. Ibu ini gimana sih, seharusnya menegur anak yang melakukan kesalahan bukan membiarkan begitu saja."
"Yang salah itu bapak bukan Ardan, " bentak Wina di hadapan suaminya.
"Kenapa ibu malah menyalahkan bapak, bukannya sudah jelas yang salah itu Ardan sendiri, dia yang sudah membuat kebohongan." Jelas Budiarto, tak membuat Wina berpihak pada suaminya.
Wanita tua itu tetap membela anak pertamanya, " Ardan berbohong seperti itu, karena bapak itu tak pernah menjadi Ayah yang adil untuk anak-anaknya. "
Selalu perkataan itu saja yang didengar oleh Budiarto, " Ibu kenapa jadi berubah seperti ini, bukannya dulu ibu selalu mendukung perkataan bapak. Tapi sekarang kenapa sifat ibu berubah drastis, Ibu lebih membela orang yang salah daripada orang yang benar. "
"Ibu tidak pernah berubah, yang merubah ibu itu adalah Bapak dan juga Akbar, andai saja kalian itu menurut, kemungkinan Ibu tidak akan menjadi sosok wanita seperti sekarang yang gampang sekali berpihak pada Ardan."
Budiarto berusaha mengingatkan istrinya untuk tidak terlalu memanjakan Ardan yang sudah ketahuan selalu berbohong dan juga melakukan kesalahan, Budiarto memohon kepada istrinya untuk bisa membedakan mana yang salah dan juga mana yang benar.
"Bu, sadar hanya karena Akbar menikahi Nayla. Ibu jadi sebenci ini pada bapak dan juga Akbar. "
Wina kini diam membisu, wanita tua itu kini melangkahkan kakinya menggunakan tongkat, untuk pergi dari ruangan suaminya.
" Sudahlah Ibu mau pulang. Biar Bapak sama Aminah di sini, Ibu malas menemani orang yang keras kepala seperti bapak."
Budiarto hanya menggelengkan kepala, mengusap perlahan dada bidang. Di saat ia melihat kepergian sang istri yang sudah jauh dari ruangannya.
" Mudah-mudahan istriku itu cepat sadar, jika apa yang ia lakukan adalah salah besar, membela yang salah dan juga mendukung kebohongan yang dibuat-buat oleh Ardan."
__ADS_1
Aminah berusaha membujuk lelaki tua itu agar tidak bersedih, " bapak yang sabar, ini mungkin ujian dari Allah, supaya Iman bapak itu semakin kuat."
"Amin, Aminah Kamu memang anak yang baik, terima kasih sudah menghibur bapak. "
Aminah tersenyum dan menganggukkan kepala," sama-sama Pak, Saya hanya ingin menghibur bapak agar Bapak tidak bersedih."
"Iya, Aminah. Kamu memang anak yang baik, Bapak merasa mempunyai anak perempuan, ketika kamu selalu ada di samping bapak."
*******
Ardan yang berjalan begitu cepat dengan menarik tangan istrinya. Membuat Aisyah merasa kewalahan, hampir saja wanita berhijab itu terjatuh karena tarikan tangan sang suami yang begitu kuat.
"Ardan berhenti. "
"Ardannnn …. "
Berulang kali sampai Aisyah berteriak, Ardan melepaskan tangan istrinya begitu saja. dimana Aisyah tersungkur jatuh karena tak bisa menahan tubuhnya.
"Ahk."
Aisyah mengurutkan bibirnya, " Kamu ini gimana sih tidak bisa hati-hati, tangan dan lutut jadi sakit. "
Ardan merasa bersalah mendengar keluhan dari mulut istrinya itu, " maafkan aku ya sayang."
Aisyah hanya menganggukkan kepala dengan bibirnya yang masih mengkerut, perlahan Ardan berusaha membantu istrimu untuk bangkit.
Namun saat Aisyah berdiri, iya malah meringis kesakitan, " Ahk, sakit sayang. "
"Pelan pelan sayang, sepertinya kaki kamu itu keseleo. "
Dengan terpaksa Ardan membopong tubuh istrinya, untuk duduk di kursi, " Kamu tahan sebentarnya, biar aku pijit kaki kamu yang keseleo ini. "
Tangan Ardan perlahan meraba punggung kaki istrinya, sampai iya tak segan-segan memijat keras kaki Aisyah yang keseleo.
Aisyah menjerit dan menangis karena kesakitan, " Sakittt …."
__ADS_1
"Maafin aku ya sayang. "
Tanpa mereka sadari, Afdal datang dengan Lisa, mereka kini menyapa sang kakak.
"Kak Ardan, kalian berdua ngapain duduk di sini? Lagi minta sumbangan ya?" tanya Afdal sembari mengajak bercanda kedua Kakaknya itu.
" Sembarangan kamu kalau bicara!" balas Ardan terdengar sedikit membentak.
Afdal memperlihatkan kedua telapak tangannya, " Waw, santai dulu dong Kak jangan emosi seperti itu. Kita kan hanya bercanda? Langsung dimasukin hati begitu saja. "
Ardan yang masih terlihat emosi, berusaha membantu istrinya untuk bangkit," bercanda sih bercanda, tapi jangan di saat situasi seperti ini, bukannya lucu tapi malah membuat kesal. "
Afdal menepuk-nepuk bahu kakaknya itu, " tumben amat sih marah-marah, biasanya juga selalu happy. "
Aisyah hanya diam mendengar perkataan Afdal dan juga Ardan, " kalau tanya sendiri pada bapak. Kenapa mood kita seperti ini sekarang?"
"Loh, kenapa harus tanya sama bapak, memang Bapak pesan menebak raut wajah kita, kak Ardan ini aneh-aneh aja, " ucap Afdal, membuat suasana di sekeliling Ardan merasa tak nyaman.
Ardan kini meraih bahu istrinya untuk segera pergi dari hadapan sang adik, " Ayo Aisyah kita pergi saja dari rumah sakit ini?"
Afdal dan Lisa saling menatap satu sama lain mendengar perkataan sang kakak. " Kenapa kalian malah pergi, lalu bapak bagaimana?"
"Kamu lihat saja keadaan bapak bagaimana, aku malas, ingin pulang!" jawab Ardan melangkahkan kakinya pergi dari hadapan Afdal dan juga Lisa.
" Mereka itu kenapa sih. Kok aneh banget, sayang?" tanya Lisa, membuat Afdal mengangkat kedua.
"Entahlah, padahal mereka sendiri yang menyuruh kita datang melihat keadaan bapak, tapi sekarang malah pergi begitu saja!" Jawab Afdal meraih bahu istrinya untuk segera menemui Budiarto.
"Sudahlah, kita tak usah pedulikan mereka berdua, sepertinya ada satu masalah yang tidak kita ketahui, jadi sebaiknya kita cepat menemui Bapak sekarang juga, " ucap kembali Afdal saat berjalan menuju ke ruangan Budiarto.
Mereka dengan santainya berjalan untuk menemui Budiarto di dalam ruangannya, sampai di mana Lisa tak sengaja menabrak sosok wanita tua yang terlihat berjalan cepat menggunakan tongkat kayu.
"Aduhh sakit sekali, " rengek Lisa, terjatuh ke atas lantai, tanpa Afdal sadari, ia langsung memarahi wanita tua yang berada di hadapannya.
"KALAU JALAN BISA TIDAK PAKE MATA."
__ADS_1