AIR MATA DARI IBU MERTUA

AIR MATA DARI IBU MERTUA
Bab 18


__ADS_3

Akbar berusaha tidak bertanya lagi, ia takut jika keadaan sang bapak malah semakin drop, membuat lelaki tua itu menjadi semakin tertekan dengan sikap anak anaknya.


Akbar memegang punggung tangan Budiarto dengan penuh kasih sayang seorang anak kepada ayahnya," Bapak, sekarang jangan banyak mikir yang aneh aneh ya, sebaiknya bapak istirahat."


Lelaki tua itu menganggukkan kepala setelah mendengar nasehat dari anak ketiganya itu, " Iya Akbar, kepala bapak terasa pusing. Mungkin dengan bapak tidur, kesehatan bapak memulih."


Aminah tak tega melihat lelaki tua itu menderita karena ulah anak anaknya, sampai ia kini menunjukkan ponselnya. Di saat Pak Budiarto terlelap tidur. 


"Sebenarnya saya bukan bermaksud mengadu domba keluarga Pak Budiarto, saya hanya ingin memperlihatkan bukti jika bapak jatuh karena didorong sengaja oleh Nyonya Aisyah, dan ini buktinya. "


Mendengar perkataan Aminah, membuat Nayla terkejut, ia tak menyangka jika kakak iparnya tega melakukan hal yang akan membuat nyawa sang mertua melayang. 


Akbar kini meraih ponsel Aminah, melihat sebuah Video yang tak sengaja direkam. 


Kedua mata Akbar membulat. 


"kenapa Kak Aisyah begitu tega pada bapak. "


Akbar menatap raut wajah lelaki tua itu, " Nayla, apa kamu setuju jika bapak kita bawa ke rumah saja. Biar kita urus sama sama. "


Nayla selalu menurut ia menjawab," Nayla juga berpikir seperti itu mas, soalnya kasihan juga mental bapak, kalau diperlakukan tidak baik oleh Kak Ardan dan juga Kak Afdal. "


Aminah menimpal perkataan keduanya, " saya setuju dengan niat Mas Akbar, kasihan bapak selama ini menderita terus menerus."


*******


Aisyah dan Ardan baru saja pulang ke rumah, mereka kini berdebat hebat, " Kamu kenapa bisa ceroboh, bisa bisanya bapak tahu kalau kamu yang mendorong bapak sampai jatuh."


"kenapa kamu malah menyalahkan aku, bukannya itu semua rencana kami, aku hanya menurut dan melakukannya, ya kalau ketahuan. Harusnya kamu mencari alas ke apa ke." Aisyah wanita bercadar panjang itu tak ingin kalah dengan sang suami. Ia mengeluarkan kekesalan. 


"Ahk, kamu ya saja yang bodoh tidak hati hati," Pekik Ardan, membuat Aisyah tak bisa menahan emosinya, ia kini menampar pipi Ardan dengan begitu keras. 


Pakkk ….


Tamparan yang benar benar menyakitkan, membuat Ardan malah mencekik Aisyah, " Kamu ini, bisa bisanya menamparku. Kurang ajar. "


Aisyah hampir kehilangan nyawanya, karena cekikan Ardan yang begitu kuat, membuat ia tak berdaya lagi. 


"Mas Ardan, lepaskan. "


Berusaha menghindari cekikan itu, kini sosok seorang pembantu yang bekerja di rumah Aisyah, menghentikan perdebatan keduanya. 

__ADS_1


"Hentikan tuan. "


Ardan tak bisa mengontrol diri sampai, dimana sang pembantu berusaha menendang perut Ardan. 


Brak ….


Akhirnya cekikan itu terlepas begitu saja, Aisyah bisa terbebas dari Ardan yang terlihat begitu Arogan. 


"Ayo nyonya. "


Menatap sekilas ke arah Ardan, terlihat jika Aisyah begitu kesal dengan sifat suaminya yang tak pernah berubah. 


kepergian istrinya itu membuat Ardan mengacak rambutnya dengan kasar, ia tampak berteriak," Akh sialan, rencanaku gagal, bisa bisanya Aisyah ceroboh seperti itu."


Ardan duduk di atas sofa, berharap jika amarahnya itu mereda. 


Hingga suara ponsel berbunyi, "Afdal, ada apa dia menelepon. "


"Halo, Kak Ardan. Ada dimana sekarang?" Pertanyaan Afdal membuat Ardan kini menjawab," Di rumah! Memangnya kenapa. "


"Saat aku masuk menemui bapak, lelaki tua itu lebih merespon pada Akbar dari pada aku. "


"Jadi apa maksud kamu mengatakan hal itu."


"Heh, sebelum. Lu ngomong kayak gitu, kakak sudah memikirkannya."


"Memikirkannya bagaimana, kamu selalu gagal juga. "


"Diam lu, jangan bikin emosiku naik. "


Mendengar perkataan Afdal, malah membuat Ardan semakin emosi, demi menyehatkan mentalnya Ardan mematikan panggilan telepon dari sang adik. 


Tut …. Afdal yang mulai bersuara kini menggelengkan kepala," ya malah di matiin."


Ardan berusaha merebahkan tubuhnya diatas kasur, dengan menenangkan diri, " Apa dengan cara membunuh Akbar bisa membuat harta warisan itu jatuh ke tanganku?"


Ardan mulai bagkit kembali pada atas sofa, ia merasa jika dirinya harus melakukan hal seperti itu, agar bisa membuat harta warisan sang ayah jatuh ke tangan nya. 


"Ini ide yang cukup lumayan ekstrim, bisa dilakukan dan berakibat fatal atau menguntungkan. " Gumam hati Ardan. Lelaki berbadan kekar itu, kini berjalan menuju ke kamar istrinya yang ternyata sedang kesakitan. 


"Aisyah," terkejut melihat sosok Ardan yang sudah  berdiri dibalik pintu  kamarnya, membuat  Aisyah kini berucap, " menyingkir, jangan mendekat. "

__ADS_1


Sepertinya Aisyah terlihat trauma dengan kejadian tadi, ia mengusap ngusap lehernya dan berkata," aku tidak mau melihat kamu lagi."


Ada rasa menyesal melihat sang istri yang terlihat takut kepadanya, Ardan kini semakin dekat melihat telapak tangannya. 


Mengacak rambut dengan kasar, berulang ulang dan berkata, "bodoh, bodoh. Apa yang kamu lakukan itu, sangatlah bodoh."


Ardan kini memeluk tubuh sang istri dengan penuh erat, mendekat dan berkata, " Maafkan aku, istriku. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. "


Seorang wanita walau tersakiti ia akan luluh dengan perkataan maaf dari suaminya, sampai terdengar tangisan dan rasa bersalah Ardan. 


"Maafkan aku istriku. "


"Sudah cukup, jangan menangis lagi. Aku sudah maafkan kamu, jangan ulangi lagi ya." ucap Aisyah membuat  Ardan tersenyum, " Kamu memang istri terbaikku."


Aisyah kembali melayangkan senyumannya, sampai semua kekecewaan itu hilang di depan mata. 


Ardan perlahan mengusap pelan pipi istrinya, menghilangkan semua bekas air mata yang  mengalir. 


"Sekarang kamu istirahat ya sayang."


Ardan mengecup jidat Aisyah dengan penuh kehangatan dan kasih sayang seorang suami pada istrinya. 


********


Wina sampai di rumah Ardan, wanita tua itu mengetuk ngetuk pintu rumah anak pertamanya.


"Ardan, buka nak."


Wina berharap jika anak pertamanya, membuka pintu untuknya, " Ardan, buka nak."


Ardan dan juga Aisyah mendengar suara Wina, mereka saling menatap satu sama lain dan berkata, " aku mendengar suara ibu."


Mereka kini bangkit dari ranjang tempat tidur untuk menghampiri suara Wina sang ibu.


Perlahan membuka pintu rumah dan benar saja, orang yang memanggil manggil adalah sang ibunda.


"Ibu, loh datang ke sini, sama siapa?" tanya Aisyah terkejut dengan kedatangan mertuanya. Ia kini mencium punggung tangan sang ibunda.


"Ibu naik taksi, ibu dari tadi ngejar kalian, ibu tidak percaya sama sekali dengan perkataan bapak kamu!" jawab Wina, berucap panjang lebar dihadapan Aisyah dan juga Ardan.


Sebenarnya mereka terlihat risih dan tak suka jika ibu datang ke rumah, yang ada malah menyusahkan mereka di rumah.

__ADS_1


"oh ya, Ardan. Bolehkah ibu menginap di rumah kalian?" pertanyaan Wina membuat keduanya saling menatap satu sama lain.


"Sebenarnya kami mau saja, tapi .... "


__ADS_2