
Belum perkataan Aisyah terlontar semuanya, wanita tua itu langsung masuk begitu saja, membuat Ardan menahan rasa kesal karena tak suka dengan ibu yang tinggal di rumahnya.
Wina duduk di atas sofa, terlihat jika ia seperti tuan rumah, yang tumpang kaki begitu saja.
Aisyah melirik ke arah sang mertua, merasa tak suka, ia kini berucap dengan nada pelan di hadapan sang suami, " Mas, aku nggak mau tahu ya, kamu usir ibu kamu. Atau kamu tidak akan mendapatkan jatah malam ini. "
Ardan mendengar perkataan Aisyah, membuat ia pusing, perlahan kakinya melangkah mendekat pada sang ibunda. " Bu, bukannya bapak lagi sakit, kenapa ibu tidak temani bapak. Kasihan dia. "
"Malas, ibu lebih baik tinggal di rumah kamu, dari pada ngurusin bapak kamu yang sakit sakitan itu, " ketus Wina, membuat Ardan kebingungan sendiri. Harus dengan cara apalagi, agar Ardan bisa mengusir ibunya itu.
"Bu."
Panggilan Ardan membuat wanita tua itu bangkit dari tempat duduknya, ia mencari tempat tidur untuk merebahkan tubuhnya dari rasa lelah.
"Ardan, ibu mau istirahat, jadi sekarang kamu antarkan ibu ke kamar, " ucap Wina, pada Ardan. Mau tidak mau, Ardan kini mengantarkan sang ibunda ke kamar tamu.
Dimana Aisyah yang melihat hal itu geram, mendekat dan menepuk bahu Ardan, lalu berbisik, " Mas, kamu dengar tidak apa kataku."
"Iya sayang, tapi ibu susah sekali dibilangin. Aku juga pusing," balas Ardan, membuat wanita tua itu bertanya pada keduanya.
"Kenapa, kalian saling berbisik seperti itu?" tanya Wina tiba tiba sudah ada dihadapan mereka.
"Akh, tidak ada kok bu. kami senang dengan kedatangan ibu!" jawab Asiyah pada sang mertua.
"Owh, ya sudah kalau begitu." ucap Wina, menutup pintu untuk segera tidur, dimana wanita tua itu membuka kembali pintu dan berkata, " tolong buatkan ibu jus apel ya, ibu pengen yang seger seger. "
Mendengar keinginan sang mertua, membuat Aisyah menganggukkan kepala, ia berusaha menjadi menantu yang baik.
Wina kini menutup pintu kamarnya, ia tersenyum tipis dan berteriak, " Jangan lama lama. "
Aisyah merasa kesal kini menghentakkan kaki dan menggerutu pada sang suami," tuh, kamu lihat apa yang dikatakan ibu kamu, cepat bikinin. Aku malas. "
Ardan menunjuk dirinya sendiri, " loh kok aku sih, kan ibu nyuruh kamu. Ya kamu lah. "
"Ahk, nggak mau lah, sudah kamu saja, " Ketus Aisyah meninggalkan suaminya.
"Aisyah tunggu, kamu mau kemana?" tanya Ardan memanggil istrinya itu.
"Mau kemana terserah aku, malas jika ada ibu kamu di sini!" jawab Aisyah dengan lancangnya.
Ardan berlari berusaha menutup mulut istrinya itu, " Kalau bicara jangan keras keras dong, kalau ibu dengar bagaimana?"
Asiyah menarik tangan Ardan dari mulutnya, ia menjawab, " aku tak peduli yang aku inginkan sekarang dia pergi. "
Semakin rumit masalah yang dihadapi Ardan, kini ia harus menanggung sang ibu yang tinggal bersamanya.
__ADS_1
"Ibu, kenapa juga malah nyusahin. "
Ardan mulai ingat pada Afdal ketika mendapatkan masalah, ia kini menelepon adik pertamanya itu.
"Mudah mudahan saja, Afdal bisa bantu. "
Dengan penuh harapan, Ardan kini menelepon Afdal sang adik.
"Halo Afdal, kamu dengar kakak tidak."
"Halo, kak Ardan ada apa? Sudah memikirkan cara untuk bisa menghancurkan Akbar!"
"Ahk, masalah itu sudah kakak pikirkan, nanti kakak ceritakan pada kamu setelah ada waktu."
"Sekarang saja, mungpung Afdal punya waktu, gimana?"
"Nanti saja, kakak ingin membahas tentang ibu!"
Mengerutkan dahi, Afdal terkejut ketika pada sambungan telepon sang kakak membahas tentang ibu.
"Memangnya kenapa dengan ibu, tumben amat bahas ibu. "
"Ibu sekarang ada di rumah kakak, jadi kamu mau tidak menjemput ibu agar pulang ke rumah. "
"Hus, jangan ngelantur kamu, ibu tidak ada hak soal warisan bapak. Sebaiknya kamu jemput ibu di sini. Istri kakak tidak suka jika ibu tinggal di rumah kakak. "
"Owh, karena itu, ya sudah Afdal nanti jemput ibu, mudah mudahan ibu mau pulang. "
Panggilan telepon dimatikan sebelah pihak, Ardan tiba tiba dikejutkan dengan Wina yang sudah ada di belakang punggungnya.
"Loh, ibu kok ada di sini?" tanya Ardan, ia terlihat ketakutan jika sang ibu mendengarkan obrolannya dengan sang adik.
"Ibu hanya ingin menanyakan dimana Aisyah, kenapa dia lama membuatkan ibu jus apel. "
Baru saja bertanya seperti itu, Aisyah kini datang melewati tubuh sang mertua dan juga suaminya.
"Loh, itu kan Aisyah, kenapa dia malah bawa tas. Juice apel ibu mana? "
Ardan menarik kasar napasnya, ia kini menjawab, " Kebetulan Aisyah ada urusan mendadak jadi ia pergi buru buru, biar Ardan yang buatkan ibu juice ya."
"Ya sudah, jangan lama lama. "
Ardan melangkahkan kaki, pergi dari hadapan sang ibunda, ia bersiap siap untuk membuat juice keinginan sang ibunda.
Dengan rasa kesal, Ardan mulai memotong motong Apel yang akan ia beleder, dimana Wina datang menghampiri anaknya itu.
__ADS_1
"Aduh, ada ada aja kamu, kenapa bisa kamu membuat juice Apel dengan kulit kulitnya, ibu tak suka kupas dulu. "
Ardan berusaha bersikap sabar, agar tidak meluapkan amarahnya dihadapan sang ibunda," ya kan yang biasa buat pembantu di sini. "
"Terus pembantu di rumah ini, kemana?"
"Mereka lagi belanja ke pasar!"
"Owh, ya sudah kalau begitu, ibu mau tiduran lagi. Jangan lupa kupas kulitnya. "
"Iya bu. "
Ardan geram dengan printah sang ibunda, ia hanya bisa sabar saat Afdal membawanya pulang.
Selesai membuat sebuah Juice, Ardan kini memberikan pada ibunya itu.
"Ini bu. "
Wanita tua itu mulai meminum juice yang dibuatkan oleh anaknya, dimana ia merasa tak cocok.
"Iih manis sekali, nggak enak."
"Manis lah bu, kan pake gula putih."
Wanita tua itu terkejut dengan perkataan anaknya, " ya ampun, jangan pake gula , ibu tak suka. "
"Lalu."
"Ya sudah belender saja buahnya, ibu ini tidak biasa meminum juice campur gula, diabetes. "
"Ya ampun bu. Ardan sudah cape cape loh bu, buatkan ibu juice ini, tapi ibu terus menolak. "
"Siapa suruh kamu salah terus ya jadinya begitu. "
Ardan mengusap pelan dada bidangnya, ia tak ingin jika bentakannya melukai hati sang ibunda yang sudah melahirkannya.
"Ngapain masih berdiri, cepat ganti bikin lagi. "
"Biki lagi?"
"Ya iya, ibu kan nggak mau minum juice campur gula, nggak baik tahu tidak!"
Menghela napas merasakan rasa lelah, pada akhirnya Ardan pergi untuk segera membuat juice apel keinginan sang ibunda.
"Bisa bisanya ibu menyusahkan sekali aku di rumah, hah. Kemana Afdal dia lama sekali datang, kalau ibu ada di sini, sters aku lama lama. " Gerutu hati Ardan.
__ADS_1