AIR MATA DARI IBU MERTUA

AIR MATA DARI IBU MERTUA
Bab 12 Ingin menguasai


__ADS_3

Dimana lelaki tua itu merasa jika dirinya memiliki seorang anak perempuan yang amat perhatian dan peduli padanya. 


"Andai kamu anakku Aminah, mungkin aku akan merasa menjadi ayah yang bahagia, karena kamu begitu peduli padaku. "


Aminah berusaha membantu Budiarto untuk duduk di kursi roda, ia terlihat kewalahan, berusaha memaksakan diri agar majikannya bisa duduk. 


"Akhirnya bapak bisa duduk lagi di kursi roda, nanti kalau bapak butuh sesuatu tinggal panggil saja Aminah ya pak. "


Budiarto melupakan kesedihannya, ia tersenyum lebar dan menganggukkan kepala. 


"Ya sudah sekarang, Aminah mau lanjut kerja dulu. "


Aminah pergi meninggalkan lelaki tua itu, dimana ia melihat sebuah tanda hitam yang tak asing bagi dirinya pada pundak Aminah. 


"Padahal sudah lama Aminah bekerja disini, tapi aku baru pertama kali melihat tanda hitam seperti itu di pundaknya. "


Budiarto berusaha tidak banyak berpikir, ia melupakan apa yang baru saja ia lihat, berusaha tidak peduli.  Lelaki tua itu berusaha pergi ke taman untuk menghubungi kembali anak bungsunya. 


"Aku masih rindu dengan Akbar, ini kesempatanku untuk menghubunginya lagi. "


Menggerakan kursi rodanya sendiri untuk pergi ke taman, Budiarto dikejutkan dengan sosok wanita yang menjadi menantunya itu, tiba tiba sang menantu menahan kursi roda Budiarto. 


"Aisyah kenapa?"


Jilbab panjang yang menutupi kepalanya, membuat Budiarto tak mengerti, tatapan Aisyah terlihat berbeda dari sebelum belumnya. 


"Bapak kenapa bapak malah bikin murka Mas Ardan hah, bapak ini tidak sadar diri apa? Bapak ini sudah tua, menurutlah dengan anak sendiri, " ucap Aisyah dengan begitu lancangnya, membentak bapak mertua. 


"Aisyah, kenapa kamu malah menyalahkan bapak. Harusnya kamu nasehati suami kamu agar bisa sopan terhadap orang tua, bukan malah membentak dan marah marah tak jelas, " balas lelaki tua itu di hadapan menantu pertamanya. 


Mendelik kesal, melipatkan kedua tangan, Budiarto tak cukup banyak waktu meladeni sang menantu di hadapannya itu. 

__ADS_1


"Bapak mau pergi, jadi jangan halangi bapak hanya karena kamu mempertanyakan masalah bapak dengan anak bapak sendiri. "


Rasa kesal yang kini dirasakan Aisyah, membuat ia berniat jahat, melihat lelaki tua itu menggerakan kursi rodanya sendiri. 


Mendekat pada kursi roda sang mertua, Aisyah dengan lancangnya mendorong dan membuat lelaki tua itu tak bisa mengendalikan kursi rodanya sendiri sampai ia terjatuh. 


"A-is-y …."


Aisyah berpura pura terkejut dengan jatuhnya Budiarto, ia menjerit dan membantu lelaki tua itu. Memukul mukul perlahan kedua pipi Budiarto, dimana lelaki tua itu  tak sadarkan diri hingga jatuh pingsan. 


"Pak, bangun. Pak, kenapa bisa jadi seperti ini." Aisyah berusaha menangis, agar orang tidak curiga jika penyebabnya adalah dirinya. 


Aisyah tak mendapatkan respon orang orang di rumah, sampai ia berteriak memanggil suami dan juga ibu mertua. 


"Mas Ardan, tolong mas."


Ardan yang tengah mengurus berkas berkas perusahaan sang ayah, kini dikejutkan dengan teriakan istrinya, " Kenapa dengan Aisyah?"


Menaruh berkas penting itu, Ardan kini berlari keluar rumah, ia melihat Wina sang ibu menangis dengan istrinya. 


"Ayo cepat angkat, jangan sampai bapak kenapa kenapa?"


Sopir itu menganggukkan kepala setelah mendapatkan perintah dari sang majikan, terlihat ia begitu sigap membopong tubuh Budiarto. 


Aisyah berusaha memperlihatkan isak tangisnya, ia tak mau jika orang orang sampai mencurigai kesalahanya saat itu. 


Wina yang terlihat tak berdaya, hanya bisa menangis, raut wajahnya sudah basah dengan air mata. 


"Ardan, ibu pergi naik mobil, nanti kamu nyusul ya. Nak, " ucap sang ibunda, dibantu berjalan dengan berpegangan tangan pada Aminah. 


"Iya, bu. Nanti Ardan dan Aisyah akan menyusul, ibu jangan kuatir ya, Ardan juga akan memberitahu Akbar dan Afdal  kalau bapak masuk rumah sakit, " balas Ardan dengan memperlihatkan raut wajah sedihnya. 

__ADS_1


Wina masuk ke dalam mobil, ia ikut dengan sang suami yang terkulai lemah tak sadarkan diri, sedangkan Aminah terlihat kesal dengan kelakuan kedua anak anak Budiarto. 


Ia tahu jika orang yang melakukan kejahatan keji ini adalah anak dan menantunya. " Bisa bisanya mereka bersikap santai setelah apa yang dilakukan. " Gumam hati Aminah. 


"Aminah, kenapa? Ayo cepat masuk, " ucap Wina menyuruh pembantunya untuk segera masuk. 


"Baik, bu!" jawab Aminah, masuk ke dalam mobil bersebelahan dengan sang majikan. 


Aisyah tetap memperlihatkan kesedihannya, sampai  membuat Wina yakin jika kecelakaan yang terjadi pada suaminya murni oleh suaminya sendiri. 


Tak ada tanda curiga sedikitpun, karena Wina terlalu percaya dengan kebaikan palsu yang diberikan sang menantu. 


Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, kini Aisyah malah tertawa disaat mobil itu sudah tak nampak oleh kedua mata mereka. 


"Gimana mas, aktingku, bagus tidak?" pertanyaan Aisyah membuat Ardan memperlihatkan jempol tangan nya, ia mencium pipi sang istri dengan begitu lembut. 


"Bagus sekali sayang, aku benar benar suka dengan caramu itu, mudah mudahan setelah ini, bapak tua itu mati, dan kita bisa menikmati harta gono gininya!" jawaban Ardan yang terdengar memilukan, bisa bisanya ia tega merencanakan pembunuhan bagi ayahnya, hanya karena harta warisan. 


"Benar juga, haha, tunggu sayang," Aisyah kembali menghentikan perkataan di depan suaminya, ia kini menatap dalam dalam wajah Ardan, " Kalau bapak mati, apa kamu yakin harta itu akan jadi milik kita sepenuhnya, lalu Afdal dan Akbar. "


"Mm, iya juga sih, " Balas Ardan memikirkan apa yang dikatakan istrinya. 


"Aku nggak mau, kalau kita cape cape melakukan hal ini, sampai pada ujungnya warisan itu cuman seuprit kita dapatkan, " keluh Aisyah di depan suaminya, dengan raut wajah tak senang. 


Ardan berusaha menghibur sang istri dengan memeluk tubuhnya dan berkata, " Kamu tenang saja, masalah itu biar aku pikirkan."


Anak pertama Budiarto itu, menjadi sosok anak yang serakah akan harta warisan orang tuanya, padahal susah payah Budiarto dan Wina membesarkan Ardan dengan penuh kasih sayang dan perjuangan. 


Namun balasan yang kini di dapatkan Budiarto dan Wina malah permusuhan anak anaknya.


Tidak ada niat membahagiakan sang orang tua dimasa tuanya, yang ada dipikiran Ardan hanyalah harta, bagaimana ia bisa menguasai harta kedua orang tuanya tanpa adik adiknya tahu. 

__ADS_1


"Sekarang kamu beritahu dulu Afdal, pura pura saja kita bersekongkol dulu dengannya, biar Afdal itu percaya pada kita, " ucap Aisyah dengan begitu liciknya, bisa bisanya ia ingin mengelabui adik kedua suaminya, agar harta Budiarto jatuh semua ketangan Ardan.


"Ide yang bagus, sih. Toh Afdal selalu percaya pada kita, dia kan bodoh dan mampu di kelabuhi, " balas Ardan, mengatakan hal yang tak pantas bagi seorang kakak pada adiknya.


__ADS_2