
Nina terus merayu sang kakak agar memberikan KTP yang diinginkan, " Ayolah kak."
"Kalau kakak bilang tidak bisa ya tidak bisa, kamu ini kenapa sih maksa banget? Coba kakak tanya sama kamu? Untuk apa kamu meminta KTP kakak. "
Pertanyaan sang kakak membuat Nina menelan ludah, ia bingung mencari alasan untuk menjelaskan pada sang kakak.
Nayla melihat keraguan pada wajah Nina, seperti memikirkan sebuah perkataan yang akan ia lontarkan pada kakaknya. " Kenapa diam saja?"
Terbesit dalam pikirannya, Nina membohongi kakak perempuan satu satunya itu dengan menjawab. " Dosen Nina!"
Mengerutkan dahi, Nayla merasa heran dengan jawaban sang adik, "apa tadi kamu bilang dosen kamu, untuk apa Nina?"
"Kata dosen Nina, katanya kita harus mengumpulkan ktp orang tua besok, dan akan dikembalikan lagi setelah pengumpulan beberapa hari nanti, sedangkan Nina kan cuman punya kakak, emak dan bapak jauh jadi nggak bisa minta ktp mereka!"
"Kakak masih nggak ngerti, biar nanti kakak tanyakan dulu pada Mas Akbar. "
Nina terkejut saat sang kakak akan mengatakan semuanya pada Akbar, jelas jelas Mas Akbar pasti tidak akan mengizinkan Nayla memberikan ktpnya.
Memegang kedua lengan sang kakak," Kak Nayla, tak perlu lah kakak bilang dulu pada Kak Akbar, karena dosen Nina, hanya membutuhkan satu ktp orang tua saja. "
Nayla yang kurang mengerti akan namanya sekolah apalagi kuliah, hanya menurut dan pergi mengambil ktp yang Nina mau.
"Ya sudah, kakak mau ambil dulu ktpnya. Kamu tunggu dulu di sini. "
Nina tersenyum kecil, menganggukkan kepala, ia kini menunggu sang kakak yang tengah mengambil ktp di dalam kamarnya.
"Yes akhirnya, bisa pinjam lagi duit. Pake ktp Kak Nayla, hem. Kebetulan pinjaman memakai ktp ku sudah Blacklist, jadi aku manfaatkan ktp kakak. Hihi, lumayan kan. " Gumam hati Nina, terlihat ia tak sabar menanti sang kakak membawa ktp yang ia inginkan.
Akbar datang melintas, melewati Nina begitu saja. Dimana sang kakak ipar begitu cuek dan dingin, " Kak Akbar. "
Nina berusaha menyapa kakak iparnya itu, namun tak berhasil digubris sama sekali. Akbar pergi begitu saja.
"Idih, amit amit, sombong. "
Akbar masuk ke dalam kamar, dimana ia melihat Nayla sibuk mencari sesuatu.
"Nayla sedang apa kamu?"
"Mas Akbar, aku lagi cari ktp!"
Akbar terlihat mengerutkan dahinya, " Ktp, untuk apa?"
Pertanyaan Akbar, membuat Nayla terlihat fokus, hingga suaminya memanggil Nayla kembali.
"NAYLA."
__ADS_1
"Ah, ia mas. kenapa?" tanya Nayla baru saja sadar dengan panggilan suaminya.
"Untuk apa kamu mencari ktp!" jawaban Akbar membuat Nayla tersenyum, ia berhasil menemukan barang yang Nayla cari.
"Akhirnya aku menemukannya juga, " ucap Nayla tampak senang dengan apa yang sudah ia temukan, terlihat Nayla mulai pergi dari hadapan Akbar.
"Mas, aku mau menemui Nina dulu, " Berjalan pergi tanpa menjawab pertanyaan suaminya.
Akbar yang menyadari hal itu, kini memegang tangan sang istri.
"Tunggu, jangan pergi dulu. " Ucap Akbar, membuat Nayla menghentikan langkah kakinya.
"Ada apa, mas?" tanya Nayla menatap ke arah suaminya, dimana teriakan Nina terdengar begitu jelas.
"Kak Nayla sudah belum!"
Akbar mendengar teriakan Nina merasa terganggu.
Nayla yang mendengar teriakan sang adik, membuat ia malu pada suaminya, padahal Nayla sudah menasehati Nina, tetapi Nina tetap seperti itu.
"Sebelum kamu pergi, kamu harus jawab pertanyaanku yang tadi," tegas Akbar. Sebagai seorang istri Nayla tak bisa membantah, pada akhirnya ia mengatakan tujuannya memberikan ktp pada sang adik.
"Kebetulan, Nina meminta ktp ini, atas perintah dosennya, " balas Nayla, Akbar baru tahu hal itu, ia tiba tiba saja melepaskan tangan sang kakak.
Saat itulah Nayla datang menghampiri Nina sang adik. Wanita itu memberikan ktpnya pada Nina tanpa rasa curiga sedikitpun.
Nina tersenyum senang, mendapatkan apa yang ia mau, " Wah, benar kak. Ini yang aku butuhkan sekarang. "
Meraih benda itu, Akbar datang dimana ia terlihat mencurigai gerak gerik adik iparnya itu.
Mengusap dagu yang terlihat berbulu, membuat Akbar bergumam dalam hati, " Apa maksud anak itu, kenapa aku merasa jika dia akan membawa masalah di rumah ini. "
Nina pergi, tanpa mengucapkan kata terima kasih sedikitpun pada sang adik, ia terlihat santai dan pergi begitu saja.
"Nina tunggu."
Panggilan dari sang kakak menghentikan langkah adiknya itu, dimana Nina membalikkan badan dengan raut wajah juteknya. " Ada apa lagi kak?"
"Nanti kamu jangan lupa kembalikan lagi ktp kakak ya. "
"Mm, iya kak. Pastinya, kakak tenang saja. "
Nina pergi lagi dari hadapan sang kakak, dimana ia berjalan cepat untuk bisa meminjam uang yang ia butuhkan.
"Malam ini bisa happy, happy dong. "
__ADS_1
Akbar tak sengaja mendengar perkataan Nina, saat ia berjalan melewati kamar adiknya itu, " Ada yang tidak beres. "
*******
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, Nayla menatap uang tabungannya yang semakin menipis, membuat raut wajahnya perlahan berubah.
Cermin besar yang berada di hadapannya, kini menampilkan raut wajah Nayla yang sedang bersedih, memegang dengan pipi kiri,
"Apa bisa, wajahku ini berubah. "
Ada raut wajah putus asa, karena uang tabungan yang ia miliki habis membiayai kuliah sang adik.
Nayla seperti tulang punggung di keluarganya, yang diharuskan ia membiayai sang adik sampai sukses. Padahal dirinya dulu hanya tamatan sd, tanpa ijazah. Karena sang ibu yang menyuruhnya untuk bekerja.
Akbar tiba tiba datang, memegang kedua bahu istrinya dengan bertanya, " Apa yang kamu pikirkan sayang. "
Nayla berusaha menyembunyikan uang tabungan yang ia miliki tanpa sepengetahuan Akbar. Terburu buru mengusap air mata yang jatuh, Nayla takut jika akbar menanyakan tentang tangisannya itu.
"Kenapa Nayla?"
Pertanyaan Akbar, membuat Nayla tersenyum dengan menyembunyikan luka pada hatinya.
"Aku melihat kamu menyembunyikan sesuatu padaku. "
Deg …. Ucapan Akbar membuat jantung Nayla tak karuan.
"Mm, tidak ada yang kusembunyikan, Mas, itu hanya pikiranmu saja. "
"Syukurlah kalau begitu."
Rasa lelah mulai dirasakan Akbar, dimana lelaki itu kini membaringkan badan ke atas ranjang tempat tidur.
Nayla melihat suaminya yang terlihat begitu kelelahan membuat ia merasa tak tega, mendekat dan memijit kaki Akbar.
"Gimana pijitanku mas, enak. "
Akbar menganggukkan kepala, dimana kedua mata tiba tiba mendekat, seperti memberi isyarat jika ia menginginkan sang istri melayaninya saat itu.
Kedua insan itu saling bercumbu mesra.
Nina yang baru saja pulang dari acara makan malam dengan para sahabatnya, berjalan semponyongan masuk ke dalam rumah .
"Ya ampun, aku terlalu banyak minum, kepalaku pusing. "
Memegang kepala yang terasa berdenyut, Nina akhirnya sampai di dalam rumah, tatapan matanya terlihat buram, ia seakan tak mengenali kamarnya sendiri.
__ADS_1
Menunjuk beberapa kamar, Nina terlihat tak bisa mengenali kamarnya sendiri. " Ahk, mungkin ini kamarku. "