AIR MATA DARI IBU MERTUA

AIR MATA DARI IBU MERTUA
Bab 21


__ADS_3

Sudah seminggu Wina tinggal di rumah Ardan, waktunya ia pulang ke rumah, namun saat berada di rumah, Wina tak menemukan suaminya sama sekali.


"Aminah, dimana bapak?" Pertanyaan wanita tua itu membuat Aminah terkejur, " ahk, iya bu. Kenapa?"


"Kamu budek ya, bapak kemana?" tanya kembali Wina, Aminah terlihat ketakutan setelah mendengar bentakan dari majikannya.


"Bapak dibawa ke rumah Tuan Akbar dan Nyonya Nayla!" balas Aminah.


"Ngapain mereka membawa bapak ke sana, ada ada saja," ucap Wina, melipatkan kedua tangannya."


Wina pergi untuk membawa suaminya pulang ke rumah, ia menggunakan taksi.


Sampai di rumah Akbar dan juga Nayla, Wina berteriak, memanggil manggil nama anaknya.


"Akbar keluar kamu. "


Akbar keluar begitu pun dengan Nayla," ada apa bu?"


"Ada apa, ada apa? Cepat bawa bapak kamu ke sini. "


"Ahk, baik bu. Biar Nayla bawa bapak. "


Namun tangan sang suami menahan tangan istrinya, " jangan lakukan. "


Wina yang kesal dengan anaknya, kini datang mendekat dan menyingkirkan keduanya.


Mencari keberadaan Budiarto yang ternyata sedang duduk di kursi roda.


Kesal dan emosi meluap luap, sampai Wina berani menjatuhkan suaminya dari kursi roda.


Nayla dan Akbar melihat sang ibu melakukan hal yang mencelakai sang ayah, membuat mereka berlari, mencoba mengecek nadi sang ayah.


" innalillahi wa Innalillahi roji'un, ayah sudah meninggal dunia. "


Wanita tua itu menutup mulutnya, tak menyangka jika kelakuannya membuat sang suami meninggal dunia.


Akbar berusaha mengehelap napas dengan kasar, tetap tenang, dengan menahan emosi mengepalkan kedua tangan.


Akbar terlihat tak mempedulikan perkataan sang ibu, yang terus bertanya, hingga ia menghepiskan tangan tua itu.


"Nayla, tolong kamu jaga bapak. Ya. Aku mau memberitahu semua kakakku dan pengurus jenazah. "


Nayla menganggukkan kepala, wanita tua itu terlihat syok berat. Selesai memberi tahu semuanya, para pengurus dan tetangga yang berada di rumah Akbar berdatangan.


Afdal dan Ardan datang setelah pemakaman selesai, membuat Akbar murka, " kalian, apa kalian tidak ingin melihat wajah bapak, sampai datang terlambat. Dimana hati nurani kalian. "


Kedua kakaknya tak mempedulikan perkataan Akbar, mereka hanya diam dan mengiring doa bersama, Nayla yang berada di samping sang suami hanya bisa menenangkan hati dan pikiran sang suami.


"Kamu harus tenang, hargai bapak kamu. "


Akbar menurut akan perkataan istrinya, ia diam dan mengikuti doa bersama dengan orang orang yang berada dipemakaman.


Setelah sampai di rumah, Afdal dan Ardan malah sibuk menanyakan harta warisan, mereka terlihat bersemangat.


Akbar yang melihat pemandangan keduanya, hanya bisa beristigfar, karena keserakahan.

__ADS_1


Surat warisan itu dibacakan, dan benar saja yang mendapatkan uang lebih besar adalah Akbar, keduanya murka, tak senang.


"Kamu." menunjuk wajah adik bungsunya, membulatkan kedua mata, Akbar yang merasa diperlakukan tidak baik kita menatang sang kakak,


"Percuma berdebat," kedua kakak Akbar malah pergi meninggalkan kediaman Akbar. Padalah baru saja Akbar ingin menantang kemarahan mereka.


Sedangkan Akbar bingung harus melakukan apa, karena yang membuat surat itu hanyalah ayahnya.


"Mas, kamu harus sabar ya. "


Wanita tua itu bangkit, menunjuk wajah menantunya, " semua ini gara gara kamu, wajah buruk rupa. "


Perasaan Nayla merasa sakit, setelah mendengar ucapan dari mertuanya, membuat ia perlahan meneteskan air mata.


"Cukup bu, sudah jangan mengatai istriku lagi. "


Mendengar bentakan Akbar, membuat wanita tua itu jatuh, ia merasa sakit hati.


Hingga Akbar yang syok, membawa ibunya ke rumah sakit.


"Ibu mengalami struk."


Mendengar perkataan dokter, membuat Nayla tak percaya.


Wanita tua itu, hidup dalam keadaan sakit.


Memberi tahu kedua anaknya tidak ada yang peduli satu pun, mereka acuh.


Wina yang menyadari semua itu, menangis terisak isak, ia tak menyangka. Hatinya benar benar rapuh dan kecewa.


Sampai setahun pun berlalu, tak ada tanda tanda anak anaknya datang, hanya Akbar dan Nayla yang setia menemani. Sampai ajal menjemput sang ibunda.


********


Ardan dan Afdal ternyata direndungi keterpurukan, Ardan bunuh diri dan Afdal mengalami kecelakaan.


Istri istri mereka kini menjadi janda, dimana harta benda habis tak tersisa, karena banyak hutang yang begelimbang.


Lisa dan Aisyah, terlalu mengandalkan gaya dari pada kepentingan keluarga, membuat ia nekad meminjam uang rentenir.


Dimana Ardan pusing sampai, banyak orang yang menangih hutang kepadanya.


Ia tak sanggup sampai, berani untuk bunuh diri.


Lisa kini berselingkuh, karena Afdal sudah tak bisa memberikan kebahagiaan lewat materi, perusaannya bangkrut mengakibatkan ia terlalu emosi mengendarai mobil dan terjadilah kecelakaan itu.


**********


Akbar yang mendengar kabar kedua kakaknya mati teragis, membuat ia berusaha menjadi sosok orang yang selalu sadar dan pasrah.


Nayla siap menjalani oprasi, untuk menghilangkan wajah bekas kecelakaan yang menimpa Akbar dulu. Menjadi penyelamat dan pada akhirnya ia juga terkena batunya.


"Kamu sudah siap. "


"Iya mas. "

__ADS_1


Oprasi berjalan sempurna, tiga hari kini perban sudah mulai dibuka, Nayla terlihat seperti dulu, wajahnya begitu cantik dan ayu.


"Nayla, inikah kamu. "


Menganggukkan kepala, Edwin memeluk istrinya. "


Sedangkan Nina, sudah sadar akan kesalahannya, ia berusaha memperbaiki diri, apalagi dengan pesanan baju yang ia beli, sengaja ia tolak.


"Maafkan Nina ya kak Nayla. "


Nayla memeluk sang adik, dan berkata," kamu tak salah apa apa, kamu anak baik kok. "


Mendengar hal itu membuat Nina senang.


******


Lilia yang menjadi janda dikantor Akbar, terpaksa mengundurkan diri dari pekerjaanya, ia sudah tak nyaman karena bulian teman temannya.


Nayla wanita yang penuh hinaan dan cacian kini bisa tersenyum dan tak menangis lagi.


Ia merasakan rasa bahagia, bersama suaminya.


"Mas, terima kasih. Kamu sudah menemani sejauh ini. Aku sangat beruntung memiliki suami sepertimu. "


Akbar memeluk badan istrinya itu dengan erat, sampai dimana Nayla dinyatakan hamil.


"Wah, bakal punya keponakan dong."


Nayla dan Akbar tersenyum mendengar jawaban Nina, ia menangis dan benar benar merasa bahagia, kini hidupnya terasa sempurna.


Seorang anak yang ada didalam perut Nayla dan suami setia selalu menerima Nayla apa adanya.


"Ini buah dari kesabaran kita, mas. "


"Iya Nayla, aku sangat bahagia sekali, dan pastinya bapak juga bahagia melihat kebahagian kita berdua. "


"Iya mas, aku juga merasa begitu. "


Aminah pulang ke kampung, ia memulai hidup baru, menikah bersama lelaki pilihannya.


Ada senyuman terukir dari bibir Aminah, mengigat Lelaki tua yang menjadi majikannya, lelaki tua itu selalu mengakui Aminah sebagai anaknya.


"Semoga tenang, dialam sana ya pak. "


"Kamu mikirin apa?"


Sang suami mendekat membuat Aminah terkejut, " kenapa melamun. "


"Aku melamun karena aku membayangkan sebulan lagi kita punya anak. "


"Baru saja nikah dua hari. "


Tawa dilayangkan Aminah, ia bahagia, mendapatkan sosok lelaki yang mengerti dirinya.


Tamat.

__ADS_1


__ADS_2