AIR MATA DARI IBU MERTUA

AIR MATA DARI IBU MERTUA
Bab 14


__ADS_3

Lelaki tua itu terlihat diam saja, saat Wina sang istri terdengar membentak. Sedangkan Aisyah berusaha tetap tidak terpancing akan perubahan perilaku dari mertuanya. 


"Sialan, kenapa bapak tua itu tidak mati, bukannya saat ia terjatuh, ia mengalami benturan yang cukup lumayan keras, " Gerutu hati Aisyah menatap ke arah suaminya, dimana kedua pasang mata itu terlihat saling mengedip satu sama lain. 


Budiarto tetap saja diam, ia tak menyapa atau bertanya pada anak dan menantu pertamanya itu, sampai akhirnya Aisyah mendekat dan bertanya keadaan mertua laki-lakinya itu. 


"Bapak, bagaimana masih ada yang sakit?"


Aisyah memperlihatkan lekuk senyum pada bibirnya, iya berusaha mengambil hati Bapak mertuanya kembali. 


Namun rayuan itu tak mampu membuat Budiarto kembali menjadi mertua yang baik, dia hanya diam dan menatap tajam ke arah menantunya itu. 


Wina melihat sifat suaminya yang tiba-tiba saja berubah, mendekat dan memegang bahu lelaki tua itu, " bapak, menantu bapak itu tanya kenapa. Bapak malah diam saja?"


Budiarto menatap ke arah istrinya dengan penuh kekesalan, bibir yang mengkerut itu kini berani mengucapkan kekesalan yang dipendam oleh Budiarto sendiri. " Bu, bapak tidak mau menjawab perkataan wanita jahat itu. "


Deg …. 


Aminah yang menguping di balik pintu ruangan majikannya,  tampak terkejut. " sepertinya Pak Budiarto menyadari jika orang yang sudah menyakitinya adalah menantunya sendiri. "


Aminah masih memegang ponsel yang menjadikan barang bukti, jika Aisyah lah yang memang mendorong kursi roda Bapak mertuanya dengan sengaja. Tanpa banyak berpikir, secara kebetulan Aminah yang tengah memainkan ponsel langsung merekam kejadian itu. 


Wanita tua yang menjadi istrinya itu tetap tak percaya dengan apa yang dikatakan Budiarto, " Pak, jangan pernah menuduh orang tanpa bukti. "


Aisyah menatap ke arah suaminya, iya berusaha tetap tenang, hingga anak pertama Budiarto berusaha membela istrinya, " Pak, kenapa bapak bisa-bisanya menyalahkan Aisyah atas jatuhnya Bapak dari kursi roda? Apa sebegitu bencinya dan tak sukanya Bapak kepada Ardan dan juga Aisyah, anak kandung bapak sendiri. "


Begitulah orang yang ketika melakukan kesalahan, akan membuat alasan dan juga pembelaan. Budiarto berusaha menenangkan pikiran setelah mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Ardan, " Bapak tidak berbohong sama sekali, istri kamu memang sudah mendorong kursi roda Bapak hingga, Bapak terjatuh. "


Ardan mulai bertanya pada sang istri, " Aisyah. Apa benar yang dikatakan oleh, Bapak? Kamu berniat mencelakai bapak. "


Aisyah menggelengkan kepala, ia menjawab perkataan suaminya dengan nada sedikit terdengar pelan. " sebenarnya Aisyah tidak bermaksud mendorong bapak, Aisyah hanya ingin menolong bapak untuk turun dari anak tangga. Tapi karena bapak yang terus memberontak, membuat bapak sendiri jatuh begitu saja."


Aisyah berusaha memperlihatkan kesedihannya, ia menundukkan pandangan. Berharap jika mertuanya itu mempercayai akan perkataannya. 


Ardan yang memang bersekongkol dengan sang istri, kini menimpa, " Bapak, dengar sendiri kan penjelasan Aisyah?  Jadi Bapak jangan asal menuduh seperti itu, jatuhnya bapak itu fitnah. "


Budiarto tak tahu harus menjelaskan bagaimana lagi, jelas-jelas yang mendengar perkataan Aisyah yang sangat menyakiti hatinya. 

__ADS_1


Wina kini menyala obrolan suami dan juga anaknya, " sudah sebaiknya jangan membahas hal itu lagi, kita di sini hanya untuk melihat Bapak sembuh.  Bukan malah saling menyalahkan. "


Budiarto masih memperlihatkan rasa tak terimanya, setelah apa yang menimpa dirinya dari kejahatan sang menantu. 


Wina mulai bertanya pada anak pertamanya itu, " Apa kalian sudah memberitahu Afdal dan juga Akbar tentang bapak kamu yang sekarang berada di rumah sakit?"


Keduanya menganggukkan kepala, di mana budiarto  sudah menebak, jika Ardan tidak akan menelpon Akbar. 


Lelaki tua itu kini bertanya pada istrinya," kemana Aminah?"


Mendengar hal itu, tentulah membuat Wina merasa tak suka, " ngapain Bapak nanyain si Aminah itu, dia kan hanya seorang pembantu?!"


" Bapak tidak peduli Aminah pembantu ataupun, sekarang bapak Ingin bertemu dengannya," ucap Budiarto yang bersiku ku ingin bertemu dengan pembantunya. 


Wina yang kesal dengan Aminah, kini menghampiri pembantu itu, iya berjalan dengan memakai tongkat. 


Membuka pintu ruangan suaminya, di mana Aminah telah berdiri di depan pintu Budiarto. 


"Kamu."


"Di suruh bapak masuk!"


Aminah tersenyum lebar, yang mulai masuk ke dalam ruangan majikan laki-lakinya itu, sampai di mana Wina menahan tangan, wanita tua itu membisikkan suatu perkataan yang membuat hati Aminah sedikit takut, " jangan cari muka, jika kamu melakukan semua itu, saya pastikan kamu tidak akan lagi bekerja di rumah saya."


Aminah yang hanya seorang pembantu, kini menurut dan menganggukkan kepala, " baik Bu. "


Aminah berjalan perlahan melihat sosok lelaki tua yang menjadi majikannya itu terkulai lemas, " Ada apa Bapak memanggil saya?"


Semua mata memandang ke arah Aminah, di mana wanita itu menjadi pusat perhatian keluarga Budiarto. 


" Tolong telepon Akbar sekarang juga, " perintah Budiarto kepada pembantunya itu. 


Aisyah dan juga Ardan yang mendengar sang ayah meminta pembantu untuk menelpon Akbar, membuat mereka menderita dan juga geram. 


"Pak …."


Tak ada kesempatan untuk Ardan berbicara, Budiarto menyuruh Aminah segera mungkin menelpon Akbar. 

__ADS_1


"Baik pak, " Aminah menuruti perintah lelaki tua itu, dia memperlihatkan ponselnya mencari nomor Akbar.


"Pak, Ardan sudah memberitahu dia, ngapain Bapak harus menelpon dia lewat Aminah. "


Lelaki tua itu tak mempedulikan perkataan anak pertamanya, iya hanya memperlihatkan raut wajah di hadapan Aminah untuk segera menelpon Akbar


Ardan yang kesal ingin sekali memukul wajah bapaknya itu, di mana Aisyah membisikkan suatu perkataan pada suaminya, " kamu harus tenang, jangan sampai bapak curiga pada kita. "


Mendengar bisikan dari istrinya, membuat Ardan kini diam tak mengeluarkan suara sedikitpun.


Sampai panggilan telepon terhubung dengan Akbar.


"Halo."


Lelaki tua itu menyuruh Aminah untuk menjawab ucapan Akbar dari sambungan telepon yang sudah terhubung," Halo, Tuan Akbar, ini Bi Aminah."


"Ya Bi, ada apa?"


Aminah yang mengerti, kini meloudspeaker kan sambungan telepon Akbar.


" Bibi hanya ingin memberitahu pada Tuan Akbar, kalau bapak masuk ke rumah sakit karena terjatuh."


" Astaghfirullahaladzim, kok bisa jatuh seperti itu si Bi kenapa?"


Wina mengerutkan dahinya, menyuruh anak pertama untuk memberitahu Akbar, tapi setelah mendengar perkataan Akbar yang tedengar terkejut, membuat Wina melihat ke arah anak pertamanya.


"Loh, bukannya Tuan Ardan dan juga Nyonya Aisyah sudah memberitahu ya?"


Aminah seperti sengaja mempertanyakan hal itu, membuat kedua pasang mata kesal dengan pembantu yang bekerja di rumah ayahnya.


" Dari tadi tidak ada yang menelpon sama sekali, apalagi menanyakan tentang kecelakaan yang menimpa bapak," ucap Akbar, membuat Budiarto semakin kesal dengan anak pertamanya.


"Ya sudah Tuan, kapan ke sini, Bapak sudah menunggu tuan dari tadi, katanya Iya begitu rindu pada Tuan. "


"Secepatnya."


Ardan tak tahan dengan obrolan Aminah dan juga adik keduanya itu, membuat ia merebut ponsel Aminah, dan mematikkan panggilan telepon yang masih terhubung.

__ADS_1


__ADS_2