
Ardan merebut ponsel yang tengah dipakai oleh sang ayah, dimana lelaki berbadan kekar itu menatap tajam ke arah Budiarto, lelaki tua yang duduk di kursi roda.
"Halo, pak. "
Tangan Ardan mulai mematikan sambungan telepon dari ponsel ayahnya, terlihat ia tak suka jika sang ayah, menelepon Akbar.
"Bapak, jangan pernah mengemis rindu pada anak botot bapak yang tak tahu diri ini," ucap Ardan dengan begitu lancangnya dihadapan lelaki tua yang menjadi ayahnya.
kedua mata sang ayah berkaca kaca, setelah mendengar bentakan dari anak pertamanya.
Baru saja datang Ardan sudah lancang masuk tanpa mengetuk pintu dan mengucap salam.
"Ardan, bagaimanapun dia anak bapak. Bapak berhak menaruh rasa rindu untuk dia yang selalu kalian hina, " pekik sang ayah, memperlihatkan urat lehernya. Air mata yang hampir menetes tiba tiba terhenti karena rasa kesal yang dibuat oleh anak pertamanya.
"Alah, bapak selalu begitu dari dulu, selalu tak adil sama Ardan dan juga Afdal. Bapak selalu mengagul agulkan Akbar, dan menaruh rindu padanya, sedangkan pada kami. BAPAK itu sadar nggak, bapak sebagai orang tua sudah pilih kasih. " ucap Ardan, mengatakan segala isi hati.
Lelaki tua berumur enam puluh tahun itu menundukkan pandangan, seakan enggan menatap anak pertamanya yang terus mengungkapkan ketidakadilan dari seorang ayah.
Ardan mengusap kasar wajah, kedua mata nampak merah. Terlihat jika ia berusaha menahan rasa sakit hatinya. Menggenggam erat ponsel sang ayah.
Dan Brak.
Ponsel itu tiba tiba dilempar begitu saja dihadapan sang ayah, membuat lelaki tua yang sudah membesarkan dan membiayai segala kebutuhan Ardan dari kecil. Kini terlihat kecewa, " Ardan, apa begitu cara kamu berbicara pada bapak, dimana tata krama yang bapak ajarkan dulu."
"Perset*n dengan tata krama," menunjuk wajah sang ayah dengan jari tangan, " bapak memang mengajarkan tata krama pada Ardan dan Afdal, tapi bapak tidak memperlihatkan keadilan seorang ayah untuk anak anaknya. "
__ADS_1
Air mata lelaki tua itu menetes secara perlahan demi perlahan, Ardan yang masih berdiri di hadapan sang ayah, mengusap kasar wajah berusaha menahan emosi yang baru saja ia luapkan.
"Menangis, itulah yang dilakukan bapak ketika Ardan mengeluarkan segala kekecewaan Ardan terhadap bapak. "
Budiarto mengusap pelan air mata dengan tangan yang sudah terlihat mengkerut, " Ardan, bapak tahu apa yang kamu rasakan saat ini, kamu kecewakan, tapi alangkah baiknya kamu mengerti. "
"Mengerti, hahaha. Bapak ternyata lucu juga, bisa bisanya menyuruh Ardan mengerti, sedangkan bapak sendiri, ahk sudahlah, mumet jika harus berdebat dengan bapak. Tetap di mata bapak Akbar adalah anak spesial yang bapak agung agungkan, berbeda dengan Ardan dan juga Afdal. "
Rasa kesal yang sudah memburu dan merusak jiwa, kini membuat langkah Ardan menjauh dari hadapan lelaki tua yang menjadi ayahnya.
"Ardan tunggu. " Panggilan sang ayah, tak membuat Ardan menghentikan langkah kakinya, anak pertamanya itu terlihat mengabaikan sang ayah.
"Ardan, ya Allah kenapa denganmu nak, bisa bisanya kamu membuat hati bapak sakit, setiap kali bapak ingin mengatakan tentang rahasia adik kamu, kenapa kamu selalu marah dan merasa jika bapak ini ayah yang tak adil," Gumam hati Budiarto, menangis terisak isak, sampai tangisan itu membuat Wina mendekat.
"Bapak."
"Ibu?"
"Pak, kenapa sih, bapak selalu pilih kasih seperti itu, bapak itu harus ingat jika Ardan juga anak kita bukan anak angkat, kenapa bapak selalu saja begitu, dikala Ardan ingin mendapatkan perhatian bapak!"
Menghela napas yang terasa sesak, Budiarto berusaha menjawab dengan tutur kata lembut, ia tak ingin menyakiti hati istrinya yang tengah sakit.
"Bukan maksud bapak pilih kasih, bapak itu rindu pada Akbar dia tak pernah datang ke sini. Bapak ingin mendengar kabarnya sekarang."
"Pak, Akbar itu sudah besar, dia itu bukan anak kecil lagi, dia tahu mana yang benar mana yang salah. Kalau dia tidak datang kesini, tandanya dia tak peduli pada kita, dia lebih peduli pada istrinya yang buruk rupa itu."
__ADS_1
Perkataan dari mulut Wina yang terdengar begitu kejam, membuat Budiarto, mengusap kasar dada bidangnya sampai beberapa kali mengucap kata istighfar.
"Astagfirullahaladzim ibu, kenapa tega teganya ibu berkata seperti itu. Nalya itu menantu ibu, tak pantas ibu menghina fisiknya, bagaimana pun Nayla seperti itu karena dia sudah menyelamatkan Akbar. "
"Ahkk, mana ada, itu hanya kebetulan saja. Si Nayla ya aja yang tak tahu diri, sok ingin mendapatkan balas budi. "
Budiarto menggelengkan kepala, mendengar perkataan tajam dari mulut istrinya itu. " Ibu istri bapak, alangkah baiknya ibu menjaga perkataan ibu sendiri. Kalau ibu terus mengatakan kejelekan dan menghina fisik Nayla, bapak merasa sudah gagal mendidik ibu. "
"Sok bijak, kelakuan kaya benar aja. Sudahlah pak, ibu malas jika berdebat dengan bapak yang selalu membela wanita buruk rupa itu."
Wina pergi dari hadapan suaminya, dimana Budiarto, berusaha memanggil dengan menasehati sang istri agar tidak keterlaluan dalam berucap. karena perkataan yang jelek, bisa berbalik pada diri kita sendiri.
"Bu, kenapa ibu jadi berubah begini. Padahal dulu ibu selalu sayang terhadap Akbar, apapun pilihan Akbar ibu setuju, tapi sekarang ibu mengabaikan Akbar . Ya Allah Akbar malangnya nasibmu nak, bapak gagal mendidik ibu kamu sendiri. " Gumam hati Budiarto yang merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada keluarganya.
Budiarto, mulai turun dari kursi roda, ia duduk mengambil pecahan ponsel yang berserakan. "Hanya ini satu satunya jalan komunikasi antara aku dan Akbar, tapi sekarang Ardan malah merusaknya. "
"Pak, kenapa?" Sosok pembantu bernama Aminah datang mendekat ke arah Budiarto yang tengah menangis, dimana lelaki tua itu mempelihatkan ponsel yang sudah berserakan di hadapan Aminah.
"Kamu lihat ini Aminah, ponsel satu satunya punya saya hancur karena dibanting oleh Ardan, dia tak ingin saya menelepon Akbar," keluh Budiarto pembantu yang sudah lama bekerja di rumahnya, kini berusaha membantu sang majikan, dimana ia mencoba membenarkan ponsel yang berserakan itu.
"Coba Aminah bantu Pak, mudah mudahan saja ponselnya masih menyala, " ucap Aminah, terlihat ponsel itu hanya terpisah batunya saja, dimana Aminah dengan keahlian seadanya berusaha membenarkan ponsel itu.
"Akhirnya, ponselnya menyala," Aminah mempelihatkan ponsel yang sudah menyala pada Budiarto.
"Alhamdulilah Aminah, syukurlah kalau ponselnya sudah menyala, saya senang sekali. " Menangis dengan mengusap terus menerus air mata yang berjatuhan.
__ADS_1
Aminah berusaha menghibur lelaki tua yang menjadi majikannya itu dengan berkata, " jika butuh apa apa, bilang saja sama Aminah ya pak. "