
Nayla keluar dari kamar adiknya, terlihat ia sebagai seorang istri begitu telaten menyiapkan kebutuhan sang suami, menata pakaian yang akan dikenakan Akbar.
keluar dari kamar mandi, terlihat Akbar tersenyum dan mencium pipi istrinya itu, " Terima kasih, sayang. "
Senyuman terlukis dari bibir Nyala, ia memegang pipinya yang merah itu, senang dengan perlakuan suaminya yang selalu romantis.
Membenarkan kerah baju, memasangkan dasi, " Oh ya mas, bolehkah Nina numpang pada mobilmu?"
"Mm, untuk apa? Bukannya dia bisa naik angkutan umum sendirian. "
"Ya, tapi aku khawatir dengan keadaannya, jadi tolong ya. Aku titip Nina, untuk kamu antarkan sampai ke sekolahnya. "
Dasi kini sudah terpasang rapi, terlihat jika Akbar malas mengantarkan adik istrinya itu, " gimana mas, kamu mau kan?"
"Ya sudah!"
Nayla tersenyum senang, mendengar perkataan dari suaminya itu. Walau terdengar ketus tapi dia merasa tenang jika Nina ada yang mengantarkannya.
"Sarapan sudah aku siapkan, dan tak lupa bekal kamu, " ucap Nayla yang penuh perhatian terhadap suaminya itu.
Mereka berjalan beriringan menuju ke meja makan, terlihat Nina baru saja keluar mengenakan baju bekas sang kakak. Raut wajahnya menampilkan rasa tak nyaman pada baju yang ia kenakan.
Nayla melihat adiknya kini datang menghampiri, " tuh-kan bagus, kamu memang pantas pakai hijab. "
Nina tersenyum tipis setelah mendengar perkataan dari sang kakak.
"Nina, sebaiknya kita sarapan dulu, nanti kamu pergi kuliah diantarkan oleh Mas Akbar. "
Mendengar perkataan dari sang kakak membuat Nina mendelik kesal dan menjawab, " Nggak mau, Nina bisa pakai angkutan umum saja. "
Menolak dengan raut wajah masam. Membuat sang kakak mengusap pelan pipinya.
"Kok kamu gitu, kakak takut jika kamu naik angkutan umum kamu malah awur awuran sama teman teman kamu yang nggak benar itu. "
Nina mengerutkan dahinya, menatap ke arah sang kakak, " Maksud kakak nggak benar bagaimana?"
"Ya mereka itu sering bolos kuliah, kakak takut nanti kamu jadi terbawa bawa oleh mereka!"
"Nggak juga tuh, mereka itu anak rajin. Kakak aja yang hanya memandang sebelah mata. "
Akbar kini berpura pura batuk, dimana keduanya menghentikan perdebatan, " Sudah jam tujuh, aku takut terlambat. " ketus Akbar, berharap jika kedua adik kakak itu mengerti.
Nina mulai duduk, ia memajukkan bibir bawahnya terlihat tak berselera dengan makanan sang kakak.
"Makanan apaan sih ini, nggak napsu banget aku lihatnya."
"Nina. kamu …."
Akbar memotong perkataan istrinya, dimana ia berkata, " Kamu ini di sini numpang, jika kamu keberatan dengan masakan dan peraturan disini, sebaiknya pergi sekarang juga. "
__ADS_1
DEG ….
Nina terkejut dengan perkataan Akbar yang begitu tegas, sampai air yang berada di dalam gelas terlihat bergoyang goyang.
"Nina, ayolah."
Mendengar bisikan dari sang kakak, Nina menundukkan pandangan, ia kini bergumam dalam hati, " @j!n& banget tuh orang, bisa bisanya bikin gue kalap. "
"Nina. Ayo dimakan. " Dengan terpaksa Nina memakan makanan buatan sang kakak.
Mengunyah secara perlahan, masakan Nayla begitu enak terasa di lidah Nina.
"Bagaimana rasanya?"
Nina terus menikmati makanan itu tanpa mengeluarkan suara, sampai sepiring penuh ia habiskan, Nayla yang melihat lahapnya sang adik tersenyum senang.
Sampai dimana Nina mengeluarkan suara sendawa yang membuat Akbar menggelengkan kepalanya.
Akbar bangkit dari tempat duduknya, ia mengambil bekal makanan yang sudah disediakan sang istri.
Begitupun dengan Nina yang ikut berdiri, terlihat ia begitu kekenyangan karena menghabiskan satu piring penuh. Mengusap perutnya yang sedikit terlihat buncit, Nina pergi melambaikan tangan pada sang kakak.
"Nina, berangkat dulu ya. Kak. "
Nayla melihat bekal makanan untuk Nina belum dibawa oleh adiknya itu, berlari mengejar Nina yang sudah masuk mobil.
Akbar yang mendengar suara sang istri kini menghentikan mobilnya, " ada apa sayang?" tanya Akbar mengeluarkan suara lembutnya.
Nyala tersenyum, ia kini memberikan bekal makanan pada Nina yang tengah mengusap pelan dahinya.
"Nina, ini bekal untuk kamu."
"Ih, nggak mau. Gengsi, malas. Nanti apa kata teman Nina, mereka bakal meledek Nina. ".
"Tapi Nina, ini lumayan loh buat menghemat uang jajan kamu. "
"Nggak ah. "
"Ayolah."
Mobil yang belum melaju membuat Nina dengan terpaksa mengambil bekal makanan dari sang kakak. " Ya sudah sini. "
Dengan senangnya, Nayla memberikan bekal makanan pada adiknya itu. " Nina berangkat dulu ya. kak. "
"Hati hati ya. "
Terlihat jika Nayla senang saat Akbar selalu membelanya dan tak pernah melihat ketertarikan antara dirinya pada sang adik.
Di dalam perjalanan menuju ke kampus, Nina melihat Akbar tengah menyetir, ia merasa jika suami kakaknya itu begitu tampan dan keren.
__ADS_1
Sampai bergumam dalam hati, " bisa bisanya lelaki tampan seperti Mas Akbar ini mencintai kakak gue yang buruk rupa."
Akbar menyadari jika Nina tengah menatapnya, " Apa maksud kamu menatap saya seperti itu?"
Pertanyaan Akbar yang tiba tiba saja terdengar oleh Nina, membuat gadis itu berpura pura memalingkan wajah.
"Ahk, apaan sih. Pede banget. "
Akbar terlihat serius ia tak tersenyum sedikitpun, " Saya berharap kamu tidak mengecewakan kakak kamu sendiri?"
"Apa maksud kamu, mengecewakan apa?"
"Dia sudah banyak berkorban untukmu, jadi aku peringatkan kamu jangan buat dia sakit hati!"
Mendelik kesal, Nina hanya menanggapinya dengan biasa saja. " ya. "
Setelah sampai di tempat kuliah, Nina keluar dari dalam mobil Akbar, terlihat sahabatnya memandangi Nina dengan begitu serius.
Menutup pintu mobil, Akbar pergi begitu saja, membuat kekesalan pada hati Nina. " Dasar laki laki dingin. "
Kedua sahabatnya yang selalu setia menemani, kini mendekat dan menatap Nina dengan serius. " Nina, ini lo kan ya?"
Pertanyaan sang sahabat yang membuat Nina mengerutkan dahinya. " Bukan, gue setan lo mau apa hah. "
Keduanya mengelilingi tubuh Nina, merasa aneh dengan penampilan Nina yang sekarang. " Hello, sejak kapan lo jadi emak emak pengajian?"
Nina terkejut dengan perkataan sahabatnya, dimana mereka malah menertawakan Nina habis habisan. " heh Ica. Lo, nggak tahu ya, ini model ala ala wanita hijrah."
"Masa si, San. Kok gayanya norak ke begini ya, nggak ada indah indahnya. "
Nina masih mendengarkan perkataan kedua sahabatnya yang terus meledek sampai rasa kesalnya menggundung. " Ledek terus, sampai bibir kalian itu duer. "
"Yaelah lo serius banget sih, kita kan hanya bercanda, oh ya. Ngapain sih lo pake baju emak emak kaya begini, norak tahu nggak modis baget. "
"Hah, kalian nggak tahu aja, sejak gue putus sama si Alex gue jadi tinggal sama kakak gue dan suaminya, ya kalian tahukan. Namanya tinggal di keluarga sendiri bagaimana, nggak bebas, banyak aturan. "
Sinta mendekat, memegang bahu Nina, " Tunggu, jadi yang tadi nganterin lo ke kampus itu suami kakak lo?"
Nina menganggukkan kepala, membuat Sinta tersenyum genit dan berkata, " Ihh ganteng banget. "
Nina yang mendengar Sinta memuji suami kakaknya kini menjawab, " biasa aja, yuk kita masuk. "
"Nina, kenalin gue dong sama suami kakak lo yang tadi itu. "
"Idih amit amit, nggak bakalan ya, lo mau jadi pelakor, gue gorok nanti lo. "
"Yaelah, lo pelit amat sih. "
"BODO AMAT. "
__ADS_1