AIR MATA DARI IBU MERTUA

AIR MATA DARI IBU MERTUA
Bab 9 Seksinya sang kakak


__ADS_3

Akbar baru saja sampai di tempat kerjanya, kedua matanya kini disuguhkan dengan pemandangan dari pakaian Lalita yang terlihat begitu seksi. 


Buah dada yang terlihat menonjol dan rok mini memperlihatkan kedua paha mulus milik wanita yang menjadi janda anak dua itu. 


"Hai, Akbar. Selamat pagi," senyuman diperlihatkan Lalita hanya untuk Akbar di pagi hari, membuat para lelaki yang bekerja di perusahaannya merasa iri. 


"Selamat pagi, " tak ada balasan senyuman diperlihatkan Akbar untuk Lalita, ia malah bersikap dingin saat masuk ke dalam perusahaanya. 


"Hanya begitu saja, " Lalita yang sudah berdandan heboh dari jam 4 pagi, kini menggerutu kesal, ia menghentakan kaki kanannya, sampai rok mininya itu terapung. 


Semua orang yang tak sengaja melihat pemandangan itu kini mengeluarkan air liurnya, Lalita  yang menyadari jika para pegawai laki laki di kantor sedang memperhatikan bok*ngnya yang semok.


"Dasar buaya. Apa kalian lihat lihat, " Kekecewaan itu diperlihatkan Lalita, ia masuk ke dalam ruangannya untuk menyelesaikan pekerjaan. 


Duduk di atas kursi, memukul meja kerja," sialan, kenapa sih Akbar tidak tertarik sama sekali padaku. Ahkkk, padahal istrinya itu buruk rupa. "


Bark ….


Berkas tiba tiba ditaruh begitu saja oleh salah satu pegawai Akbar yang bernama, Dani. 


"Dani, kamu bikin kaget saya saja. Bisa tidak pelan pelan saja taruh tuh berkas, saya juga punya dua kuping dan dua pasang mata. "


Dani malah tersenyum kecil, ia kini duduk di atas meja, dan menjawab perkataan sahabatnya itu, " Kenapa sih, marah marah. "


Lalita mengusap kasar wajahnya, " Ahk, saya kesal sekali pada si Akbar, kenapa dia jutek dan dingin. "


Dani malah tertawa terbahak bahak, seakan senang mendengar keluhan yang terlontar dari mulut sahabatnya itu. 


"Kamu kaya nggak tahu aja, Pak Akbar gimana orangnya, mau mau aja ngerayu suami orang." 


Palk …. 


Lalita malah memukul kepala Dani, dimana lelaki itu meringis kesakitan, " Lalita kamu tega banget. "


Dani yang terlihat kemayu hanya bisa menangis, setelah mendapatkan pukulan keras dari janda beranak dua itu. " Makannya kamu itu jangan bikin emosi saya. "


"Ya maaf deh. "


Ceklek ….


Dani terkejut dengan kedatangan Akbar secara tiba tiba, ia sampai terjatuh ke atas lantai. Dimana para pegawai kantor berusaha menahan tawa. 

__ADS_1


"Sebelum mengawali pekerjaan  saya ingin mengajak kalian untuk briefing sebentar."


Semua saling menatap satu sama lain, terlihat mereka merasa heran dengan perkataan sang bos perusahaan. 


Dengan kompaknya mereka bersama sama menjawab perkataan sang bos. " Baik pak. "


"Bagus kalau begitu bisa kita mulai, di ruang briefing. "


Semua menganggukkan kepala, dan berjalan saling beriringan. Sedangkan Akbar datang lebih awal. 


"Semua sudah berkumpul, silahkan duduk. "


Lalita sebenarnya tak nyaman dengan rok yang ia pakai, sampai sampai berulang kali menariknya paksa. Dani yang melihat sahabatnya itu tak mau diam kini menginjak punggung kakinya. 


Lalita menjerit, hingga ia tak sengaja merobek rok mininya itu. Semua orang memandangi Lalita, mereka tertawa dan ada juga yang tak tahan dengan keseksian janda beranak dua itu. 


Dani yang merasa bersalah membuka jas, memberikan pada Lalita, " Cepat kamu pakai. "


Betapa malunya Lalita saat itu, ia ingin sekali mencubit ginjal Dani yang tak sopan menginjak kakinya. 


" Apa bisa kita mulai?"


"Saya akan membuat peraturan baru di perusahaan ini, untuk para karyawan dan staf disini, saya berharap jika kalian mau mendengar aturan baru saya ini. "


Semua saling memandang satu sama lain, sepertinya mereka penasaran dengan peraturan baru sang bos. 


"Baik, saya akan katakan peraturan baru yang saya buat hari ini, jika ingin mengutarakan pendapat silahkan saja. "


Semua tampak tenang untuk mendengarkan perkataan sang bos, terlihat mereka sudah siap. 


"Peraturan yang pertama, saya akan menerapkan pada kalian, tentang cara berpakaian wanita.  Saya berharap kalian memakai baju yang tertutup tidak memamerkan paha dan buah dada. "


Deg ….


Mendengar peraturan pertama membuat Lalita tersindir ia menundukkan pandangan, malu dengan para sahabatnya di kantor. 


Salah satu pegawai bernama, Wulan mengacungkan tangan, " Saya sedikit keberatan. Apa bisa peraturan pertama tidak perlu memakai pakaian tertutup tapi pakaian yang terlihat sopan saja, karena saya tidak biasa memakai pakaian tertutup sekali. "


Akbar memikirkan perkataan karyawannya. 


Dimana Fina  menimpal perkataan sahabatnya itu, " Pakaian sopan, seperti?"

__ADS_1


"Ya memakai outlet panjang tapi tidak terlihat ketat!"


Fina yang mendengar perkataan Wulan sedikit setuju. " Ya juga sih. "


Wulan mulai bertanya pada sang bos. " Bagaimana Pak Akbar apa anda setuju. "


Akbar pada akhirnya setuju, ia menganggukkan kepala mendengar perkataan  Wulan. 


"Peraturan pertama sudah ditetapkan, tidak ada paksaan dan tidak ada tekanan, berarti kalian setuju. Dan peraturan yang kedua, tidak ada yang datang terlambat. Apalagi setelah saya datang kalian belum datang, jika itu terjadi saya akan memberikan sanksi ringan dan berat. "


Peraturan yang menegangkan bagi para pegawai, dimana biasanya mereka bersantai santai sedangkan sekarang mereka seakan disulitkan. 


"Sanksi ringannya, saya akan memotong gaji kalian tanpa pemberitahuan, kedua saya akan mengeluarkan kalian saat itu juga. "


Semua seperti ketakutan, dimana mereka hanya bisa menurut dan menganggukkan kepala. 


"Untuk peraturan ketiga, berkas harus sudah terkumpul tepat waktu. Jika tidak sanksi sama seperti sanksi kedua, saya tidak ingin melihat karyawan berleha leha, di saat jam kerja."


Mereka sepertinya setuju, dan ada pula yang tak setuju dengan peraturan baru yang dibuat oleh Akbar. 


"Cukup sekian penyampaian dari saya saat ini, terima kasih atas kerjasama kalian.  Silahkan memulai untuk bekerja kembali. "


Satu persatu karyawan keluar dari ruangan, terlihat raut wajah mereka tampak muram, tak suka dengan peraturan Akbar. 


Apalagi Lalita, ia menahan amarahnya, mengepalkan kedua tangan, " Bisa bisanya, Akbar membuat peraturan sampah seperti tadi. "


Dani hanya mengerutkan dahinya dan menenangkan sang sahabat." Sudahlah cin, jangan marah marah seperti itu, dia kan bos di perusahaan ini jadi ya sebagai pegawai harus siap. "


"Diam kamu."


Dani menutup mulutnya dengan telapak tangan, dimana mereka memulai bekerja. 


Sampai jam istirahat telah tiba, Dani terus bernyanyi. " Kerja lembur bagai kuda, tak terasa sudah waktu istirahat tiba. "


Lalita yang merasa terganggu dengan nyanyian Dani, kini berucap, " berisik , bisa tidak seharian ini kamu diam, saya benar benar terganggu. "


Dani mulai membungkam mulutnya, ia berusaha tak mengeluarkan suara sedikitpun,


Lalita beranjak berdiri dari tempat duduknya, ia kini dikejutkan dengan sosok teman kantornya, Fina dan juga Wulan, mereka menatap tajam ke arah Lalita, menghalangi jalan janda beranak dua itu. 


"Kenapa kalian malah berdiri dan menghalangi jalanku untuk pergi, " ketus Lalita, terlihat raut Wulan memperlihatkan kebencian.

__ADS_1


__ADS_2