
Ardan mulai menyiapkan mobil untuk pergi ke rumah sakit bersama dengan Aisyah, setelah mobil sudah siap, Ardan mulai menyalakan mesin mobil.
Di dalam perjalanan menuju ke rumah sakit Aisyah mulai merogoh tas untuk mengambil sebuah ponsel, wanita berkerudung panjang itu kini mulai menekan nomor kontak sang adik ipar.
Sambungan telepon kini tersambung, suara sang adik ipar terdengar jelas, " halo, kak. "
"Afdal, sekarang kamu ada dimana?" Aisyah bertanya dengan nada lembutnya, ia berpura pura menangis.
"Aku ada di kantor kak, memangnya ada apa!?" Afdal merasa heran dengan Aisyah sang kakak ipar yang tiba tiba saja menangis.
"Papah masuk ke rumah sakit, " ucap Aisyah, membuat Afdal merasa tak aneh.
"Oh, hanya itu saja, Afdal kira kenapa," balas Afdal terlihat santai dikala sang papah masuk ke rumah sakit.
"Ya, jangan memperlihatkan kebencianmu dong, sekarang kamu cepat datang ke rumah sakit. Agar papah percaya kalau kamu itu peduli padanya, " ucap Aisyah menasehati adik iparnya itu.
Menghela napas ada perasaan malas dalam hati Afdal untuk menemui sang Papa yang berada di rumah sakit.
"Baiklah Kak, nanti aku kasih tahu Lisa. Mungkin satu jam lagi aku sudah ada di rumah sakit, " balas Afdal terdengar tak bersemangat ketika ia berjanji akan menemui lelaki tua yang sudah membesarkannya itu di rumah sakit
"Ya sudah kalau begitu, kakak tunggu kedatangan kamu, biar papah tahu jika anak yang peduli padanya hanya kita berdua. Walau dalam kepura puraan."
Sambungan telepon pun dimatikan sebelah pihak, Ardan mulai bertanya pada Aisyah setelah istrinya itu menaruh ponsel pada kantong tas.
"Bagaimana, apa Afdal akan datang ke rumah sakit untuk menjenguk papah?" Pertanyaan Ardan membuat Aisyah kini menjawab, " Awalnya dia terlihat malas untuk menemui Papa di rumah sakit, tapi karena aku membahas tentang kepedulian membuat ia langsung menjawab dengan memaksakan dirinya untuk datang sekitar satu jam lagi. "
" Anak itu memang keras kepala setiap melakukan apapun dia selalu seperti itu, makanya aku terkadang malas membagi hasil harta warisan dengan adikku sendiri. Jika dia kebagian sedikit dari harta warisan yang kita dapatkan, pastinya dia akan mengoceh dan menganggap kita itu tidak adil."
"Yang terpenting sekarang kita harus memperlihatkan kepedulian kita terhadap papah, menjauhkan Akbar agar Papa merasa jika anak bungsunya itu sudah tak menginginkannya lagi. "
__ADS_1
Mobil melaju dengan begitu cepat, Ardan dan juga Aisyah ingin segera sampai dan melihat keadaan Sang Papa yang sudah mereka sakiti.
Budiarto yang tengah ditangani oleh para suster dan juga dokter, membuat perasaan Aminah sang pembantu yang bekerja di rumahnya terlihat begitu kuatir.
Aminah berharap jika sang majikan tidak mengalami luka yang sangat parah, " semoga saja bapak baik-baik saja. "
Wina yang bernama ucapan Aminah membuat ia mengerutkan dahi, " Sejak kapan kamu peduli dengan suamiku?"
Perkataan Wina membuat Aminah terlihat gugup, padahal kepeduliannya itu hanyalah seorang pembantu pada majikan.
"Anu Bu, saya kuatir saja!" Balas Aminah berharap jika majikan wanitanya tidak salah paham.
Wina kini mendelik kesal, mendengar jawaban yang terlontar dari mulut pembantunya. Terlihat Wina mengerutkan bibirnya, malas menatap wajah pembantunya yang masih terlihat muda.
Beberapa menit menunggu dokter mulai memanggil keluarga Budiarto. Wina kini beranjak berdiri dengan menggunakan tongkatnya, dimana sosok Aminah mulai membantu diri.
Namun Wina seakan tak senang, dengan bantuan yang diberikan oleh Aminah. Wina malam menghempaskan tangan pembantunya itu, " biarkan aku jalan sendiri.
Di mana wanita tua itu lebih baik dibantu oleh suster yang berada di rumah sakit, " biar saya bantu. "
Aminah ini berdiri mematung, seperti orang yang benar-benar tak dianggap oleh majikannya sendiri, " hanya kekhawatiran saya pada bapak, Ibu begitu marah besar. Padahal aku kasihan sekali sama bapak yang diperlakukan tidak baik oleh ibu dan juga anak-anaknya. "
Aminah mulai duduk, di mana ia terlihat tersedih, karena majikan wanitanya tak mengizinkan Aminah untuk melihat keadaan majikan laki-laki.
********
Wina baru saja masuk ke dalam ruangan Budiarto, melihat keadaan suaminya yang terkulai lemah diranjang rumah sakit.
Membuat Wina, tanpa kesel. Ia langsung memarahi suaminya itu, " Bapak sudah tua bikin repot saja, kalau mau ke mana-mana itu bilang saja sama Aminah. Jangan sok-sokan pergi sendiri, sekarang kan jadinya bapak masuk ke rumah sakit. "
__ADS_1
Bukannya memberi dukungan untuk sembuh, Wina malah memarahi Budiarto habis-habisan, sampai perawat yang mengantarkan Wina menggelengkan kepala.
Sedangkan Budiarto, berusaha bersikap sabar, tidak terlalu memperdulikan kemarahan istrinya itu.
Aminah yang penasaran dengan keadaan majikan laki-lakinya itu, ini mengintip pada jendela ruangan Budiarto.
Aminah sudah menduga jika majikan laki-lakinya itu, akan mendengarkan ocehan dan juga amarah istrinya yang tak mengerti.
" Bisa-bisanya Ibu memarahi bapak yang tengah sakit? Di mana hati nurani seorang istri kepada suaminya, " gumam hati Aminah merasa tak tega melihat laut wajah majikan laki-lakinya itu yang tampak terlihat bersedih.
Budiarto berusaha menjelaskan kepada sang istri, kejadian yang menimpa dirinya saat itu, bukanlah karena kecerobohannya. Melainkan ulah sang menantu perempuannya, jelas-jelas Budiarto melihat tangan Aisyah yang mendorong kursi rodanya.
Begitupun dengan perkataan yang terlontar dari mulut Aisyah saat Budiarto terjatuh dan hampir tak sadarkan diri.
"Bu, Bapak terjatuh gara-gara menantu ibu sendiri, si Aisyah itu sudah mendorong kursi roda Bapak hingga Bapak terjatuh ke atas tanah," Budiarto menjelaskan semua yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.
Wina yang mendengar perkataan sang suami, terlihat tak percaya, apalagi ketika Budiarto membahas tentang Aisyah, wanita berkerudung panjang yang selalu terlihat sopan di hadapan Wina.
Tutur katanya itu selalu lembut membuat Wina selalu sayang kepada menantu pertamanya, " Ibu tidak percaya Pak, mana mungkin Aisyah menantu terbaik ibu itu melakukan hal yang jahat kepada bapak."
Budiarto berusaha meyakini sang istri, agar percaya kepadanya,"Bu, apa yang dikatakan Bapak ini benar, mana mungkin Bapak berbohong kepada ibu. "
Tetap saja dari raut wajah Wina masih memperlihatkan ketidakpercayaan pada suaminya itu, " Sudahlah Pak jangan memfitnah orang tanpa bukti. "
Aisyah dan juga Ardan baru saja datang, mereka terburu-buru untuk segera masuk ke dalam ruangan sang ayah, Aisyah dan juga Ardan berusaha memperlihatkan raut wajah khawatir.
"Pak, Bu. "
Mendengar suara Ardan, membuat Budiarto terkejut, " Ardan, Aisyah. "
__ADS_1
Sang menantu mulai bersalaman kepada Budiarto dan juga Wina. Namun, saat tangan Aisyah mencium punggung tangan Budiarto, membuat lelaki tua itu tiba-tiba saja menghempaskan tangannya.
Wina yang melihat suaminya seperti itu, kini berucap, " BAPAK. "