Aisyah & Afnan

Aisyah & Afnan
Tidak Percaya


__ADS_3

Akhirnya Afnan pun memutuskan untuk pergi berjalan sendiri menuju kelas.


“Ucok itu apa sih kepanjangannya?” gumam Afnan dalam hati.


Afnan terlalu fokus dengan pikirannya sehingga iya tidak melihat seseorang di depannya.


‘Bruk!’


“Kalau jalan itu, pikiran jangan lupa dibawa!” ujar seorang wanita yang telah ditabrak Afnan.


Afnan pun berdiri dan melihat lawan bicaranya tersebut.


“Maaf,” ujar afnan.


“Hmm, nggak masalah,” sahut Aisyah. “Lo masih bingung dengan nacan itu?” tanya Aisyah.


Afnan pun mengangguk pasrah ketika mendengar pertanyaan Aisyah.


“Udah tenang aja, gue yang bakal nanganin itu semua,” tutur Aisyah.


Afnan yang mendengar itu pun mengangga, ia tidak habis pikir dengan apa yang ia dengar.


“Serius?” tanya afnan. Aisyah pun mengangguk, lalu ia pergi meninggalkan Afnan.


“Kok tumben sih dia mau menolong anak laki-laki? Bukannya di nggak suka ya sama anak laki-laki yang baru dia kenal?” ujar Afnan yang masih tidak percaya dengan yang ia lihat barusan.


“Atau dia itu bukan Aisyah? Jangan-jangan … eh, nggak boleh berpikir seperti itu afnan,” Afnan langsung menepis pikiran yang aneh tentang Aisyah.


****


Afnan pun menyiapkan barang-barang yang akan dibawa untuk besok, ia tidak ingin ada barang yang tertinggal. Seketika Afnan teringat dengan kejadian tadi siang, ia tampak berpikir sementara.


“Kok aku masih ragu ya sama kak Aisyah?” monolog Afnan.


“Apa jangan-jangan dia ngerjain aku lagi,” ujar Afnan yang tampak berpikir. “Apa aku tanya langsung aja ya ke dia?” sambung Afnan.


Akhirnya Afnan pun memutuskan untuk bertanya pada Aisyah melalui aplikasi WhatsApp. Ia pun mencari nomor Aisyah di grup paski, dan ternyata benar ia menemukan nomor Aisyah. Afnan pun segera mengirim pesan kepada Aisyah.


‘WhatsApp on’


[Afnan]


Assalamualaikum kak.


Ini saya afnan kak, saya hanya memastikan tentang kejadian tadi siang kak.


‘WhatsApp off’


Disisi lain perempuan cantik dengan rambut yang terurai tengah menatap layar laptop yang berada di pangkuan nya tersebut. Aisyah, wanita yang sedang fokus dengan pekerjaan tersebut pun langsung tersentak dikarenakan bunyi notifikasi drai gawai nya. Ia pun beranjak dari tempat duduknya tersebut ia pun melihat gawai nya, ia merasa bingung dengan notifikasi yang tertera di layar gawai nya tersebut.


“Siapa sih nih, kayaknya nomor yang nggak dikenal deh,” tanya Aisyah pada dirinya sendiri.


Aisyah pun tidak berniat membuka pesan tersebut, ia mengira orang jahil yang hanya ingin mengerjainya. Tapi, entah kenapa rasa penasarannya lebih besar dari pada egonya. Aisyah pun memilih untuk melihat siapa orang yang telah mengirimkan pesan.


‘WhatsApp on’


[08xxxxxxxxxx]

__ADS_1


Assalamualaikum kak.


Ini saya afnan kak, saya hanya memastikan tentang kejadian tadi siang kak.


Seketika Aisyah tertawa dengan pelan, ia tidak habis pikir dengan juniornya yang satu ini. Bisa-bisanya juniornya tersebut tidak mempercayai-nya. Ia pun memikirkan ide jahil untuk Afnan.


[Aisyah]


Waalaikumsalam


Afnan mana ya?


Pesan tersebut langsung terbaca dengan cepat. Dan tampak Afnan mulai mengetik. Aisyah pun langsung menyimpan nomor Afnan, karena ia tau bahwa Afnan adalah anak yang baik dan sopan. Aisyah pun memberi nama ‘ucok’ pada nomor Afnan.


[Ucok]


Saya junior paski kakak


[Aisyah]


Junior saya?


[Ucok]


Iya kak


[Aisyah]


Emangnya saya kenal kamu?


[Ucok]


[Aisyah]


Kalau kamu nggak tau, kenapa mengirimkan pesan?


Pesan tersebut langsung dibaca, tetapi tidak di balas oleh Afnan. Aisyah tampak tersenyum puas, ia sudah membuat lawan bicaranya tersebut diam tak bergeming. Aisyha pun mematikan data hpnya tersebut, Ia memilih beristirahat sebab hari sudah malam.


*****


Seperti biasa Afnan selalu berangkat di awal pagi menuju sekolahnya, ia tampak bingung dengan kejadian tadi malam. Dia hanya bisa pasrah saja jikalau Aisyah hanya ingin mempermainkannya.


“Kenapa muka lo? Kok ditekuk begitu?” sapa Fais menghampiri Afnan.


“Nggak papa,” sahut Afnan sambil tersenyum terpaksa.


“Nacan lo gimana?” tanya Fais.


“Ya gitu,” ujar Afnan.


“Lo kenapa sih? Lo ada maslah ceri-,” ucapan Fais terpotong tatkala Bu Siti masuk ke kelas.


Hari ini memang jadwal guru killer tersebut mengajar, Afnan hanya bisa memahami sedikit materi saja. Jujur saja, ia memang kurang mengerti dengan pelajaran guru killer tersebut. Afnan berusaha untuk memahami materi pelajaran dari bu siti. saat di tengah-tengah penjelasan, pikiran mereka semua dibuyarkan dengan suara ketuk pintu diluar sana.


Tok! Tok! Tok!


“Permisi buk, izin memanggil Afnan.” Ujar perempuan yang berada di balik pintu tersebut. Perempuan tersebut tidak memperlihatkan wajahnya kepada siswa.

__ADS_1


“Ada apa nak?” tanya Bu Siti dengan tersenyum penuh arti.


“Ada perlu sebentar buk” sahut perempuan tersebut dengan ramah.


Akhirnya Bu Siti pun mengizinkan Afnan untuk menemui perempuan tersebut. Saat sampai di depan pintu Afnan dibuat terkejut dengan wanita tersebut yang tak lain adalah Aisyah.


“Nih,” ujar Aisyah sambil memberi sebuah bungkusan kepada Afnan.


“Ini apa kak?” tanya Afnan menatap Aisyah.


“Buka aja dulu,” jawab Aisyah dengan tangan yang terlipat didepan dada.


Afnan terkejut bukan main, ia tidak percaya bahwa Aisyah benar menepati janjinya.


“Itu nacan lo udah gue print,” ujar Aisyah yang hendak pergi meninggalkan Afnan.


“Tapi kak, kepanjangannya apa?” tanya Afnan dari belakang.


“Umur Cukup Otak Kurang!” teriak Aisyah sambil berjalan dan membuat Afnan mencerna setiap perkataan Aisyah.


Afnan pun masuk kedalam kelas dengan membawa bungkusan yang berisi tulisan nacannya.


“Nan!” panggil Fais.


“Apaan?” sahut Afnan.


“Itu apaan? Dan perempuan tadi tuh siapa?” tanya Fais beruntun kepada Afnan.


“Lo berisik banget sih!” bentak Afnan sehingga membuat semua orang melihat kearah mereka.


“Ada keributan apa di situ?” tanya Bu Siti yang merasa terganggu dengan suara mereka.


“Nggak papa kok buk, cuman masalah pertemanan aja,” sahut Fais dengan lembut.


Semua siswa pun melanjutkan pelajaran yang dijelaskan Bu Siti.


****


Matahari yang terik menyapa halaman sekolah SMKN tunas bangsa, tampak anggota paski junior yang tengah berkumpul sambil mempersiapkan barang-barang yang diperlukan.


“Nan, ini nacan lo?” ujar Fais sambil menunjukkan nacan yang tertulis ‘Ucok’ tersebut. Betapa terkejutnya Afnan ketika melihat nacan miliknya berwarna pink.


“Loh, kok nacan gue warna ini?” tanya Afnan.


“Lah, kok lo nanya sama gue sih? Seharusnya gue yang nanya kayak gitu,”tutur Fais.


“Gue nggak liat tadi, gue kira nacan gue nggak warna itu,” ujar Afnan yang tampak kebingungan.


“Lo kok bisa nggak tau sih? Kan lo sendiri yang print,” ujar Fais yang masih mempertanyakan prihal nacan tersebut.


“Bukan gue yang print nacan itu,” ungkap Afnan.


“Hah? Kalau bukan lo, terus siapa dong?” tanya Fais.


“Sebenarnya-“ ujar Afnan yang terpotong oleh panggilan para senior.


Semua junior pun bergegas menuju lapangan yang terik tersebut, tidak lupa mereka membawa atribut yang di perintahkan oleh senior semalam. Dengan terpaksa Afnan memakai atribut

__ADS_1


__ADS_2