
Malam sudah berlalu, kini pagi yang cerah menyinari seluruh penjuru sekolah. Para senior membangunkan junior yang masih terlelap, mereka langsung dikumpulkan di lapangan dengan raut wajah yang masih mengantuk.
“Selamat pagi semuanya,” sapa Nico.
“Siap, selamat pagi kak,” sahut mereka serempak.
“Baiklah di pagi yang cerah ini, kita harus memulai aktivitas dengan semangat. Kita akan memulai dengan pemanasan dan dilanjutkan lari pagi lima putaran.” Nico dengan cepat membentuk barisan junior.
Sedangkan Aisyah dan Farah sedang memasak di kantin sekolah, mereka hanya memasak nasi, mie instan, telur, susu, dan teh manis hangat.
“Ok, kita akan lanjutkan dengan latihan untuk persiapan 17 agustus nanti,” ujar Nico.
Para junior langsung berbaris di bagian masing-masing, mereka melakukan latihan dengan serius dan mereka mengulang selama beberapa kali.
Setelah usai latihan, para junior dipersilahkan untuk beristirahat. Aisyah dan Farah pun datang dengan membawa semua makanan yang telah mereka siapkan tadi.
“Baiklah, setelah latihan yang cukup melelahkan. Kalian diperbolehkan makan bersama, tetapi makan bersama kali ini berbeda, kalian akan makan bersama di atas daun pisang. Dan kalian harus menggunakan tangan, sekarang kalian harus duduk mengelilingi daun pisang tersebut. Kalian mengerti?” ujar Aisyah.
“Siap, mengerti kak.” Mereka langsung mengikuti perintah Aisyah.
Di Atas daun pisang tersebut sudah terisi dengan nasi, mie dan juga telur. Makanan yang mereka makan tersebut diberi nama ‘nasi bebek’, mereka harus memakan sampai habis.
“Kak, ini nggak ada air minumnya?” tanya Fais.
“Owhh, adik asuhnya Farah sedang haus ya?” ledek Aisyah. Aisyah langsung menuangkan sebotol air mineral keatas daun pisang yang berisi makanan tersebut. Sontak semua junior terkejut dengan perlakuan Aisyah.
“Kak, kok dituang kesini sih? “tanya Afnan sambil menunjuk kearah daun pisang tersebut.
“Gue tuang kesitu biar kalian nggak seret, kalau kalian ingin minum tunggu nanti. ‘Kan mubajir kalau susu yang sudah kami buatkan nggak diminum.” Ujar Aisyah. Mereka pun mengangguk paham.
Setelah makan nasi bebek tersebut, mereka pun meminum susu tersebut. Setelah itu mereka dipersilahkan untuk bersiap-siap dikarenakan penggukuhan akan dimulai.
“Baiklah acara penggukuhan hari ini akan dimulai. Untuk kakak senior dipersilahkan berdiri di samping adik asuhnya masing masing,” ujar Rizky selaku Pembina paskibra. “Saya hanya ingin menyampaikan pesan kepada kalian baik itu junior maupun senior, kalian sebagai senior harus lebih memperhatikan adik asuh kalian masing-masing dan berjanjilah untuk selalu melindungi adik asuh kalian. Untuk junior, kalian harus mematuhi apapun perintah kakak asuh kalian dan jangan pernah membuat masalah. Kalian mengerti?” ujar Rizky.
“Siap, mengerti kak.” Sahut mereka.
“Untuk kalian para senior dipersilahkan memasang peci di atas kepala adik asuh kalian masing-masing,” ujar Rizky.
Para senior pun memasang peci tersebut kepada adik asuh mereka masing masing. Aisyah tampak kesusahan, sebab Afnan lebih tinggi darinya.
__ADS_1
“Lo bisa tunduk dikit?” ujar Aisyah yang merasa kesal, karna Afnan tidak peka dengannya.
“Bisa,” sahut Afnan dan mengikuti perintah aisyah.
“Gitu kek dari tadi,” sindir Aisyah.
“Makanya jangan pendek,” ledek Afnan.
“Ihh, siapa juga yang pendek? Lo yang terlalu tinggi,” sahut Aisyah yang tidak terima dengan ledekan Afnan.
Aisyah pun menatap Afnan dengan tajam, Afnan yang mendapat tatapan tersebut pun membalasnya.
“Ya elah, ini dua orang malah tatap-tapan.” Ujar Bayu membuat Aisyah dan Afnan membuang muka secara bersamaan.
Penggukuhan sudah usai, kini mereka sudah diizinkan untuk pulang ke rumah masing-masing.
“Far, lo pulang sama siapa?” tanya Aisyah.
“Aku-aku, aku pulang dijemput sama Papa aku syah,” jawab Farah dengan terbata-bata.
“Owhh, ok deh. Kalau gitu gue duluan ya, dadah ….” Pamit aisyah. Aisyah langsung pergi meninggalkan Farah.
“Fais, lo bareng gue apa kagak?” tanya Afnan.
*****
Hari yang ditunggu-tunggu pun telah tiba, hari ini adalah hari yang paling dinanti para siswa. Para siswa ingin melihat penampilan para anggota paskibra yang terkenal dengan formasi yang terbaik di seluruh kota Jakarta selatan.
Para anggota paski tengah sibuk mempersiapkan pakaian mereka, mereka sangat sibuk dengan merapikan seragam mereka, tapi tidak dengan Afnan, dia malah memilih terlihat santai padahal seragamnya kali ini belum sempurna. Aisyah yang datang menghampiri anggota paski untuk melihat bagaimana keadaan para juniornya terutama adik asuhnya sendiri. Betapa terkejutnya Aisyah melihat Afnan yang masih santai dengan keadaan segenting ini.
Aisyah pun datang menghampiri Afnan. “Lo niat tampil?” tanya Aisyah yang berdiri dihadapan Afnan.
Seketika Afnan pun berdiri sejajar dengan Aisyah. “Niat dong kak, dari rumah udah baca niat kok," Jawab Afnan dengan polosnya. Aisyah hanya bisa menghela napas dengan kasar melihat tingkah adik asuhnya tersebut.
“Lo nggak liat, teman-teman lo udah pada rapi. Nah lo, kayak gini dibilang rapi.” Aisyah menunjuk baju Afnan yang belum rapi tersebut.
Aisyah segera merapikan seragam milik Afnan dengan teliti. Aisyah harus menaiki anak tangga supaya ia bisa menyeimbangi tinggi badan dengan Afnan.
“Nah … gini kan udah rapi,” ujar Aisyah sambil melihat seragam Afnan yang sudah ia rapikan.
__ADS_1
“Sama aja perasaan, nggak ada bedanya,” sindir Afnan.
“Dasar ucok!” umpat Aisyah sambil berjalan meninggalkan Afnan.
“Dasar pendek!” gumam Afnan dengan pelan.
“Apa lo bilang?!” tanya Aisyah yang masih mendengar perkataan Afnan tadi.
“Enggak, bukan apa-apa” ujar Afnan tanpa bersalah dan lalu pergi meninggalkan Aisyah dengan wajah yang sangat kesal.
Upacara bendera berlangsung dengan sempurna, para anggota paski membuat takjub seluruh siswa serta para guru yang melihatnya. Aisyah tersenyum haru melihat penampilan para juniornya yang sangat sempurna baginya, ia merasa perjuangan juniornya tidak sia-sia.
Mereka pun berkumpul dibawah pohon rindang, mereka saling berpelukan melepaskan rasa haru dan bahagia.
“Kalian semua sangat luar biasa, kalian adalah adik-adik saya yang sangat sempurna. Saya bangga melihat kalian bisa mengibarkan bendera dengan sempurna,” ujar Kak Rizky dengan haru.
“Baiklah sebagai gantinya, saya akan membawa kalian pergi ke suatu tempat yang sangat membuat kalian terkesan.” Sambung Kak Rizky.
Mereka semua pun pergi ke tempat yang disarankan oleh Kak Rizky, mereka pergi dengan kendaraan masing-masing. Sedangkan Aisyah, ia tidak membawa sepeda motornya. Dan dengan terpaksa Aisyah mengikuti saran temannya, ia harus pergi bersama Afnan dengan menggunakan sepeda motor Afnan.
“Ingat ya, lo jangan berhenti mendadak,” teriak Aisyah di atas motor.
“Hah? Apa kak?" Tanya Afnan dan ia tiba-tiba memberhentikan sepeda motornya secara mendadak.
‘Bugh!’
Aisyah memukul punggung Afnan dengan keras.
“Aduh!” pekik Afnan kesakitan.
“Kan gue udah bilang, jangan berhenti mendadak!” ujar Aisyah dengan kesal.
“Ya jangan sampai mukul-mukul juga dong,” sindir Afnan.
“Gue mukul, Karena lo berhenti mendadak, ngerti?!” ujar Aisyah.
“Siap, ngerti kak,” ujar Afnan sambil memberi hormat.
“Kita lagi nggak latihan,” sindir Aisyah.
__ADS_1
“Owhh iya, saya khilaf kak.” ujar afnan sambil tersenyum manis.
Dan mereka berdua melanjutkan perjalanan.