Aisyah & Afnan

Aisyah & Afnan
rahasia


__ADS_3

Semua sampai di tempat tujuan yaitu pantai. mereka pun memasuki kawasan tersebut dengan riang gembira, Kak Rizky pun berniat untuk mengambil beberapa foto bersama mereka.


"Ayo, semuanya kita akan berfoto bersama-sama!" seru Kak Rizky pada mereka semua. "Setelah ini, akan ada sesi foto bersama kakak asuh kalian masing-masing" ujar Kak Rizky.


Mereka pun mengambil beberapa foto bersama dan setelah itu mereka mengambil foto bersama kakak *** mereka masing-masing.


"Aisyah!" panggil Kak Rizky.


Aisyah pun menoleh ke arah Kak Rizky. "ada apa Kak?" tanya Aisyah .


"Kamu nggak foto dengan Afnan?" tanya Kak Rizky.


"Foto untuk apa Kak?" Tanya Aisyah.


"Foto buat kenang-kenangan," jawab Kak Rizky.


"Iya bul, buat kenang-kenangan bersama pacar," ledek Bayu.


"Dia itu bu-," ujar Aisyah yang terhenti seketika.


"Bu apa? Kok nggak dilanjutkan?" Tanya Kak Rizky.


"Enggak papa kok kak," ujar Aisyah.


'Untung aja gue nggak bongkar rahasia gue, kalau sebenarnya gue dan Afnan nggak pacaran,' gumam Aisyah dalam hati.


"Ya sudah cepat kalian foto berdua," ujar Kak Rizky.


"Baik kak," jawab Aisyah dan Afnan secara serempak.


Mereka pun mengambil beberapa foto dan setelah itu mereka semua berganti pakaian bebas dikarenakan mereka sudah tidak berada di sekolah lagi.


Aisyah memanggil Farah yang hendak pergi sendiri. "Lo mau ke mana?" tanya Aisyah.


"EMM ... Itu, gue mau pergi ke toilet sebentar," jawab Farah dengan terbata-bata.


"Toilet yang terdekat 'kan ada di sebelah kiri, lo kok ke kanan?" Tanya Aisyah dengan sorot mata tajam nya.


"Emm ... Toilet di sana penuh Syah, makanya aku pergi ke sebelah sana aja," ujar Farah sambil menunjukkan tempat yang akan ia tuju.


"Owh, ya udah." Aisyah pun pergi meninggalkan Farah.


Hari pun sudah mulai sore, mereka pun bergerak untuk pulang.


"Fais!" Panggil Aisyah yang melihat pakai sedang duduk di atas sepeda motor Farah.


"Iya kak," sahut Fais.


" kunci sepeda motornya Farah mana?" Tanya Aisyah.


"Ini kak," ujar Fais sambil memperlihatkan kunci motor tersebut.


"Sini! Kasih sama gue," ujar Aisyah.


"Tapi, kenapa kak?" Tanya Fais panik.


"Gue mau pulang sama Farah," ujar Aisyah. "Kenapa? lo nggak marah 'kan?" Sambung Aisyah.


"Enggak kok kak," jawab Fais dan langsung memberikan kunci motor milik Farah.


Mereka semua pun pergi meninggalkan tempat tersebut.


****


Sudah beberapa hari ini Aisyah melihat ada yang berbeda dengan Farah, setiap hari Farah terlihat sangat senang sekali. Aisyah merasa bahwa Farah sedang menyembunyikan sesutau darinya.


“Far!” sapa Aisyah.


Tapi sayangnya Farah tidak merespon sapaan Aisyah, ia hanya senyum-senyum sambil memainkan alat tulisnya.


“Farah!” teriak Aisyah.


“Ihh, Aisyah! Jangan teriak-teriak dong!” ujar Farah.

__ADS_1


“Gue dari tadi manggil lo, tapi lo malah senyum-senyum kayak orang gila gitu,” ujar Aisyah dengan nada kesal.


“Ihh, gue yang cantik gini kok dibilang orang gila sih,” sahut Farah.


“Lo kenapa sih Far? Lo demam?” Aisyah segera memeriksa keadaan Farah.


“Iya, gue demam,” ujar Farah sambil tersenyum.


Seketika Aisyah menarik lengan Farah untuk mengikutinya ke uks.


“Gue demam cinta,” timpal Farah sambil tersenyum merekah. Aisyah pun berbalik badan dan melihat kearah Farah.


“Gue kok ngerasa lo agak berbeda ya?” ujar Aisyah. “Ada rahasia yang lo sembunyikan ya dari gue?” tanya Aisyah.


“Oh iya, gue lupa. Sebenarnya itu gue itu udah pacaran Syah,” ujar Farah kegirangan.


“Pacaran? Kapan? Sama siapa? Lo kok nggak kasih tau gue sih,” ucap Aisyah dengan beberapa pertanyaan.


“Iya, tiga minggu yang lalu. Gue pacaran sama ….” Ujar Farah yang membut Aisyah penasaran.


“Sama siapa?” tanya Aisyah.


“Fais,” jawab Farah.


*****


“Apa!” teriak Afnan.


“Iya, kenapa lo nggak percaya?” tanya Fais.


“Bukan gitu, maksud gue kok bisa lo pacaran sama kak Farah,” ujar Afnan.


“Nah! Lo sendiri, kenapa bisa pacaran sama kak Aisyah?” bukanya menjawab Fais malah bertanya balik.


“Lo kok nanya balik sih,” ujar Afnan yang mengalihkan pembicaraan. “Udah lah, gue nggak mau ikut campur masalah lo sama kak Farah” sambung Afnan dan pergi menginggalkan Fais.


“Lo mau kemana?” tanya Fais.


Dikantin Afnan dan Fais duduk di meja disebalah kanan, suasana saat itu tenang tapi kini berubah saat kedatangan dua sejoli yang Afnan kenali.


Farah yang melihat keberadaan Fais di meja tersebut langsung menghampiri Fais yang duduk di samping Afnan, Aisyah yang melihat Farah menghampiri meja fais dan afnan pun mau tidak mau harus mengikuti Farah.


“Afnan, lo bisa pindah nggak kedepan?” tanya Farah yang hendak duduk di samping Fais.


Afnan pun pindah kedepan dan berpas-pasan disampingnya adalah Aisyah.


“Lo ngapain disebelah gue?” tanya Aisyah.


“Karena saya enggak didepan kakak. Emangnya kenapa kalau saya disebelah kakak? Ada masalah?” ujar Afnan.


“Ada,” sahut Aisyah.


“Apaan?” tanya afnan.


“Lo itu-“ perkataan Aisyah terpotong oleh Farah.


“Kalian selalu saja nggak bisa akur. Udah, kalian makan aja. Jangan ganggu kami!” ujar Farah.


“Emang ya, kalau orang jatuh cinta gilanya luar biasa,” ketus Aisyah.


“Itu karena kakak nggak pernah ngerasain. kalau udah pernah, pasti nggak bilang seperti itu,” ujar Afnan sambil menyantap makanannya.


“Gue udah pernah kok,” sahut Aisyah.


“Masa?” tanya Afnan.


“Iya,” ketus Aisyah.


“Owh, aku tau. Pasti sama si Reza-reza itu ‘kan kak?” sahut Afnan dengan wajah yang penasaran.


“Jangan pernah bawa-bawa nama dia!” ketus Aisyah yang langsung mengalihkan pandangannya dan pergi meninggalkan Afnan.


*****

__ADS_1


Aisyah duduk sendiri di taman, ia tampak kesal dengan pertanyaan yang dilontarkan Afnan.


Aisyah kesal kenapa Afnan harus menyebut nama itu lagi. Aisyah tersentak dari lamunannya ketika ada seseorang yang memberikanya coklat di hadapannya.


“Nih! Biar moodnya kembali lagi.” Aisyah pun melihat seseorang tersebut. Afnan yang tengah berdiri sambil memegang beberapa coklat ditangannya dan tak lupa ia menampilkan senyumana manisnya.


“Ngapain lo di sini?” tanya Aisyah dengan nada ketusnya.


“Maaf ya kak, soal tadi aku nggak bermaksud seperti yang kakak pikirkan.” Afnan pun memberikan coklat tersebut kepada Aisyah.


“Lo mau nyogok gue?” tanya Aisyah.


“Enggak kok kak,” ujar Afnan sambil menggelengkan kepalanya.


“Lo tau dari mana gue suka coklat?” tanya Aisyah.


“Enggak dari siapa-siapa kok kak, tapi setau saya kalau cewek lagi badmood harus dikasih coklat sebagai obat penenangnya,” ujar Afnan dengan polosnya.


“Lo kira gue binatang buas apa?” ketus Aisyah sambil meraih coklat ditangan Afnan.


“Iya, kayak macan,” gumam Afnan dengan suara pelan tapi masih bisa didengar oleh Aisyah.


“Apa lo bilang?” tanya Aisyah.


“ehh bukan kak, i- itu maksud aku makan, iya makan coklatnya,” ucap Afnan dengan nada ketakutan. Aisyah pun memakan coklat tersebut.


“Oh ya kak, kakak mirip banget sama kucing aku,” ujar Afnan mencari bahan pembicaraan.


“Maksud lo gue mirip binatang?” ujar Aisyah yang kesal dengan raut wajah marah.


“Bukan gitu kak, maksud aku tuh sifatnya,” sahut Afnan.


“Owh,” ujar singkat Aisyah.


“Makanya jangan marah-marah mulu,” ucap Afnan yang membuat Aisyah tersenyum kecil.


“Lo punya kucing? Jenis anggora?” tanya Aisyah yang dibalas anggukan oleh Afnan. “kalau gitu setelah pulang sekolah gue mau pulang sama lo, gue mau liat kucing lo. Lagian gue nggak bawa motor dan Farah bakalan pulang sama sepupu lo itu.” Aisyah langusng memasang wajah kesal karena Farah benar-benar berubah.


Afnan terkejut karena baru kali ini Aisyah berbicara panjang dengannya, biasanya Aisyah hanya menjawab dengan singkat saja.


“Lo mau kan?” tanya Aisyah membuyarkan lamunan Afnan.


“I-iya kak, iya. Saya mau kok,” jawab Afnan dengan cepat.


Setelah pulang sekolah Afnan menunggu kedatangan Aisyah, selang beberapa menit Aisyah pun datang. Mereka langsung pergi meninggalkan sekolah. Tidak butuh waktu lama mereka pun sudah sampai. Aisyah yang sudah tidak sabar ingin melihat kucing milik Afnan dengan cepat menyuruh Afnan untuk membuka pintu tersebut.


“Ini dia kucingnya,” ujar Afnan memperlihatkan dua ekor kucing miliknya.


“Sepasang?” tanya Aisyah sambil mengendong salah satunya.


“Iya, comel ‘kan?” tanya Afnan.


“Banget …” ujar Aisyah kegirangan.


Mereka pun bermain-main dengan dua ekor kucing tersebut, karena terlalu asik bermain samapai-samapi Aisyah lupa bahwa ini sudah sore.


“Kayaknya gue harus pulang deh,” ujar Aisyah.


“Kalau kakak mau kucingnya, ambil aja kak. Nggak papa kok,” ujar Afnan.


“Beneran?” tanya Aisyah. Afnan pun menganguk sebangai tanda ia mengizinkannya.


“Makasih” ujar Aisyah dengan tersenyum sambil melihat kearah kucing tersebut.


Afnan pun mengantar Aisyah pulang.


“Owh ya, makasih ya udah ngasih kucing ini sama gue. Dan makasih juga lo udah bikin gue bahagia hari ini,” ujar Aisyah sambil tersenyum tulus kepada Afnan.


“Iya kak, sama-sama.” Jawab Afnan dengan membalas senyuman Aisyah. “Kalau gitu saya pamit ya kak, harinya udah mau malam,” pamit Afnan.


“Iya, hati-hati ya,” sahut Aisyah yang dibalas anggukan oleh Afnan.


Afnan masih terbayangkan senyuman Aisyah kepadanya, ia tidak habis pikir Aisyah bisa sebahagia itu ketika bersamanya. Afnan berharap Aisyah bisa berubah karena dirinya.

__ADS_1


__ADS_2