Aisyah & Afnan

Aisyah & Afnan
Terluka


__ADS_3

Jam pelajaran pun sudah selesai, seluruh siswa di perbolehkan untuk pulang kerumah masing-masing.


Sore ini begitu sepi, tampaklah seorang gadis cantik yang sedang berdiri sendirian digerbang sekolah. Aisyah sedang menunggu seseorang yang kunjung datang, ia sedang menunggu abangnya yang sudah berjanji menjemputnya.


Dari tadi Aisyah menunggu kedatangan Adnan, ia merasa kesal dengan Adnan yang sudah berjanji untuk menjemputnya.


“Kak,” sapa Afnan. Aisyah pun langsung menoleh ke arah Afnan.


“Apaan?” ketus Aisyah.


“Kok belum pulang?” tanya Afnan dengan lembut.


“Suka-suka gue dong,” jawabnya dengan cepat.


Afnan tersenyum mendengar jawaban dari Aisyah.


“Dari pada kakak nunggu yang nggak pasti, lebih baik kakak sama saya aja. Saya kan lebih pasti,” goda Afnan sambil tersenyum.


Aisyah pun memasang tatapan tajam kearah Afnan. “Nggak perlu!” tolak Aisyah dengan penuh penekanan.


“Yakin?” goda Afnan.


“Iya” ketus Aisyah.


“Kalau dilihat-lihat angkutan umum nggak ada yang bakal lewat lagi jam segini,” ujar Afnan menakut-nakuti Aisyah.


Aisyah tampak berpikr sejenak. “Gue pesan ojek online aja,” seru Aisyah.


“Yakin mau pesan ojek online? Nggak takut terjadi sesuatu?” ujar Afnan.


“Ya-yakin kok,” sahut Aisyah dengan terbata-bata.


“Ya udah, kalau gitu,” ujar Afnan dan pergi meninggalkan Aisyah seorang diri.


Sudah hampir setengah jam Aisyah menunggu, tapi ojek online pesanannya pun tak kunjung datang. Aisyah mulai gelisah, ia binggung harus buat apa.


“Udah, mau hujan lagi,” ujar Aisyha dengan nada gelisah.


Jalan mulai tampak sepi, hanya ada beberapa kendaraan yang melaju dengan kecepatan cepat dihadapan Aisyah. Seseorang yang sedang mengendarai sepeda motor metik mendekati Aisyah, Aisyah tampak takut ketika seseorang tersebut berhenti tepat dihadapan Aisyah.


“Masih yakin nggak mau di antar?” tanya seseorang tersebut yang ternyata Afnan. Aisyah langsung terdiam melihat Afnan yang sudah berganti pakaian.


Tanpa aba-aba Aisyah lansung naik dan duduk di atas motor Afnan, ia memberi jarak antar mereka berdua. Sepanjang jalan mereka berdua hanya berdiam diri sambil menikmati senja disore hari yang tampak mendung.


Mereka pun sampai di depan rumah Aisyah, Aisyah pun berlalu pergi meninggalkan Afnan yang masih berada di atas motornya.


“Diajak masuk gitu,” sindir Afnan.


“Rumah gue nggak nerima orang kayak lo!” ketus Aisyah.


“Gini ya kak. Sebagai calon mantu, saya harus kenalan dulu dong sama camer saya,” ujar Afnan dengan polosnya.


Aisyah tidak habis pikir dengan perkataan Afnan, ia pergi meninggalkan Afnan yang masih ternyum kepadanya.


“Kak, titip salam sama camer saya ya!” teriak Afnan dan langsung pergi.


****

__ADS_1


“Syah, lo udah siap tuga Bu Siti?” tanya Farah.


“Udah,” jawab Aisyah.


Saat sedang asik berbincang , mereka berdua dikejutkan dengan kedatangan Fais dengan raut wajah cemas.


“Kak, tolong kak,” ujar Fais dengan panik.


“Lo kenapa sih?” tanya Aisyah.


“Coba kamu tenang dulu,” ujar Farah menenangkan Fais. Fais pun mengikuti arahan dari Farah.


“Udah? Sekarang lo boleh cerita.” Aisyah pun memberikan tempat duduk untuk Fais.


“Kak Aisyah harus bantu saya kak,” ujar Fais dengan wajah yang serius.


“Bantu apa?” Tanya Aisyah yang masih belum mengerti.


“Afnan kak, Afnan,” ujar Fais.


“Lo kalau ngomong yang jelas dong! Afnan kenapa?” Ujar Aisyah dengan emosi.


“Afnan dikeroyok kemarin kak, setelah pulang sekolah dia dijegat oleh sekelompok orang yang tidak dikenal kak. Dan sekarang Afnan berada di rumahnya, saya minta tolong sama kakak untuk datang kerumahnya Afnan kak.” Fais tampak binggung.


“Kenapa harus gue?” tanya Aisyah.


“Karena Cuma kakak satu-satunya yang bisa diharapkan kak,” ujar Fais.


“Tapi kenapa? Emang gue siapa dia?” tanya Aisyah kembali.


Seketika Aisyah terdiam, ia baru menginggat kejadian kemarin sewaktu ia memberi tahu keseluruh siswa bahwa dia dan Afnan berpacaran.


“Please kak, dia sendirian di rumahnya kak,” ujar Fais memohon.


“Tapi-“


“Nggak ada tapi-tapian! Sekarang lo harus pergi!” perintah Farah sambil menarik lengan Aisyah.


“Urusan izin, biar saya yang tanggung kak.” Fais pun dengan cepat mengambil tas milik Aisyah.


“Masalahnya bukan itu!” bentak Aisyah menepis tangan Farah. Fais dan Farah seketika berhenti.


“Maksudnya?” tanya mereka berdua.


“Masalahnya itu, gue nggak tau rumah tuh anak dimana,” ujar Aisyah. Mereka berdua tidak menyangka bahwa Aisyah tidak mengetahui rumah pacarnya sendiri.


“Udah kakak tenang aja, nanti saya kirim alamatnya,” ujar Fais meyakinkan. Aisyah pun mengangguk paham dan langsung pergi meninggalkan kelas.


****


Aisyah pun sampai ditempat tujuannya, ia melihat kediaman yang di tempati Afnan. Aisyah merasa Afnan bukanlah anak dari orang biasa, tetapi anak yang luar biasa. Di bagian garasi Afnan terparkir rapi mobil dan beberapa motor sport milik Afnan. Aisyah tampak berpikir, kenapa Afnan tidak menggunakan fasilitas yang super mewah itu, Afnan malah memilih sepeda motor biasa untuk pergi ke sekolah.


Tok Tok Tok!


Aisyah mengetuk pintu rumah besar tersebut, tapi ia tidak mendapat jawaban dari dalam. Selang beberapa menit pintu tersebut dibuka oleh seorang wanita paruh baya, yaitu pembantu Afnan.


“Maaf, non mau cari siapa?” tanya Bi Inah.

__ADS_1


“Saya Aisyah Bi, Afnan nya ada Bi?” ujar Aisyah.


“Non, temannya den Afnan?” tanya Bi Inah


”Iya Bi,” jawab Aisyah dengan senyuman.


“Silahkan masuk non,” ajak Bi Inah.


Bi Inah pun memberi tau Aisyah kamar Afnan, sebelumnya Bi Inah sudah memberi tau keadaan Afnan kepada Aisyah. Bi Inah sempat mengeluh kepada Aisyah bahwa Afnan sedari tadi tidak mau makan.


Tok Tok Tok!


Pintu tersebut pun terbuka.


“Bi! Saya ‘kan sudah bilang, say-.” Afnan terdiam ketika melihat seseorang yang sedang berdiri di depannya. Aisyah pun langsung menarik lengan Afnan, ia menyuruh Afnan untuk duduk. Aisyah melihat Afnan yang sudah lebam akibat beberapa pukulan kemarin.


“Siapa biang keroknya?” tanya Aisyah yang berada tepat di hadapan Afnan.


“Udahlah kak, lupain aja,” sahut Afnan dengan santainya.


“Gue bilang siapa biang keroknya?” bentak Aisyah.


Afnan menghela napasnya dengan kasar, “Reza.” Afnan lansung memalingkan wajahnya kearah lain.


Aisyah terdiam, ia tidak habis pikir dengan perlakuan Reza pada Afnan. Aisyah pun ingin membalas perbuatan Reza pada Afnan, tapi tidak sekarang. Aisyah harus mengobati luka-luka pada tubuh Afnan.


Aisyah pun melihat sekeliling ruangan Afnan tersebut, ia pun menemukan apa yang ia cari. Tanpa basa-basi Aisyah langsung menuju ketempat benda tersebut berada. Aisyah berusaha memanjat sebuah lemari untuk mendapatkan kotak p3k.


“Kakak mau ngapain?” tanya Afnan yang binggung melihat Aisyah yang memanjat lemari miliknya.


“Gue mau ngambil kotak p3k, buat ngobatin luka lo,” jawab Aisyah.


“Tapi kak, itu bukan kotak p3k,” ujar Afnan. Aisyah pun terdiam ditempat nya, ia pun menoleh kearah Afnan.


“Maksud lo?” tanya Aisyah.


“Kotak p3knya ada disana.” Afnan pun menunjukkan keberadaan kota p3k miliknya.


Aisyah yang tersadar dengan posisinya, ia langsung turun dan merapikan seragam sekolahnya. “Bilang dong dari tadi!” ketus Aisyah sambil melirik tajam kearah Afnan.


“Tadikan kakak nggak bertanya sama saya,” ujar Afnan.


“Ya, seharusnya lo yang harus tanya ke gue duluan dong.” Aisyah tidak mau kalah dengan jawabannya.


“Memang ya, cewek itu nggak pernah salah,” gumam Afnan yang masih terdengar oleh Aisyah.


“Kenapa? Lo nggak senang? Hah?” ujar Aisyah yang tidak menerima ucapan Afnan.


“Ehh, enggak kok kak. Saya seneng … buanget ….” Ujar Afnan sambil menunjukkan senyuman terpaksanya.


Aisyah pun mengobati luka-luka pada tubuh afnan. setelah Aisyah mengobati luka Afnan, ia pun menyuruh Afnan untuk makan makanan yang diberikan oleh BI Inah.


Hai para readers ku🥰


Jangan bosan dengan ceritaku ya😊


Jangan lupa kasih dukungan dan sarannya ya😘

__ADS_1


__ADS_2